
Sarah tiba dengan memarkirkan motor tepat di halaman depan rumah Tami. Suara motor gadis itu setiap hari semakin mantap saja karena perawatan mumpuni yang dia lakukan tiap minggu. Hanya Sarah sendiri yang punya motor seperti itu di kompleknya, terutama di antara anak cewek yang tinggal di sana. Ya, dia tidak mau naik motor matic dengan pakaian celana levis dan manset hitam sexy kaya cewek-cewek tongkrongan café. Enggak masalah kalah sama gaya, tapi kalau masalah kecepatan motor, Andi pun kalah sepertinya.
Berkali-kali Sarah membunyikan bell rumah, tapi masih belum ada jawaban dari Tami. Andi mendengar suara bell tersebut tetapi merasa takut untuk membukakannya. Kan enggak lucu juga ngelihat anak lajang di rumah gadis seperti ini, ditambah pula Tami tinggal sendirian. Andi cepet-cepet ngasih tahu Tami kalau Sarah datang. Sementara itu ia pergi ke belakang pura-pura enggak tahu hal yang terjadi.
“Tami, makan seblak kuy,” pinta Sarah tatkala Tami membukakan pintu untuknya.
Senyum manis Tami yang bikin insecure Sarah pun melingkar. “Hehe … kayanya enggak, deh.”
“Gegayaan diet lu, Tam. Lihat gue dong, makan banyak tapi enggak gemuk-gemuk juga. Ayolah.”
“Bukannya gitu, sih ….” Tami melihat ke belakang. Agak ragu mengatakan kalau di sini ada Andi. “Gue baru pesen Bo-Food. Andi di belakang tuh.”
“Andi? Ngapain anak itu di sini?”
“Biasa, kalau lapar pasti ke sini. Dia ke sini kalau lagi lapar aja, kok. Sumpah.”
Mata Sarah memicing. “Jadi curiga gue. Dia pasti ada apa-apanya sama lo.”
Sarah menggeser tubuh Tami untuk mencari Andi. Ia periksa di dapur enggak ada, di WC juga kosong, di loteng pasti enggak ketemu, dan barulah waktu buka teras belakang tampak Andi lagi duduk ngangkang sambil mainin kucing Tami.
“Woy, lo ngapain sendirian ke rumah anak gadis?!” teriak Sarah.
“Eh … bukannya gitu. Kan gue udah biasa ke sini ….” Andi membentuk jari peace kepada Sarah.
“Kalau ke sini buat makan, bilang-bilang, dong.” Sarah merebut plastik berisikan pesanan makanan tersebut. “Waduh, ayam goreng. Demen banget nih gue.”
*Kan apa gue bilang, pasti dia demen nih kalau mukbang gratisan kaya gini*.
Akhirnya, mereka pun makan bersama-sama di teras belakang. Sarah pun lupa marah sama Andi karena main sendirian ke rumah Tami gara-gara keenakan makan. Mau gimana pun, sebagai pacar pasti agak risih kalau kekasihnya main ke rumah cewek. Tapi, sampai saat ini pun Sarah masih berusaha memaklumi hubungan antara Andi dan Tami yang sahabatan dekat, meskipun tidak mutlak memaklumi. Ya, namanya juga cewek, apalagi Sarah tahu banget tuh otak Andi kalau Tami lagi pakai daster tipis. Sarah jadi kalah mantap, dong.
“Akhir-akhir ini kita jarang ngumpul, ya.” Sarah meminum cola dari minimarket Indoapril.
“Semuanya pada sibuk sama dunia masing-masing. Ya, udah biasa sih di dunia pertongkrongan,” sambung Andi.
__ADS_1
“Aku jadi rindu masa-masa SMA.” Tami tersenyum kepada Sarah.
“Nanang udah pindah circle sama temen-temen kuliahnya. Agus udah sibuk dinas di kepolisian. Felix mah sibuk bisnis dari dulu. Tinggal kita berdua.”
“Memet masih sering ke sini buat nagih uang ronda,” balas Andi.
“Lah, anak itu sekarang kerja di mana?” tanya Sarah.
“Dia sekarang teknisi di perusahaan motor. Tapi, masih jadi petugas keamanan RW. Siapa juga preman di sini yang berani sama anak itu.”
“Kak Pram sama Kak Kevin?” tanya Tami.
Pertanyaan tersebut mengheningkan tatapan Andi dan Sarah, terutama mendengar nama Pram yang pernah membuat hubungan mereka berdua retak. Mau bagaimana pun, sampai saat ini pun Andi masih tidak menyukai seorang Pram yang pernah mengancam Andi untuk merebut Sarah darinya. Ia yang tidak ada apa-apanya ini daripada Pram menjadi saingan berat.
