Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
129. Bergosip


__ADS_3

Di perusahaan Bramantyo Group. "Sayang, ada undangan pesta pernikahan dari salah satu rekan bisnis kita,"ucap Disha seraya menyodorkan sebuah undangan kepada Alva.


Alva memeluk pinggang Disha yang berdiri di samping kursinya kemudian membaca undangan itu beberapa saat, kemudian menatap Disha,"Kamu mau kita datang ke acara ini?"tanya Alva mendongak menatap Disha yang berdiri di sampingnya.


"Terserah kamu saja,"ucap Disha kemudian merapikan berkas-berkas yang ada di meja Alva.


"Oke, kita akan ikut. Riky pasti juga mendapat undangan. Dia juga punya saham di perusahaan rekan bisnis kita ini, kita akan pergi bersamanya,"ucap Alva kemudian meremas salah satu bongkahan kenyal Disha yang dibalut dengan celana panjang.


"Sayang.!! Kondisikan tanganmu!"ucap Disha memperingati Alva.


"Tentu saja akan ku kondisikan, sayang," ucap Alva menyeringai kemudian berpindah meremas yang satunya lagi.


"Sayang!!"seru Disha berusaha menyingkirkan tangan Alva dari tubuhnya.


"Apaaa... sayang?"tanya Alva seraya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


"Issh..genit sekali,"celetuk Disha dan Alva malah tersenyum manis.


"Nggak apa-apa, kan genit sama istri sendiri?"sahut Alva yang malah meraba paha Disha.


"Sayang, kondisikan tanganmu!"ucap Disha memperingati Alva lagi.


"Plakk"


"Auwh! Sakit, sayang! Cuma megang doang, sayang!"proses Alva.


"Habisnya itu tangan nggak bisa di kondisikan,"cetus Disha.


"Kamu liburnya kok lama banget sich, sayang," keluh Alva.


"Cuma seminggu, sayang!"sahut Disha dan akhirnya Disha selesai membereskan berkas-berkas di meja Alva.


"Lama sekali,"keluh Alva.


"Kita ada meeting siang ini bersama Tuan Radeva, HD Group dan juga beberapa orang klien,"ucap Disha.


"Kalau saja itu bukan perusahaan Tuan Darmawan, aku pasti sudah memutuskan hubungan kerjasama dengan mereka," celetuk Alva dengan wajah yang seketika menjadi kesal.


"Kamu masih saja cemburu,"celetuk Disha.


"Aku tidak suka dengan cara dia menatapmu,"cetus Alva.

__ADS_1


"Sudahlah, sayang! Kita harus bekerja secara profesional,"ucap Disha dan Alva hanya bisa mendengus kesal.


Satu jam kemudian di meeting room perusahaan Bramantyo Group. Tampak Hery, Radeva dan Trisha, serta beberapa orang lainnya.


Trisha memutuskan menjadi sekretaris Radeva dan Radeva mengijinkannya agar bisa lebih mudah mengawasi Trisha. Walaupun Trisha baru menyelesaikan S1 nya dan belum melanjutkan S2.


Tak berapa lama Alva, Disha dan Riky pun masuk ke dalam ruangan itu dan meeting pun segera di mulai. Dalam meeting tersebut setiap kali Disha keberatan dengan pendapat orang yang hadir dalam rapat itu, Alva selalu mendukung Disha hingga membuat Trisha jengah. Sedangkan Hery terus saja menatap Disha seolah enggan berkedip.


"Maaf, boleh saya menyampaikan pendapat,"ucap Trisha menginterupsi.


"Silahkan!"ucap Alva datar.


"Saya tahu Nyonya Disha adalah istri anda Tuan Rendra. Tapi apakah tidak sebaiknya anda juga mendengarkan pendapat orang yang ada di ruangan meeting ini, bukan hanya mendengarkan pendapat istri anda. Lagian kedudukan dia disini kan hanya sebagai seorang sekretaris,"cetus Trisha dengan nada mencibir Disha.


"Saya menolak atau pun mendukung pendapat peserta meeting dalam ruangan ini saya lakukan secara profesional. Saya memikirkan keuntungan untuk kerjasama ini. Kalau pun saya mendukung pendapat sekretaris saya sekaligus istri saya, itu karena saya menganggap apa yang di utarakan istri saya itu baik untuk keuntungan kerja sama ini,"ucap Alva datar dan tegas.


"Tapi sebagai sekretaris, seharusnya Nyonya Disha tidak ikut bicara dalam meeting ini,"cetus Trisha.


"Trisha!"ucap Radeva pelan memperingatkan Trisha agar diam.


"Kalau anda tahu bahwa sekretaris tidak diperbolehkan bicara dalam meeting ini, seharusnya anda juga tidak membuka suara anda Nona Trisha,"sahut Disha tegas.


"Saya berhak mengutarakan pendapat saya dalam meeting ini, karena saya berbicara bukan sebagai sekretaris apalagi istri dari Alvarendra Bramantyo. Saya disini berbicara sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan Bramantyo Group ini,"ucap Disha menatap tajam pada Trisha.


"Apa? Kamu pemegang saham terbesar di perusahaan ini? Jangan bercanda!!" ucap Trisha tersenyum meremehkan.


"Trisha!"ucap Radeva seraya memelototi Trisha namun tidak dipedulikan oleh Trisha.


