
Berubah
Keringat bersimbah di siang hari ini. Seluruh otot terasa ingin pecah karena satu jam bermain futsal di lapangan basket. Suasana pertandingan tadi sangat riuh, masing-masing pendukung tim dengan semangat memberikan semangatnya kepada pemain. Ditambah lagi para cewek-cewek yang histeris melihat Pram yang keringetan.
Satu sekolahan melihat pertandingan tersebut. Sudah lama dua kubu ini tidak bertanding seperti ini. Dulu sewaktu hubungan mereka sedang memanas, selalu saja ada pertandingan mendadak. Mulai dari main basket, main futsal, main volley, lomba makan kerupuk, bahkan event panjat pinang sewaktu tujuh belasan.
"Ahhhhh ...," desah Andi. Satu botol air mineral besar habis diteguk olehnya. Kaya kebo lagi haus. Kaosnya sudah basah karena keringat. Kulitnya memerah karena panas.
"Harusnya kita bisa menang, tuh." Nanang mendekatkan wajahnya ke kipas angin.
"Coba aja lo ga galer tadi, pasti kita ga kebobolan, Lo kan kiper, harusnya fokus." ucap Agus ke Felix.
Felix membuka bajunya. Badannya putih banget, beda banget sama Agus yang hitam gempal.
"Ya mau gimana lagi, gatel banget. Ga bisa nahan. Btw, temen kelas lo yang lo ajak main di tim kita lumayan GG mainnya."
"Iya, cuma gue sama dia yang pande main futsal di kelas. Yang lain bencong semua, maunya ngerjain tugas mulu. Diajak keringetan ga mau."
"Masih galer lo?" tanya Agus ke Felix.
"Masih nih. Salah make kolor mungkin. Kolornya koko gue yang kepake," jawab Felix dengan bercanda.
Lima belas menit berdiam di depan kipas angin tidak membuat mereka berhenti berkeringat. Kelas Nanang terasa sangat panas. Apalagi cewek-cewek di sini yang hot semua makin membuat Anak Amak menjadi panas, terutama Agus. Inilah salah satu faktor mereka betah berlama-lama di kelas Nanang. Cewek-ceweknya jadi incaran angkatan mereka.
Mata Agus mendapatkan sebuah penampakan melalui jendela. Ia berjalan lambat dengan auranya yang terlihat seram. Rambutnya panjang melebihi bahu, matanya besar seperti ingin menerkam seseorang. Jika dilihat, langkahnya selalu lebar.
"Ndi, lo ngerasain aura-aura aneh, ga?" tanya Agus.
Andi langsung mengendus-ngendus untuk mencium kehadiran makhluk yang abstrak itu. Tangannya meraba ke mana-mana dengan harap bisa meraskan auranya tersebut.
"Sarah, ada Sarah?"
Telunjuk Agus menunjuk Sarah yang sedang bertegak pinggang di depan pintu kelas Nanang. Sarah ga mau masuk karena mereka lagi buka baju semua.
"Ke sana atau enggak?" Andi sepertinya panik. Tatapan Sarah di sana terlihat seram.
"Ke sana lo bakal mati, kalau ga ke sana bahkan lebih parah. Lo pilih yang mana?" jawab Nanang.
Andi tersenyum pada Sarah yang sedang menunggunya di depan pintu kelas. Tampak wanita itu juga membalas senyumnya. Sarah membawa Andi ke tempat yang lebih sepi. Ia melipat tangannya pertanda ada sesuatu yang tidak ia sukai. Sementara itu, Andi sudah cemas Sarah bakal nyerocos kaya emak-emak kehilangan taperwer.
"Lo ngapain pakai tanding-tanding futsal sama Pram?" tanya Sarah.
"Lo peduli apa sama gua? Gua kan bukan siapa-siapa lo."
__ADS_1
"Ya bukan begitu juga maksudnya."
"Gue cemas kalau lo kenapa-kenapa. Lo kelahi dan diproses sama guru lagi kaya dulu. Lo menderita kan gara-gara itu?" Nadanya sedikit naik saat di akhir kalimatnya.
