Andi X Sarah

Andi X Sarah
14. Bantuan (SEASON 2)


__ADS_3


Bantuan



Deru ban mobil berbunyi ketika bergesekan di jalanan aspal. Udara yang tadi panas kita tergantikan oleh dinginnya AC mobil Pram. Sarah tak henti menghirup napas panjang oleh segarnya wangi jeruk dari parfum mobil. Lirikan Sarah tak lepas dari wajah Pram yang semakin tegas dan mencoklat. Sudah lima menit berlalu, mereka tidak kunjung mengucapkan sepatah kata pun.


Sudah berbulan-bulan lamanya Sarah tidak menatap pria yang sempat ia sukai itu. Pria yang terkenal dengan wangi tubuhnya yang aduhai, kini kembali muncul pada momen yang tidak terduga. Pria yang paling diincar oleh cewek satu sekolahan, kini kembali melindunginya seperti perlakuan lembutnya dahulu.


Ia mencoba mendesus kaya **** gitu, ternyata walaupun rambut Pram lagi pendek, tapi kepalanya harum banget. Pantes aja Andi katanya sering ngendus-ngendus kepala Pram. Terutama ketika mereka pertama kali bertemu. Jelas banget Andi ngehirup wanginya rambut Pram yang wangi banget.


"Khmm ...." Sarah berdehem. "Kaya ujian aja, diam-diam bae."


"Oh, iya ... gue lupa bicara," balas Pram.


"Bicara aja bisa sampe lupa."


Tangan Pram memutar stir untuk berbelok. "Lo ga berubah-berubah, ya ...."


"Gue mau berubah jadi apa? Jadi power renjer? Jadi huluk kaya celotehan Anak Amak?" tanya Sarah.


Dari dulu ni anak suka ngegass!!!


"Lo itu nekat ... lo bisa aja mati sama mereka tadi," balas Pram dengan sedikit penekananan.


"Eh, mereka enggak bakal bunuh gue. Mereka cuma anak mami yang salah pergaulan. Berani pun cuma rame-rame," jawab Sarah.


Pram menggeleng. Ia rasa Sarah benar-benar tidak mengerti konsekuensi mendekati kelompok berandalan. "Bukan gitu, lo bisa aja dipukulin, lo bisa aja dilecehin sama mereka."


"Gue ini tahu ga─"


"Iya gue tahu lo sabuk hitam taekwondo, bahkan Kevin sama Andi aja takut sama lo." Mata Pram menatap Sarah. "Bukan itu intinya. Lo itu tetap aja cewek, kalau ngelawan mereka semua, lo pasti kalah."


"Lo peduli apa?" tanya Sarah.


"Karena gue masih suka sama lo, masih sayang sama lo!!!" jawab Pram dengan tegas.


Sarah kembali menatap ke depan, begitu pula Pram. Detak jantung mereka berdua berpacu seiring waktu yang berjalan. Pram tidak menyangka jika dirinya akan mengatakan hal ini. Benar, ia begitu tulus menyukai Sarah. Namun, ia sengaja mengalah karena Sarah lebih memilih Andi daripada dirinya.


Napa Sarah menghela pelan. "Gimana pendidikan lo?"


"Ya, seperti pendidikan polisi pada umumnya."


Sarah mengangguk. "Oh, gitu ... lo enggak ada dipukulin sama senior, kan?"


"Ada, sih. Namanya juga masih ada sistim senioritas. Tapi, gue anggap sebagai pelajaran juga kalau besok turun di masyarakat." Tangan Pram menekan tombol lagu untuk mencairkan suasana. "Gimana hubungan lo sama Andi?"


"Seperti yang lo tahu, Andi itu orangnya cuek tapi gue yakin dia sayang sama gue. Andi itu enggak pande ngungkapin kata sayangnya, jadi lebih banyak diam. Tapi, kadang dia bisa jadi orang yang paling manja."


"Lo bahagia sama dia?" Nada Pram terdengar serius.


