
Bagi Sarah, biar pun seluruh pria mendekatinya di seluruh dunia, hanya akan ada satu orang yang diberi kesempatan untuk berada di sisinya. Pria itu diizinkan untuk menemani Sarah ke mana-mana, ke pasar, ke bengkel, ke café, ke taman, ke kamar … hmm … kayanya bolehlah kan kemarin di villa ampir nyoba. Tiada lain dan tiada bukan orang itu adalah Andi. Pria yang dulu ia temui sebagai musuh bebuyutan, kini menjadi sepasang kekasih yang tidak ingin lepas seperti anak dan induk orangutan.
Ya, saking besarnya cinta Sarah⸺bahkan lebih besar daripada otot Kevin yang segede nangka itu⸺Sarah selalu berusaha buat ada di sisi Andi, baik secara daring maupun luring. Ini pacaran udah kaya sekolah aja ya, malah pakai pacaran daring dan luring segala. Setiap subuh Sarah ngirimin chat buat Andi solat subuh, paginya nelponin dia biar bangun dan tidak kena omel Mama karena bangun kesianga, siangnya Andi diingatin buat kuliah karena Andi kebanyakan milih jadwal kuliah siang, dan sorenya Sarah mengucapkan hati-hati untuk Andi yang pulang dari berkuliah.
Sarah dikenal sangat perhatian, tetapi terkadang Sarah pun bete` karena sikap cuek dari Andi. Andi itu tidak sesering Sarah kalau nge-chat. Dia nelpon kalau lagi rindu saja, kalau tidak rindu maka Sarah pun merasa terbaikan. Setiap malam Sarah menunggu Andi untuk menelponnya, tetapi karena Sarah sudah tidak tahan lagi, maka biarlah Sarah sendiri yang memulai telponan.
Memang, Andi lebih menunjukkan sikap perhatiannya ketika pacaran mode luring, alias offline, atau langsung ketemuan. Andi menganggap menelpon dan nge-chat itu hanyalah sekadar basa-basi, seperti tipe-tipe pacaran anak SMA yang harus telponan tiap malam. Oleh karena itu, Andi sering berkunjung ke rumah Sarah untuk melepas rindu dengan pacarnya. Jika bertemu langsung, Andi bisa berbicara banyak hal sekaligus melakukan aktivitas menyenangkan, seperti masak bareng, bengkelin motor bareng, bahkan main PS bareng.
Tetap saja Sarah ingin seperti pasangan-pasangan di luar sana yang pacarnya menelpon duluan. Sarah sering mendengar cerita teman-temannya yang telponan sampai ketiduran, atau anak jaman sekarang bilangnya sleep call. Tapi yang namanya Andi, lebih milih nongkrong di pos ronda bersama Memet dan papanya sendiri.
“Apa gue kurang perhatian lagi ya biar Andi itu balik perhatian sama gue?” tanya Sarah sewaktu di-make up sama Tami di kamarnya.
Mereka rencananya akan berkunjung ke rumah Naila. Wanita itu berencana ingin memberi setelan fashion hijab, sekaligus mengajari Tami dan Sarah bagaimana memakai hijab yang lagi viral akhir-akhir ini. Mumpung di belakang rumah Naila itu instagramable sekali, Tami berencana untuk mengambil foto Sarah sebagai model.
“Ah enggak kok, kamu itu udah perhatian banget loh sama Andi. Kamu kurang apa lagi? Dia tiap sore ke rumah kamu, malamnya juga sering buat nganterin makanan.”
Muka Sarah jadi cemberut. “Asal lo tahu ya, dia lebih sering ke rumah elo daripada ke rumah pacarnya sendiri.”
“Ya kan karena kami tetanggaan. Tiap hari mamanya Andi ngasih makanan ke ak. Terus dia kalau laper selalu aja ngebongkar kulkas di rumah ini, sampe-sampe aku harus nyetok banyak biar aku bisa kebagian.”
__ADS_1
“Dasar anak itu! Malah jadi maling makanan di rumah elo.” Sarah menutup matanya ketika Tami melukis alis. “Gue itu pengen di-chat Andi duluan kaya cewek-cewek di luar sana, terus dia nelponin gue gitu, nanyain gue udah makan atau belum, udah mandi atau belum, atau apalah itu.”
