
“Berhenti sebelum kita terlalu jauh,” ucap Andi tatkala ia kembali mengenakan kancing baju dari Sarah.
Tangan wanita itu menyeka keringat Andi yang bergaris pada dahi, lalu turun ke bibir untuk mengusapnya dengan lembut. Seraya tersenyum, Sarah beranjak dari tubuh Andi dan duduk di tepian. Hampir saja mereka melupakan seluruh dunia sebelum Andi benar-benar menghentikan itu. Mereka hanya berbatas tubuh saja dengan sebagian kancing yang sudah terbuka, begitu pula jamah tangan Andi menelusuri setiap lekuk Sarah untuk membuatnya tidak henti terpejam.
Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan oleh Sarah. Untuk pertama kalinya ia merasakan buah dari cinta begitu membara. Dahinya yang tidak henti mengernyit dan mata nan terpejam, memandangan permainan Andi hampir saja terlalu jauh. Getaran-getaran kecil pun tercipta dari suara redup yang Sarah keluarkan, berusaha agar tidak terdengar orang yang mungkin berada di luar sana.
“Lo marah?” tanya Sarah.
“Enggak, kok. Takutnya ni ye kebablasan. Papa elo bawa sinso ke rumah buat bacok gue, gitu ….”
Sarah tertawa mendengar candaan Andi. “Lo seperti udah biasa aja ngelakuinnya.”
“Hah? Lo dari mana tahu? Berarti lo pernah kan?” tanya Andi balik.
“Ya … untuk begitu kita enggak perlu pernah-pernahan. Maksud gue, lo enggak gugup atau gimana.”
“Agus ngajarin gue, hahaha! Enggak kok, canda. Yaa insting aja kali ya.”
Satu telunjuk Sarah menempel pada dahi. “Setelah ini lo harus setia sama gue, enggak boleh ke lain hati.”
“Enggak begini pun gue tetap setia ….”
Iya sih Andi kelihatan tenang, tapi dadanya kaga bisa berhenti dipacu sedari tadi. Bayangin aja hal yang biasa Andi lihat di pideo-pideo, kini terpampang jelas di hadapan matanya. Hal apakah itu? Author kaga mau ngasih tahu. Sedari tadi Andi tidak bisa menurunkan apa yang harus diturunkan sehingga ia harus menarik napas panjang-panjang biar kembali normal. Hampir saja dia kebablasan dan bikin anak orang kebobolan gol. Udahlah tadi dia ngebiarin Sarah kebobolan gol, kini malah dia yang hampri ngebobolin. Dengan segenap keteguhan hati dan sisa-sisa imannya, Andi pun bisa berhasil keluar dari godaa.
Sekitar sepuluh menit mereka berbincang ringan, terdengarlah bunyi pintu yang dihentak keras dari luar. Bapak Santoso telah menerima telepon dari Pram untuk menyelamatkan mereka yang terkunci di gudang. Pintu gudang memang sudah rusak sehingga sulit sekali untuk dibuka apabila tertutup. Perlu teknik khusus dan hentakan kuat agar mampu dibuka. Hanya saja, Bapak Santoso lupa memberitahukan kepada anak-anak di Villa. .
Seluruh anak di villa sudah pulang semuanya. Agus membercandai kedua sejoli itu ada niat maksiat di gudang sehingga bisa terkunci. Candaannya tersebut ternyata kejadian, hanya saja tidak akan dibuka oleh Sarah dan Andi. Tubuh yang lelah membawa seluruh anak villa masuk ke kamar masing-masing. Malam sudah menunjukkan jam tidur dan mereka butuh beristirahat untuk aktivitas ke esokan harinya.
__ADS_1
Mata Sarah masih belum bisa tertutup karena mengingat kejadian tadi. Ia terpikir apa yang akan terjadi apabila Andi benar-benar kelepasan. Ia memicingkan mata kuat-kuat karena tidak sanggup lagi memikirkannya. Selimut tebalnya pun terbuka karena mata yang masih belum bisa ditutup, sementara Tami di samping sudah pulas bermimpi. Sarah pun berniat ke dapur untuk menikmati cokelat hangat yang tersedia.
Air dihangatkan serta cokelat pun diseduh. Ia membawa cangkir cokelat panasnya tersebut ke teras belakang. Rasanya, nikmat sekali minum cokelat hangat dengan ditemani langit malam yang terang. Tatkala ia membuka pintu belakang, ia heran kenapa pintu belakang tidak dalam keadaan terkunci. Tampaklah pria yang sedang duduk di kursi sembari menghembuskan asap rokoknya. Di hadapannya terdapat gelas piala dan botol wine yang sudah dibuka.
