
Janji
Ada kala seseorang menikmati semuanya demi terlupakan semua permasalahan yang terjadi sebelumnya. Satu titik inti yang Andi sentuh mencuat berbayang di awan-awan imajinya. Bergemuruh tak bercelah menceritakan bahwa ia sedang patah hati hari ini di dalam hati. Andi masih tidak mampu untuk sepenuhnya melupakan hal itu. Menghantui dirinya yang tengah mencari ketenangan. Andi berusaha untuk tetap mencoba berdiri teguh bahwa ia harus fokus dengan liburan ini.
Setiap wanita itu berpaling, ada sebuah pikiran yang melintas pada benaknya. Entah kenapa ia bisa bertemu dengan Clara. Takdir masa lalu yang tumbuh melalui titik singgung yang tepat, sehingga mempertemukan mereka berdua. Andi tertegun, Clara memang seperti wanita-wanita pada biasanya yang selalu santun menjaga marwah. Hal yang membuat dirinya tampak begitu istimewa.
Senyumnya berlapis, diiringi dengan aksi tak menjawab kalimat terakhir lawan bicaranya. Matanya khas memicing untuk menunggu pujian Andi yang sedari tadi mencuat tidak karuan dan tak sadar diri. Andai saja angin berbicara, ia pasti akan selalu meminta agar dikirimkan untuk membelai rambut hitam lurus nan bergelombang itu. Menyibakan helai demi helai dengan mesra, menatap Andi yang selalu terpana.
Ah ... sudahlah ... Andi mulai tidak bisa fokus untuk menyetetir mobil. Wanita itu selalu bernyanyi tatkala musik faforitnya terputar melalui speaker mobil. Siapa gerangan yang mengirimkan bidadari untuk menghiburnya di dalam mobil? Bidadari tanpa sayap yang acap kali membuatnya terbuai melalui kedamaian yang ia sampaikan dalam kata-kata.
Kota Batu Sangkar telah mereka tinggali. Seru sekali di sana berkeliling Istana Pagaruyuang yang menyajikan bentuk istana raja yang berbentuk rumah adat Minang. Di dalamnya tersajikan berbagai benda-benda peninggalan sejarah otentik Kerajaan Pagaruyuang yang pernah tersohor di masanya. Belum lagi menelusuri anak tangga demi anak tangga untuk mencapai puncaknya, hingga terlihatlah keseluruhan Kota Batu Sangkar serta Gunung Marapi yang kokoh menjulang di sana.
Senja menjemput mereka di perjalanan dan meninggalkan mereka saat kembali tiba di Kota Bukit Tinggi. Detak kota wisata ini mulai terasa tatkala memasuki area wisata Jam Gadang. Ramai begitu ramai dengan wisatawan yang entah dari mana asalnya. Siapa yang tidak mengenal Jam Gadang ini. Sebuah peninggalan sejarah pada masa Belanda yang masih berdiri kokoh di atas sana. Renovasi yag dilakukan menambah kecantikan dengan lampu-lampu yang menakjubkan dan taman untuk menikmati suasana.
"Makan yuk," pinta Andi tatkala berjalan menuju Jam Gadang.
"Makan apa?"
"Terserah lo sih ...."
Jujur, Clara agak sedikit aneh ketika Andi berlo-gue kepada dirinya. Ya namanya juga logat yah, paling susah buat dihilangin.
Mumpung di area Jam Gadang ada kaefci, mereka memesan dua rice box beserta minuman cola yang akan dimakan bersama di bawah Jam Gadang. Beruntung mereka mendapatkan sebuah tempat duduk yang langsung menghadap ke pemandangan Gunung Marapi yang gelap di sana. Tempat duduk yang lain sudah diisi duluan oleh pengunjung.
"ID LINE kamu apa, Clara?" tanya Andi sembari menyendok nasinya.
"Harus ID LINE?"
"Yaa ... mana tau lo punya LINE, kan? WA boleh atau yang lain supaya gue bisa ngehubungin lo."
"Buat apa ngehubungin aku?" balas Clara.
"Gue kan ga selamanya ada di sini. Bentar lagi gue balik."
"Sini hape kamu ...."
Clara menggapai handphone Andi yang terletak di sampingnya dan mengetik ID LINE serta ngefollow IG miliknya. Namun, ia dibuat menarik senyum tatkala menatap foto yang dijadikan background chat LINE Andi. Padahal, ia tahu jika Andi baru saja memposting foto mereka berdua di Instagram.
"Ini pacar kamu?" tanya Clara. "Apa dia ga marah gara-gara kamu post foto kita di IG?"
Sontak Andi langsung mengambil handphone. Ternyata selama ini ia belum mengganti background LINE miliknya yang masiih terpampang foto Sarah di sana.
__ADS_1
"Ini mantan, bukan Pacar."
"Lantas kenapa kamu masih ngeletak foto dia di sana?"
Andi tertunduk. "Aku baru aja putus sama dia seminggu yang lalu. Ga keinget aja buat ngeganti background LINE aku."
"Oh gitu ... kamu masih cinta sama dia, kan?"
Pertanyaan tersebut membuat Andi terpojok. Ia tidak mengerti dengan perasaannya kali ini. Ia benci untuk mengatakan bahwa ia tak lagi mencintainya, namun ia terlalu pedih mengatakan bahwa ia akan terus mempertahankan Sarah semenjak fotonya berdua bersama Pram. Pedih melekat pekat menyatah hatinya yang tengah berselimut sendu.
