Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
126. Kakak Ketemu Gede?


__ADS_3

"Kenapa?"tanya Disha seraya mengernyitkan keningnya.


"Aku tidak tahu, tapi yang pasti aku merasa sangat bahagia jika saat aku membuka mata, aku bisa melihat wajah mu, dan merasakan hangatnya tubuh mu dalam dekapan ku,"sahut Alva.


Dari semalam Alva tidak berhenti mengatakan kata-kata manis dari bibir nya hingga membuat Disha gemas dan mencium bibir Alva berkali-kali dan tentu saja disambut Alva dengan senang hati.


"Al, sudah pagi, nanti Kaivan terbangun," ucap Disha saat Alva tiba-tiba menindih tubuhnya.


"Sayang, sebentar saja. Aku pengen banget,"ucap Alva dengan mata yang sudah berkabut.


Akhirnya Disha memberikan apa yang diinginkan oleh Alva dan setelah itu mereka membersihkan diri bersama-sama. Sedangkan Kaivan masih nampak lelap dalam tidurnya setelah subuh tadi bangun karena ingin menyusu.


Setelah Alva dan Disha selesai membersihkan diri, Kaivan terbangun dan Disha pun langsung memandikan bayi montok itu.


"Kita sarapan di bawah, yuk! Aku sudah menyuruh orang untuk menyiapkan sarapan di taman.Kamu mau?"tanya Alva seraya mengelus kepala Disha.


"Iya,"sahut Disha tersenyum manis.Alva, Disha dan Kaivan akhirnya ke taman untuk sarapan. Sedangkan Riky, Yessie dan yang lainnya sudah menunggu keluarga kecil Alva itu.


"Kaivan sayang!! Ayo sama Tante!"ucap Yessie saat melihat Kaivan.


"Nanti saja main sama Kaivan nya Yes. Ayo kita makan dulu! Biar Kaivan juga di suapi oleh Bik Inah,"ucap Disha.


"Aku gemas sekali kalau lihat Kaivan Dis," sahut Yessie.


" Iya, tapi sarapan dulu,"ucap Disha.


Mereka pun akhirnya sarapan bersama dan beberapa menit kemudian mereka menyelesaikan sarapan mereka. Mereka duduk di taman itu sambil berjemur menikmati hangatnya mentari pagi.


Mereka nampak duduk terpisah antara laki-laki dan perempuan karena banyak nya rombongan orang yang di bawa oleh Alva.


"Dis, Pak Rendra ganas banget ya?"tanya Yessie berbisik di telinga Disha sementara tangannya memeluk tubuh montok Kaivan yang ada di pangkuannya.


" Maksudnya?"tanya Disha tidak mengerti.


"Itu leher kamu banyak sekali tatonya. Ini lebih parah dari biasanya. Biasanya nggak terlalu banyak yang berwarna ungu, tapi kali ini hampir semuanya berwarna ungu," jelas Yessie.


Semenjak melihat Disha pagi ini, mata Yessie tanpa sengaja selalu melihat ke arah leher Disha yang di penuhi bekas percintaan yang berwarna keunguan.


"Biarin aja dia bikin tato sesuka hati, asal dia tidak pindah ke lain hati,"ucap Disha kemudian terkekeh.


"Iya juga, ya?!"sahut Yessie nyengir sambil menggaruk keningnya yang sebenarnya tidak gatal.

__ADS_1


Sementara di tempat para pria berkumpul, nampak Riky yang duduk santai disebelah Alva.


"Tuan, tumben sekali Nyonya mau melukis,"ucap Riky.


"Melukis?"tanya Alva yang tidak mengerti dengan pertanyaan Riky,"Sejak kapan istriku suka melukis?"tanya Alva balik.


"Itulah yang ingin saya tanyakan.Selama ini saya tidak pernah melihat Nyonya melukis, tapi kali ini Nyonya melukis. Dan lukisan Nyonya terang banget,"ucap Riky.


"Kamu itu mengada-ada saja. Setiap hari Disha bersama ku dan dia tidak pernah melukis. Punya alat lukis saja tidak," celetuk Alva.


"Terus kalau Nyonya tidak pernah melukis, siapa yang melukis di leher Tuan semalam, sampai warnanya ungu seperti itu?"tanya Riky pelan seraya memicingkan matanya.


"Maksud mu?"tanya Alva dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Berapa kali semalam Tuan bercinta dengan Nyonya, hingga leher Tuan penuh dengan lukisan yang berwarna keunguan seperti itu?"bisik Riky.


"Mak.. maksud mu di leher ku ada bekas kiss mark?"tanya Alva pelan, takut terdengar orang lain.


"Apa sebelum ke sini tadi anda tidak bercermin? Leher anda bukan lagi ada bekas kiss mark tapi penuh dengan kiss mark yang berwarna keunguan,"jelas Riky.


"Yang benar, Rik? Kamu tidak bercanda, kan?" tanya Alva tidak percaya karena selama ini Disha tidak pernah meninggalkan jejak jika mereka bercinta.


Alva menghela nafas panjang kemudian menghembuskan nya secara perlahan. Pagi ini Alva memang sama sekali tidak bercermin.


