Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
234. Meragukan


__ADS_3

"Memang harta kan, yang selama ini anda ingin kan. Baiklah, apa satu miliar sudah cukup sebagai ganti karena anda telah mengandung dan melahirkan saya?"tanya Alva menatap dingin pada Neda.


"Cuma satu miliar? Apa cuma segitu harga dari nyawa mu? Hanya itukah yang bisa kamu berikan kepada ibu yang telah mengandung dan melahirkan mu?" ucap Neda mencibir.


"Itu bukan harga dan nyawa saya, karena nyawa saya tidak bisa dibandingkan dengan uang. Anda meminta saya mengganti perjuangan anda mengandung dan melahirkan saya, apa anda masih pantas di panggil sebagai ibu? Saya akan memberikan uang satu miliar jika anda mau, jika anda tidak mau, saya tidak akan memberikan apapun pada anda. Anggap saja anda telah menjual putra anda sendiri,"ucap Alva dengan tatapan tajam pada Neda.


"Baiklah, berikan padaku!"ucap Neda kemudian memberi tahu Alva nomer rekening nya tanpa ragu, dan Alva pun langsung mengirimkan uang satu miliar pada Neda.


"Mulai sekarang jangan pernah panggil saya sebagai anak anda lagi. Karena saya bukan putra anda, tapi putra mama Ratih. Silahkan keluar dari ruangan saya!"ucap Alva pada Neda langsung duduk kembali di kursi kebesarannya tanpa mau melihat Neda lagi. Setelah Neda meninggalkan ruangannya, Alva pun langsung menghubungi Riky.


"Rik, ke ruangan ku sekarang!"ucap Alva langsung menutup panggilan. Tak berapa lama Riky pun masuk keruangan Alva.


"Tuan, apa yang terjadi? Kenapa tangan anda bisa terluka?"tanya Riky yang sangat terkejut sekaligus khawatir melihat Alva yang sedang membersihkan darah di tangannya.


"Tolong bantu aku untuk membersihkan lukaku, dan sekalian bantu aku untuk mengobatinya,"pinta Alva, dan Riky pun bergegas melakukan apa yang diperintahkan oleh Alva.


"Apa tuan tidak ingin ke dokter?"tanya Riky sambil membersihkan luka Alva.


"Tidak perlu. Dan tolong jangan kasih tau Disha soal ini, aku tidak ingin Disha khawatir,"ucap Alva menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Baik, Tuan. Tapi kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Riky hati-hati.

__ADS_1


"Ibu kandung ku kesini, dan dia menghina mamaku,"ucap Alva kemudian menghela napas kasar,"Aku emosi hingga tanpa sadar menggebrak meja,"lanjut Alva.


"Meja?"gumam Riky dan seketika langsung melihat ke arah meja sofa, karena tidak mungkin Alva akan terluka jika menggebrak meja kerjanya yang terbuat dari kayu. Dan benar saja dugaannya, meja kaca itu pecah berkeping-keping dan darah pun berceceran di lantai.


"Saya akan panggil cleaning servis untuk membersihkan ruangan Ini,"ucap Riky.


"Jangan sekarang!"cegah Alva membuat Riky heran,"Tunggu saat waktu istirahat. Disha akan tau kalau aku terluka, jika kamu menyuruh cleaning servis untuk membersihkannya sekarang,"ucap Alva.


"Saya mengerti, Tuan,"sahut Riky sambil mengobati tangan Alva.


"Tolong cariin makanan untuk makan siang kita! Kamu mau kan, menemaniku makan siang?"tanya Alva dengan wajah sendu.


"Tuan, jika anda memiliki masalah yang berat, anda bisa sharing pada saya. Jangan menyimpannya sendiri,"ujar Riky yang melihat Alva nampak tidak sedang baik-baik saja.


"Kenapa anda bertanya seperti itu? Anda meragukan cinta Nyonya Disha?"tanya Riky yang heran dengan pertanyaan Alva.


