Andi X Sarah

Andi X Sarah
150. Diceburin (SEASON 3)


__ADS_3

Kenapa sih setiap orang aneh hari ini?


Andi tetap berusaha tenang dengan muka masam Sarah di sana yang sedang ingin mengigigit dirinya segera mungkin. Tasya ditarik oleh Nur seakan gadis itu benar-benar pacarnya, padahal kan bukan.


“Eh … bukan yang itu loh.” Andi menoleh ke kanan, kalau yang itu terlalu tinggi bagi gue, ga sanggup ngejajanjinnya. Sarah aja makannya banya, apalagi Tasya yang jajannya bisa jutaan.


“Loh yang mana Bang? Kak Nabe?”


Apalagi itu … itu bikin lutut gue keropos tiap malem … Andi kini menunjuk Sarah. Muka Sarah tetap aja seperti biasa sewaktu dibilang pacanya Andi.


“Pacarnya Abang itu Kak Sarah. Itu looh yang lagi ngulek cabe ….”


Keempat adik-adik ABG itu menatap Sarah. Sarah masang muka songong minta ampun, dalam hatinya bangga banget karena udah disebut sebagai pacarnya Andi. Meskipun kelakukan Andi kadang bikin hatinya ngambek, ia tetap bangga jadi miliknya Andi.


“Ya itu Kakak. Pacarnya Andi ….” Sarah mentoel hidungnya sendiri.


“Hah? Kakak bilang Bang Andi ga punya pacar?” tanya Indah dengan kaget.


“Ya … Kakak ga mau aja tuh diakuin pacar sama dia. Liat aja tuh malu-maluin makan, masa ambil ayamnya dua potong!”


Andi melihat piringnya lagi. Ternyata ia ngambil dua potong ayam krispi. Maklum lagi laper.


“Heheh … laper banget nih. Ga apa ya ngambil dua ayam.”


“Ga apa kok Bang,” jawab Sofi.


“Bang … minta nomor hapenya dong. Kita follow followan di ig ya.” Nur menyerobot Sofi yang ada di hadapan Andi.


“Apaan sih kamu geser-geser?!” protes Sofi.


“Aduh … yang antri ya. Minta tuh sama Kak Sarah. Minta izin dulu sama dia ….”


Baru aja kurang dari seminggu di desa KKN, Andi sudah mendapat beberapa orang yang menjadi fansnya. Di rumah Sofi, Andi pun bercengkerama dengan keempat ABG yang baru saja lulus SMA itu. Seakan yang paling pinter sewaktu kuliah⸺dia aja masih nyontek sama Nabe⸺Andi memberikan tips and trick bagaimana lulus jalur SMPTN agar tidak susah payah tes SBMPTN lagi. Lah Andi aja masuk kuliah pakai jalur mandiri yang bayarnya sedikit relatif mahal dari jalur reguler. Ya … Andi tentu saja tidak mau marwahnya jatuh, meskipun di sana Nabe pengen muntah mendengar orasi Andi di depan ABG-ABG tersebut.


Bukannya langsung pulang, Andi malah ditahan di rumah Sofi sampai kegiatan mereka selesai. Andi membantu para cewek untuk menyiapkan makanan berupa kue. Dengan skill yang minim, Andi mengangguk-ngangguk sewaktu dijelasin Sarah.


“Lo pandai banget ya bamsat!” Sarah berbisik kepada Andi dengan penuh penekanan.


“Ya mana gue tahu. Kan gue disuruh ke sini. Mau ga maulah,” balas Andi.


Andi cuek saja hingga masak-masak ini berakhir. Pukul lima sore, seluruh makanan sudah selesai dibuat. Rencananya, anak gadis desa bakalan ngumpul di rumah Sofi untuk kocok arisan, sekalian nongki-nongki di malam minggu. Daripada dibawa jalan sama pemuda ke ibu kota kabupaten yang jaraknya empat puluh menit dari sini, mending duduk bersama di rumah Sofi. Anak KKN yang cewek turut diajak. Andi pun meminta mereka semua agar ikut demi menghargai undangan tersebut.

__ADS_1


“Gue pulang dulu yak!” Andi melambai kepada mereka sambil ngidupin mesin motor.


“Oke Bang … hati-hati ya.” Sofi menghampiri Andi. “Ini buat abang-abang KKN di posko.”


Tangan Andi menerima kue-kue yang dibungkus dengan kotak plastik. Pasti Nanang senang kalau Andi bawa sesuatu ke posko karena ia mengeluh dengan pedasnya makanan buatan Sarah, ga ada manis-manisnya sedikit pun.


“Makasih banyak ya Sofi ….”


“Eh udah … pulang sana. Malah lama-lama,” sindir Sarah.


“Apaan sih lu? Nyante dikit dong.” Andi menoleh kepada Sofi lagi. “Abang pulang dulu ya. Jangan lupa paksa kakak-kakak ini buat ikut biar ga mageran di kamar mulu ya.”


“Iya Abang …..”


