Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
279. Suhu, Aku Gagal!


__ADS_3

Alva masuk kedalam kamarnya dan mendapati Disha yang terjaga,"Sayang, kamu terbangun?"tanya Alva berjalan menuju ranjang.


"Sayang, kamu kemana saja?"tanya Disha tanpa menjawab pertanyaan dari Alva, dengan bibir yang mengerucut.


"Aku dari dapur, sayang,"sahut Alva seraya melepaskan kaos oblong dan celana pendek nya hingga hanya tersisa celana boxer yang melekat di tubuhnya.


"Kenapa lama sekali?"protes Disha.


"Aku tadi menemani kakak makan, dia tadi belum makan malam,"jawab Alva jujur, seraya naik ke atas ranjang.


"Tumben kalian akur, aku jadi curiga,"celetuk Disha seraya memicingkan sebelah matanya.


"Kami ribut salah, kami akur kalian curiga. Serba salah,"ujar Alva membawa Disha ke dalam pelukannya.


Disha menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya, memeluknya erat, bahkan menggesek-gesek kan hidungnya di dada Alva seraya menghirup aroma tubuh suaminya itu.


"Sayang, berhenti menggoda ku! Atau aku akan menerkam mu lagi,"ujar Alva yang memang mudah sekali terang sang oleh istrinya itu. Apalagi saat ini tubuh Disha masih polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya setelah percintaan panas mereka tadi.


"Aku sangat suka dengan aroma tubuh mu, sayang,"ucap Disha dalam dekapan suaminya.


"Kamu memang harus menyukai aroma tubuh ku. Kalau sampai kamu menyukai aroma tubuh pria lain, aku akan mengurung kamu di kamar,"ucap Alva tersenyum menyeringai.


"Ish..kok malah bercanda, sich!"ketus Disha mendongakkan kepalanya menatap Alva seraya mengerucutkan bibirnya.


Alva menunduk menatap istrinya,"Itu bibir kenapa di monyongin gitu? Pengen di cium lagi, hemm?"tanya Alva seraya menaik turunkan sebelah alisnya dengan ekspresi genit.


"Ishh..genit! Aku capek, pengen tidur,"ujar Disha, kemudian kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


Alva terkekeh kemudian berkata,"Aku cuma genit sama kamu, sayang! Tidurlah!"ucap Alva seraya mengelus kepala Disha seperti biasanya. Kebiasaan Alva itulah yang membuat Disha sulit tidur jika tidak ada Alva.


Sementara di kamar sebelah, Radeva naik ke atas ranjang dengan hati-hati agar istrinya tidak terbangun. Ditengah ranjang nampak sebuah guling yang dijadikan sebagai pembatas oleh Icha. Setelah beberapa menit berlalu, Radeva tidak melihat pergerakan dari istrinya. Perlahan Radeva menjatuhkan guling ke lantai dan mendekati istrinya. Kebetulan Icha berbalik dan langsung memeluk tubuh Radeva.

__ADS_1


Senyum Radeva mengembang saat mendapatkan pelukan dari Icha, bahkan Icha nampak mencari posisi yang nyaman dalam dekapan Radeva. Dengan hati yang berbunga-bunga Radeva mendekap erat tubuh Icha dan mulai memejamkan matanya.


"𝙏𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝘼𝙡𝙫𝙖, 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙪𝙧 𝙙𝙞𝙖 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙠𝙚𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙖, 𝙮𝙖𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙪𝙧 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙠𝙪. 𝘼𝙡𝙫𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙝𝙪, 𝙟𝙖𝙢 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙧𝙖𝙜𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙜𝙞. 𝙔𝙖, 𝙬𝙖𝙡𝙖𝙪𝙥𝙪𝙣 𝙖𝙜𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙗𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙞𝙩𝙪. 𝘿𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙡𝙞𝙩 𝙞𝙡𝙢𝙪. 𝙋𝙖𝙣𝙩𝙚𝙨𝙖𝙣, 𝙖𝙙𝙞𝙠𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙜𝙞𝙡𝙖-𝙜𝙞𝙡𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙣𝙮𝙖. 𝘿𝙞𝙖 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙘𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖,"gumam Radeva dalam hati, dan tak lama kemudian pria itu pun terlelap dan menyusul istrinya ke alam mimpi.