“Kevin gue enggak tahu kabarnya. Kan dulu dia karyawan Indoapril, sekarang entahlah dia ada di mana. Gue juga jarang main ke sekitaran sekolah, biasanya dia nongkrong di kedai Kodomo.”
“Pram sekarang dinas di Polda, sama kaya Agus.” ucap Sarah.
“Ya kan gue dikasih tahu Agus. Emangnya enggak boleh, ya?!” balas Sarah dengan sedikit nada intervensi.
“Yee … boleh aja, sih. Siapa yang ngelarang.” Andi sok jual mahal.
“Waktu itu gue lagi duduk di Indoapril deket sekolah. Terus datang tuh orang rambut panjang kaya preman. Kulitnya hitam dan keker banget. Gue kira siapa, lah ternyata Agus. Sumpah gue udah lama banget enggak ketemu dia.”
“Tambah serem, dong.” Tami masih mengingat wajah Agus yang dari dulu memang serem.
“Itu karena Agus sekarang katanya jadi intel.”
“Nah itu dia, dia bilang kalau satu kantor sama Pram di Polda. Enak banget hidup mereka sekarang, udah pada kerja.”
“Lo nyindir gue atau gimana,” singgung Andi.
__ADS_1
“Ya, makanya jangan molor mulu. Cari kerja ….”
“Lah elo emangnya ada kerjaan?” Andi menoleh pada Sarah.
“Lah, gue ngelatih tekwondo sama jualan sparepart motor itu bukannya kerjaan?”
“Iya, juga ya. Kayanya gue sendiri nih masih jadi gembel.”
“Lo ngegembel tapi duitnya banyak,” pungkas Sarah.
Tami menepuk tangannya untuk mereda perdebatan antara dua temannya ini. Sudah hal biasa melihat Andi dan Sarah berdebat satu sama lain, meskipun ia tahu sebenarnya mereka berdua sayang banget satu sama lain. Gimana enggak tahu, Andi curhatnya ke Tami, dan Sarah pun curhatnya ke Tami. Tami sendiri yang curhatnya sama kucing di rumah. Andi yang segitu slengek\`an pun masih sanggup nangis kalau curhat sama dia.
“Semuanya udah ada garis masing-masing. Rejeki udah ada yang ngatur, jadi jangan berkecil hati. Kan kita enggak tahu jalan ke depannya. Mana tahu kalian berdua jadi orang gede setelah kuliah nanti.”
“Perut gue tambah gede gara kebanyakan makan.” Andi menepuk perut buncitnya.
Sumpah udah kerasa banget tubuh jadi melar semenjak tamat SMA. Padahal, dulu dia masih punya perut kotak-kotak gara olahraga futsal tiap hari dan tawuran tiap minggu. Walaupun sekarang dia kuliah di jurusan Pendidikan Jasmani, tetapi intensitas olahraganya tidak seperti dahulu. Sekarang mah kebanyakan teori.
“Bagaimana kalau kita ngumpul lagi?” Sarah mengajukan ide.
“Kalau soal ngumpul, gue mah masih bisa tiap hari sama mereka,” balas Andi.
“Ya kan elo, tapi lebih ke ngumpul-ngumpul hangat gitu. Bikin pesta, liburan, apa kek,” balas Sarah.
“Ide yang bagus tuh, aku mau banget. Kita liburan ke luar kota, yuk. Ke pulau atau ke villa deket-deket gunung gitu.”
“Kalau ke pulau, kayanya terlalu ribet sama masalah biaya. Pasti besar banget biayanya.”
“Gue tahu satu orang yang bisa kita sewa villa-nya.” Sarah tersenyum cemerlang.
“Siapa?”
“Pram ….”
“Dia lagi dia lagi. Kenapa enggak orang lain, sih?!”
“Ih, lo aja yang nyari link sana. Kan dia anak sultan, gue tahu kalau dia punya villa yang disewain.”
Mata Andi memicing curiga. “Kok lo tahu, sih?”
“Ih, lo ini⸺”
Tami lagi-lagi menepuk tangannya dua kali. “Ya sudah, biar aku aja yang bicara sama Kak Pram.”
“Jangan,” sanggah Andi dengan cepat.
“Emangnya kenapa?” tanya Tami.
“Dia itu buaya.”
__ADS_1
Tiba-tiba jidat Andi ditepuk oleh Sarah. “Nyadar lo bego!”
***