Andi X Sarah

Andi X Sarah
75. Hampir Saja (SEASON 3)


__ADS_3

“Kalau lo mau keluar, ambil kuncinya di sini.” Nabe meletakkan kunci kos tersebut masuk ke dalam dadanya. Andi yang sedari tadi ingin kabur, ternyata  terhambat oleh hal tersebut. Andi harus melewati momen-momen kritis agar ia bisa keluar dari situasi ini.


Lohe … lohe … kok begini ceritanya ….


Andi berada di suatu titik di mana ia tidak mampu berkata lagi tatkala Nabe kehilangan kendali dengan menjarah tangannya ke mana-mana. Tidak ada orang yang terjaga di kos ketika malam begini, pasti semuanya udah tidur, sepi dan senyap untuk mereka berdua.  Andi ingin nolak, tapi rugi. Mau ngeladenin, takut dosa. Dengan sisa-sisa moral Andi yang tidak seberapa itu, Andi mencoba untuk menjauhkan Nabe dari tubuhnya. Pengen sih mukul, tapi kan dia cewek. Takutnya nanti difisum dan Andi dijerat pasal pemukulan dan pemerkeosaan.


“Nabe, sumpah gue kaga mau yang beginian …. Eh jangann …..”


Nabe membuka kancing kemeja Andi setelah wanita itu telah melucuti gaunnya. Andi benar-benar melihat apa yang dulu pengen dia lihat. Imajinasi Ari Kiting dan dirinya sewaktu di kelas mengenai Nabe, kini ada tepat di depan mata. Andi tidak menyangka jika Nabe memiliki sisi lain yang tidak pernah ia lihat. Ia liar sebagaimana cewek-cewek nakal yang pernah ia dengar di cerita-cerita para senior. Setahunya, para senior pernah jalan bersama sejumlah ayam kampus yang dikenal.


“Andi, lo kok nolak gitu? Tenang aja deh, pacar lo enggak bakalan tahu kita begini,” rayu Nabe dengan mata tertutup, tetapi bibirnya masih tetap tersenyum.


“Nabe, kalau gue ngelakuin ini, ada banyak yang gue langgar. Gue memang mau ngelakuin yang beginian, tetapi dengan orang yang gue mau,” balas Andi.


Wajah Nabe berubah sinis. “Emangnya gue kurang apa? Gue cantik, tubuh gue bagus. Kita cocok kok kalau main di belakang tanpa ketahuan yang lain.”


Tangan Andi mendorong Nabe ke belakang.


“Iya gue akui itu, lo cantik dan body lo enggak ada yang ngalahin di angkatan kita. Tapi bukan jadi alasan gue mau ngelakuin hal ini sama lo!”


Bukannya malah mengurungkan niat, Nabe malah mendorong Andi ke ranjang. Ia menghimpit Andi dengan tubuhnya hanya berbekal daleman. Tatkala Nabe mengecup Andi kembali, tiba-tiba saja Nabe kehilangan kendali tubuhnya. Ia jatuh dengan mata tertutup, Nabe tertidur karena mabuk berat malam ini. Andi kebingungan dengan posisi ini, padahal Andi udah on nih. Gimana enggak kepancing kalau ada cewek begini sama dia. Andi kan juga laki-laki yang bisa.


Untung aja nih cewek pingsan, kalau enggak udah gue gasak juga nih …. Andi menutup wajahnya melihat Nabe yang berada di atas tubuhnya. Kini, Andi membariingkan Nabe dengan baik di ranjang lalu melihat sekujur tubuh Nabe yang indah itu. Andi sempat menelan ludah karena hampir aja maksiat dan mengkhianati kepercayaan Sarah kepada dirinya.


“Aduh gimana mau ngambil kuncinya ya ….” Andi melihat daleman atas Nabe yang menggembul itu. Tepatnya di sebelah kanan tersimpan kunci kosan miliknya.

__ADS_1


Andi menutup mata, lalu merayaplah tangan Andi ke dalam sana. Sedikit mengulik-ngulik karena rugi juga kan kalau dilewatin gitu aja, Andi mengambil kunci tersebut dengan jantung berdebar-debar. Setelah menghela napas panjang, Andi memasang kemejanya kembali.


Ia tidak tahu akan bersikap bagaimana. Ingin sekali marah, tetapi Nabe mungkin saja dalam pengaruh mabok sehingga pikirannya tidaklah berjalan dengan normal. Ingin pula Andi bersikap biasa-biasa saja, tapi situasi ini bukanlah hal yang bisa dianggap enteng. Kalau Nabe cowok dan Andi itu cewek, bisa-bisa sudah dalam kategori pemerkaosaan.


Tangan Andi menyelimuti Nabe dengan selimut, lalu merapikan rambut wanita itu yang basah oleh keringat. Di kala situasi seperti ini, Andi tetap bersikap gentle dan menjaga marwahnya sebagai pria sejati, meskipun ***** juga kaya yang tadi.