Tami diam sejenak karena konsentrasi melukis alisnya Sarah. “Mungkin aja Andi itu tipe-tipe yang kurang suka berhubungan lewat media sosial, jadi dia Sukanya langsung bertemu orang itu. Contohnya aja, Andi itu kan sukanya nongkrong kalau sama temen-temennya. Kalau main game, itu pun harus ketemu langsung sama mereka. Padahal kan bisa aja di rumah masing-masing.”
“Apa gue kurang cantik ya Tam?” tanya Sarah ketika membuka matanya.
“Kamu itu cantik kok, manis orangnya. Makanya Andi suka.”
“Hmm gue tahu ….” Sarah mengangguk curiga. “Pasti dia nge-chat dengan cewek lain ya? Hmm kebiasaan dari SMA nih ….”
“Enggak boleh berpikiran negatif. Kamu kok bisa sih mikirin itu?” tanya Tami.
Tami mencibir Sarah. “Enggak mau, mending nikah langsung.”
“Besok deh gue curi handphone Andi dan gue cek siapa aja yang nge-chat Andi!” ucap Sarah dengan semangat.
Setelah Sarah berhias diri dengan keahlian tangan Tami, mereka bergegas pergi menuju rumah Naila. Sarah menyemparkan diri untuk mengunggah story di intagaram bersama Tami. Langsung sekitar sepuluh orang pria buaya membalas story tersebut. Baru aja Sarah berbangga diri karena pasti aja mereka memuji kecantikan Sarah, eh ternyata mereka malah nanyain Tami itu siapa. Untuk sekian kalinya, Sarah mengakui kalau Tami itu berkali-kali lebih cantik daripada dirinya.
Mereka sampai di rumah Naila, langsung dibukain pintu sama security. Sarah dan Tami kaya berasa jadi orang penting karena dibukain pintu. Sarah pun tidak bisa membayangkan kalau Naila setiap hari dibeginiin, pasti merasa spesial sekali.
__ADS_1
“NAILAAA!!!” panggil Sarah kaya seorang bocil yang lagi ngajak temennya main keluar. Ia pun menoleh kepada Tami. “Tam, kayanya waktu bocil Naila enggak pernah dipanggil kaya gitu deh.”
Tami pun tertawa karena mengingat Andi dan Memet selalu memanggil dengan nada yang sama sewaktu kecil. “Iya juga sih Sar. Gimana mau mangggil kaya gitu, jarak dari gerbangnya aja bikin bocil ngos-ngosan.”
“Gue kaga jadi deh bikin rumah segede ini. Takutnya anak gue kaga punya temen nantinya. Soalnya mereka pada males manggilin anak gue, malah dikirain budek. Padahal jarak rumah ke gerbangnya aja yang jauh.”
Tidak lama kemudian, Naila menyambut mereka yang datang. Naila tahu kehadiran mereka bukan karena panggilan Sarah yang ala-ala bocil itu, melainkan karena bel rumah. Bagaimana mau dengar kalau rumah ini kayanya bisa dijadiin mall.
“Ayo masuk, gue udah nyiiapin baju-bajunya.”
Masuklah mereka ke rumah Naila. Ubik keramik rumah itu terasa dingin karena setiap sudut rumah diletakkan pendingin udara. Sarah tidak bisa membayangkan berapa besaran tagihan listrik per bulannya. Kini, mereka dibawa Sarah untuk ke teras belakang yang luas itu.
Sewaktu mereka sampai di teras, Sarah bertatapan dengan seseorang yang sedang duduk manja di sofa. Gadis itu tersenyum lebar kepada Sarah, sementara Sarah harus membutuhkan waktu membandingkan kulit gadis itu dengan kulitnya yang relatif lebih gelap. Tatkala Naila menyentuh kedua bahu gadis itu dari belakang, barulah Sarah membalas senyumnya.
“Kenalin … ini Kak Tasya, senior gue di SMA ….”
Oh ini yang namanya Tasya …, ucap Sarah di dalam hati. Ternyata ia diberikan kesempatan untuk bertemu langsung dengan wanita itu. Padahal, dari kemarin ia sudah mati penasaran dengan gadis yang bernama Tasya.
***
__ADS_1