
Jurus Rahasia Penggoda
Besok adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua kelas. Tiga buah cabang olahraga bergengsi digelar untuk memperebutkan harkat martabat sebuah kelas. Basket dan futsal untuk putra, sedangkan volley untuk putri. Pemain volley, basket, dan futsal sudah dipilih oleh kelas Andi. Ia sendiri terpilih untuk bermain di cabang futsal karena dia pernah membawa menang sekolah di Pocari Cup yang diadakan tiap tahun.
Lah, biasanya anak keren, tinggi, macho kaya Andi main basket? Kaya di pilem-pilem gitu. Sory, skill basket Andi memang ga sebagus dengan temen-temen yang lain. Tapi kalau di futsal dan sepak bola jangan diragukan lagi. Sebelas dua belas lah sama Ronaldowati.
Pertandingan Volley dan basket digelar duluan dan bersamaan.
"Woi, busungkan dada kalian sebesar-besarnya. Tunjukin kalau kalian memang hebat. Ayo busungkan dadanya besar-besar." Andi memberikan semangat bak seorang manager volley.
Para anak cewek terbakar semangatnya oleh Andi.
"KURANG GEDE WOI!!!!" Agus tiba-tiba datang buat menyemangati kelasnya Andi.
"IYA, GEDEIN LAGI!!!! KURANG TUH!!!!" teriak Andi. Dia senyam-senyum ga jelas. Matanya jelalatan ke mana-mana.
Tiba-tiba Sarah mendekat sambil buka sepatu.
Andi dan Agus mengerang kesakitan karena sepatu Sarah nempel di muka mereka masing-masing. Ngecap banget sampe bikin bekas sepatu di muka mereka.
"Lah, kok gua digebuk, sih?" Andi protes sambil megangin muka.
"Woi, ***!!! Cari kesempatan lo ya buat ngeliatin yang enggak-enggak!!!" Sarah menarik mereka ke lapagan dengan satu tangan.
"Kan, gua ga ngeliatin lo?" balas Andi.
"Jadi lo ngeliatin siapa? Tami?" Mata Sarah bergeser pada Tami yang lagi keheranan melihat Andi minta ampun sama Sarah. "Tam, **** lo diliatin sama Andi. Ga marah?"
Bukannya marah, Tami malah tersenyum tipis. "Kalau Andi yang lihat, Tami ga marah, kok." Ia melangkah beberapa meter. "Tapi kalau Agus, gua ga sudi!!!!!"
Agus dapet dobel bekas sepatu dimukanya.
Ya tuhan, memang ga beres mereka berdua ini, ucap Sarah dalam hati.
Servis pertama dilakukan dengan sempurna. Walaupun perempuan, mereka tetap bermain sengit. Bola berkali-kali bolak-balik untuk mencari poin. Begitu pula Sarah, ia berkali-kali loncat-loncatan buat smash bola. Sarah memang lincah banget, udah badan bagus, ditambah lagi enerjik. Udah ga ada ampun, cowok-cowok pada mimisan di tepi lapangan. Ditambah lagi ada bidadari baru, yaitu Tami si bidadari kecil nan imut markumut selangit.
Kolaborasi Sarah sebagai spiker dan Tami sebagai tosher berhasil membuat set pertama mereka menangkan. Dengan keringat yang membasahi, mereka berjalan keluar lapangan. Andi sebagai manager menyambut mereka dengan rasa senang.
"Wahai wanitaku, deket sini sama om. Mainnya hebat. GGWP banget." Andi melebarkan tangannya seakan mau memeluk satu-satu. Tangannya memeberi satu per satu minuman energi buat para pemain. "Sarah dan Tami mainnya cantik bener."
"Apalagi Tami, aduh bikin abang melayang dek." Agus mendekat dan mengambil minuman yang bukan jatah buat mereka. Begitu pula Anak Amak yang lain.
Melihat Sarah yang keringatan membuat Andi menelan ludah. Ternyata kalau Sarah lagi keringatan memang begitu menggoda.
"Sar, minumnya jangan banyak. Ntar bisa keram perut," kata Andi sambil duduk di sampingnya. Sarah minum kaya tukang yang udah kerja berjam-jam. "Main lo bagus banget. Pertahanin ya."
"Perhatian banget lo," balas Sarah dengan cuek. Ia menyambut beberapa lembar tissue yang Andi serahkan.
Mata Tami menjadi panas melihat Andi lagi dekatan sama Sarah. Ia tak mau kalah, ia duduk di samping Andi sambil menempelkan kepalanya ke bahu Andi.
"Makasih ya udah nyemangatin kami," kata Tami dengan manja. Sementara itu, kepalanya sudah mendarat empuk di pundak Andi.
__ADS_1
Mata Tami memberi isyarat pada Sarah seakan sedang berkata, kan udah gue bilang kalau lo ga bakalan bisa rebut Andi dari gue.
Ternyata Sarah menangkap sinyal-sinyal telepati yang sedang dikirim oleh Tami. Dia pun mengirimkan isyarat pandangan sinisnya pada Tami. Mereka saling berkomunikasi pake isyarat mata. Kadang naikin alis lah, tatap sinis lah, tatap sayu lah, bermacam pokoknya. Sedangkan Andi asyik sambil mendengarkan musik EDM yang lagi diidupin anak OSIS.
kan udah gue bilang kalau lo ga bakalan bisa rebut Andi dari gue
Gitu ya? Kalau gue bisa gimana?
