
Andi merasa iba hati melihat Sarah yang selalu mengkhawatirkannya. Sifat Andi yang bebal dan berulah tanpa berpikir dahulu acap sekali menghasilkan dampak buruk terhadap dirinya maupun orang lain. Kekhawatiran Sarah bukannya tidak mendasar, jantungnya hampir saja copot tatkala mendengar berita dari Naila bahwa Andi berkelahi dengan preman dan ditangkap oleh polisi. Bahkan, ia tidak peduli dengan diri sendiri tatkala membawa motornya ke kantor polsek dengan kecepatan penuh.
Sarah hanya diam saja tatkala mengantakan Andi kembali ke parkiran untuk mengambil motor. Hanya ucapan \`hati-hati\` dari Sarah sebelum motor Andi bergerak pergi. Sikap diamnya tersebut memang awalnya tidak menjadi masalah bagi Andi, tetapi ia merenungi hal itu ketika melambat di jalan sepi. Apakah ia sudah bosan dengan tingkah Andi yang seperti itu? Apakah Sarah sudah muak dan tidak lagi bereaksi apabila terjadi hal-hal yang membahayakan bagi Andi? Andi berkali-kali bertanya hal itu di dalam hati.
Sesampainya di rumah, Andi menyalami mamanya yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Tidak ada pertanyaan yang berarti, kecuali bertanya apakah Andi sudah makan malam ini. Sama sekali mamanya tidak mengetahui bahwa sudah terjadi kejadian yang membahayakan hari ini. Namun, Andi tetap saja menutupinya dan bahkan takut untuk memberitahu. Biarkan saja semuanya berjalan seperti biasa.
Andi tidur lebih awal karena terlalu lelah. Esok hari tidak ada jadwal kuliah sehingga ia bisa bangun kesiangan, meskipun ia tidak akan berani melakukan hal itu. Mamanya selalu membangunkan Andi di pagi hari untuk menyelesaikan tugas-tugas rumah, seperti membersihkan kamar mandi, menyapu halaman, atau pun mencuci mobil.
Keesokan harinya, Andi merasakan nyeri pada lengan ketika menyirami tanaman bunga halaman bunga. Selang air pun ia pindahkan ke tangan kiri agar lebih cepat menyelesaikan tugas dan lanjut main game online perang di komputer.
Terdengar bunyi motor Sarah yang membuat Andi berhenti dari tugas paginya. Tampak Sarah sedang membawa rantang makanan tatkala memarkirkan motor di depan garasi. Senyum paginya tampak ceria menyambut Andi.
“Aisyah mana?” tanya Andi.
“Aisyah ada kuliah pagi.” Andi menatap rantang makanan yang ia bawa. “Itu apa? Tahu aja gue lagi laper.”
“Lo harus tahu kalau cewek lo ini pandai masak. Jadi, cobain nanti ya masakan gue. Ada gulai ayam, ada sup ayam, ada babi guling.”
“Lo kok ada babi guling?” tanya Andi.
“Kalau lo mau biar gue beli.” Sarah langsung menyelinap ke dalam rumah tanpa mengetuk, hanya berucap salam.
Sarah sudah terbiasa untuk memasuki rumah Andi. Ia akrab dengan mamanya Andi dan sering berkunjung hanya untuk sekadar belajar memasak. Ibu Sarah sudah tiada. Ketidaaan sosok ibu bagi Sarah membuatnya tidak terlalu banyak mempelajari hal-hal yang harus dikuasai oleh wanita, terutama memasak. Sarah lebih banyak mempelajari kegiatan maskulin yang ia tiru dari papanya sendiri. Oleh karena itu, Sarah meminta mamanya Andi untuk mengajarinya memasak.
__ADS_1
“*Wah, menantu ambo alah pandai masak*!” Mamanya Andi menyentuh kedua pipi Sarah. Persis seperti anak sendiri.
**Menantu saya sudah pandai masak**.
Sepenggal kalimat berbahasa Minang itu cukup dimengerti oleh Sarah.
“Jelas dong, Tante. Sarah ini harus pandai masak selain pandai mutar baut.” Sarah membuka rantang tiga tingkat tersebut.
