Andi X Sarah

Andi X Sarah
22. Bioskop


__ADS_3


Bioskop



Tangan Andi sibuk merapikan rambutnya yang udah dipoles sama dua colekan besar pomade murahan yang dia beli di situs zadala. Kata Felix pomade ini bagus banget, ternyata benar adanya. Ga sebanding dengan harga jual yang tertera. Kemudian semerbak parfum yang agak mahalan dikit tercium ketika Andi menyemprotkannya. Ini bukan parfum di zadala, ini parfum temen mamanya yang jualan parfum.


Uang dari hasil ngibus Agus sudah ditangan, tinggal nonton pilem Tali Kutang Janda Perawan. Ada ya janda perawan? Namanya pilem, suka-suka pembuat pilemnya dong. Yaudahlah ... yang minta nonton beginian bukan dirinya, melainkan Sarah.


Andi menggapai handphone-nya, lalu mencari nama Sarah di LINE.


Andi : Woy, gua ga tau rumah lo di mana. send location, dong. (READ)


Sarah : Perumahan Beringin Indah, Jalan Sidodadi, deket kedai tempat bapak-bapak main domino.


Andi : Njir, kita satu perumahan, (READ)


Sarah : Ya mana gua tau, lo ga bilang. Udah siap-siap lo?


Andi : OTW.


Dengan cepat Andi berlari menuju ke garasi. Alangkah terkejutnya Andi melihat mobilnya sedang tidak ada di rumah. Tampak mamanya sedang ngopi di teras sendirian. Mereka berbincang menggunakan bahasa Minang.


"Ma, di maa oto Andi? Indak ado di garasi do," tanya Andi pada mamanya. (Ma, di mana mobil Andi? Tidak ada di garasi.)


"Tadi dibao jo etek ang. Inyo pai ba shopping," jawab mamanya sambil menyeruput kopi malam. (tadi di bawa oleh tante kamu. Dia pergi ber-shopping)


"Ondeh, Andi nak pai oto ndak ado." (Aduh, Andi mau pergi tapi mobil ga ada)


"Pakai se lah supra tu." Mamanya menunjuk motor butut yang udah ada sejak Andi masih SD. (Pakai aja supra itu)


Tidak ada pilihan lain lagi selain memakai motor supra yang nganggur di rumah. Keadaannya sangat terawat kalau mamanya yang makai. Kalau sama Andi, udah kaya motor yang dibawa ke kebun.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Andi tiba di rumah putih dengan pagar hitam yang mengelilinginya. Tampak di depan pintu Sarah sedang menunggu bersama seseorang yang lagi duduk di kursi teras. Terdengar suara Sarah memanggilnya untuk masuk.


"Andi, sini ... bokap gua mau ketemu," panggil sarah dari depan pintu.


Dengan setengah niat dirinya melangkah memasuki pekarangan rumah. Soalnya di sana ada bokapnya. Kumis tebal mulai gerak-gerak saat papa bokap Sarah menatap dingin ke arahnya.


"Om ...," sapa Andi.


Pria lima puluhan itu melihat Andi dari atas kacamatanya. "Lah, kamu Andi yang main domino sama om kemarin, kan?"


Andi meneliti wajah papa Sarah dengan seksama. Ternyata dia mengenali pria ini. Dia adalah lawan dominonya di kedai depan.


"Oh, Om boy. Jadi Om papanya Sarah?" tanya Andi.


"Iya ... ternyata kalian saling kenal, ya. Bawa aja Sarah main keliling perumahan biar kenal sama orang-orang di sini. Soalnya kami kan baru pindah, Sarah pasti belum punya temen baru." Papanya menarik Sarah ke arahnya. Lalu, Om Boy bicara lagi, "Besok-besok ajak temennya lagi biar main domino ngelawan om sama temen om."


"Oke, om."


Sarah memandang dingin papanya. "Papa kok bisa-bisanya main domino sama bocah-bocah tengil kaya mereka, sih?"


