Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
173. Nggak Laku-laku


__ADS_3

"Apa kamu ingin menonton video malam pertama mereka?"tanya Alva dengan mengulum senyum.


"Hah.?!"Disha merasa shock mendengar pertanyaan dari Alva.


"A..apa maksud mu, sayang? Jangan bilang kamu memasang kamera tersembunyi untuk merekam malam pertama mereka?!"tanya Disha menatap tajam pada suaminya itu.


"Kalau iya, memang kenapa?"tanya Alva dengan senyum misterius.


"Al.!!! Apa kamu sudah tidak waras!!"pekik Disha sepontan duduk dan tidak ingat jika tubuhnya masih polos tanpa sehelai benang pun setelah bercinta dengan Alva semalam.


"Kau ingin menggodaku?"tanya Alva seraya mengulurkan tangannya ingin menyentuh bukit kembar Disha.


"Dasar messum!!"umpat Disha menepis tangan Alva dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Jawab pertanyaan ku! Apa benar kamu menyembunyikan kamera di kamar mereka?"tanya Disha lagi namun Alva malah tertawa.


"Al..!!"pekik Disha yang merasa kesal karena Alva malah terkesan sengaja membuatnya penasaran.


"Aku akan jawab, tapi ada syaratnya,"ucap Alva dengan menaik turunkan sebelah alisnya.


"Apa ?"ketus Disha.


"Ahkk.!! Al.!!"pekik Disha saat tiba-tiba Alva menarik tubuhnya hingga terjatuh di samping Alva lalu mengungkungnya.


"Kamu harus menjadi sarapan spesial ku pagi ini,"bisik Alva seraya menggigit kecil telinga Disha.


"Nggak mau!" ketus Disha sambil mendorong dada Alva tapi Alva sama sekali tidak bergeming.


"Tapi aku memaksa,"sahut Alva yang langsung melum mat bibir Disha hingga Disha tidak bisa berkutik lagi saat Alva mulai membuai tubuhnya membuat Disha mende sahh karena remasan lembut Alva di bukit kembarnya, apalagi saat lidah dan mulut Alva sudah bermain di sana. Disha benar-benar kehilangan akal dibuatnya.


"Bik, panggil Alva dan Disha agar sarapan bersama,"ucap Ratih pada seorang Art saat masih di ruang keluarga bersama keluarga Mahendra.


"Iya, Nyah,"sahut Art itu bergegas naik kelantai dua, di mana kamar Alva berada..


"Al.!! Sttt..ahh.."racau Disha saat Alva terus bergerak diatasnya membuat Disha gelisah dibawah kungkungan Alva.


"Tok..tok..tokk.."


"Tuan Muda, Nyonya Muda, Nyonya besar dan yang lainnya sudah menunggu untuk sarapan di bawah,"ucap Art itu beberapa kali tapi tidak mendapatkan sahutan dari dalam.

__ADS_1


Sedangkan di dalam kamar itu Alva dan Disha masih meneruskan kegiatan panas mereka di pagi hari tanpa menghiraukan ketukan di pintu kamar mereka.


Karena tidak mendapat sahutan dari dalam kamar itu, akhirnya Art itupun kembali ke ruang keluarga untuk menghampiri Ratih.


"Nyonya, saya sudah mengetuk pintu kamar Tuan Muda beberapa kali, tapi tidak mendapatkan sahutan dari dalam," lapor Art itu.


"Ya sudah, biarkan saja, Bik. Nanti kalau lapar mereka juga turun sendiri. Bibi siapkan saja sarapan untuk semuanya," pinta Ratih.


"Baik, Nyah,"sahut Art itu kemudian pergi ke dapur.


Karena sudah agak lama menunggu Alva dan Disha turun tapi sepasang suami istri itu tidak kunjung turun juga, akhirnya keluarga Bramantyo dan Mahendra memutuskan untuk sarapan bersama terlebih dahulu tanpa Disha dan Alva.


Sedangkan Alva dan Disha baru saja selesai dengan aktivitas panas mereka pagi itu. Alva menciumi wajah Disha dan terakhir ciumannya berlabuh di bibir Disha.


"Terimakasih, sayang!"ucap Alva kembali mengecup bibir Disha kemudian dengan nafas yang belum stabil, Alva mencabut miliknya dari inti tubuh Disha dan berbaring di samping Disha. Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos kemudian meraih tubuh Disha dan membawanya dalam pelukannya.


"Sayang, jawab pertanyaan ku tadi! Kamu sudah berjanji akan menjawabnya, kan??" pinta Disha seraya mendongakkan kepalanya menatap wajah Alva yang masih dipenuhi peluh, tapi malah terlihat semakin tampan di mata Disha.


"Menjawab pertanyaan yang mana, hem?" tanya Alva pura-pura lupa.


"Kamu memasang kamera untuk merekam malam pertama mereka tidak?" tanya Disha menatap Alva dengan wajah yang serius.


"Iiihhh . ngeselin,dech! Tinggal jawab iya atau tidak saja susah,"ketus Disha.