Terdapat sup ayam, gulai ayam, dan rendang pakis khas Sumatera Barat yang diajarkan oleh calon mertua tersayang. Sarah ingin sekali belajar membuat rendang daging khas Minang, tetapi Sarah masih belum diperbolehkan karena harus memulai dari masakan-masakan sederhana dahulu. Kalau rendang daging itu ialah tingkatan expert dalam dunia permasakan. Skill Sarah harus diuji dan perbanyak bertapa di dapurnya Andi. Setelah melewati berbagai ujian dari sang maha guru calon mertua, barulah Sarah diberitahu resep rendang daging Minang yang sudah turun temurun dari nenek moyang.
“Papa apa kabar?” tanya mamanya Andi.
“Baik, Tante. Dia itu lagi kasmaran sama ibu-ibu,” ucap Sarah.
Mata Sarah langsung memicing tidak percaya. Sejak kapan papanya suka ngelihatin ibu-ibu main volley.
“Bukan itu, Tante. Ia sih waktu itu papa pernah cerita ada janda cantik di sana, tapi sekarang bukan yang itu. Sekarang dia lagi kasmaran sama ibu-ibu di luar. Entah gimana atau ketemu di FB mungkin ya, papa kasmaran sama guru SD. Tiap malam dia ketawa-ketiwi sambil ngelihatin hape.”
“Hahah … kirain sama janda belakang komplek. Jangan deh sama janda itu. Soalnya kami jodohin sama imam masjid yang udah duda juga.”
Mulai nih percakapan gossip cewek-cewek. Tahu sendiri gimana nada gosip kalau ada informasi yang sensitif. Tangannya main nutupin mulut, terus bibirnya dimonyongin. Pokoknha persis banget deh kaya ibu-ibu yang lagi ketemu di gerobak sayur. Parahnya, Sarah kan masih muda bukan ibu-ibu beranak yang lagi nyiapin bahan masakan di gerobak sayur.
“Iya sih Tan, Tante yang janda itu masih seger. Cocok deh sama imam masjid yang juga enggak tua-tua banget.”
__ADS_1
“Bener … kayanya kalau sama papa kamu umurnya beda jauh banget.” Tangan mamanya Andi menyalin sup ke wadah yang lain. “Kalau papa kamu berjodoh sama guru SD itu, bagus dong. Papa kamu ada yang ngurusin nantinya. Kamu kan anak semata mayang, kalau kamu menikah nanti, pasti dibawa suami. Kasian kalau papa kamu sendiri.”
Sarah menarik kursi dapur. Mamanya meninggal sewaktu Sarah masih di usia belia. Selama itu, papa selalu sendiri ngurusin Sarah yang kadang bandel. Ketika ia sadar tentang posisi papanya yang duda, Sarah sempat menolak kalau papanya menikah lagi. Hal itu didasarkan anggapan kalau papanya tidak setia. Seiring berjalannya waktu, Sarah pun sadar kalau papanya juga manusia yang bisa kesepian, apalagi kesepiannya waktu hujan dingin-dingin di kamar yang sunyi. Sarah mulai bisa menerima apabila di kemudian hari akan ada seorang wanita yang menjadi penghuni rumahnya.
“Sarah juga mikir begitu. Kalau Sarah nanti nikah, pasti ikut suami. Papa bakalan sendirian dan kesepian kalau Sarah pergi. Lebih baik papa menikah lagi.”
“Kamu itu udah dewasa, pasti mikir buat hal di masa depan. Apakah itu baik buat kamu atau buruk buat kamu.” Rantang itu sudah kosong dan selesai dicuci oleh mamanya Andi. “Rantang kamu di sini aja ya. Nanti Mama suruh Andi yang ngantar.
*Mama*?
Sarah seketika bergeming tatkala mamanya Andi menyebut dirinya dengan kata itu. Entah sadar atau sengaja, Sarah tidak mengetahui. Yang pasti, ada feel yang positif tatkala Sarah mendengarnya.
“Iya, rantangnya di sini aja.”
“Andi itu lihat tangannya ada bengkak warna biru. Mama tahu waktu bangunin Andi tadi pagi. Entah ngapain dia kemarin kok bisa bengkak.”
Sekali lagi Sarah dibuat terdiam dengan sebutan itu. “Boleh nggak kalau Sarah manggil mama aja?”
Tatapan mereka saling bertemu. Tangan mamanya Andi membelai rambut Sarah.
“Boleh, sebagai latihan buat besok, kan?”
Rengkuh tangan Sarah membentuk peluk ke tubuh mamanya Andi.
__ADS_1
\*\*\*