
"Kalian? Mau apa kalian kesini?"tanya Hery yang terkejut saat keluar dari kamar malah melihat Alva, Disha, dan Riky.
"Eh, pengantin baru. Kenapa keluar dari kamar?"tanya Riky sok akrab.
"Mau apa kalian kesini?"ucap Hery mengulangi pertanyaannya.
"Tentu saja mau menginap, Tuan! Masa iya kesini mau main monopoli atau main karambol, apalagi main catur? Tapi kalau mau main kuda-kudaan sich bisa jadi!"ucap Riky kemudian menoleh ke Alva,"Tuan, apa Tuan sudah bisa buka puasa dan mau main kuda-kudaan mangkanya menyuruh saya memesan kamar presidential suite?!"tanya Riky dengan wajah tanpa dosanya.
"Riky.!!"geram Alva sedangkan Disha hanya bisa membuang nafas kasar.
"Ampun Tuan, saya masih polos!"pekik Riky melempar kunci kamar yang berbentuk kartu pada Alva kemudian berlari menuju lift.
"Dasar asisten sialan!! Bisa bisanya dia bicara begitu,"umpat Alva melihat Riky yang sudah masuk ke dalam lift.
"Sudah sayang, jangan marah! Kamu kayak nggak tahu saja bagaimana sifat Riky,"ucap Disha dengan tangan kiri memeluk Alva dan tangan kanannya mengelus-elus dada bidang suaminya. Sedangkan Hery yang melihat itu pun hatinya kembali panas.
"Kamu sengaja menyewa kamar bersebelahan dengan ku?!"tuduh Hery pada Alva.
"Yang memesan kamar ini adalah asisten ku, bukan aku,"jawab Alva jujur dan datar.
"Iya, yang memesan memang asisten kamu tapi kan atas perintah dari kamu,"ucap Hery tidak suka.
"Memangnya kenapa kalau aku memesan kamar ini? Semua orang berhak menyewanya,"ucap Alva dengan tajam.
"Sayang, sudah! Sebaiknya kita masuk, aku sudah lelah berdiri,"ucap Disha mencoba mengakhiri perdebatan antara suaminya dan mantan pacarnya.
"Aku tidak suka, dia selalu saja mencari gara-gara dengan ku,"sahut Alva.
"Kamu yang memulainya duluan, karena kamu yang merebut Ayu dari ku,"balas Hery tidak mau kalah.
"Sudah, cukup!! Hery, sebaiknya kamu masuk kekamar mu!" bentak Disha yang merasa kesal dengan kedua pria itu.
"Istri ku benar, sebaiknya kamu masuk dan menikmati malam pengantin kamu dengan Anjani. Aku juga akan menikmati malam ini, mengulangi malam pengantin kami dulu,"ucap Alva tersenyum miring.
"Kau.!!"geram Hery.
Karena sudah muak dengan perdebatan dua pria itu, akhirnya Disha meraih kunci yang dipegang oleh Alva untuk membuka pintu kamar hotel itu. Setelah pintu kamar terbuka, Disha pun segera menarik tangan Alva untuk masuk ke dalam kamar kemudian menutup pintunya.
__ADS_1
"Siall.!! Siall.!! Siall.!!"umpat Hery seraya menendang-nendang udara.
Sebenarnya tadi Hery masuk ke kamar lebih dulu dari Anjani untuk merebahkan tubuhnya yang lelah dan hatinya yang panas karena melihat kemesraan Alva dan Disha.
Namun tak lama kemudian Anjani juga masuk ke dalam kamar. Akhirnya Hery memutuskan untuk keluar dari kamar tapi malah melihat Alva, Disha dan Riky berdiri di depan pintu kamar hotel yang ada di sebelah kamar nya. Hal itu semakin memperburuk suasana hati Hery.
Apalagi saat melihat Disha menenangkan Alva dengan cara memeluk Alva dan mengelus-elus dada Alva. Belum lagi jika mendengar Disha memanggil Alva dengan panggilan 'sayang', hati Hery semakin kacau dibuatnya.
Karena merasa kesal akhirnya Hery berniat pergi meninggalkan hotel itu. Asisten Hery yang akan pulang dari resepsi pernikahan Hery pun mengurungkan niatnya untuk pulang saat melihat Hery memasuki mobilnya dan melaju meninggalkan hotel. Asisten Hery itu akhirnya memutuskan untuk mengikuti majikannya.Hery melajukan mobilnya menuju klub malam kemudian memesan sebotol minuman beralkohol.
"Tuan, kenapa anda malah kesini? Ayo kita kembali ke hotel!"ajak asisten Hery.