"Mau enggak mau, gue harus bahagia." Tatapan Sarah melempar kepada Pram. "Walaupun kadang gue suka jengkel sama kelakuan dia, trus masih banyak cewek yang ngedeketin dia. Tapi, asal lo tahu ... Andi udah banyak berubah. Malah dia sering ikut event-event di sekolah."

__ADS_1


Pram membalasnya dengan senyuman. "Kadang gue enggak abis pikir lo itu milih Andi. Padahal dulu kalian sering kelahi dan gue yakin lo enggak bakalan mau sama orang kaya dia."


Siku Sarah menghantam bahu Pram dengan keras.


"Woi, *** ... sakit anjirr," balas Pram emosi.


"Gue kadang juga enggak ngerti kenapa gue suka sama Andi. Awalnya gue disuruh Kepala Sekolah buat mengawasi Andi karena dia bandel banget, trus tumbuh keinginan gue buat ngerubah dia. Lo tahu kan kalau cinta datang karena biasa. Gue suka sama dia sejalan dengan seringnya gue ketemu sama dia."


"Oh gitu ...."


"Maaf, ya ... gue bukan bermaksud ngebuat lo sedih."


Pram mengangguk pelan. Ia tatap warung yang biasanya dulu ia menongkrong bersama anak KODOMO. Mesin mobil dimatikan untuk bersiap keluar dari mobil. Namun, sebelum keluar ia menyempatkan diri untuk menatap Sarah.


"Gue udah berjanji sama Andi, jika ia sekali aja nyakitin lo ... jangan heran kalau dia abis ditangan gue."


"Dia enggak bakalan nyakitin gue," balas Sarah sembari keluar. Perkataan Pram tadi benar-benar terdengar serius.


"Siapa yang bisa jamin?"


Sarah yakin Andi merupakan pria baik yang tidak akan melakukan hal-hal yang bisa melukai hatinya. Andi yang sekarang bukanlah Andi yang dulu. Hatinya yang dulu dipenuhi oleh kebencian akan orang-orang yang berseberangan dengannya. Namun, kini ia sudah bisa menahan diri untuk tidak bertindak yang tidak-tidak.


Gue percaya lo, Andi ....


Sementara itu di lokasi perkelahian ....


Wandra merintih kesakitan di jalan aspal setelah dihantam hanya dengan satu tangan oleh Kevin. Memang, walaupun Wandra masih terhitung sebagai seniornya, namun pengalaman bertarung lebih banyak dimiliki oleh Kevin. Bahkan, ketua dari Ghost Night saja pernah bertekuk lutut di hadapan Kevin ketika mengakui kekalahan.


Melihat Wandra terkapar, mereka langsung menyerbu Kevin. Kevin menggelegar seperti knalpot Andi yang lagi hidup, garang dan perkasa. Kekuatan Kevin memang melebihi batas anak seumurannya. Otot-ototnya yang gede bisa menahan serangan beberapa orang. Ia berhasil memecah kerumunan Ghost Night yang mencoba menghantamnya secara bergerombol.


"SERANG!!!!" teriak Revin hingga semua anak Kodomo bergerak berlari.


Hantam saling hantam terjadi antara kedua kubu. Tidak sedikit dari mereka yang terkapar akibat perkelahian. Beberapa dari mereka bahkan terkena pukulan benda tumpul dan didorong ke dalam comberan kumuh di tepi jalan. Kevin dengan garangnya melindungi teman seperjuangan yang sudah terkapar lebih dahulu.


Seseorang dari Kodomo berhasil membawa lari motor Sarah ke tempat yang lebih aman. Jika tidak, masalah dengan Sarah bakalan bisa lebih rumit lagi. Anak Kodomo udah berkomitmen untuk tidak mencari masalah dengan Sarah. Jika itu terjadi, maka tidak menutup kemungkinan mereka akan kembali bergesekan Andi dan teman-temannya.


