
“Maaf, gue ga bisa …..”
Kalimat itu menyisakan kecewa yang Andi tangkap dari gelagat Tasya. Ia mungkin bisa berkata jika ia tidak apa-apa karena bisa mengajak temannya yang lain, tetapi Andi merasakan lebih dari itu. Ia lebih memilih untuk makan dengan Ari Kiting dan Nabe, daripada ia melanggar janji yang telah diucapkan kepada Sarah. Sudah berulang kali Andi membuat Sarah kecewa, ia tidak ingin melakukan hal tersebut lagi.
Eh ujung-ujungnya Andi malah makan mie cup instan di Indoapril tempat Kevin bekerja. Andi tidak bisa mengajak kedua teman dekatnya itu. Ari Kiting lebih dahulu pulang ke rumah, sementara Nabe bilang kalau dia udah diajakin sama Dhea pinter untuk makan ayam sambal bacok di depan kampus. Tidak mungkin pula Andi ikut sama rombongan cewek di kelasnya, nanti malah dikirain Andi masang banyak karena gabung sama mereka.
Kevin datang tatkala Andi baru saja menyeduh mie cupnya. Dengan setelan baju biasa, tanpa jaket hijau ojol, Kevin langsung menyambar rokok milik Andi tanpa meminta izin terlebih dahulu. Biasanya, Kevin di jam sekarang selalu berkeliling dengan atribut ojol. Namun, kali ini dirinya terlihat berbeda dari kebiasannya.
“Mana jaket kebanggaan lo?” tanya Andi.
“Gue lagi libur sekarang.”
“Malah nolak rejeki.” Andi menunjuk driver ojol lain yang baru saja lewat. “Liat noh temen-temen lo pada semangat.”
“Ya suka-suka gue dong, gue kan pengen juga libur sesekali. Namanya juga freelance, jadi gue narik ojeknya kapan gue mau.”
“Udah sembuh total luka lo itu?” tanya Andi.
Kevin menyentuh punggung bekas bacokan tersebut. Resep salep tradisional dari orangtuanya ampuh mengeringkan luka. Selain itu, ia juga menggunakan obat dokter agar lukanya cepat sembuh.
“Udah kok. Malahan gue pengen dibacok lagi sekarang.”
Andi mengangguk. “Syukurlah … jangan sampai gue yang kebacok, biar elu aja.”
“Ngomong-ngomong, belum ada aktivitas dari Geng Beng kayanya. Mereka ini ilang timbul, tapi tetep hati hati karena bisa aja anggota kita kena serang lagi,” ucap Kevin.
“Oh iya … lo tahu Pram lagi deket sama siapa?” tanya Andi untuk memancing.
__ADS_1
“Mana gue tahu … emang gue bapaknya.” Kevin mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.
Menurut Andi, mustahil jika Kevin tidak mengetahui aktivitas kencan yang dilakukan oleh Pram. Selayaknya Sarah dan Tami, seperti Andi dan memet, begitulah keterbukaan antara Kevin dan Pram. Mereka udah sahaban dari dulu dan tidak ada lagi hal-hal yang ditutupi.
“Jangan bohong deh lo. Lo tahu kan?”
“Andi … lo ada masalah apa sih sama dia lagi? Dia enggak ada nganggu Sarah kok. Gue berari sumpah, dia enggak ada hubungan apa-apa dengan Sarah.”
“Kalau dia gangguin Sarah, udah dari dulu gue tonjokin muka gantengnya, kaga peduli gue kalau dia itu anggota polisi atau enggak.” Andi menyeruput mie makan siangnya itu, udah kaya anak kos banget. “Aduh … langsung aja nih ya … dia deket sama Tami?”
Kevin diam sejenak. Ia tarik dalam-dalam rokok tersebut.
“Nah, lo itu protektif banget sama Tami. Kan dia bukan adek lo kan?” tanya balik Kevin.
“Iya sih bukan adek gue, tapi … lo tahu kan Memet itu suka sama Tami.”
“Iya gue tahu, dari kelakuannya aja kelihatan kok kalau Memet suka sama Tami. Banyak pengorbanan yang dia lakuin kalau lagi bucin banget,” balas Kevin menyetujuinya.