Motor pario Bang Asep melesat  di jalanan beraspal. Andi sudah mengirim chat WA kalau ngembaliin motor sebelum magrib. Rencananya, Andi mau nyantuy dulu di tepi bendungan sembari ngerokok. Rokok yang ia beli di warung tadi sama sekali belum disentuh olehnya. Tidak mungkin pula Andi merokok di rumahnya Sofi, sangat tidak sopan. Pergilah Andi ke bendungan tersebut. Ia mengambil spot paling mantap agar bisa menikmati diri sendiri.


Awan cerah sore hari begitu menakjubkan. Mentari condong ke barat, ditemani oleh bayang-bayang rembulan putih yang sebentar lagi turut akan bersinar. Semerbak wangi asri suasana pedesaan begitu kental bagi Andi. Sawah terbentang luas sepuluh meter di belakangnya, sementara di hadapan Andi bergemiric bunyi bendungan beraliran deras. Ia menyulut rokok kreteknya. Hangatnya cengkeh bersisa di tenggorokan Andi hingga ia berdesah.


“Wah … kalau udah tua gue mau tinggal di Sumatera Barat dah. Suasanya hampir kaya gini … tapi Sarah mau ga ya tinggal di desa sama gue?” tanya Andi pada diri sendiri.


Suara seru dari anak-anak yang mandi mengundang perhatian Andi. Ada yang salto belakang, salto depan, gaya batu, dan gaya goyang tik tak yang lagi trending di aplikasi tersebut. Mereka menceburkan diri dengan bebas ke bendungan, lalu berenang untuk mengejar satu sama lain. Kebebasan yang tidak akan bisa dinikmati oleh anak kota sepertinya. Dulu, ia terlalu sibuk dengan main warnet.


Andi salfok sama anak-anak yang telanjang. Pusernya nonjol keluar, terus biji malika pilihan terbaiknya itu terjuntai-juntai tatkala berlari.


Terdapat Zulfahmi, Aan, dan Megi yang berenang di sana. Lagi-lagi Andi melihat anak muridnya yang absurd tersebut. Momen kesantuyan Andi diganggu oleh mereka. Bukannya lanjut berenang, mereka malah menghampiri Andi.


“Bang … kok ga mandi? Ah lemah Abang ini,” ucap Aan.


“Mandi dong Bang. Buka bajunya, ayo … buka bajunya ….” Megi ngomporin sambil menairk-narik baju Andi.


“Eh jangan … jangan. Bapak udah mandi.” Padahal kan Andi Cuma mandi pagi sedari tadi.


“Ah ga seru nih Abang.”


Tampak Zulfahmi menoleh ke belakang Andi. “Bang … emak Abang datang.”


“Lah kok bisa?”


Ternyata Sarah yang lagi berlari dengan kencang seakan ingin menerjang dirinya.


“LO NGAPAIN DI SINI BAMBANG!!!” teriak Sarah dari kejauhan.

__ADS_1


Baru saja sampai di dekat Andi, pinggang Andi langsung ditendang sama Sarah.


“Aduh sakit gobl⸺” Andi menahan kalimatnya di hadapan anak murid SD. Nanti takutnya jadi keikutan toxic seperti Andi.


“Pulang! Dikirain udah sampe, malah duduk di sini.”


“Lo ini kaga bisa santai apa?” Andi menepuk-nepuk tepian bendungan di sampingnya. “Duduk dulu. Nikmati sore. Ini kenalin anak murid gue. Ada Zulfahmi, Aan, sama Megi.”


Megi menunjuk Sarah. “Lah, ini Ibu yang kemarin di UKS, kan?”


“Nah, kalian pernah lihat Ibu kan? Jangan bandel-bandel ya di sekolah.”


“Lo udah apain aja anak-anak di SD?” tanya Andi. Takutnya Sarah malah marah-marah sama anak SD.


“Kaga ada ngapa-ngapain kok. Biasa aja … gue ngajar pelajaran IPA kebanyakan.”


“Besok bab biologi lagi ya Bu,” pinta Zulfahmi.


“Dan tidak pakai prakterk,” sambung Aan.


Andi menepuk jidat. Anak murid di kelas itu absurd banget, entah darimana mereka pandai yang begituan.


“Bang Andi enggak mau mandi sama kita, Bu.” Zulfahmi mengeluh kepada Sarah.


“Iya ya? Beneran?” tanya Sarah dengan memandangi Andi. “Buka celana lo dan baju lo.”


“Eh ngapain bu?!” tanya Andi dengan panik.


“Udah buka ajaa … jangan nolak sama om!” Sarah maksa buat bukain celana Andi.


“Jangan om … jangan om  …!!!!!”


Karena dipaksa sampe tidak sanggup lagi menahan keperkasaan Sarah, Andi langsung diceburin dengan cara ditendang taekwondo oleh Sarah. Anak-anak murid pun ikut terjun bersama Andi.


Sementara itu, Sarah tertawa dengan riang di atas sana sembari mematahkan rokok yang dihisap oleh Andi tadi.


“Mandi dulu baru pulang!!!”


“Serang dia jhonny!!!” pinta Andi kepada anak-anak muridnya. “Serang beruang itu!!!”


“Serang!!!!”

__ADS_1


Keseruan sore ini diisi dengan mencipratkan air kepada Sarah. Tawa dan riang berbercak dari senyum mereka yang mengiringi.


***


__ADS_2