Andi X Sarah

Andi X Sarah
52. Maling (SEASON 2)


__ADS_3


Maling



Malam semakin larut. Dari jendela Andi dengan jelas melihat bulant tepat bersinar di atas puncak Gunung Singgalang. Nyanyian jangkrik di semak samping rumah membawa suasana merdu, tak sunyi seperti di dalam rumah. Pak Uwo dan Etek sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Tinggal Andi dan Nenek bertahan di rumah tua berlangit-langit triplek coklat ini. Menunggu esok pagi, sembari berharap tidak sedingin yang tadi.


Nenek sudah terlelap semenjak jam sembilan. Sementara itu, Andi masih terjaga di tengah malam. Merasa bosan, Andi tega membangunkan Nenek untuk izin keluar rumah. Kebetulan tidak jauh dari rumah terdapat kedai domino yang selalu ramai oleh para pemuda desa. Tidak sulit, Andi langsung mendapatkan izin. Coba aja kalau sama Mama, pasti ga bakalan di kasih izin keluar jam segini.


Betul saja, para pemuda tengah asyik bermain domino di kedai tersebut. Beberapa di antara mereka duduk di depan TV untuk menonton pertandingan bola malam ini. Menyeruak wangi tembakau bercengkeh tatkala Andi memasuki kedai. Tentu saja Andi menyapa beberapa orang di sana agar sedikit lebih santun.


"Uni, kopi ciek. Duo sendok se gulonyo," pinta Andi kepada buibu kedai.


Kak, kopi satu. Dua sendok aja gulanya.


Hentakan batu domino semakin kuat. Teriakan para penonton lebih keras daripada para pemain domino ketika salah satu pemain langsung mengunci batu agar menang.


Tentu aja mereka bicara pake bahasa Minang ya ... ni langsung ditransletin aja.


"Ehh, menang malah pergi. Main lagi dong," ucap salah satu pemain.


"Eh, udah larut malam banget, Bang. Harus pulang."


"Macam bencong aja kulihat kau. Bencong aja pulang pagi."


Ia tetap berdiri dan berjalan menuju parkiran.


"Siapa yang mau main?" tanya bapak tersebut.


Wah ini kesempatan banget. Andi langsung mengangkat tangan, soalnya udah berhari-hari Andi tidak bermain domino dengan tenang. Domino ini sarana buat ngelancarin otak, soalnya kan ngitung-ngitung juga. Ngelihat batu apa yang belum keluar, menebak batu apa yang ada sama lawan, dan mencoba memanjakan kawan agar batunya leluasa keluar. Orang pinter sekolah belum tentu nih bisa main domino.


"Wah, anak muda semangatnya boleh juga. Anak siapa?" tanya bapak itu.


"Cucunya Bu Nurhayati."


"Ondeh, sanak kita rupanya. Anak Eti, kan?"


Eti merupakan panggilan mamanya di sini. Mendengar hal tersebut, Andi mengangguk senang.


"Mari sini. Kita mandan berdua lawan mereka. Bapak ini temenan sama mama kau. Andi namanya, kan? Udah lama enggak ketemu. Dulu masih bayi."


"Iya, Pak. Nama aku Andi, Pak. Ayo main." Andi duduk di meja kosong untuk bermandan ria bersama bapak tersebut. "Main apa ni? Uang atau apa?"


Andi paham kalau main di kedai, pasti ada yang dipertaruhkan. Soalnya Andi udah lama di dunia perkedaian, jadi enggak canggung ngelihat suasana seperti ini.


"Main rokok aja, dua kali putus."


"Oke, langsung aja main."


Bermain mandan merupakan istilah domino di daerah sumatera untuk main domino berpasangan. Mungkin di daerah lain punya sebutan yang berbeda. Jadi, mereka berdua harus saling pengertian buat mengalahkan pasangan lawan mereka.


Batu diaduk. Bandar menunggu masing-masing pemain buat ngambil tujuh batu untuk dimainkan. Andi beruntung, di batu pertamanya ia langsung mendapatkan balak kosong dan beberapa batu yang memiliki mata angka yang sama. Oleh karena itu, Andi berhak melempar batu pertama karena memilik balak kosong.