"Kalau menang ga apa-apa," balas Sarah sambil mengambil tangannya untuk menyalami. "Sarah pergi dulu. Samlekom."


"Walaikumsalam ... Jangan pulang larut malam dan jangan lupa beli martabak rasa kacang dengan sedikit keju, tapi bilang sama abangnya gulanya dikitin aja, soalnya papa ga mau gendut. Trus, kasih biji wijen yang banyak. Jangan lupa kasih mesisnya juga. Trus Beli dua kotak. Satu kotaknya lagi─"


"Sarah beli sama gerobak-gerobaknya, Pa."


Tampak Sarah keheranan melihat motor Andi yang seadanya. Ceper banget , bodinya udah dibongkar ampe keliatan kabel-kabelnya. Sarah ga yakin motor ini kuat jalannya waktu ngangkut badan Sarah.


"Yakin lo pakai ini?" tanya Sarah sambil ketawa.


"Mau gimana lagi, mobil gua dipake."


"Yaudah, ikut gua ke garasi."

__ADS_1


Andi mengikuti Sarah ke garasinya. Terdengar bunyi gesekan garasi saat terbuka. Alahngkah terkejut dirinya melihat sebuah motor trail terparkir di garasi Sarah. Sarah menegakkan pinggang karena bangga telah memerkan motor digarasinya itu.


"Kita pake ini sekarang, Hadiah ulang tahun gua ke 17 tahun." kata Sarah.


Andi agak panikan gitu. Soalnya dia ga pande makai motor kopling. "Gua ga pande motor ginian."


Bibir Sarah mencibir untuk meremehkan. Jempolnya menunjuk dirinya sendiri.


"Siapa bilang gua bakal ngizinin si Jhony-ku dipakai sama orang lain." Sarah mengangkang untuk menaiki motor trailnya. Bunyi motor trail yang khas menggelegar saat Sarah memainkan gasnya. "Ayo, naik."


Tidak ada yang bisa dilakukan Andi kecuali menelan ludahnya tatkala melihat Sarah menaiki motor trailnya. Namun, Andi ga bisa nolak.


Alhasil, Andi digonceng sama Sarah.


Tidak seperti cewek pada umunya, Sarah mengendarai motor udah kaya gangster motor yang baru aja begalin orang dijalan. Kenceng bener ampe Andi minta ampun biar ga kenceng-kenceng. Mau pegangan ke depan, eh ntar malah meluk Sarah. Mau pegangan di belakang, malah ga ada pegangannya. Mau megang di samping, eh malah megang pacar orang yang lagi ditebeng.


"Khoeekkkkk ..." Andi muntah-muntah diparkiran mall. "Air ... mana air ... khoek ...."


Tangan Sarah mengurut punggung Andi kuat-kuat. "Bencong amat lo, Ndi. Gitu aja udah muntah."


"Lo itu bawa motor─" Andi menunduk lagi karena udah ga tahan. "Khoekkk!!!"


"Nih, minum dulu," kata Sarah sambil membuka botol air mineral.


Mereka lanjut berjalan menuju bioskopnya. Andi masih berasa pusing sehabis muntah-muntah. Jalannya agak sempoyongan kaya abis baru minum tuak satu botol. Sarah jaga jarak karena malu bawa temen kaya dia.


"Lo beli karcisnya dulu,"


Sarah berjalan ke mbak-mbak bioskopnya. "Mbak, pilem Rinai Hujan untuk dua orang ya."


Tampak Sarah melambai karena sudah mendapatkan karcis masuknya. Dengan sempoyongan Andi melangkah. Senyum Sarah yang berbinar memang secara tidak langsung menambah semangat Andi. Rasa eneg yang dari tadi ia tahan perlahan menghilang.


Namun, ditengah jalan ia menabrak seseorang.

__ADS_1


Gubrak!


***


__ADS_2