Dua jam kemudian, Icha terbangun. Icha mengeratkan pelukannya pada gulingnya. Namun beberapa detik kemudian Icha menyadari sesuatu.


"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖, 𝙜𝙪𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙗𝙚𝙨𝙖𝙧 𝙙𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞, 𝙮𝙖?"gumam Icha dalam hati, kemudian dengan perlahan membuka matanya dan langsung membulatkan matanya saat menyadari bahwa Radeva sedang mendekapnya. Sekuat tenaga, Icha mendorong Radeva yang sedang mendekapnya, hingga membuat Radeva hampir terjatuh.


"Sayang, kenapa mendorong ku?"protes Radeva dengan mata yang terlihat sangat mengantuk karena Radeva baru tidur sekitar dua jam.


"Aku bilang, aku masih marah sama kakak, kakak mau cari kesempatan untuk meniduri aku lagi kan, kayak waktu itu!"tuduh Icha sengit.


"Kesempatan apa sayang,? Kamu lihat sendiri aku sedang tidur,"ucap Radeva selembut mungkin agar macan betinanya tidak semakin mengamuk.


"Alasan! Kakak sengaja kan, pengen nidurin aku lagi kayak kemarin?"tuduh Icha dengan tatapan tajam pada Radeva.


Radeva menghela napas panjang, tubuhnya sangat lelah dan matanya sangat mengantuk tapi baru tidur malah diamuk istri, bahkan nyawanya belum sepenuhnya ngumpul.


"Kenapa diam saja? Benar kan, yang aku katakan?"tuduh Icha lagi.


"𝙃𝙪𝙛𝙛.. 𝙖𝙠𝙪 𝙜𝙖𝙜𝙖𝙡 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙠𝙖𝙞 𝙟𝙪𝙧𝙪𝙨 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙖. 𝙈𝙖𝙣𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙩𝙚𝙩𝙖𝙥 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙡𝙪𝙠𝙣𝙮𝙖, 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙞𝙙𝙤𝙧𝙤𝙣𝙜 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙪𝙖𝙩 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙪𝙧? 𝙎𝙪𝙝𝙪, 𝙖𝙠𝙪 𝙜𝙖𝙜𝙖𝙡!"gerutu Radeva dalam hati membuang napas kasar, karena gagal memakai jurus kedua yang diberikan oleh Alva. Seandainya ia tidak sedang tertidur lelap, mungkin dirinya bisa bertahan untuk memeluk Icha, merayunya dan menciptakan suasana romantis yang akan membuat Icha memaafkan dirinya.


Icha tertegun kala Radeva pergi dan memilih tidur di sofa. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari dan diluar sana terdengar hujan mulai turun. Icha kembali berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut sampai batas lehernya. Sialnya setelah satu jam mencoba untuk memejamkan mata, namun dirinya belum juga bisa terlelap. Sesekali Icha melirik ke arah Radeva yang meringkuk di sofa membelakangi nya. Sofa itu terlihat kecil saat Radeva tidur di sana, karena tubuh Radeva yang tinggi dan besar.


Tak jauh berbeda dengan Icha, Radeva yang tadinya sangat mengantuk, sekarang malah susah memejamkan mata. Posisi tidur yang tidak nyaman karena tempat yang kecil, terbangun karena terkejut ditambah udara yang terasa dingin membuat Radeva sulit untuk kembali terlelap.


Saat hari sudah mendekati fajar, keduanya baru sama-sama bisa terlelap. Namun belum sampai dua jam terlelap Radeva kembali terbangun karena mendengar suara orang yang sedang muntah-muntah. Radeva menoleh ke atas ranjang dan tidak menemukan Icha. Dengan kepala yang terasa berat Radeva beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi. Karena tadi merasa sangat mual, Icha masuk ke kamar mandi tanpa sempat mengunci pintu kamar mandi. Hingga Radeva bisa masuk ke dalam kamar itu.