"Udahlah Sarah. Gua ga butuh perhatian lo lagi. Kalau lo ga mau nerima gua, yaudah. Cukup, ga usah sok peduli gitu." Andi melangkah melewatinya. Ia tidak peduli jika ia telah berkata seperti kepada Sarah. Kalimatnya waktu itu bahkan lebih menyakitkan daripada yang ini.
Sarah merasa bersalah karena telah menggantungnya seperti itu. Ini bukanlah tujuannya dari awal. Realita yang terjadi sudah sangat melenceng dari yang ia harapkan. Pada awalnya ia hanya menginginkan pria bodoh itu berubah. Ia tak ingin Andi terlihat seperti anak SMA yang bandel, sering kena hukum, dan pembuat onar.
Selama ini Sarah dekat dengannya untuk merubah image Andi di mata orang banyak. Bahkan, Sarah rela sebagai guru les private Andi demi menunjang nilainya yang buruk itu. Andi sudah cukup menderita sebagai akibat dari perilakunya. Ia acap kali menangis sendirian tanpa ada orang yang mengetahui.
Sayangnya gue belum melihat perubahan itu dari lo ....
Sarah berpangku tangan di atas meja yang bercoretkan rumus-rumus fisika. Itu adalah warisan dari senior terdahulu yang kurang menyiapkan diri dalam menjalani ulangan maupun ujian. Wajahnya murung karena kejadian tadi. Andi begitu terpukul karena dirinya sudah menyebutkan kalimat yang membuat Andi sedih.
Ia menggapai handphone dan memencet icon mobail lejen utnuk dimainkan. Namun, ia melihat jaringan yang tertera di atas layar.
"Jaringan kampret!" Sarah mengurungkan niatnya buat push rank. Bukannya nge-push rank, malah nurunin rank kalau dipaksakan bermain.
Hari pengambilan raport tinggal dua hari lagi. Pengambilan raport bukanlah hal yang membuatnya berdebar-debar. Setidaknya nilainya pastinya bagus karena selama ini ia sudah mempersiapkan diri dengan belajar. Kalau urusan peringkat, bagi Sarah itu hal belakangan. Ia tidak peduli mau dapat peringkat berapa saja, nilai yang bagus sudah membuatnya sangat bahagia.
Tiba-tiba Tami mengetuk kepala Sarah.
"Opo meneh?" tanya Sarah.
"Kamu dipanggil sama Bu Silaban. Ga tau ngapain," jawab Sarah.
"Bilang sama dia, gue lagi mager."
Dengan cepat Sarah menjemput Tami yang tengah melangkah. "Eh, lo ga tau kata becanda. Ya kali gue bilang kaya gitu ke guru. Polos amat lo."
"Ya mana aku tau. Kamu nyuruh kaya gitu."
Tangan Sarah menepuk jidatnya saat menyadari betapa polosnya Tami.
Ruangan guru sedang ramai dengan para guru yang sedang sibuk untuk persiapan pembagian dua hari lagi. Sebagain guru ada yang sedang bersantai sambil mengopi dan berbincang. Ia memberanikan mengetuk pintu dan memasukinya. Menyeruak seketika wangi kopi dari cangkir-cangkir bundar sang guru.
Di bagaian sudut belakang, ada seorang guru dengan rambut khas tahun tujuh puluhan yang klasik. Di hadapannya terdapat setumpuk raport murid yang telah ia tulis. Wajahnya sangat serius menatap baris demi baris nilai yang berentet pada blanko nilai. Ia menatap sambil memicing, sementara itu kacamata yang longgar itu terus saja meluncur turun dari pangkal hidung.
"Good morning, Mom." Sarah menunduk seperti ojigi-nya orang Jepang.
"Good morning. Oh, that's you, Sarah. Can you help me?" tanya Bu Silaban. Ia memag seorang guru Bahasa Inggris dan merupakan wali kelasnya.
"What help?" balas Sarah.
Bu Silaban menggaruk rambutnya. Keningnya mengkerut pertanda sedang kesusahan.
