Andi X Sarah

Andi X Sarah
57. Sarah Curhat (SEASON 2)


__ADS_3


Sarah Curhat



Kebulan asap rokok kretek Agus mengawang di tengah percakapan yang mereka lakukan. Wangi cengkeh begitu melekat dalam aroma uap kopi hangat di hadapan pria berkulit gelap tersebut. Agus tersenyum, Sarah seakan tidak sanggup menjawab pertanyaan yang ia ajukan tadi. Sarah hanya mengalihkan pembicaraan dengan menjawab tidak sesuai harapan. Padahal, kali ini merupakan waktu yang tepat untuk menguak semuanya. Mengapa mereka putus dan apa yang tengah terjadi di antara mereka. Sarah sama dengan Andi, mereka tidak terus terang bercerita mengenai kejadian itu.


"Lo belum menjawab pertanyaan gue, *******."


Alis Sarah naik sebelah. Berani-beraninya dia mengatai ******* dirinya.


"Gue ga tau juga, Agus."


"Itu bukan jawaban. Jawabannya itu iya atau enggak. Lo pinter kok goblok sih."


Jujur, kali ini Agus puas mengatai Sarah. Padahal selama ini dia paling takut tuh sama Sarah.


"Di sisi lain gue benci sama Andi."


"Di sisi lain lo masih sayang sama dia, gitu?" tanya Agus.


"Bukan gitu ... Ih ga ngerti gue. Soal rasa ini rumit. Lo mana ngerti, lo aja ga pernah pacaran."


Eh *******, gue jomblo .... Agus mengutuk dalam hati.


"Sekarang gini, lo kenapa mutusin dia?" Agus memetik ujung rokoknya.


"Gue muak, Gus. Gue ga suka sama kelakuan Andi yang mudah aja diajak jalan sama cewek lain. Gue aja jarang dia bawa jalan, eh malah jalan sama Naila. Cewek mana yang ga perih sih?"


Agus tersenyum. "Oke, poin pertama ... lo masih sayang sebelum kalian putus. Yang kedua adalah, lo tau alasan Andi pergi sama Naila?"


"Dia bilang karena Naila maksa buat nemenin pergi."


"Nah, berarti bukan Andi yang mau, kan?" Agus mengangguk. "Andi itu bukan tipe orang yang suka main di belakang. Bagi gue wajar aja sih kalau mereka temenan baik, kaya Andi sama Tami. Mereka sering makan bareng kok. Lagian kan Andi memang kakak bimbingan-nya Naila."


"Ih, lo ga ngerti sih perasaan cewek kalau cowoknya pergi sama cewek lain. Mereka pegang-pegangan tangan gitu. Gue ngelihat sendiri."


"Emang Andi sendiri yang minta?"

__ADS_1


"Walaupun bukan Andi sendiri yang minta, mereka kaya menikmati momen mereka."


"Sar ... ini bukan soal perasaan. Lo terlalu banyak gunai perasaan lo. Pakai logika dikit, dia dipaksa buat pergi, trus yang megang tangan Andi kan Naila duluan. Gue kenal Andi itu luar dalam. Sebangsat-bangsatnya Andi, dia ga pernah ngeduain cewek sendiri, maksudnya ... dia ga bakalan punya perasaan sama cewek lain."


"Pokoknya gue benci aja." Sarah memukul meja.


"Trus, kenapa lo kepo sama cewek di instagram Andi? Harusnya lo ga kepoin. Malah nanya-nanya ke gue. Kaya jadi wartawan lo kemarin. Hahahaha ...." Agus tertawa.


"Gue cuma penasaran."


"Lo cemburu, kan?"


"Enggak ..."


"Ah masa?"


"Enggak anjing!"


"Jangan ngegas dong," balas Agus. " Lo cemburu."


Sarah mendekatkan wajahnya. "Bagaimana bisa lo nyimpulin kalau gue cemburu?"


"Serius dong ...!!!"


"Lo kira gue ga tau lo sampe nanyain itu ke Andi waktu itu?" Logika aja ... kalau lo ga punya perasaan lagi sama dia, ngapain lagi lo kepoin dia. Selain itu, terlihat jelas lo cemburu sekarang waktu kita bicara sekarang."


"IYA-IYA GUE CEMBURU!!!!!!"


Wajah Sarah merah padam tatkala mengakui semuanya. Ia cemburu dengan kedekatan Andi bersama Naila, apalagi dengan perempuan baru yang berkali-kali lebih cantik dari dirinya itu. Sengaja ia bertanya kepada Agus mengenai wanita itu untuk menyelusuri latar belakanganya, namun Agus malah menutupi. Jalan terbaik ialah langsung menanyai kepada Andi. Betapa pedih hatinya tatkala Andi sendiri mengakui jika Andi benar-benar menyukai gadis bernama Clara tersebut.


"Lo itu jujur dan terus terang." Agus menangguk sambil tersenyum. "Sekarang lo mau balikan sama dia?"


"Gue ga tau ... kayanya kecil kemungkinan. Dia benci gue."


Tangan Agus kembali membakar rokok selanjutnya. "Gue ga menutup kemungkinan Andi itu benar-benar suka sama Clara. Soalnya bisa aja dia suka sama cewek itu karena kalian udah putus. Clara bisa jadi alasan buat Andi move on, terutama semenjak lo dekat sama Pram. Sebenarnya lo kenapa sih dekat sama Pram?"


"Gue merasa kosong aja semenjak Andi ga ada. Gue kesepian. Pram udah lama suka sama gue, jadi semenjak denger kami putus, dia sendiri yang ngedeketin gue lagi."


"Lo nyaman sama dia?"

__ADS_1


"Nyaman sih nyaman, tapi ga bakalan bisa ngegantiin nyamannya Andi ke gue."


"FIXED, lo masih suka sama Andi."


"IH!!!! Terus gue harus gimana dong?" tanya Sarah.


"Rebut kembali Andi, susah banget ..."


"Tapi kan dia benci gue ...." Wajah Sarah memurung.


"Itu cuma gimik ... pura-pura biar keliatan ngejauh dari lo. Buktinya, chat background Andi di LINE masih foto lo."


"Ah masa????"


"Iya, masa gue bohong."


"Terus kalau Andi benar-benar suka sama Clara gimana?"


"Itu kesalahan lo, kenapa lo buang Andi."


"Dia kan salah juga, kenapa dia ngecewain gue juga."


"Tapi kenapa lo mudah banget bilang putus? Harusnya kan bisa dibicarian baik-baik."


"Oke kalau begitu." Sarah berdiri dari tempat duduknya. "Terima kasih ya udah jadi tempat gue cerita."


Sarah pergi dengan berjalan pelan menuju dinding. Ia kembali memanjat dinding tersebut menggunakan tangga cabut yang disedain anak berandalan di sini. Di tengah perjalanan, ia masihterpikir bagaimana ia berbaikan dengan Andi. Tidak memaksa untuk balikan, setidaknya tidak ada lagi hubungan negartif antara ia dan pria itu. Ia menyesal. Agus benar jika ia sudah terlalu mudah mengatakan kata putus.


Sementara itu Agus di kedai soto.


"Bude, bayar sotonya Bude."


"Udah dibayar kok sama Sarah tadi ..."


"Wah ... beruntung banget nih."


Agus senyum-senyum sendiri sambil manjat tangga. Pagi ini dapat kopi dan soto gratis, plus puas ngatain Sarah. Kayanya enak juga dijadiin tempat curhat. Apalagi curhatnya dibayar gini ya.


Kayanya gue harus kuliah psikologi ....

__ADS_1


***


__ADS_2