“Sarah?” Pram menoleh ke belakang. “Ternyata lo belum tidur.”
Sarah merasa terjebak di dalam situasi. Sebenarnya ia tidak ingin duduk bersama Pram. Namun, ia terpaksa menemaninya karena terlanjur datang ke teras belakang. Tidak sopan rasanya jika langsung pergi.
“Gue enggak bisa tidur.” Ia menarik salah satu kursi dan sengaja ia membuat jarak. “Gue duduk di sini, ya?”
“Ya silahkan. Mau wine? Kalau lo mau, gue ambilin gelas lagi ke dalam.”
“Oh gue enggak minum alkohol. Dari mana dapet botol itu?” tanya Sarah penasaran.
“Oh ini, pengunjung terakhi villa itu bule dari Prancis. Dia beri gue satu sebagai tanda terima kasih. Kalau di Rupiah-kan, wine ini sampe jutaan. Makanya rasanya enak banget dan cocok buat udara dingin di sini.”
“Oh gitu ….”
“Gimana kuliah lo?” tanya Pram.
Bibir Sarah terasa hangat tatkala menyentuh tepi cangkir. Langit-langit mulutnya kini dibasahi oleh pekatnya nikmat secangkir cokelat.
“Sejauh ini gue menikmatinya. Sebagai orang yang suka sains, gue belum ada menemui kesulitan yang bikin gue drop.” Sarah menoleh pada Pram. “Kalau kerjaan lo?”
“Ya begitulah, pergi pagi pulang sore. Mungkin lo ngelihat pola yang sama pada Tami. Bedanya kami, terkadang ada kegiatan lapangan atau dinas luar kota untuk mengurusi kasus.”
“Enak ya kayanya kalau udah kerja gitu. Bisa ngehidupin diri sendiri,” balas Sarah.
“Nanti kalian setelah lulus kuliah juga ujungnya begitu. Terlebih lagi lo kalau udah jadi dokter, pasti bakal sibuk banget. Jaman sekarang orang banyak yang sakit.”
“Hahah … perjalanan gue masih panjang, Pram. Lo kira lulus sarjana kedokteran langsung bisa jadi dokter? Gue harus pendidikan lagi.”
__ADS_1
Hangatnya wine di tenggorokan membuat Pram terpejam. Sensasi santai di pikiran pun ia rasakan. Wine yang ia minum benar-benar menenangkan.
“Sar, lo enggak lagi ngejauhin gue kan?”
Sarah menjauhkan cangkir dari bibirnya tatkala ia terbatuk mendengar pertanyaan Pram. Pria berwajah maskulin itu kini menatapnya dengan serius. Sebagai wanita, ia saat itu pun sempat mengagumi karisma tatapan Pram yang dalam.
“Ngejauhin? Haha … enggak deh kayanya. Hanya saja gue menjaga sikap karena ada Andi di sisi gue.”
Pandangan Pram kembali mengarah ke depan.
“Waktu dulu, gue dan Andi pernah berjanji satu sama lain. Gue rasa dia pasti ingat dengan janji itu, menyangkut diri lo Sar.”
“Janji apa?”
“Jika sekali saja Andi nyakitin lo, gue akan merebut lo dari dia.” Ia menggeleng sesaat. “Hal yang pernah hampir gue lakuin ketika di SMA.”
“Pram … lo seakan setiap wanita bisa lo dapetin. Hal itu salah besar, Pram.”
“Iya, gue ngedapetin setiap cewek yang gue inginkan. Bahkan elo sendiri. Gue masih ngelihat tatapan yang sama sebagaimana tatapan masa-masa kita deket. Bagi gue itu hal yang mudah.”
Tangan Pram menepel pada dagu Sarah hingga wajahnya terangkat sedikit. Berdesir aliran darah Sarah tatkala ia menatap mata Pram begitu dekat. Bagaimana pun, Pram tetaplah Pram yang mampu menaklukkan wanita. Meskipun Sarah terlampau kuat untuk itu, tetapi ia masih bisa merasakan getarannya.
“Maaf Pram, gue udah punya Andi.”
Sepenggal kalimat itu menjadi akhir dari percakapan mereka. Sarah meninggalkan Pram seorang diri.
Tapi lo tetap punya gue …, ucap Pram di dalam hati dengan penuh percaya diri.
***
__ADS_1