"Ini bah, susah kali akunya. Banyak kali yang mau aku isi. Bisa kau tolong, kan?" Logat Batak yang kental keluar dari alunan kalimat Bu Silaban.
__ADS_1
"Ya bisa lah Buk. Masa' ga pulak. Mana biar saya bantu. Ini kecilnya bah," balas Sarah dengan menggunakan logat batak yang acak-acakan.
"Ini kau isikan raport teman-temanmu. Hati-hati jangan salah isi. Salah isi kumakan kau nanti." Bu Silaban meletakkan sebagaian raport murid di hadapan Sarah. "Oh iya, kabar gembira buat kita semua."
"Mastin sekarang ada ekstraknya ya buk?"
Kalimat Sarah membuat Bu Silaban tertawa.
"Pande kau melawak sekarang, ya. Lucu ... bolehlah." Bu Silaban mengambil sebuah kertas dari tasnya. "Kau juara satu lagi. Ditambah lagi kau juara umum dua. Juara umum satunya anak kelas 12. Maklum, nilai mereka kan ditinggikan biar mudah masuk kuliah."
"Ah, udah biasa saya kaya gitu, Bu. Ga terkejut lagi saya. Udah sering juara satu, Bu."
Sarah menggapai kertas yang berisikan peringkat kelas mereka. Ia lihat satu per satu nama yang tertera di sana. Di peringkat satu tertulis jelas nama lengkap dirinya. Sudah setiap tahun Sarah mendapatkan peringkat satu. Jadi, peringkat satu bukanlah sesuatu yang spesial lagi. Sudah menjadi hal yang biasa.
Semakin ke bawah ia melihat nama-nama baru dan nama yang masih bertahan di peringkat sebelumnya. Di peringkat dua dan tiga ada ketua kelas dan bendahara kelas. Mereka memang rajin belajar dan sangat kritis dalam menyikapi sebuah pelajaran. Ia terus melihat ke bawah.
Peringkat 6, Ana Ramadhani. Ah ni anak nyontek bisa dapet peringkat 6.
Peringkat 7, si Lelek. Lah, ini kan yang gue kasih jawaban tiap ujian.
Peringkat 8, oh ni anak memang rajin dikit dalam belajar. Ga heran sepuluh besar.
Peringkat 9, wah Tami bisa sepuluh besar ya. Padahal baru aja masuk semester ini.
Peringat 10 ....
....
...
Oh, my God!!!! Kok bisa??? Keajaiban apa yang Kau berikan padanya???
Sarah menatap Bu Silaban yang sibuk menulis.
"Bu, peringkat 10 ga salah ni?" tanya Sarah.
"Iya, Ibu kok heran gitu, ya. Kok bisa berubah gitu. Padahal dulu bandel banget."
"Pasti Ibu salah ngitung nilai, deh. Coba dicek lagi."
"Enggak, kok. Ibu udah cek berkali-kali. Dia memang agak rajin sekarang aku lihat. Aku sering liat dia belajar sendiri di perpus. Trus, kalau mau cabut, dia minta izin dulu. Masa' cabut izin dulu. Itu namanya ga cabut. Bandelnya udah kurang dikit. Ujiannya tinggi juga kok."
Seketika Sarah merasa ada di dunia lain. Ia tidak tahu keajaiban apa yang sedang menghampirinya. Ia tidak konsen mengisi raport teman-temannya.
Namun, senyumnya melebar perlahan. Ada sesuatu yang membuat dirinya bahagia. Semua usaha yang ia harapkan bermuara ke tujuan sebenarnya. Sesuatu yang ia inginkan sejak dahulu, sejak pertama mereka bertemu. Sebuah kisah yang sangat pilu jika ia kenang. Seseorang yang pernah menangis seorang diri karena perilakunya. Isakan yang menandakan bahwa tak semua orang yang bergelimang tawa selalu berbahagia. Ada terselip rasa sedih yang mendalam di kehidupannya yang riang. Ia ingin merubah pria itu.
Andi, lo udah berubah.
__ADS_1
Senyum berbunga di sela-sela garis bibirnya.
***