Andi X Sarah

Andi X Sarah
81. Pembalasan Dandi (2) (SEASON 3)


__ADS_3

Preman itu langsung dihajar sampai mampus. Ketiga teman Dandi menghabisinya di tempat, dipukulin tepat di kepala. Kalau kata Dandi, jangan berhenti kalau mukanya tidak seperti Memet. Kondisi muka Memet parah banget, bahkan Dandi takut nanti akan meninggalkan jejak ketika sembuh. Terlebih lagi ceweknya kan lumayan cantik, yaitu Naila, takutnya nanti ga cocok aja kalau dibawa jalan.


Tidak hanya dipukulin, preman tersebut dimasukin ke comberan. Tanpa diberi ampun, mereka menyiraminya dengan air yang menggenang di sana. Tapi sebelum itu mereka menggeledah dulu apakah di kantong preman ada hape atau dompet biar nanti tidak basah. Memang pekerjaan mereka sangatlah membengiskan, tetapi masih punya hati nurani. Kalau misal KTP preman itu rusak, nantikan susah juga ketika di administrasi rumah sakit. Nah, oleh karena itu Dandi cukup mengerti.


“Di mana temen-temen lo itu?” tanya Dandi sembari menariknya ke permukaan.


Muka preman sudah hitam oleh air comberan. Bajunya robek-robek karena Okto menariknya dengan brutal.


“Kenapa harus gue sih?!” Preman itu menutupi mukanya.


“Di antara preman di sekitaran sini, cuma elo yang punya beceng. Lo kira gue ini anak baru apa? Di mana temen-temen elo?!” Dandi menamparinya dua kali.


Mumpung tidak ada orang lewat, teman-teman Dandi menambah tamparan biar suasanannya makin asyik. Bunyinya itu membuat telinga berdenging.


“Di kedai dekat TPU … ampun gue udah ga kuat!”


“Kemarin lo malah ngabisin temen gue. Sekarang lo malah minta ampun,” balas Dandi.


“Tapi temen lo mukulin gue sampai mampus.”


“Ya itu karena lo pakai senjata api. Masa ngemalak orang pakai senjata api. Tukang palak atau tukang rampok?!”


Egi mendekatkan wajahnya. “Kayanya sama aja deh tukang palak sama tukang rampok.”


“Beda dong, tukang malak cuma mintain duit. Mereka malah mintai barang-barang Ajiz.” Dandi menoleh kepara preman itu. “Siapa yang ngambil jam tangan temen gue? SIAPA?!”


“Dia bang …..”


Kini, Dandi menyimpan sebuah nama yang menjadi target selanjutnya. Sebelum ditinggalkan, Darwin menyirami wajah preman dengan air. Soalnya hitam banget karena kecebur comberan. Dengan muka bonyok, preman itu berterima kasih karena mukanya sudah dibersihkan oleh mereka. Ia pun merangkak ke motor setelah komplotan Dandi pergi meninggalkannya.


Sore semakin naik, emosi Dandi semakin naik pula. Mereka bertandang ke sebuah tongkrongan yang berbentuk pondokan kayu di tengah kebun pohon rambutan. Tepat di samping kebun pohon rambutan itu, terdapat Tempat Pemakaman Umum yang digunakan oleh warga sekitar. Dandi beruntung banget nih ada TPU di sekitaran sini. Sekalian aja diantarin ke liang lahat mereka-mereka yang sudah menghajar Ajiz sampai mampus.


Sudah diakui oleh junior, seangkatannya, atau pun senior, Dandi selalu bergerak semaunya. Ia memiliki insting membunuh apabila berkelahi dengan orang lain. Hal itu membuat Kevin melarang Ajiz untuk mencontoh sifat buruk dari Dandi. Dandi sering sekali menghabisi lawannya seakan ia ingin membunuh. Ajiz pun pernah hampir melakukan hal yang sama hingga Kevin berang dengan cara memukul Ajiz sampai pingsan.

__ADS_1


“Assalamulaikum Bang, ada pakeet ….”


Dandi mendekat ke kedua preman yang sedang bermain kartu geple.


“Paket apaan? Gue kaga ada mesan sopi deh.”


“Ada bang, tadi katanya ada yang mesan dari sini,” balas Dandi.


Kedua preman itu pun melihat ke belakang Dandi. Teman-temannya sudah memegang balok kayu untuk bersiap-siap. Melihat keadaan yang mengancam, preman itu mengeluarkan pisaunya.