__ADS_1


Secangkir kopi pesanan Andi sudah datang. Tangannya mengangkat cangkir tersebut sembari meletakkan sebungkus rokok di atas meja. Kalau udah ngumpul begini, enggak ada lagi namanya rokok pribadi, semuanya milik bersama. Siapa yang mau, langsung ambil aja. Tapi ya punya rasa tenggang juga, enggak sopan ngambil rokok yang cuma tinggal sebatang. Pertaruran tidak tertulis mengatakan jika rokok terakhir tersebut milik dari yang punya bungkus rokok.


Dua putar giliran Andi masih bisa menguasai permainan. Sedari tadi bapak tersebut masih melirik-lirik Andi, mungkin aja dia masih menebak gaya permainan Andi. Andi mendapatkan ujung batu yang bagus, karena bisa langsung diadu biar lawan mereka kelah. Batu di kunci, Andi membuka batu miliknya yang tersisa untuk dibandingkan dengan batu lawan. Apabila jumlah batu Andi lebih kecil dari lawan, maka mereka memenangkan permainan.


Andi tersenyum lecik, memang sih dia masih kecil dibandingkan mereka. Tapi, pengalaman main batu jangan diremehin. Bapak tersebut memberikan jempol kepada Andi karena usahanya membungkam batu lawan.


"Mantap juga kau main. Belajar dari mana?" tanya bapak tersebut.


"Sering main di kedai, Pak. Biasa anak muda ...."


Batu kembali diaduk agar memulai permainan kedua. Namun, semuanya dikejutkan oleh seseorang yang melaporkan suatu hal sembari ngos-ngosan. Bapak tadi langsung berdiri untuk menghampiri.


"Ada apa?" tanya bapak tersebut.


"Ini Pak Lai, ada maling di dekat simpang besar itu. Orang udah ngepung tuh, malingnya masih di dalam rumah."


Andi baru tahu jika nama bapak buncit tersebut bernama Pak Lai.


"Ayo, kita kejar. Nanti kabur."


Uanjir, semua langsung berlari. Apa pun yang dilihat langsung diambil buat dijadiin senjata. Ada yang ngambil balok, ada yang ngambil botol kaca, tang di jok motor, eh Andi belum dapat apa-apa. Untung dia ada ikat pinggang buat dijadiin senjata. Seru nih gebukin maling.


Seseorang tiba-tiba lari keluar dari gang diikuti oleh kerumunan massa yang lari sambil ngangkatin balok.


Malingg!!!!!!!!!!!!!!!


Sontak semuanya langsung ikut ngejar. Andi yang masih muda dan masih seger dengan mudah memimpin di barisan pertama. Lah kaya orang lomba lari aja. Pokoknya Andi sekuat tenaga buat ngejar tuh maling. Kerumunan massa yang mayoritas bapak-bapak buncit ketinggalan di belakang.


Kesempatan ini semakin membuat Andi semangat. Larinya bertambah kencang tanpa hambatan. Ia menarik tas pelaku hingga ia tercampak berguling-guling. Udah langsung Andi hajarin dia ketika lagi tersungkur. Dua kali, tiga kali, empat kali, sampe hidungnya berdarah. Namun, Andi tercampak ke belakang ketika maling menendang perutnya.


"Sini kalau berani," ucap maling dengan berbahasa Minang. Sebuah pisau lipat tergenggam di tangannya.


"hey!!! kau kira aku takut. Yaa takutlah, anjirr ...."


Maling mengejar Andi dengan cepat. Ya namanya maling bawa pisau, Andi kaburlah. Ni maling niatnya ngebunuh orang, siapa yang berani kan?


Andi hampir ditebas, untung saja dia bisa menghindar. Berbekalan ilmu tawuran di jalanan, Andi menjatuhkan maling tersebut dengan sekali hentakan tangan. Sebelah kaki Andi menahan tangan maling yang lagi megang pisau. Gelud tidak bisa dihindarkan, Andi juga turut kena bogem kepalanya. Untung aja pisau maling tersebut masih bisa Andi tahan.


Warga tiba tepat waktu. Sebuah balok menghantam kepala maling. Malingnya jadi sempoyongan dan terlepas dari cengkraman Andi. Seseorang menarik Andi agar menjauh dari kerumunan massa yang datang. Sambil ngos-ngosan, Andi ngelihatin maling yang jadi bulan-bulanan warga.


Usaha mereka mengejar maling akhirnya berhasil. Maling diikat tangannya sambil ditelanjangi. Mukanya udah bonyok, matanya bengkak sebelah. Belum puas, warga masih juga mukulin waktu maling itu digiring. Sebenarnya Andi pingin banget mukulin maling tersebut, tapi dia lagi dalam kondisi lemas karena baku hantam tadi.