“Masa iya sebegitunya Memet?” Kevin menoleh ke arah yang lain. “Tapi, gue ga masalahin apa pun kok. Gue kaga peduli juga. Gue akui kalau Pram deket sama Tami, tapi Taminya malah mau, gimana coba?”
“Yaaa entahlah … gue doain aja Memet cepet pindah ke lain hati.” Andi mendekatkan wajahnya pada Kevin. “Yang gue takutin itu ialah kalau Pram itu jalan sama banyak cewek, bukan sama Tami aja. Lo pasti paham dengan kebiasan temen lo itu. Kalau ada cewek cantik, langsung angkut.”
“Giimana ya Ndi, udah bebuih mulut gue ngebilangin dia. Eh dia kaga pernah berubah. Namanya juga udah sifat dari lahir kayanya ya? Emangya ada fakboy dari lahir? Hahaha ….” Kevin tertawa.
“Gue minta izin sama lo dari sekarang. Kalau gue tahu Pram cuma mainin Tami kaya cewek-cewek yang lain, percayalah gue enggak akan segan nyentuh Pram. Gue ga peduli Pram itu siapanya lo ….”
Wajah Kevin sejenak berubah serius. “Andi, lo tahu gue enggak akan pernah ngebiarin siapa pun nyentuh Pram kan?”
__ADS_1
“Iya gue tahu itu, makanya gue minta izin. Walaupun nanti lo ngelawan gue, kita enggak akan pernah musuhan. Masalah gue cuma sampai di Pram.”
Kevin mengangguk berkat penjelasan Andi. Ia paham bagaimana hubungan antara Andi dan Tami. Mereka sudah seperti saudara kandung. Hubungan emosional Andi ke Tami sangatlah kuat, sehingga Andi tidak akan rela melihat Tami disakitin oleh siapa pun.
“Baiklah … gue yakinin sama elo dulu, jangan pernah bermusuhan dengan Pram. Dia bukan Pram yang dulu. Mentalnya udah kaya baja sekarang, bukan anak SMA. Tanpa gue pun, dia bisa ngabisin lo lebih cepat,” balas Kevin.
“Setidaknya gue udah minta izin sama lo dulu, Kevin ….”
“Gue paham itu,” pungkas Kevin.
Andi sudah pernah berseteru dengan Pram sebelumnya. Selalu ada Kevin yang menjadi bekingan anak itu setiap Andi mendatangi Pram. Selain itu, anak Kodomo sudah seperti sarang lebah. Jika diganggu satu, maka satu kelompok turut menjadi tameng perlindungan. Namun, dengan dapatnya izin dari Kevin, ia tidak ragu mendatangi Pram apabila ia tega menyakiti Tami. Jika Pram melakukan itu, ia berarti sudah mengecewakan dua orang sekaligus, yaitu pertama Tami, kedua ialah Memet. Memet berberat hati melepaskan Tami kepada Pram, tetapi Tami malah disakitin.
Motor Andi bergerak ke rumah setelah mengabiskan kopi botolan bersama Kevin. Ia sekaligus konstultasi bagaimana prediksi judi online bola nanti malam karena Andi nitip untuk itu kepada Felix. Pertandingan nanti malah terbilang pertarungan besar antar dua klub, jadi Andi tidak ingin melewatkan momen.
Sesampainya di rumah, Andi mendapati Aisya sedang menerima kiriman Bo-Food dari abang-abang ojol. Melihat makanan datang, Andi langsung jadi laper, terutama karena Andi cuma makan mie doang tadi.
“Wah, ada yang mesen Bo-Food. Boleh dong minta,” rayu Andi kepada adik perempuannya itu.
“Lah ini memang buat Uda, kok.”
Andi pun bingung. “Emangnya dari siapa?”
“Kata abang ojolnya dari Kak Tasya. Kak Tasya yang waktu itu kan? Wah, dia baik banget.”
“Ah masa?”
Andi langsung melihat handphonyea. Ternyat ada pesan yang terkirim kurang dari dua puluh menit yang lalu.
__ADS_1
Dimakan ya Ndi, mumpung tadi gue lagi ada voucher … selamat menikmati …
***