
Andi baru saja membeli martabak kebanggaan untuk diantarkan ke rumah Sarah. Martabak itu merupakan martabak paling enak selautan, lah kok selautan kaya krebipeti aja. Pokoknya maknyus dan bikin para calon mertua akan terkenang-kenang dengan pemberian tersebut. Andi juga tidak mengerti kenapa andalan para cowok itu selalu martabak kalau berkunjung ke rumah ceweknya. Kalau setiap hari datang ke rumah cewek dan setiap hari dibawain martabak, bisa-bisa kena gula tuh bapaknya.
Bertandanglah Andi ke rumah Sarah. Satu orang pertama yang Andi cari ialah papanya sarah. Kalau sore hari di jam segini, pasti papanya Sarah lagi berada di belakang rumah buat ngopi dan ngelihatin burungnya sendiri. Burungnya itu warna hitam dengan corak putih dibagian kepalanya. Kalau bersuara, sungguh melegakan hati di ujung malam. Berbeda dengan burungnya Andi yang kecil dan warnanya ada corak orennya. Namun sayang, burungnya jadi lemes dan tidak bertenaga lagi karena kurang asupan nutrisi. Kemungkinan yang lain karena sering dipake main sama Andi, alias dipegangin pakai tangan gitu. Alhasil, burungnya stress dan mati.
Sumpah ni absurd banget ….
Papanya Sarah seneng dong dapet martabak kacang. Jadi ada yang dimakan kalau sambil ngopi begini. Tiba-tiba aja papanya Sarah bisikin ke telinga Andi, pakai pengaman …. Andi yang panik dan pura-pura polos pun berkata, Sarah selalu Andi kasih helm om biar aman berkendara ….
“SARAH!!! Gue datang!” Andi teriak di samping garasi khusus motornya Sarah.
Ternyata ia tidak ada di situ, tetapi motornya masih terparkir dengan rapi. Dari endusan hidung Andi, Sarah kira-kira ada di sana lima menit yang lalu soalnya masih jelas tercium wangi parfum Sarah. Pasti dia baru aja pulang dari suatu tempat karena motornya masih anget di bagian knalpot. Karena Sarah tidak ditemukan, Andi pergi ke dalam rumah. Sarah didapati sedang nyisir di depan cermin. Ga tau kenapa Sarah nyirirnya sambil goyang. Kata anak Tik-Tak, goyang itu namanya goyang pargoy. Sambil jalan, Andi ngikutin gaya goyang tersebut.
“Sar, asyik juga pargoyan elo,” puji Andi.
“Ih udahlah, jijik gue kalau elo goyang begitu,” balas Sarah.
Andi ngelihat ke luar kamar karena takut sama papanya Sarah. Gimana kaga takut nih soalnya Andi masuk ke kamar anak perawan. Untung aja nih iman Andi kuat berkat rajin menabung dan selalu mengaji.
“Oh iya, martabak penuh cinta sama papa lo.”
“Oke mantep ….” Sarah kembali menyisir rambut sebahunya tersebut. Dia jadi senang kalau Andi membawakan martabak penuh cinta. Mereka menyebutnya martabak penuh cinta karena pernah suatu saat abang penjualn martabaknya bilang kalau martabak jualannya dibikin dengan bumbu cinta. “Tumben ke sini sore-sore, mau ngapain? Biasanya di jam segini elo main bola sama Memet di lapangan.”
“Oh, lagi cedera. Kaki gue kena sleding kemarin. Agak pegel-pegel.” Andi duduk di kursi meja belajar milik Sarah. “Sar, ada nih temen gue di kampus yang ulang tahun. Jadwal ulang tahunnya nanti malam ba`da Isya. Jadi, elo mau ikut atau enggak?”
__ADS_1
“Males banget … rame pasti temen-temen kampus lo. Mereka nanti ngelirik-lirik gue,” balas Sarah.
Andi sudah menebak Sarah tidak suka acara meriah seperti itu. Bahkan jika Sarah perginya dengan Andi berdua untuk menebar pesona kepada pasangan-pasangan lain. Selain itu, Sarah juga malas memikirkan gaun ini itu yang cocok dibawa ke sebuah pesta.
“Mungkin beberapa senior atau temen-temen gue bakalan ikut. Soalnya dia bukan anak fakultas gue. Beneran nih elo ga mau ikut? Masa elo tega ngebiarin gue pergi sendiri? Nanti gue diculik tante-tante loh.”