"Jika Nona tidak percaya, Nona bisa bertanya pada semua peserta yang ikut meeting ini,"ucap Disha tegas.


"Nyonya Disha memang pemegang saham terbesar di perusahaan ini, Nona,"ucap seorang pria paruh baya.


"Iya, itu benar. Dan selama ini pendapat yang diutarakan oleh Nyonya Disha selalu membawa keuntungan untuk kerjasama ini,"timpal yang lainnya.


"Maafkan atas kelancangan sekretaris saya, Tuan dan Nyonya sekalian!"ucap Radeva menunduk hormat.


"Sudah kakak peringatkan agar kamu diam. Bikin malu saja,"gerutu Radeva pada Trisha dan Trisha hanya tertunduk.


"Jadi dia benar-benar pemegang saham terbesar di sini?"tanya Trisha pada Radeva tidak percaya.


"Iya,"sahut Radeva ketus.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, akhirnya meeting itu selesai juga. Alva, Disha dan Riky pun meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Radeva dan beberapa orang lainnya masih ada di dalam ruangan itu, mereka saling menyapa dan mengobrol.


"Nona sekretaris baru ,ya?"tanya seorang wanita yang sudah cukup dewasa pada Trisha.


"Iya,"sahut Trisha singkat.


"Pantesan tidak tahu kalau Nyonya Disha adalah pemegang saham terbesar di perusahaan ini. Nyonya Disha itu selain cerdas dan cantik juga beruntung. Dia bisa menikah dengan Tuan Rendra yang sangat mencintainya,"


"Dari gosib yang beredar, saya dengar semua aset yang dimiliki Nyonya Disha itu adalah pemberian dari Tuan Rendra. Dulunya Nyonya Disha hanyalah perempuan dari kalangan menengah kebawah. Tapi karena dicintai oleh Tuan Rendra dan diberi aset yang begitu banyak, Nyonya Disha jadi kaya mendadak,"ujar perempuan itu mulai bergosip.


"Benarkah? Jadi dulu dia hanya wanita biasa?"tanya Trisha mulai tertarik dengan pembicaraan itu seraya menerbitkan senyuman misteri.


"Yang saya dengar sich, begitu. Dan kamu tahu tidak orang yang tadi duduk disebelah mu tadi?"tanya wanita itu mulai berbahasa santai.


"Tuan Hery dari HD Group?"tanya Trisha.


"Iya. Kamu lihat tidak? Semenjak Nyonya Disha masuk ke dalam ruangan ini, matanya terus saja menatap Nyonya Disha. Dulu Tuan Hery tergila-gila pada Nyonya Disha dan mengejar-ngejar Nyonya Disha, walaupun Nyonya Disha sudah menikah,"


"Sampai akhirnya Tuan Hery menikah dengan mantan istri Tuan Rendra. Namun belum ada satu tahun, pernikahan Tuan Hery sudah kandas. Saya dengar Tuan Hery tidak bisa melupakan Nyonya Disha," ujar perempuan itu sangat antusias untuk bergosip.


"Mantan istri Tuan Rendra? Maksud anda Disha itu istri kedua?"tanya Trisha semakin penasaran.


"Bukan! Nyonya Disha adalah istri pertama Tuan Rendra, namun disembunyikan oleh Tuan Rendra karena Tuan Bramantyo tidak mau memiliki menantu dari kalangan menengah kebawah,'


"Tuan Rendra dijodohkan dengan Nona Anjani karena dulu ayah Nona Anjani adalah pemegang saham terbesar di Bramantyo Group. Namun setelah Nyonya Disha melahirkan anak pertama Tuan Rendra, Nona Anjani langsung di diceraikan Tuan Rendra dan ayah Nona Anjani langsung menarik seluruh sahamnya di Bramantyo Group,"


"Setelah itu, Tuan Rendra memberikan begitu banyak aset kepada Nyonya Disha bahkan menjadikan Nyonya Disha sebagai pemegang saham terbesar di Bramantyo Group agar Tuan Bramantyo menerima Nyonya Disha sebagai menantunya,"ujar perempuan itu yang nampak senang bergosip.


"Jadi Disha hanya orang biasa?"gumam Trisha tapi masih di dengar oleh temannya ngobrol itu.


"𝐀𝐤𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐮𝐬𝐮𝐧 𝐫𝐞𝐧𝐜𝐚𝐧𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐥𝐞𝐦𝐩𝐚𝐫𝐦𝐮 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐊𝐚𝐤 𝐀𝐥𝐯𝐚. 𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐝𝐞𝐫𝐚𝐣𝐚𝐭 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐤 𝐀𝐥𝐯𝐚. 𝐀𝐤𝐮𝐥𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐧𝐭𝐚𝐬 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐊𝐚𝐤 𝐀𝐥𝐯𝐚. 𝐀𝐤𝐮 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤, 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐦𝐮𝐝𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐤𝐚𝐲𝐚,"batin Trisha tersenyum menyeringai.


"Iya. Tapi banyak pria yang kagum pada Nyonya Disha karena selain cantik alami, Nyonya Disha juga sangat cerdas,"puji wanita itu membuat Trisha tidak suka.


"Trisha, ayo kita pulang!"ajak Radeva yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka berdua, membuat kedua perempuan itu menyudahi acara bergosip mereka.


...🌟"Orang jaman dulu berkata,"Sepanjang panjangnya jalan masih lebih panjang omongan orang."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2