"Kamu pulang saja sana! Aku ingin disini,"ucap Hery yang malah meminum minuman beralkohol yang dipesannya tanpa menggunakan gelas yang sudah disediakan.Hery meminum minuman itu langsung dari botol nya.
"Tuan, jangan terlalu banyak minum, nanti tuan bisa mabuk,"nasehat sang asisten.
"Pergi kamu!! Jangan ganggu aku!"sergah Hery yang membuat asistennya terdiam dan memilih menunggu Tuan nya tanpa bersuara lagi.
Di kamar hotel.
"Cuma lagi pengen aja, sayang,"jawab Alva memeluk Disha dari belakang menggosok gosok hidupnya di leher Disha.
"Tapi bagaimana dengan Kaivan, sayang?"tanya Disha.
"Aku sudah mengirimkan pesan pada Bik Inah jika kita tidak akan pulang malam ini,"jawab Alva kemudian mengecup dan menggigit kecil leher Disha.
"Sayang, hentikan!"mohon Disha yang tumbuh nya terasa meremang karena perbuatan Alva itu.
Alva membalikkan tubuh Disha hingga menghadapi ke arahnya. Alva menundukkan kepalanya kemudian dengan lembut mencium bibir Disha. Ciuman yang mulanya lembut lama-kelamaan menjadi menuntut.
Tangan Alva sudah mulai bergerilya kemana-mana bibirnya sudah turun ke leher Disha dan memulai melakukan hobi nya di sana, yaitu melukis tanda merah keunguan.
"Al,"ucap Disha lirih meremas rambut Alva yang bibirnya mulai turun ke dada nya.
"Sayang, aku tersiksa sekali,"ucap Alva memeluk erat tubuh Disha dengan tubuh yang terasa panas karena terbakar hassraat.
Disha mendorong dada Alva perlahan untuk merenggangkan pelukan mereka kemudian membingkai wajah Alva. Disha merasa kasihan melihat wajah Alva yang nampak menahan hasraatnya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.
__ADS_1
Disha kemudian mencium bibir Alva dengan lembut yang langsung di balas Alva. Perlahan Alva pun kembali memeluk Disha memperdalam ciuman mereka hingga semakin panas. Disha mengelus leher Alva kemudian tangannya mulai turun, satu persatu Disha melepaskan kancing jas dan juga kemeja Alva. Perlahan Disha mengelus dada dan perut suaminya.
"Ssttt... sayang!!"desis Alva menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Disha mempererat pelukannya, merasakan gejolak di dalam dirinya semakin naik karena tiba-tiba dengan berani Disha mengelus sesuatu dibawah sana yang mulai terasa mengeras.
"Kamu sudah boleh berbuka puasa,"bisik Disha ditelinga Alva yang membuat Alva langsung merenggangkan pelukannya.
"Benarkah sudah boleh?"tanya Alva antusias dan dijawab Disha dengan anggukan kepala dan senyum manis.
"Al.!!"pekik Disha saat tiba-tiba Alva mengangkat tubuhnya.
***
Di klub malam nampak Hery yang sudah mabuk. Asisten Hery pun segera membawa Hery masuk kedalam mobilnya dan mengantar Hery kembali ke hotel. Dengan susah payah asisten Hery membawa Hery kembali ke kamarnya.
"Tok...tok..tok.."asisten Hery mengetuk pintu kamar hotel tempat Hery menginap.
Tak lama kemudian muncul seorang wanita cantik dari balik pintu yang dibuka.
"Nyonya,"sapa asisten Hery pada Anjani.
"Kenapa dia?"tanya Anjani yang melihat Hery dipapah oleh asistennya.
"Tuan mabuk, Nyonya,"jawab asisten Hery yang masih memapah tubuh Hery membuat Anjani membuang nafas kasar.
"Bawa dia masuk,"ucap Anjani seraya membuka pintu lebih lebar.
"Saya permisi, Nyonya,"ucap asisten Hery berpamitan setelah membaringkan tubuh Hery diatas ranjang dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Anjani.
Setelah asisten Hery keluar dari kamar itu, Anjani pun segera mengunci pintunya. Anjani menghela nafas kasar melihat Hery yang sudah tertidur karena mabuk.
"Apakah mungkin aku bisa bahagia dengan orang seperti Hery? Dia lebih parah dari Alva. Dia tidak mencintai ku, dia juga bukan hanya bersikap dingin padaku, tapi juga pemabuk,"gumam Anjani menitikkan air mata, menatap Hery sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.
...🌟"Ikhlaskan dan relakan apapun yang tidak bisa kamu dapatkan, walaupun sejatinya mengikhlaskan dan merelakan itu cuma mudah diucapkan tapi sulit untuk direalisasikan."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
To be continued
__ADS_1