Lo ga bakalan bisa. Andi udah deket sama gue dari kecil.
Peduli apa gue?
Bahkan gue udah pernah liat ***** Andi waktu mandi bareng!!!
Tami tersenyum menang sambil mengeluskan kepalanya ke bahu Andi yang kokoh.
Sarah mengangguk karena tertantang. Ia pura-pura memegangi tangan kanannya yang sedari ia gunakan buat smash bola.
"Aduh!!!" teriak Sarah.
Andi langsung merespon erangan Sarah tersebut. "Lah, tangan lo kenapa, Sar?"
"Nyeri gitu. Kayanya ada masalah, deh." Sarah mengerutkan alisnya.
Tatap mata Andi menandakan bahwa ia cemas jika MVP pertandingan sedang cedera.
"Boleh gua urut, ga? Gua pande kok, Mama ngajarin ilmu tukang urutnya ke gua."
Sarah mengangguk senang. Tangannya diurut manja oleh Andi. Rasa hangatnya tangan Andi kini menyentuh tangannya yang lembut. Lalu mata Sarah memandang kepada Tami.
Eh, jibang!!! Kerad juga lo ya ... Nih gue belum keluarin jurus-jurus berbahaya gue.
Tami merasa tertantang.
"Andi ...," panggil Tami.
Andi berhenti mengurut tangan Sarah. "Iya, Tami?"
"Tangan aku dingin banget. Kayanya aku nevvous deh ...."
Andi mengelus rambut Tami dengan lembut. Andi ga merasa canggung, dia udah biasa dari kecil gituin Tami.
"Jangan khawatir. Aku juga sering gitu sebelum tanding futsal. Bawa tenang aja. Sini aku angetin tangan kamu ...."
Tangan Tami diangetin sama Andi. Ia genggam dengan erat agar memberikan kehangatan yang lebih pada Tami. Sementara itu, Tami membalas kemenangannya itu dengan menjulurkan lidahnya pada Sarah.
Itu belum seberapa ya .... Masih banyak jurus-jurus gue ... udah nyerah aja lo.
Sok cantik bener lo ya!!! Gue punya jurus andalan juga kali. Watch and learn, noob.
"Andi," panggil Sarah.
Ia menatap Sarah yang memanggilnya. Sementara itu tangannya tak lagi menggenggam Tami.
"Gue capek bener, nih. Boleh pinjam bahu lo buat gue nyandar, ga?" pinta Sarah pada Andi.
__ADS_1
Andi sedikit ragu untuk mengiyakan permintaan Sarah. Apalagi ada Tami di sini. Biasanya yang nyandar ke dia cuma Tami seorang. Tapi, karena melihat Sarah memang keliatan kecapean. Ia pun mengiyakan.
"Oke, silahkan seberapa lama lo mau ..."
Kepala Sarah mendarat lembut ke bahu Andi. Ia merasakan betapa kokohnya bahu Andi hasil dari berlatih selama ini. Ia tidak memikirkan kata orang-orang di sekitarnya, yang penting menang dari Tami.
"Andi, kalau kita dapet piala volley hari ini, lo mau ga ngajak gue nonton. Tapi lo yang bayarin ya sebagai hadiah." Sarah menaikkan alisnya biar imut gitu.
Tampak Andi mengangguk setuju tanpa basa-basi. "Oke, kalau lo menang, ya ... kita jalan ke mana aja kalau lo menang."
Senyum Sarah yang licik terbuka lebar kepada Tami.
Liat kan? Lo itu belum apa-apanya daripada gue. Lo mah kecil ... kecil doang!!
Eh, jangan songong gitu deh lo!!! Liat yaa ...
"Andi, sory ya aku jadiin paha kamu bantal." Tami mengubah posisinya.
"Iya, ga apa-apa kok," balas Andi. Sementara itu kepala Sarah tetap bertahan di pundak Andi.
Merasa tidak mau kalah, Sarah mencari cara buat menang dari jurus rahasia Tami barusan.
"Andi, gimana ntar malam lo datang ke rumah gue buat dinner. Gue pande masak lo."
Tami pun tidak mau kalah. Ia mencari cara juga.
"Andi, liburan besok kita ke Bali yuk. Biar aku maintain tiket sama papa.
Alis Sarah mengerut. Ia mencari cara lagi. "Andi, lo mau ga main sesekali ke café papa gue. Mumpung besok ini Kangen Band mau nampil live music di sana."
"Beneran? Gue ngefans banget sama Kangen Band. Thanks banget Sarah ..." Andi mengusap kepala Sarah dengan lembut.
"Andi, siap ini kita karaoke-an yuk."
"Andi ............"
"Andi .............."
"Andi ............."
"Andi .............."
"Andi ............"
Sarah dan Tami saling mengalahkan satu sama lain. Mereka saling mengeluarkan jurus-jurus penggoda rahasia mereka. Andi malah ngeladenin satu per satu jurus godaan yang mereka berdua keluarkan. Sementara itu, ketiga Anak Amak yang lain ternganga melihat kemesraan yang hanya bisa didapatkan oleh Andi seseorang. Dua primadona sekolah sedang menempel pada Andi.
Mereka mengirimkan isyarat tatapan yang seakan mengatakan,
Enak bener lo, Ndi. Kaga bagi-bagi sama temen sendiri.
Andi menangkap sinyal tersebut. Ia ngeluarkan jempolnya untuk para Anak Amak di sana.
MANTAP DJIWAAA!!!!!!!!!!
***
__ADS_1