Pak Lai mendekati Andi. "Andi, tangan ang taluko."


Andi, tanganmu berdarah.


"***** ...." Matanya melihat darah yang mengalir di tangan. Pisau ternyata berhasil menyayat tanganya.


"Ke rumah bapak dulu. Diobati," ajak Pak Lai.


"Iya, Pak. Mari."


Pak Lai membawa Andi ke rumahnya. Andi terheran-heran soalnya jalan tersebut pernah dilewati Andi sebelumnya. Hingga ia tiba di jalan mendaki dengan sebuah rumah yang ada di puncak.

__ADS_1


"Ayo masuk."


"Ini kan rumah Clara?" tanya Andi terheran-heran.


"Clara itu anak bapak. Kau pasti kenal. Udah ketemu, kan?"


Oalah, ternyata Pak Lai ini ternyata bapaknya Clara. Padahal ga ada mirip-miripnya sama sekali.


Andi disuruh duduk di ruang tamu sembari menunggu Pak Lai yang lagi ke sebuah kamar. Tidak lama kemudian, Clara keluar dari kamar dengan setelan baju tidur dan rambut yang tergerai manja. Tatapnya yang masih mengantuk memerhatikan tangan Andi yang berdarah.


"Eh, kok bisa begini?" Clara memegangi tangan Andi yang berdarah.


Ia tidak menjawab. Andi sibuk memerhatikan wajah Clara yang begitu khawatir denganya. Sentuhan tangan Clara begitu menyentuh hatinya. Bagaimana bisa ia bertemu dengan seseorang yang sangat peduli. Tidak cantik yang ia kagumi, namun kepedulian dan tulusnya hati Clara membantu orang lain. Persis kaya istri-istri ideal yang Andi ekspetasikan.


"Jawab, dong!" paksa Clara.


"Oh, tadi ngejar maling. Malingnya bawa pisau."


Pak Lai mengintip dari kamar bersama seorang ibu-ibu yang begitu mirip dengan Clara.


"Clara, bunda panaskan air. Kamu obati luka Andi, cabut aja kunyit di luar."


"Iya, Bunda. Bentar." Tangan Clara melepaskan sentuhannya. "Kamu tahan tangan kamu ke atas dan ditekan. Biar darahnya ga keluar lagi."


Sekitar lima menit Clara tiba dengan membawa air panas dan sebuah ulekan lengkap dengan kunyit di atasnya. Tangannya lihai membuka kulit kunyit dan mengulek kunyi hingga menjadi bubur. Setelah itu ia menempelkan kain yang sudah dibasahi air panas.


"Tahan ya. Agak sakit."


"Aww ... bukan agak lagi, tapi sakit."


"Kamu sih sok-sokan ngejar maling. Di sini malingnya beda sama di kota kamu."


"Makasih ya ..."


"Iya ..."


Tangan Andi ditaburi kunyit yang sudah diulek oleh Clara. Benar, rasanya sangat panas. Namun, Clara berkata bahwa semakin sakit, maka semakin bagus. Setelah itu, ia membalutnya dengan perban dengan perlahan.


"Besok pagi aku ke rumah buat bersihin luka kamu."


"Oh, ga perlu. Aku bisa sendiri," jawab Andi.


"Bukannya kita mau pergi jalan-jalan. Kalau ga mau yaudah."


"Oh iya juga ya."


"Biar aku antar pulang."


Jalanan jam dua pagi tampak sangat sepi hingga mereka sampai di depan rumah Nenek. Andi turun sembari tersenyum kepada Clara yang terang oleh pancaran lampu depan rumah. Bulan menjadi saksi, Gunung Singgalang turut menyaksikan Andi yang terpana tatkala Clara kembali menyentuh tangan Andi lengkap dengan saran-saran bergunanya. Dada Andi berdebar, sama seperti sebelum-sebelumnya.


Terima kasih, hanya kata itu yang Andi ucapkan tanpa dijawab oleh wanita itu. Seperti biasa, Clara acap kali tidak menjawab di akhir percakapan. Ia mengiringnya dengan senyum tulus. Hingga sesampai di kamar, Andi masih menyimpan senyum tersebut sembari merasakan sakit yang berganti menjadi sesuatu yang berharga.


***

__ADS_1


__ADS_2