Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
268. Menjadi Dosen?


__ADS_3

Radeva nampak sibuk berkutat dengan laptopnya, setumpuk berkas yang ada disampingnya pun sudah menunggu untuk diperiksa dan ditandatangani.


"Tok! Tok! Tok!"terdengar ketukan di pintu ruangan Radeva.


"Masuk!"seru Radeva tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop nya, sedangkan jemarinya masih sibuk menari-nari di atas keyboard laptopnya.


Seorang pria masuk kedalam ruangan itu, kemudian berdiri di depan meja kerja Radeva


"Tuan, saya membawa informasi tentang Niko,"ucap pria itu membuat Radeva menghentikan gerakan jemari tangannya kemudian menatap wajah pria yang ada di depannya, "Duduklah!"titah Radeva memberi isyarat dengan tangannya pada pria itu, dan pria itu pun duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Radeva, sesuai isyarat yang diberikan oleh Radeva.


"Apa informasi yang sudah kamu dapatkan?"tanya Radeva seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.


"Niko tidak lagi tinggal dengan Tuan Nalendra. Dia mengontrak sebuah apartemen sederhana dan melamar pekerjaan di beberapa universitas yang ada di kota ini sebagai dosen yang mengajar mata pelajaran bahasa asing,"jelas pria di depan Radeva itu.


"Apa? Melamar sebagai dosen? Dan dia ingin menjadi dosen pengajar bahasa asing?"tanya Radeva nampak tercengang.


"Iya, Tuan,"sahut pria di depannya itu membenarkan.


"Tapi dia dulu kuliah dengan jurusan yang sama dengan ku. Kami mengambil jurusan bisnis, kenapa dia melamar menjadi dosen yang mengajar bahasa asing?"tanya Radeva terheran heran.


"Setelah saya selidiki, ternyata setelah lulus kuliah jurusan bisnis, Niko kuliah lagi dan mengambil jurusan bahasa asing, bahkan saat ini dia sudah menguasai enam bahasa asing,"jelas pria itu.


"Benarkah? Aku benar-benar tidak tahu jika dia kuliah jurusan bahasa asing dan bahkan menguasai enam bahasa asing. Tapi kenapa tiba-tiba dia mengundurkan diri, tinggal terpisah dengan paman Nalendra dan melamar pekerjaan sebagai dosen pengajar mata kuliah bahasa asing?"gumam Radeva seraya memegang dagu nya, dan gumaman nya itu masih bisa di dengar pria di depannya.


"Saya juga tidak tahu, Tuan,"sahut pria didepan Radeva itu.


"Aneh sekali,"gumam Radeva lagi,"Apa dia diterima di salah satu universitas?"tanya Radeva lagi.


"Sudah ada satu universitas yang menerimanya sebagai dosen, Tuan. Dan hari ini, Niko sudah mulai mengajar,"sahut pria itu.


"Cepat juga dia mendapatkan pekerjaan,"celetuk Radeva.

__ADS_1


"Lalu sekarang apa yang harus saya lakukan, Tuan?"tanya pria di depan Radeva, nampak menunggu perintah selanjutnya.


"Untuk sementara tidak ada, tapi kamu harus tetap mengawasi paman ku. Sekarang, kamu boleh pergi,"ucap Radeva.


"Baik, Tuan,"sahut pria itu menundukkan kepalanya sekilas, kemudian meninggalkan Radeva yang masih berpikir keras, kenapa Niko keluar dari perusahaan dan melamar kerja sebagai dosen.


***


Di sebuah universitas, Niko nampak berjalan menyusuri koridor yang menuju ruangan rektor. Banyak pasang mata yang memandang pria berusia 32 tahun itu dengan tatapan kagum, terutama dari para mahasiswi. Wajah tampan, tubuh yang proporsional, kulit putih bersih, dan penampilan maskulin, membuat Niko begitu memukau di mata para mahasiswi.


"Ya ampunnn... ganteng banget sich, tuch cowok!"


"Aku bawa pulang, boleh nggak sih?"


"Udah punya pasangan belum, ya? Kalau belum, aku pengen daftar jadi calon istrinya,"


"Nggak mungkin masih singel, perfect begitu,"


"Jadi simpanan nya juga nggak apa-apa,"


Itulah cuitan beberapa mahasiswi saat melihat Niko. Niko langsung menjadi pusat perhatian di universitas itu, tanpa mereka tahu siapa Niko yang sebenarnya. Seorang pria yang suka menikung wanita incaran sepupunya sendiri. Playboy yang suka bergonta ganti pasangan, mempermainkan wanita dan menjadikan para wanita yang menyukai nya sebagai penghangat ranjangnya dan mesin ATM berjalannya. Pria brengseek yang memanfaatkan wanita demi kebutuhan biologisnya sekaligus untuk menanggung biaya hidupnya.


Jika saja Niko menjadi artis, mungkin akan mempunyai banyak fans.Tapi sayang, kesempurnaan fisik yang dimilikinya, selama ini dia gunakan untuk menjerat wanita demi keuntungan pribadinya. Mencari kesenangan dan uang secara mudah dan instan. Begitulah jaman sekarang, yang instan lebih menggoda iman.


Setelah beberapa menit berada di ruangan rektor, Niko masuk di kelas, tempat dia mulai mengajar hari ini, dan langsung mendapat tatapan kagum dari para mahasiswi, serta tatapan tidak suka dari para mahasiswa. Tentu saja mereka tidak suka, dari wajah, bentuk tubuh dan gelar, mereka jelas-jelas kalah telak. Tidak punya daya saing untuk menyaingi dosen baru itu.