Sebagian dari Ghost Night mundur karena tidak sanggup menatap mata Kevin yang haus menghantam mereka. Baru kali ini mereka mendapatkan lawan sekuat ini, yaitu Kevin. Pantas saja nama Kevin melegenda di kalangan senior mereka sebagai musuh yang harus dihindari, selain anak Prebeb, terutama Memet yang bisa hampir sebanding dengan Kevin. Hanya saja taring Memet semakin menumpul semenjak orang-orang setianya banyak yang berpaling darinya.


Suara motor bergerembol terdengar datang dari simpang di seberang sana. Terlihat satu kubu anak Ghost Night yang masih dengan seragam SMK mereka. Seorang pria jangkung terlihat membuka helm untuk melihat perkelahian dengan jelas.


"***, berani lo ngeganggu kandang singa!!!" ucapnya ketika melihat Kevin yang membara di sana.


Kevin menatap pria itu yang sedang turun dari motor. Ia merupakan juniornya dan ia masih mengingat jika ia pernah bertemu dengannya sewaktu pertempuran terakhir kali. Pria itu ialah Alex, junior penerus mandat kepemimpinan Ghost Night dari para senior mereka.


"Kita ketemu lagi!!!" teriak Kevin di kerumunan perkelahian.


"Maju kalau berani!!" balas Alex.


Kevin berlari menuju segerombolan Ghost Night yang baru saja datag. Dengan garang ia memanjangkan kaki untuk menghantam kepala Alex. Namun, sebagai ketua Ghost Night tentu saja memiliki kemampuan tarung yang mumpuni. Ia dengan mudah menghindar hingga Kevin hanya menyentuh anggotanya di belakang.


Sebuah serangan balasan yang sangat telak bersarang ke perut Kevin hingga ia terbungkuk. Melihat Kevin yang tidak bernapas akibat ulu hatinya dihantam, anggota Alex langsung memegangi Kevin untuk dijadikan bulan-bulanan. Kepala Kevin habis dihantam oleh Alex yang masih terhitung sebagai juniornya.


"Sementang lo senior gue, trus gue enggak bisa nyentuh lo?" tanya Alex sembari menghantam kepala Kevin.

__ADS_1


Tubuhnya tidak bisa bergerak akibat ditahan oleh enam orang. Revin melihat dengan seksama Kevin yang jadi bulan-bulanan. Ia dengan cepat berlari untuk menghantam mereka. Namun, Alex lagi-lagi bisa menghantam Revin dengan satu serangan kaki ke arah kepala. Revin memental ke belakang dengan telinga yang berdengung akibat serangan itu.


Hidung Kevin berdarah abis-abisan. Ia seakan tidak diberi bernapas oleh lawannya kali ini. Sudah lama ia tidak dihabisi, biasanya ia selalu menang dalam pertarungan apa pun.


Sebuah botol melayang ke arah Alex. Ia berhenti menghantam Kevin yang sudah tidak berdaya. Tatapan Alex beradu dengan segerombolan anak SMK permesinan yang baru saja datang.


"Berani juga lo sama gue?" tanya Alex kepada Memet yang sedang bersama beberapa temannya.


"Lo perlu gue ajarin sopan santun ke senior kayanya," balas Memet. Ia berpaling ke belakang untuk berbicara dengan ke empat temannya yang ikut. "Kita dulu dikenal sebagai yang terkuat, kini kita buktikan."


Semuanya menangguk dengan semangat. Tangan mereka mengepal sekuat-kuatnya. Dendam kesumat berkat direndahkan oleh Ghost Night seketika timbul ke ubun-ubun. Mata mereka menatap garang Alex yang sudah mengambil alih dominasi mereka di SMK permesinan. Prebeb tidak peduli apa yang akan terjadi. Mau kalah maupun menang, ini demi harga diri. Harga diri Prebeb dan harga diri anak Kodomo yang sudah datang membantu mereka menghadapi kelompok besar ini.


"Serang!!!!!" Memet berlari sekencang-kencangnya. "SASAGEYO!!!!!!!"


