
Perkenalan antara Memet dan Ipit tertanam pada masing-masing wajah mereka yang tersenyum. Memet bahagia telah bertemu dengan gitaris band faforitnya, sedangkan Ipit senang karena karya mereka telah digandrungi oleh seseorang di tengah selera musik pop punk yang sedang kalah pamor dengan genre musik kekinian, khususnya di Indonesia. Memet merasa tidak percaya karena sudah bertemu dengan Ipit. Selain cantik dan menarik, ia mempunyai skill bermain gitar yang bagus, bikin iri para senior-senior band yang baru saja tampil.
Andi dan Sarah pun lega karena berhasil membuat Memet tersenyum lagi, meskipun Memet ngeluh pengen makan bakso setelah pulangnya dan terpaksa ditraktir sama Sarah. Kalah Memet ditraktir, tentu saja Andi juga. Alhasil, Sarah mentraktir dua orang yang cuma pandai makan saja, tanpa ada inisiatif buat bayar sendiri. Setelah perut kenyang dengan sempurna, mereka pun pulang kembali ke komplek.
“Lo dari mana kenal sama dia?” tanya Memet.
Sebenarnya\, Sarah tidak mengatahui `dia` yang Memet maksud. “Dia siapa?”
Andi memejam matanya karena pertanyaan itu sangat sensitif bagi Sarah.
“Itu … hmm … gitaris band yang tadi baru tampil. Gue kenal dia waktu masa orientasi awal kuliah waktu itu.”
“Ternyata anaknya memang cantik ya dari dekat,” puji Memet.
“Cantik? Dia cewek?” Sarah berpikir sebentar. Sedari awal ia menginjakkkan kaki di lapangan itu, ia memerhatikan siapa saja band yang tampil hingga acara berakhir. Barulah Sarah ingat ketika salah satu band yang tampil diperbincangkan oleh teman-temannya. “Oh … si mbak-mbak barista café itu? Lo udah kenal duluan sama dia? Hmm … pantesss ….”
“Gimana apanya? Mbak-mbak barista café?” tanya Memet dengan heran.
“Aduh Sar, kan dia memang teman gue. Makanya kami memang kenal.” Andi menoleh kepada Memet. “Dia ngambil kerja paruh waktu di café Fakultas Kedokteran tempat Sarah kuliah. Tuh Sarah mikir enggak-enggak waktu gue bicara sama dia, lah kan gue memang temen.”
“Dia itu gatel sama cowok-cowok.” Sarah enggak mau kalah.
“Ituu mah bukan gatel, tapi membangun komunikasi yang baik dengan pelanggan biar pelanggan nyaman dan tetap nongkrong di situ. Lo ini kenapa sih? Sini gue setel otak lo dulu biar enggak pikiran negatif mulu ….”
“Ajakin dong gue main ke sana sesekali,” pinta Memet.
__ADS_1
“Ga … jangan … masa lo mau sama dia?” tanya Sarah.
“Ya enggak gitu juga kali. Gue pengen kenal lebih dekat aja, kan dia personil band faforit gue,” balas Memet.
Bibir Sarah mencibir. “Andi pasti suka tuh setiap hari ke sana ….”
“Cewek gue memang sengkle kalau tengah malam begini.” Andi membuka mobilnya. “Kami pulang dulu ya ….”
“Dadah Memet, moga mimpi indah ya ….”
“Sama gue enggak pernah lo bilang begitu,” sindir Andi.
“Kan udah dapet dari Tasya ama mbak-mbak barista itu ….”
Mata Memet memicing heran. “Kalian kenapa sih kok pada goblok gini?”
Memet pun mengunci mulutnya, lalu melambaikan tangan kepada mereka untuk melepas pulang. Mereka telah berbaik hati untuk mengajaknya jalan-jalan malam ini. Mumpung Memet izin sama Pak RT buat libur menjaga pos ronda, Memet masih bisa tidur lebih awal untuk mempersiapkan diri bekerja hari esok.
Sewaktu mengantarkan Sarah bahkan hingga ke depan pintu kamarnya, mumpung papanya Sarah udah tidur, Andi mengecup kening Sarah.
“Selamat tidur … siapa lagi cowok lo yang giniin lo hingga ke depan pintu,” ucap Andi.