"Terus terang, aku memang meragukan cintanya. Sejak aku bertemu Disha, aku sudah tertarik padanya. Dan saat kami dipaksa menikah, aku tidak merasa terpaksa menikah dengannya. Entah mengapa aku langsung menyukai Disha waktu itu. Tapi Disha merasa terpaksa menikah denganku, bahkan sempat tidak menganggap serius pernikahan kami. Namun aku bersikeras agar dia mau menjalani pernikahan kami dengan serius,"


"Sampai saat ini, aku merasa hanya aku yang ingin mempertahankan pernikahan ini dan hanya aku yang mencintai Disha. Mungkin dia terpaksa hidup dengan ku karena ada Kaivan diantara kami,"ujar Alva panjang lebar.


"Kenapa anda berpikir Nyonya tidak mencintai anda? Nyonya sudah memberikan anda seorang anak. Bukankah Kaivan adalah bukti cinta anda dan Nyonya? "tanya Riky untuk mematahkan asumsi Alva yang menganggap Disha tidak mencintainya.

__ADS_1


Alva tersenyum kecut mendengar kata-kata Riky,"Mungkin tepatnya Kaivan adalah bukti cinta ku, bukan bukti cinta kami,"sahut Alva membuang napas kasar.


"Kenapa anda bisa bilang seperti itu?"tanya Riky yang merasa semakin tidak mengerti dengan pemikiran Alva.


"Kaivan ada diantara kami bukan atas keinginan Disha, tapi atas keinginan ku. Dulu Disha diam-diam meminum obat kontrasepsi agar tidak memiliki anak dari ku. Saat aku mengetahui dia meminum obat kontrasepsi, aku sangat kecewa, karena aku memang sangat menginginkan anak darinya,"


"Diam-diam aku mengganti obat kontrasepsi yang diminumnya dengan obat penyubur kandungan dan setiap hari memaksanya meminum susu,tanpa dia tahu kalau susu itu adalah susu untuk program kehamilan. Dia sempat shock dan tidak percaya saat mengetahui dia sedang mengandung. Jadi Kaivan ada karena kelicikan ku, bukan karena kami sama-sama menginginkan dia hadir di dunia ini. Hanya aku yang menginginkan Kaivan, karena aku ingin memiliki anak dari wanita yang aku cintai,"


"Dan sekarang, dia juga selalu mengatakan belum siap untuk memiliki anak setiap aku mengatakan ingin punya anak lagi. Hal ini membuat ku merasa bahwa dia tidak benar-benar mencintai ku,"keluh Alva panjang lebar.


"Saya mengerti perasaan, Tuan. Tapi saya yakin Nyonya mencintai anda, Tuan. Jika tidak, Nyonya tidak akan bertahan dengan anda sampai sekarang. Tuan harus optimis, mungkin Nyonya memang merasa belum siap saja. Jadi, Tuan harus bersabar menunggu sampai Nyonya merasa siap untuk memiliki anak lagi,"nasehat Riky.


"Entahlah!"sahut Alva menghela napas panjang.


"Pantesan muka Tuan sudah macam benang kusut, tenyata sedang perang dingin. Berarti lagi puasa, dong! Wah, nggak bisa mencharge dong! Auto lowbat tuch baterai, mana mau keluar negeri lagi, bisa karatan tuch keris, kalau nggak bisa nyelup,"ujar Riky kemudian tertawa tanpa menyadari wajah Alva yang terlihat semakin kesal.


"Riky!!"geram Alva dengan wajah penuh amarah.


"Ampun Tuan, saya akan menyiapkan makan siang,"ucap Riky langsung berlari ke arah pintu. Saat sudah keluar, Riky kembali membuka pintu dan melonggokkan kepalanya kedalam ruangan Alva,"Tuan, kalau lagi puasa jangan marah-marah, biar nggak batal, kan sia-sia puasanya kalau batal,"ucap Riky tertawa keras dan segera menutup pintu.


"Riky.!! Dasar asisten sialan.!!"umpat Alva yang sudah tidak bisa di dengar oleh Riky lagi.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2