"Sudahlah, aku tidak perlu bercermin. Toh aku juga sudah punya istri dan yang melakukan semua ini adalah istri ku, bukan selingkuhan ku,"ucap Alva santai tanpa beban.


Alva akui semalam Disha memang tidak seperti biasanya. Semalam Disha begitu agresif dan menggaii rahkan. Alva benar- benar dibuat menggila oleh Disha hingga Alva tidak bisa lagi menjelaskan betapa nikmatnya percintaan mereka semalam.


Alva bahkan tidak sadar jika mereka sama-sama membuat tanda yang begitu banyak di tubuh pasangan mereka masing-masing.


"Iya juga, ya?! sahut Riky," Tapi apakah anda tidak malu dilihat oleh orang lain dengan bekas percintaan yang begitu banyak seperti itu?"tanya Riky menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Masa bodoh lah! Orang mau melihat ya biarkan saja. Toh aku melakukannya dengan istri ku sendiri, bukan dengan istrinya orang,"ucap Alva tidak mau ambil pusing walaupun di dalam hati nya begitu banyak pertanyaan.


"𝐀𝐩𝐚 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐥𝐞𝐡𝐞𝐫 𝐤𝐮 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐢𝐬𝐬 𝐦𝐚𝐫𝐤 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐰𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐤𝐞𝐮𝐧𝐠𝐮𝐚𝐧? 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐝𝐮𝐚 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧, 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐢𝐬𝐬 𝐦𝐚𝐫𝐤 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐤𝐞𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚, 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐰𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐤𝐞𝐮𝐧𝐠𝐮𝐚𝐧. 𝐀𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐜𝐞𝐫𝐦𝐢𝐧 𝐬𝐢𝐜𝐡, 𝐭𝐚𝐝𝐢 𝐩𝐚𝐠𝐢.𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐛𝐞𝐫𝐛𝐞𝐝𝐚. 𝐒𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐚 𝐚𝐠𝐫𝐞𝐬𝐢𝐟 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦. 𝐒𝐞𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐤𝐮 𝐠𝐢𝐥𝐚, 𝐝𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐮𝐤𝐚,"batin Alva yang tanpa sengaja menerbitkan senyuman di bibirnya.


"Apa Tuan sedang teringat akan percintaan Tuan dengan Nyonya semalam?"tebak Riky.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Alva memicingkan sebelah matanya.


"Karena dari senyuman Anda barusan menggambarkan bahwa otak anda sedang berpikir dan membayangkan hal-hal yang messum,"celetuk Riky enteng, tanpa dosa.

__ADS_1


"Riky!!"geram Alva.


"Ampun Tuan, saya hanya mengatakan yang sebenarnya,"pekik Riky segera berlari menjauh dari Alva.


"Dasar asisten sialan!! Berani sekali dia meledekku,"gerutu Alva.


"Dis, ada apa dengan Pak Rendra dan Pak Riky?"tanya Yessie yang memang baru kali ini melihat tingkah Alva dan Riky, sedangkan Disha sudah tidak heran apalagi terkejut melihat kelakuan Riky dan juga suaminya itu.


"Huff..entah apa lagi yang membuat atasan dan bawahan itu ribut,"gerutu Disha sekaligus menjawab pertanyaan Yessie.


"Apa suamimu sering memarahi Pak Riky, Dis?"tanya Yessie penasaran.


"Setau ku sich, tidak! Mereka memang sering seperti itu, kamu tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Btw kenapa kamu masih memanggil Riky dengan sebutan bapak? Dia kan bukan bapak kamu," celetuk Disha.


"Ya gimana, ya? Aku sudah biasa memanggilnya begitu, Dis,"sahut Yessie.


"Kalau di kantor sich nggak apa-apa karena harus profesional saat bekerja. Tapi kalau di luar kantor jangan lah! Riky kan calon suami mu, bahkan sebentar lagi akan menjadi suamimu, masa kamu manggil dia bapak?!"cetus Disha.


"Terus aku harus memanggil dia dengan sebutan apa , Dis?"tanya Yessie.


"Ya terserah nyaman nya kamu bagaimana. Yang penting jangan di panggil dengan sebutan bapak lagi,"sahut Disha.


"Bagaimana kalau aku panggil dia dengan sebutan kakak?"tanah Yessie meminta pendapat.


"Kakak? Kakak ketemu gede?"tanya Disha kemudian tergelak.


"Ish ..aku serius, Dis! Kamu malah bercanda!"ucap Yessie bersungut-sungut.


"Iya..iya.. maaf! Panggilan kakak lebih bagus dari pada kamu memanggil di bapak,"ucap Disha.


"Baiklah, aku akan panggil dia dengan sebutan kakak saja,"ucap Yessie.


"Kakak tersayang yang akan selalu jadi teman di atas ranjang?!" celetuk Disha kemudian tergelak.


"Disha... iiihhh!!!"keluh Yessie yang dari tadi digoda oleh Disha.


...🌟"Panggil lah pasangan mu dengan panggilan yang baik....


...Sebuah panggilan nampaknya sepele, namun kenyataannya sangat berarti saat yang mengucapkan nya adalah seseorang yang kamu cintai."🌟...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2