Handphone Nabe hidup oleh panggilan seseorang. Ia lihat terdapat sepuluh kali panggilan tidak terjawab. Mumpung Nabe masih tidur dan hapenya tidak dalam keadaan terkunci, Andi mencoba mengulik privasi dari wanita itu. Melanggar etik sih, tapi ia berusaha hanya sebatas rahasia di kepalanya saja. Nabe mungkin punya masalah atau sudah biasa melakukan hal seperti ini.


Saat Andi melihat chat Nabe, terlihatlah sejumlah pria dengan chat yang sudah dibaca sebelumnya. Andi terkejut saat membaca sejumlah tarif-tarif yang ditetapKAN oleh Nabe. Andi terkejut kalau Nabe mungkin saja salah satu wanita yang sering diceritakan oleh para senior.


“Gila nih cewek, tapi gue beruntung hampir dapet gratis.” Andi meletakkan handphone Nabe tepat di samping tubuh wanita itu. “Pantesan nih hidupnya glamor meskipun tinggal di kosan.”


Sebelumnya pun Andi sudah merasa aneh. Baru kali ini ia melihat teman wanita yang mau mabuk berat seperti tadi. Biasanya sih kalau yang seperti itu temen-temen cowok Andi. Ternyata, Nabe sudah biasa melakukannya dan bahkan menawari Andi minum tanpa ragu.


Tepat di tangga kos, Andi berhenti oleh seorang pria yang turut berselisih jalan dengan dirinya. Pria itu merupakan orang yang Andi kenal secara wajah, yaitu senior semester dua belas jurusannya. Mereka pun saling menatap.


“Lo junior gue kan?” tanya pria bernama Rizky itu.


“Eh, iya Bang.”


“Ngapain di sini?” tanya Rizky.


Bingung dong Andi mau jawab apa. Ngapain juga dia ke kosan ini kalau tanpa tujuan. Enggak mungkin Andi cuma ngegabut keliling-keliling kosan atau dia dianggap mau ngincer kosan buat dimaling. Ia tidak mempunyai jawaban yang bisa dijadikan alasan, kecuali jujur secara langsung.


“Eh ini … hmm … kan gue baru aja dari ulang tahun Tasya anak Jurusan Bahasa Inggris, Abang pasti tahulah dia siapa. Ternyata di sana Nana mabuk berat. Gue enggak tega ninggalin Nana sendirian di tengah malam begitu, jadi gue anterin pulang Bang.”

__ADS_1


Rizky mendekat ke kemeja Andi. Ia jadi aneh kenapa kemeja Andi terpasang tidak rapi, terutama terdapat kancing yang tidak terpasang. Lalu, senior itu mengendus sedikit di bagian dada Andi.


“Lo baru ngapain aja sama pacar gue?” Rizky menarik Andi ke bawah. “Lo kira gue enggak tahu baju lo itu wangi parfum Nana?”


“Sumpah gue enggak ngapa-ngapain sama dia ….”


Tiba-tiba saja Andi ditampar dengan keras hingga wajah Andi berpaling ke arah lain. Untuk urusan seperti ini, Andi tidak pernah takut. Mentalnya sungguh sudah teruji meskipun dengan senior sekali pun.


“Oh nama lo siapa?” Andi memejam mata sejenak untung mengingat. “Oh iya, nama lo Rizky kan? Anak organisasi seni jurusan. Hmm … ya benar, gue hampir main sama cewek lo. Body-nya bagus juga, lo permak kan?”


“Bangsat lo!” Kepalan Rizky mengarah ke wajah Andi, tetapi masih bisa ditahan oleh Andi.


“Lo harus tahu, gue enggak sampe ngerusak cewek lo yang memang udah rusak duluan.” Andi balas mendorong Rizky ke tepi dinding. “Sebaiknya lo jaga cewek lo itu biar enggak seenaknya ngajak main cowok lain. Untung aja gue nolak, kalau enggak udah sampe pagi gue di sini.”


“Lo enggak bakalan bisa nyaman di kampus setelah ini …..”


Kerah Rizky kini Andi genggam sekuat tenaga. Ia tidak mampu melawan.


“Gue bukan cowok murahan seperti lo. Kalau lo mau nyari masalah sama gue, lo berarti salah cari lawan. Gue memang di kampus pendiam, tapi soal urusan mental, gue bisa diadu.” Andi yang tidak rela ditampar, kini membalas tamparan pria itu hingga ia terdiam. “Sekali lagi, jaga cewek lo itu.”


Andi meninggalkan Rizky. Tetapi ia sempat berbalik untuk mengucapkan sesuatu. “Nana maksa gue ciuman, dia hampir ngajak gue main. Bukan gue yang mulai. Jadi maaf … tapi sekali lagi, body cewek lo bagus juga.”


Sisi lain dari Andi kini muncul, mode fakboy semasa SMA terpaksa ia keluarkan demi menjaga harga dirinya di depan musuh.


***

__ADS_1


__ADS_2