"Entahlah, aku juga bingung. Dia juga udah deket lagi sama orang yang pernah dia suka. Aku bisa apa?" Andi mengangkat bahunya.
"Yaa yang namanya cinta rumit juga ya. Aku belum pernah pacaran jadi ga ngerti."
"Oh, ya? Yang cowok kemarin itu siapa?" tanya Andi penasaran.
"Oh dia, anak kampung sebelah, masih temen SMA. Kayanya dia dekatin aku."
"Dia keliatan ga senang kemarin waktu kamu bilang mau pergi sama aku." Andi tertawa.
"Hahaha ... biarin aja. Kadang aku risih juga diajakin jalan sama orang yang bukan aku suka."
Andi langsung menatap Clara. "Jadi, aku apa?"
"Oh iyalah ...."
Wajah Clara tampak memerah karena pertanyaan tersebut. Ia mencoba menghindar tatap muka langsung kepada Andi.
"Kamu kapan balik?" tanya Clara.
"Dua hari lagi, soalnya tiket pesawat udah dibeli. Tapi, aku ke Padang besok."
"Yah ... kita bakalan ga ketemu dong." Suara Clara memelas. Ternyata pertemuan mereka begitu singkat.
"Makanya itu aku minta LINE kamu. Lagian, aku masih di Indonesia kok. Hahaha ...," balas Andi.
"Kalau aku keterima di UI atau di UNJ, aku bakalan ke rumahmu."
"Semoga saja ya ..."
Hari ini begitu sempurna dengan malam penutup malam yang istimewa. Di iringi oleh musisi jalanan yang berdendang di sekitar mereka, berbincang di bawah bintang gemintang yang bertaburan di atas sana, sembari menatap lampu-lampu rumah warga yang bertaburan di kaki Gunung Marapi. Ia tidak ingin pertemuan ini begitu singkat, bahkan ia ingin lebih lama lagi. Namun, bukan di sini lah tempatnya berada.
__ADS_1
Clara mengantar Andi terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Sengaja Andi menyetel lagu beralunan lambat biar suasana lebih sedikit romantis. Clara akan bernyanyi jika lagu tersebut merupakan lagu yang ia sukai. Suaranya cukup merdu, selaras dengan melodi yang sedang dimainkan.
"Aku pulang dulu," ucap Andi tatkala akan keluar.
"Kamu jam berapa balik ke Padang."
"Mungkin pagi, tergantung Papa jemputnya kapan. Nanti aku kabari."
"Pagi-pagi aku udah di rumah Nenek."
"Siapin sarapan terbaikmu. Kapan lagi aku makan sarapan buatan kamu buat terakhir kali, kan?"
Jujur, Clara sedikit sedih mendengar kata terakhir kali tersebut. Perpisahan membuatnya menjadi sepi.
"Ya, insyaallah ...."
"Hati-hati di jalan ...," ucap Andi.
Clara hanya tersenyum tanpa menjawab. Ciri khas darinya yang selalu Andi ingat. Ia menyimpan senyum itu untuk menjaga-jaga jika keesokan harinya ia tak lagi bertemu dengannya, melukiskan dalam telapak tangan dan ia benamkan dalam bunga tidur yang ia harapkan agar muncur.
Keesokan harinya sekitar jam tujuh pagi Clara dengan semangat pergi menuju rumah Nenek untuk menunaikan janjinya. Ia ingin membuatkan Andi nasi goreng spesial pagi hari ini, menemaninya minum kopi di teras rumah sembari mengindar asap rokok Andi yang kadang menganggunya.
Seperti biasanya, Nenek sudah lebih dahulu bangun dan membuka pintu rumah. Ia tak pernah mengetuk pintu karena ia tahu Nenek sedang ada di kebun belakang rumah. Clara bisa menebak, pria itu masih berselimut dingin dengan gemeretak gigi ketika ia tarik selimutnya. Andi orang yang susah untuk dibangunkan, bahkan jika Clara sendiri yang melakukannya. Ketika Clara membuka tirai kamar Andi, ia terheran dengan tidak adanya Andi di kamar. Seluruh tas dan pelaratannya juga sudah tidak ada.
Ia bingung, tidak mungkin Andi pulang tanpa pamit. Andi sudah berjanji untuk mengabari Clara jika ia ingin pergi. Untuk memastikan, Clara berlari ke kebun belakang untuk bertanya kepada Nenek.
"Nek, Andi dima? Ndak ado inyo di kamar do," tanya Clara.
Nek, Andi di mana? Enggak ada dia di kamar.
Tangan Nenek berhenti memanen sayur sawi tatkala Clara menanyai perihal cucunya. Ia tersenyum karena Clara datang lebih pagi dari biasanya.
"Andi alah pai subuh tadi. Papanyo manjampuik."
Andi udah pergi subuh tadi. Papanya sudah menjemput.
Clara berbalik diri dan berlari menuju rumah. Ia tertunduk sembari memegangi kompor dapur. Andi berbohong, pria itu tidak mengabari dirinya jika ia akan pergi. Pagi ini, pagi ini ia seharusnya sedang memasak untuk Andi dan menemaninya untuk meminum kopi seperti kemarin-kemarin. Entah kenapa air matanya perlahan mengalir, hatinya terasa sepi setelah menyadari jika ia tak lagi bertemu Andi hari ini. Entah kapan ia akan bersua, seakan tidak mungkin akan kembali terjadi.
"Andi ...," ucapnya dalam hati.
***
__ADS_1
CERITA INI SUDAH MENDAPATKAN KONTRAK ... TERIMAKASIH :)