“Ini paketnya Bang ….”


Satu kali pukulan membuat satu preman tumbang. Teman-teman Dandi pun menghadang preman yang satu lagi dengan balok kayu hingga pisaunya tercampak ke bawah. Sama seperti preman yang sebelumnya, mereka tidak diberi ampun oleh para Four Dog. Pondokan kayu bergoyang oleh perkelahian itu. Biasanya pondokan kayu  itu bergoyang karena ada sepasang muda-mudi yang mungkin aja sedang les membaca, tetapi sambil lepas baju, kali ini goyangnya karena berjibaku hantam dengan bringas.


Kedua preman itu pun meler darah di bagian hidung.


“Mana yang nyuri jam tangan temen gue?!” teriak Dandi.


“Sumpah Bang gue kaga tahu ….”


“Fokus Dandi ke tujuan kita,” bisik Egi.


“Oh iya ….” Dandi melepaskan tangannya. “Mana yang nyuri jam tangan temen gue?! Mau gue kirim ke samping? Kuburan dekat loh.”


“Itu Bang Ulin, bukan kami. Dia preman besar sini ….


Dandi sempat berpikir siapa preman bernama Ulin tersebut. Selama ia bergaul dengan banyak preman, tidak pernah terdengar orang bernama Ulin. Ia pun bertanya lagi kepada preman tersebut, “Ulin siapa?”


“Ulin Ayam Bang …”


“Ulin Ayam? Aneh banget namanya ….”


Ketiga temen Dandi pun sampai tertawa mendengar julukan Ayam pada pria bernama Ulin tersebut. Dandi pun sampe heran kenapa dia bisa disebut Ulin Ayam.

__ADS_1


“Kaga peduli gue mau ayam, mau bebek, yang penting di mana orangnya?”


“Dia bandar sabung ayam di dekat simpang masuk RW sini bang. Di sono ….” Preman itu menunjuk ke salah satu arah. “Biasanya siang-siang di sana rame dan dia ada di sana.”


“Biasanya dia ke sini ga?”


“Ke sini Bang kalau sore, tapi ga tahu kalau hari ini. Katanya mau pergi pacaran ….”


Mendengar hal itu Dandi semakin naik pitam. Pasti jam tangan Ajiz dibawa pacaran sama dia. Ulin Ayam sepertinya tahu mana jam tangan murah dan mana jam tangan yang mahal. Setahu Dandi, jam tangan pemberian Naila harganya mencapai satu jutaan. Harga yang fantastis bagi seorang mahasiswa menengah ke bawa seperti dirinya.


“Masih ada ga jam tangannya sama dia?” tanya Dandi.


“Masih Bang, di kosan dia ….”


Dandi menoleh kepada yang lain. “Ayo capcus, kit acari siapa itu Ulin Ayam.”


Four Dog perlu mengumpulkan informasi lebih banyak mengenai siapa gerangan Ulin Ayam tersebut. Dandi pernah mengetahui sejumlah nama yang pernah bermain di sektor bisnis sabung ayam. Tetapi, mereka semua pada baik sama Dandi dan sering ditraktir makan pakai uang panas tersebut. Dandi menduga kalau Ulin Ayam ini merupakan pemain baru sebagai bandar sabung ayam. Ingin sekali Dandi membawa ayam jagonya ke sabung ayam tersebut dan mengalahkan semua ayam-ayam di sana, termasuk ayam milik Ulin. Tetapi, Dandi udah tobat gara-gara ada polisi yang memburu para penyabung ayam.


“Beneran ya di sini?” tanya Egi kepada Dandi.


Mereka sedang mengendap-ngendap di sebelah pohon pisang. Penghuni pohon pisang pun bingung kenapa tingkah Four Dog pada aneh.


“Nyari siapa Bang? Sabung ayamnya sudah selesai. Besok lagi datangnya.”


Tiba-tiba saja seseorang datang dari belakang mereka.


“Waduh gue kira polisi tadi sumpah ….” Dandi mengurut dada.


“Aman kok bang kalau di sini polisinya kaga bakalan dateng. Udah ada mata-mata soalnya. Ngomong-ngomong mau main sabung ayam ya?” tanya pria itu.


Dandi diam sejenak. “Iya deh mau main. Saya nyari Ulin Ayam.”


“Lah itu saya …..”

__ADS_1


Tepat sekali dong … Dandi langsung salam dari binjai untuk memukulin Ajiz.


***


__ADS_2