"Kamu kenapa muntah-muntah seperti ini?"tanya Radeva saat melihat Icha berdiri di depan wastafel dan sedang mengeluarkan isi perutnya. Radeva mencoba memijit tengkuk istrinya agar wanita itu merasa lebih nyaman.


"Aku tidak apa-apa, hanya masuk angin saja,"ucap Icha menepis tangan Radeva. Dengan tubuh yang terasa lemas, Icha membersihkan mulutnya dengan air kran, kemudian mengelap bibirnya dengan tisu.

__ADS_1


"Sayang!"ucap Radeva langsung menangkap tubuh Icha yang hampir terjatuh. Radeva menggendong Icha dan membaringkan nya di atas ranjang.


"Biar aku oleskan minyak di perut mu, agar terasa hangat,"ucap Radeva kemudian bergegas mengambilkan minyak kayu putih dan mengoleskan nya ke perut Icha.


"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙪𝙖𝙡 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙪𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙙𝙞 𝙥𝙖𝙜𝙞 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙡𝙖𝙜𝙞? 𝙄𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙩𝙞𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙆𝙖𝙠 𝘿𝙚𝙫 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙢𝙥𝙪𝙩 𝙠𝙪 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙧𝙞𝙣. 𝘼𝙥𝙖.. 𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙢𝙞𝙡? 𝙆𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙝𝙖𝙞𝙙, 𝙮𝙖?"gumam Icha dalam hati. Icha curiga jika dia sedang mengalami morning sicknes, tapi sayangnya Icha tidak ingat kapan terakhir kali dirinya haid.


Tiga hari sebelum Radeva menjemputnya kemarin, Icha selalu mual dan muntah di pagi hari. Tapi saat Radeva meniduri nya dan mendekapnya sampai siang kemarin, Icha tidak merasakan mual apalagi muntah di pagi hari. Namun pagi ini Icha kembali merasakan mual dan muntah.


"Kamu kenapa sayang? Apa masih sakit? Kita ke dokter, ya?"tanya Radeva terlihat cemas.


"Tidak, aku tidak mau ke dokter. Usap saja perutku, rasanya lebih nyaman jika kakak usap,"sahut Icha jujur, entah mengapa, saat Radeva menyentuh perutnya, rasa mual di perutnya menghilang.


"Aku akan menyuruh Bik Anah agar mengantarkan sarapan untuk mu. Aku harus bersiap-siap ke kantor,"ucap Radeva. Ingin sekali mengecup bibir Icha atau sekedar mengecup keningnya, tapi takut macam betinanya itu mengamuk.


"Tidak perlu kak, aku sudah baikan, kok,"ujar Icha.


"Kamu yakin?"tanya Radeva masih terlihat khawatir.


"Hum,"sahut Icha berdehem.


Radeva beranjak untuk membersihkan diri bergantian dengan Icha. Setelah itu mereka sarapan bersama dengan anggota keluarga yang lain. Hari ini, Icha belum mau pergi ke kantor. Selama dia pergi dari rumah, Icha meminta ijin pada Alva untuk mengerjakan tugas kantornya di rumah, dan Alva menyetujuinya.


Setelah semua sibuk dengan aktivitas masing-masing Icha pergi ke apotik untuk membeli testpack. Saat sampai di rumah, Icha bergegas ke kamar mandi dan langsung menggunakan tiga testpack berbeda merk sekaligus yang dibelinya di apotik tadi.


Setelah menunggu sepuluh menit dengan penuh rasa penasaran, Icha pun melihat ketiga testpack itu,"A.. aku.. aku hamil?"gumam Icha memegang ketiga testpack yang menunjukkan garis dua dengan mata yang berkaca-kaca.


...🌟"Tempat ternyaman bagi seorang wanita adalah,...


...dalam pelukan orang yang dicintai dan mencintainya."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...

__ADS_1


...🌸❤️🌸...


To be continued


__ADS_2