"Itu bibir jangan di manyun manyunin! Pengen dicium lagi, apa hem?"tanya Alva seraya mencubit dagu istrinya.


"Ishh..Alien nyebelin.!!"kesal Disha memukul-mukul dada Alva karena Alva masih saja bercanda dan berbelit-belit, sedangkan Alva malah tertawa.


"Iya..iya aku jawab, sayang. Aku tidak melakukan nya. Nggak mungkin lah aku memasang kamera tersembunyi di kamar pengantin baru, sayang! Aku cuma bercanda saja. Aku nggak pernah melakukan hal seperti itu,"


"Video panas Anjani dan Hery dibeli Ferdi dari pencari berita, Vidio panas Hery dan Trisha juga Ferdi dan Hery yang mengambilnya. Aku sama sekali tidak tahu, sayang! Aku juga tidak pernah menyuruh mereka melakukan itu semua.Mereka menyimpan vidio-vidio itu hanya untuk melindungi kita dari para pengganggu rumah tangga kita, sayang!" jelas Alva yang membuat Disha menghentikan aksinya.


"Ish.. kenapa nggak ngomong dari tadi?Jawab gitu aja berbelit-belit, mana minta syarat lagi,"ketus Disha dengan wajah yang cemberut.


"Kenapa? Kamu kecewa dengan jawaban ku? Kamu pengen tahu gimana cara mereka unboxing?"tanya Alva menaik turunkan alisnya sambil tersenyum.


"Auk ah..Males ngomong sama kamu," ketus Disha langsung bangun dan menarik selimut untuk membungkus tubuhnya yang polos hingga Alva yang ikut memakai selimut pun menghela nafas saat tubuhnya yang polos terpampang nyata karena selimut yang dipakainya dibawa istrinya ke kamar mandi.


"Sayang, mandi bareng!"teriak Alva segera bangkit dari tempat nya berbaring.

__ADS_1


"Ogah!"sahut Disha saat akan menutup pintu kamar mandi, tapi Alva dengan gerak cepat segera masuk menutup pintu kamar mandi dan langsung mengangkat tubuh Disha menuju bathtub.


"Alien.!!"pekik Disha karena terkejut dengan gerakan cepat Alva yang langsung menggendong nya.


"Apa, sayang?"sahut Alva lembut seraya tersenyum manis pada istrinya itu. Disha pun hanya bisa menghela nafas dengan tingkah suaminya itu.


Tak lama kemudian Disha dan Alva pun keluar dari kamar mereka dan menuruni anak tangga menuju ruang makan dimana keluarga mereka baru saja menyelesaikan sarapan pagi mereka.


"Mama, papa dan kakak sudah datang?" sapa Disha saat melihat keluarga yang baru ditemukan nya juga berada di meja makan bersama kedua mertuanya.


"Iya, sayang. Mama mu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucunya. Dari rumah sakit kami langsung ke sini,"sahut Mahendra.


"Sarapan lah dulu, sayang!"ucap Ratih menatap Disha.


"Iya, ma,"sahut Disha tersenyum tipis.


Alva menarik kursi untuk istrinya duduk, kemudian ikut duduk di samping istrinya. Dan Disha pun segera mengambilkan sarapan untuk suaminya itu. Sedangkan yang lain memilih meninggalkan ruangan makan itu untuk duduk di taman belakang dan bermain dengan Kaivan.


Bayi montok itu sudah mulai berjalan sedikit demi sedikit dan Radeva nampak senang menemani keponakan nya itu belajar berjalan.


"Kapan kalian menginap di apartemen kami?"tanya Ghina pada Alva dan Disha yang baru saja bergabung dengan mereka.


"Sebaiknya kita beli rumah dulu, baru mengajak mereka menginap di rumah, ma,"sahut Mahendra sebelum Alva dan Disha menjawab pertanyaan dari Ghina.


"Papa benar, ma. Aku akan cari rumah dulu, setelah itu mama bisa mengajak Alva, Disha dan cucu mama menginap di rumah. Akan aku usahakan mencari rumah yang tidak jauh dari sini,"sahut Radeva.


"Terimakasih, sayang,"sahut Ghina.


"Apa mama, papa dan kakak berencana menetap di negara ini?"tanya Disha.


"Iya, sayang. Mama ingin kita semua berkumpul di. sini,"sahut Ghina dengan senyum terkembang.


"Bagaimana dengan perusahaan kalian di luar negeri, pa?"tanya Alva pada Mahendra.


"Kakakmu akan menempatkan orang- orang kepercayaannya di perusahaan kita yang ada di luar negeri. Papa juga sependapat dengan mamamu, papa ingin semuanya kembali berkumpul di negara ini,"sahut Mahendra.


"Menurut ku itu rencana yang bagus, pa. Di tempat tinggal kalian sebelumnya, Kakak ipar ku itu nggak laku-laku. Mungkin disini dia bisa laku,"celetuk Alva tanpa dosa.


"Dasar adik ipar lak natt.!!"

__ADS_1


__ADS_2