Andi X Sarah

Andi X Sarah
34. Jatuh Tapi Nikmat (SEASON 2)


__ADS_3


Jatuh Tapi Nikmat



Seakan tidak percaya, ia masih mencubit tangan ketika sudah sampai di lapangan untuk bersiap-siap. Jantungnya berdegup kencang membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Tentu saja Ajiz akan begitu dekat dengan Naila tatkala ia digendong sekuat tenaga. Semangat ia semakin membara tatkala Naila tersenyum sembari menyemangatinya.


Masih teringat dalam ingatan Ajiz ketika masa orientasi siswa. Naila merupakan satu-satunya wanita yang ia temui dengan karakteristik yang sangat unik. Wajahnya yang cantik dan rupawan tentu saja menjadi salah satu alasan kenapa ia bisa jatuh hati dengan wanita itu. Tutur katanya yang sedikit frontal dan jujur merupakan daya tarik tersendiri baginya.


Sekian lama ia hidup di bumi sembari bernapas tanpa henti, baru kali ini ada wanita yang membuatnya benar-benar jatuh cinta. Betapa senangnya Ajiz mendengar jika wanita itu sekelas dengannya, ditambah lagi satu kelompok bimbingan. Ia tidak lagi menatap Naila dari belakang kelas, namun langsung menatap matanya yang bulat itu.


"Lo siap?" tanya Naila.


Ajiz menghindari tatapan langsung. Wajahnya memanas karena kehadiran Naila di samping.


"Selalu siap ...."


"Lo jangan mikirin apa-apa yang waktu gue digendong sama lo."


Pemikiran macam apa itu??? Lo kira gue Andi??? ucap Ajiz dalam hati.


Mungkin saja ia akan berpikir yang tidak-tidak dengan wanita lain. Namun, ia tidak akan berpikir seperti itu dengan wanita yang ia cintai. Bahkan, ia sesanggupnya untuk bisa menghindari pikiran seperti itu. Ia tidak akan tega.


"Yaa enggaklah ... tapi lo pegangan yang kuat ya." Ajiz kaget melihat respon wajah Naila. "Tapi jangan mikirn yang negatif dulu. Gue ga pingin lo jatuh, soalnya gue bakalan lari sekencang-kencangnya."

__ADS_1


Naila menutup mulutnya tatkala tertawa kecil melihat ekspresi Ajiz. "Ajiz, muka lo lucu kalau lagi malu. Lo selalu malu gini ya kalau bicara sama cewek."


Wajah Ajiz semakin memerah mendengar kalimat Naila barusan.


Ia menggoyangka tangannya. "Eh, enggak kok. Gue ga gugup."


"Hey, percaya dirilah. Lo kira gue ga merhatiin lo bicara sama yang lain. Sejelek apa pun cewek yang sedang bicara sama lo, pasti lo malu dan ngindarin tatap mata." Naila melingkar tangannya pada leher Ajiz untuk bersiap-siap memanjatnya. "Kalau lo kaya gini terus, gimana cewek mau dekat sama lo."


Ajiz tersenyum tipis. Ia bukanlah tipe pria yang dengan luwes mendekati seorang wanita. Bahkan selama ini, hanya Naila yang ia usahakan untuk lebih dekat. Teman-temannya aja mikir kalau dia ini sebenarnya GAY karena ga mau deketin cewek.


"Harusnya gue gimana, dong?" tanya Ajiz.


Wajah Ajiz seketika kaku tatkala Naila memanjat pada punggungnya. Dada Naila begitu menempel dan begitu terasa. Tentu saja membuat spot jantung dan bikin pikirannya mengarah kepada yang tidak-tidak. Ditambah lagi udara napasnya yang menyentuh telinga Ajiz. Yaudah ... makin menjadi-jadi.


"Yaa, kalau bicara sama cewek, tatap dong wajahnya. Coba lo praktekin sama Dinda atau Cece. Kalau lo berhasil, berarti lo bisa ngelakuin itu sama cewek lain. Soalnya, lo tahu sendiri kan mereka itu paling anti sama cowok yang berusaha buat ngedeketin. Cuek banget yaa."


Naila menarik dua helai rambut Ajiz. Meskipun sakit, ia merasa senang.