Kepala Alex dihantam dengan kuat oleh Memet. Kerumunan anak Ghost Night pecah oleh kedatangan Prebeb yang tiba-tiba. Prebeb menyatukan diri dengan anak Kodomo demi melawan dominasi Ghost Night yang terlalu kuat.


Semangat kuat yang dijunjung oleh Prebeb berhasil membantu Kodomo yang mundur semenjak Kevin yang telah terjatuh. Melihat semangat tersebut, Kevin seakan mendapatkan energi positif yang berlebih. Ia biarkan Memet melampiaskan dendamnya kepada Alex, sementara itu Kevin fokus dengan anggota Ghost Night yang masih bertahan.


Hantam demi hantaman ia balas dengan serangan telak tepat di wajah mereka. Kevin hanya melawan anak-anak baru yang hanya sedikit berpengalaman dalam tawuran jarak dekat. Sementara itu, Kevin sudah menggelutinya sejak lama, bahkan melawan senior-senior mereka yang terkenal berandalan.


Ghost Night kehilangan jati dirinya setelah Alex terpental oleh hantaman Memet yang sangat kuat. Ia hanya bisa merintih kesakitan di jalanan aspal sembari melihat anggotanya yang berusaha untuk kabur. Memet memegangi kepala Alex untuk tetap menatap wajahnya yang hina itu.


"Lo itu anak baru yang cuma make nama besar senior kalian!" teriak Memet. "Lo cuma berani karena Ghost Night itu anggotanya banyak. Kalau udah satu lawan satu, lo tetap anak kemarin sore bagi gue."


"Bangsat─" Kepala Alex kembali dihantam dengan kuat dengan kaki.


Sebagian besar anak Ghost Night berhasil kabur, namun yang masih tersisa di sini hanya bisa merangkak di jalanan aspal karena kehabisan tenaga. Tensi mereka sedikit menurun karena Ghost Night secara tidak langsung mengakui kekalahan mereka.


Seseorang tanpa diduga bangkit dengan sebuah balok kayu di tangannya. Ia berlari menuju Memet dan menghantam kepala Memet dengan kuat. Tangan Memet menahan serangan kayu balok tersebut tanpa bergeser posisi sedikit pun. Ia menatap Wandra dengan garang.


"Satu hal yang paling hina di pertarungan jalanan." Memet meludah ke aspal. "Memakai senjata."


Sebuah hantaman kuat melayang ke arah Wandra hingga ia terkapar ke bawah. Satu tangan Memet menarik rambut Wandra.


"Gue ada urusan sama lo. Kayanya lo dalang dari penyebaran video porno itu!!" teriak Memet.


Wandra dengan berani meludah ke wajah Memet. Anggota Memet ingin menghantam Wandra yang baru saja melakuka hal keji kepada Memet, namun ia melarangnya.


"Lo sama kaya dulu ... pengecut dan cuma bisa jadi bawahan bodoh." Tangan Memet merogoh kocek Wandra dan mendapati handphone-nya yang tidak dalam keadaan terkunci.


Handphone android tersebut langsung dipatahkan oleh Memet dengan dua tangan, lalu membuangnya ke comberan.


"Ini karena lo udah nyebarin video itu dan bikin malu temannya Andi." Ia menghantam kepala Wandra sekali lagi. "Ini buat ludah lo yang nempel ke muka gue!"


Ia menarik napas dalam-dalam. Sekelilingnya terlihat anak Kodomo yang masih bertahan walaupun tertatih-tatih, terutama Kevin yang dibantu berdiri oleh Revin.


"MULAI SEKARANG, GUE YANG MEGANG SEKOLAH. LO SEMUA HARUS TUNDUK SAMA GUE. JANGAN USIK KEVIN DAN JUNIOR DI SMA-NYA, TRUS HAPUS VIDEO PORNO YANG UDAH KALIAN SEBARIN!!!!"


Sebuah jempol dari Kevin membuat Memet tersenyum.


Thanks ....


Dulu mereka selalu bermusuhan, namun sekarang Kodomo datang membantu mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2