Sarah berbalik diri, lalu melingkarkan tangannya ke belakang leher Andi. Wajahnya mendekat. Tidak lama kemudian bibir mereka bersambut satu sama lain.
“Hati elo udah gue culik dengan ini, jadi enggak bakalan ada yang nyulik lagi.” Sarah melepaskan genggaman tangannya. “Malam ini gue mau ke rumah Vanessa. Gue mau tidur di sana. Ada beberapa cewek SMA juga yang datang.”
“Beneran nih lo enggak ikut? Ga nanya si pengundangnya cewek atau cowok kek pasangan-pasangan lain,” tanya Andi.
“Andi, gue kaga goblok. Mana ada cowok yang ulang tahun bikin party sih. Kalau pun ada, udah pasti tuh agak melehoy cowoknya. Pasti yang ngundang cewek. Tapi, palingan elo enggak tahan satu jam di sana karena bosen.”
Telunjuk Sarah menyentuh hidung Andi. “Jangan minum alkohol kalau di sana ada minuman semacam itu.”
“Tenang, gue cuma minum seprit dan panta di sana.”
Ternyata Andi gagal mengajak Sarah untuk pergi ke sana. Padahal, Andi ingin sekali pergi berdua dengan pacarnya di sebuah pesta. Nanti, mereka akan berbicang dengan pasangan lain dan menceritakan bagaimana bahagia dirinya telah dibersamai oleh seorang kekasih. Namun apalah daya, Sarah juga bukan tipe orang yang suka pesta-pesta meriah seperti itu.
Namun, aneh juga kenapa Sarah sama sekali tidak bertanya nama sang pengundang. Andi mencoba berpikir positif saja bahwasanya Sarah sangat mempercayai Andi.
Kamar Andi harum minta ampun. Parfum yang ia beli di indoapril sekarang Andi semprotin ke segala arah. Ketek udah harum, dada, baju, belakang telinga, pokoknya bikin bidadari jatuh ke kamar. Soalnya iklan tv dari produk parfum ini menayangkan adegan bidadari yang jatuh ke kamar kalau parfumnya dipakai seseorang lelaki. Hayolo … tebak parfum apa ….
__ADS_1
Yang namanya pesta, Andi harus berusaha tampil keren. Semenjak dia nolep, jarang sekali ada temen yang ngajakin pesta. Beda sekali ketika Andi masih di SMA dan namanya masih famous di kalangan temen-temen sekolah. Rambut Andi diisiri rapi ke belakang dengan pomade mahal miliknya. Kemeja biru selaras dengan sepatunya yang berwarna sama. Kancingnya dibuka biar kelihatan tuh kaos hitam wibu miliknya. Tidak lupa pula Andi melipat lengan kemeja biar kelihatan jam mahal yang dibelikan oleh papanya sewaktu berkunjung ke Kota Padang.
“Gue kerasa kaya masih di SMA deh ….” Andi melihat penampilan keseluruhannya. “Sekarang gue paham kenapa dulu banyak cewek yang suka sama gue. GUE KEREN BANGEEET!!!!”
Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Waktu Andi menoleh ke belakang, terlihatlah Tami dengan pakaian rumahan tipis seperti biasa. Sebelum pergi, Andi malah disuguhkan oleh pemandangan yang mantap.
“Lo lama-lama udah kaya adek gue sendiri ya, buka pintu enggak ngetuk dulu,” sindir Andi.
“Lah, sejak kapan kita bikin peraturan kaya gitu? Kamu aja masuk ke rumah aku tiap hari tanpa ngetuk,” sindir balik Tami. Ia mendekati pria itu, lalu memegang kedua pipi Andi. “Kamu rapi banget, mau malam mingguan sama Sarah?”
“Enggak, ada temen gue yang ulangtahun. Itu tuh yang undangannya ketinggalan di mobil lo. Tapi, Sarah enggak mau ikut. Dia bilang mau nginep di rumah Vanessa.”
Tami jadi bingung kenapa Sarah enggak ngelarang Andi. Setidaknya, dia harus ikut ke sana buat mengawasi Andi.
“Jadi kamu pergi sendiri?” tanya Tami.
“Iya, mau bagaiman lagi.” Andi mengeggeser tubuh Tami agar ia bisa segera pergi. “Elo pergi malam mingguan gih. Ajak cowok pergi ke emol makan sushi. Malam mingguan cuma sama Aisyah.”
“Ih kamu!”
Dengan bermodalkan tampang keren dan motor bebek mbek milik mamanya, kini Andi pergi bertandang ke rumah Tasya.
***
__ADS_1