Niko berdiri di depan kelas, kemudian memperkenalkan diri,"Good afternoon all! Introducing, my name is Niko Atmajaya. You can call me Mr. Niko. I am a lecturer who will teach English courses in this class. Please introduce yourselves from the very front desk, on the right! ( Selamat siang semuanya! Perkenalkan, nama saya Niko Atmajaya. Kalia bisa memanggil saya Pak Niko. Saya dosen yang akan mengajar mata kuliah bahasa Inggris di kelas ini. Tolong perkenalkan diri kalian masing-masing dari meja paling depan, sebelah kanan! )"ucap Niko dan mahasiswa yang berada di meja paling depan sebelah kanan pun langsung memperkenalkan diri.


Setelah semua mahasiswa memperhatikan diri, Niko pun kembali berbicara,"Oke semua sudah memperkenalkan diri. Saya akan memberitahu aturan dalam mengikuti mata kuliah saya. Pertama, saya tidak mengizinkan mahasiswa yang datang terlambat masuk ke kelas saya, walaupun hanya terlambat datang satu detik sekalipun. Kedua, saya tidak akan menerima tugas yang dikumpulkan terlambat dari waktu yang saya tentukan. Ketiga, saya tidak akan menjawab pertanyaan yang tidak berhubungan dengan mata kuliah yang saya ajarkan,"ucap Niko yang membuat para mahasiswi yang ingin menanyakan alamat rumah, status, nomor sepatu, nomor ponsel dan lain sebagainya tidak jadi membuka mulut mereka.


"Ada yang ingin kalian tanyakan?"tanya Niko seraya menatap seluruh mahasiswanya, namun tidak ada satupun dari para mahasiswa itu yang membuka mulut atau mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan,"Jika tidak ada kita akan mulai pelajaran hari ini,"ucap Niko kemudian langsung menerangkan materi pembelajaran hari itu.

__ADS_1


Kehadiran Niko di kampus itu tidak hanya membuat heboh para mahasiswi, tapi juga para dosen wanita yang masih singel. Para dosen wanita pun berlomba-lomba memperkenalkan diri dan mencari perhatian Niko. Niko yang sudah terbiasa di kelilingi wanita cantik pun nampak biasa saja dengan para wanita yang nampak berlomba-lomba untuk mendekati dan mencari perhatian darinya.


Entah kenapa sikap Niko kali ini berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi Niko yang tebar pesona dengan senyum menggoda. Hanya ada Niko yang bersikap biasa, bahkan terkesan cuek dan acuh pada makhluk yang bernama wanita. Bahkan Niko terkesan menghindari para wanita itu.


Setelah selesai mengajar, Niko meninggalkan universitas tempat barunya untuk mengais rupiah, dengan mengendarai motor sport-nya, Niko melaju menuju sebuah apartemen sederhana yang telah disewanya. Apartemen yang hanya memiliki satu kamar tidur, dapur, ruang tamu, dan dua kamar mandi yang berada di dalam kamarnya dan di dapur.


Disisi lain, seorang pria nampak berdiri di balkon sebuah kamar. Pria itu merogoh saku celananya saat mendengar handphonenya berdering, menandakan adanya panggilan masuk.


"Tuan,"sapa seseorang lewat panggilan suara setelah pria itu menggeser ikon berwarna hijau di handphonenya dan menempelkan benda pipih berbentuk persegi panjang itu di telinganya.


"Bagaimana? Apa yang dikerjakan olehnya?"tanya pria itu pada si penelpon.


"Dia menyewa apartemen kecil yang sederhana di tempat yang strategis. Dia juga melamar pekerjaan sebagai dosen di beberapa universitas di kota ini, yang salah satunya sudah menerimanya sebagai pengajar. Dan hari ini Niko sudah resmi'menjadi dosen dan mulai mengajar,"jelas sang penelpon.


Sang pria yang berdiri di balkon itu menarik kedua sudut bibirnya, hingga tercipta sebuah lengkungan ke atas yang membentuk sebuah senyuman.


"Awasi terus dia, jangan sampai dia melanggar janjinya. Jika dia berani melanggar janjinya....."pria itu menjeda sejenak ucapannya dengan senyuman yang berubah menjadi seringai,"Aku akan membuat dia menyesal seumur hidupnya,"ucapnya dengan nada dingin.


"Baik Tuan, saya akan mengawasinya,"ucap sang penelpon.


"Setelah ini, kamu tidak perlu melaporkan apapun tentang dia padaku, terkecuali jika kamu merasa aku perlu mengetahuinya, atau saat aku ingin mengetahui sesuatu tentang dia seperti saat ini,"ucap pria itu.


"Baik, Tuan,"ucap si penelepon kemudian sambungan telepon itu diakhiri oleh pria yang sedang berdiri di balkon. Pria itu nampak mendongakkan kepalanya menatap langit malam yang terang oleh sinar rembulan dan bertabur bintang, terlihat begitu indah.


"Aku harap, kamu benar-benar bertobat dan menjalani kehidupan mu dengan baik. Cita-cita menjadi pengajar lebih mulia dari pada bercita-cita menjadi pebinor, playboy, penipu, apalagi menjadi penjahat kelamin. Aku yakin, sebenarnya kamu adalah orang baik,"gumam pria itu seraya memasukkan kedua tangannya di saku celananya, masih mendongak menatap langit malam.


...🌟"Bukan manusia jika tidak pernah melakukan kesalahan....


...Namun bukan berarti setiap kesalahan bisa di maklumi dan dimaafkan."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...

__ADS_1


...🌸❀️🌸...


To be continued


__ADS_2