“Kalau ada Papa, lo palingan dirajam sama dia.”
“Coba deh tanyain Tami, apakah ia dekat dengan Pram atau enggak. Sebenarnya lo masalah ga sih kalau Tami dekat sama Pram?”
__ADS_1
Sarah diam sejenak untuk berpikir. Ia pernah dekat dengan Pram dan bahkan hampir jadian, jadi ia tahu sekali karakteristik Pram yang selalu bisa lembut pada semua wanita. Terkadang, ia pun bingung dengan perlakuan Pram kepada wanita apakah itu termasuk kategori mendekati ataulah perlakuan normal seperti biasanya. Pram pernah pernah berkata sebelumnya kepada Sarah kalau pria itu belum benar-benar bisa melepaskannya kepada Andi. Namun, bagaimana bisa ia dekat dengan Pram? Apakah ia sudah berpindah hati? Sarah masih menerka-nerka hal itu di dalam hati.
“Gue enggak masalah sih, tergantung Tami. Kalau mereka dekat ya ga masalah, cuma temenan yaa bagus … tergantung mereka berdua. Pram juga udah mapan dari segala aspek dan cocok untuk Tami yang tinggal sendirian, bisa jadi orang yang nolonginnya tiap saat. Kalau elo gimana?”
“Hmmm … gue karena temenan sama dia, jadi gue tahu gimana ia, terutama sebagai sesama pria. Pram belum benar-benar bisa lepas dari banyak wanita. Kevin tahu kalau dia itu punya banyak cewek yang dekat sama dia. Bahkan, beberapa kali ia pernah bawa cewek itu ke warung Mas Momon walaupun di dalam mobil aja.”
“Iya sih, dari dulu Pram itu memang bener-bener fakboy. Tapi beneran ia masih begitu sampai sekarang?” tanya Sarah.
Andi mengangkat bahunya. “Yaa … kira-kira begitu. Gue kan dengernya dari Kevin. Kevin masa bohong sih sama gue.”
“Gue kira dia udah tobat.” Ia menyentuh wajah Andi. “Besok deh gue cari tahu informasi dari Tami lagi siapa yang lagi dekat sama dia. Tami itu agak tertutup soal asmara, tapi kalau selain itu, dia malah curcol abis sama gue.”
“Oke deh, kasian juga Memet kalau berharap mulu sama Tami. Wong dia serem begitu, kalau pergi jalan malah dikira bodyguard nanti.”
Sarah tertawa ngakak mendengar candaan Andi. “Hahaha lo ini ada-ada aja. Mendingan Memet lebih berotot. Daripad elo, lihat tuh perutnya udah kaya gentong.”
Perut Andi berdentum waktu ditepuk sama Sarah. Pacarnya itu berbeda jauh semenjak tamat SMA. Yang dulunya kurus dan punya perut kotak-kotak karena berolahraga fustal hampir tiap hari, kini malah tambah melar dan tembem kaya om-om. Disuruh olahraga dia malah mager dan lebih milih di rebahan di kamar sambil nonton anime. Disuruh nge-gym sama Kevin, eh pulangnya malah ngajak Sarah makan bakso di warungnya Agus. Apa enggak tambah melar aja perut Andi gara-gara itu.
“Buncit tambah makmur … gue pulang dulu ya ….”
“Iya hati-hati, sayangku … cintaku ….”
Dua kata itu selalu menjadi penyemangat Andi. Kebiasaan Sarah mengucapkannya selalu ditunggu-tunggu oleh Andi pada setiap akhir pertemuan. Semangatnya timbul, fokusnya kembali stabil untuk menjalani dunia, terutama abis ini ia ada rencana main game Peubege sama Felix. Dengan semangat dari Sarah itu, Andi makin ga sabar untuk membolongi helm-helm militer musuh dan mendapatkan peringat pertama bersama Felix.
Pulanglah Andi ke rumah. Ia segera menghidupkan komputer untuk masuk ke game yang ia maksud. Namun, ia mendengar seseorang mengetuk rumah Tami. Sewaktu Andi melihat secara diam-diam. Alangkah terkejutnya Andi karena pria itu merupakan ……
__ADS_1
Bersambung ….
***