"Mereka mungkin iya, tapi gue ga gitu. Siapa aja cowok yang bisa bikin guejatuh hati, ga peduli dia populer atau enggak, ganteng maupun ga."


"Heheh semoga aja, ya ..."


Gue masih punya kesempatan ga ya? tanya Ajiz di dalam hati. Ia masih memikirkan sekain banyak cowok yang lebih populer turut mendekati Naila.


Kakak panitia sudah memberi aba-aba jika pertandingan akan dimulai. Ia berdiri di depan lima belas tim yang berbaris di garis star. Sebuah tongkat yang terikat sebuah bendera menjadi tanda mereka akan mulai berlari apabila tongkat itu diturunkan. Mata Ajiz fokus melihat tongkat panitia dan memegang kedua tangan Naila untuk bergantung lebih kuat. Sementara Ajiz dibutar untuk memberikan efek pusing ketika berlari, hitung mundur ternyata dimulai. Hingga ia samar-samar melihat tongkat tersebut di turunkan dan Ajiz melesat dengan cepat.

__ADS_1


Jangan remehkan pelari tercepat di SMP gue!


Ajiz dengan cepat melesat menuju posisi pertama. Naila yang sedang dia gendong memicingkan mata karena Ajiz bener-bener kaya orang kerasukan setan larinya. Walaupun gundukan dada Naila beradu-adu dengan punggungnya, ia tetap berusaha fokus dan tidak kehilangan arah. Ketika sampai di botol, Naila langsung turun dan jongkok buat masuki paku yang udah diikatkan ke pinggang dengan seutas tali.


"Cepetan," ucap Ajiz sambil membelakanginya. Ia bersiap-siap jika Naila kembali digendong.


"Sabar, udah kaya orang ***** nih gue masukin paku ke lobang."


"***** ..."


Naila berhasil memasukkan paku walaupun sudah ada beberapa tim yang lari duluan. Ia kembali berpegangan erat ke tubuh Ajiz. Seakan tidak ingin kalah, Ajiz makin kaya orang kerasukan jin atlet lari, kenceng banget. Lawan dengan jarak-jarak lima meter dengan mudah ia lewati. Dengan bersusah payah Ajiz memacu lawan dan melawan ketidakfokusan berkat gundukan dada Naila yang nempel dari tadi, akhirnya mereka berhasil finish dengan posisi kedua. Artinya, mereka berhak maju ke ronde kedua di lomba perang bantal melawan dua tim lagi di gelombang selanjutnya.


Saking kencengnya lari Ajiz, dia sampe over banget larinya dan ga bisa mengendalikan diri. Waktu mau ngestop, eh Ajiz kepelet. Naila hampir tercampak. Untung saja Ajiz sempat memeluknya dan membiarkan dirinya tergesek di tanah berumbut sembari memeluk Naila di atasnya.


Posisi mereka asli kaya di dorama-dorama Jepang yang ceweknya di atas dan cowoknya di bawah karena ga sengaja terjatuh. Ternyata Naila tidak merasa takut karena hampir tercampak, ia malah tertawa dengan membenamkan wajah pada dada Ajiz.


Pantulan cahaya mentari berbekas pada bulir keringat Naila yang menyucur. Ia bergeming beberapa tatakal wajahnya begitu dekat dengan wajah Naila. Waktu seakan berhenti dan ia tidak ingin waktu ini kembali berlanjut karena ia tahu momen langka ini akan berakhir.


"Lo ga apa-apa, kan?" tanya Ajiz.


"Seru, kalau bisa kita ulangi." Naila tersenyum lebar.


"Syukurlah ...."


Ajiz membiarkan Naila tetap berada di atas tubuhnya. Ia menyandarkan kepalanya ke tanah sembari melihat mentari pagi yang tampak terik. Tidak lama kemudian, seseorang menutupi mentari yang sedang ia pandang. Sebuah pukulan telak mengarah kepada kepalanya.

__ADS_1


"MALAH PELUKAN!!! KAKAK BIMBINGAN SAMA ADIKNYA SAMA AJA YA *******! UDAHAN CEPAT!!!" Sarah marah-marah karena mereka agak lama nyantai sambil pelukan kaya gitu. Padahal semua orang lagi merhatiin.


***


__ADS_2