Andi X Sarah

Andi X Sarah
19. Andi VS Dandi (SEASON 2)


__ADS_3

Andi VS Dandi


Hati Sarah dibuat cemas dengan tantangan yang diberikan oleh Andi kepada Dandi. Ia tidak fokus di jam-jam terakhir sekolah. Kepalanya sibuk menoleh ke belakang untuk melihat Andi nan tengah berwajah dingin menatap papan tulis. Samar-samar terdengar murid laki-laki berbisik mengenai perkelahian yang akan terjadi sepulang sekolah nanti. Hal tersebut semakiin membuat Sarah risau.


Ia mengirimkan pesan singkat LINE kepada Andi.


PLIS JANGAN PERGI KE SANA!!!


Kepala Sarah kembali menoleh ke belakang. Terdengar suara handphone Andi yang berdering, namun ia hanya melihat layarnya yang terbuka tanpa menggerakkan jemari untuk membalas. Tangan Sarah mengepal demi meredam kerisauannya. Tidak lama kemudian, ia keluar dari kelas.


Jemarinya mencari sebuah nama yang selalu menjadi penengah. Ia yakin, bahwasanya saat ini Kevin sedang dalam waktu kerja. Namun, ia tidak peduli karena terlalu cemas.


Panggilan Sarah diterima oleh Kevin.


"KEV ..."


"Apa Sar? Tumben nelpon?" tanya Kevin.


"Ini ... darurat ..."


"Darurat kenapa?"


Mata Sarah melihat Andi dari balik jendela. "Andi mau kelahi sehabis sekolah di lapangan. Gimana dong?"


"Yaa biarin aja, biasa anak sekolahan."


"Biasa pala lo. Sama adek kelas *****," balas Sarah.


"Udah biarin aja, dulu Andi gitu juga. Malah dia nantangin gue kelahi. Parah tu kan?" Kevin tertawa dibalik telepon.


"Gue enggak mau Andi kelahi. Dan selain itu, lo kan sebagai senior bisa bantu."


Kevin diam sejenak. Terdengar sebuah percakapan singkat antara Kevin dengan orang lain.


"Gini Sar, gue enggak bisa ikut campur masalah internal kalian. Kecuali, sekolah kita ada masalah sama sekolah lain. Kami udah komitmen seperti itu. Senior enggak boleh ikut campur kalau urusan kelahi kaya gitu."


"Idih!!! Ga guna lo."


"Nyolot anjir─"


Belum sempat Sarah kembali masuk ke dalam kelas, bel pulang sudah lebih dahulu berbunyi. Terdengar gemuruh hentakan kaki para murid yang bergegas ingin keluar. Tampak olehnya Andi yang tengah menyandang tas sebelah bahu menuju ke ujung pintu.

__ADS_1


"Andi, jangan gue bilang." Sarah memanggilnya.


Andi tetap berjalan tanpa menoleh. Melihat tingkahnya itu, Sarah dengan cepat menarik tangannya ke UKS yang berada tidak jauh dari kelas. Ia menutup pintu dan mendorong Andi ke tepi dinding.


"Andi, pliss ...." Suara Sarah memelas.


Sebenarnya, Andi tidak tega untuk mengabaikan perkataan Sarah. Namun, ini merupakan harga diri yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Apa pun resikonya, Andi tetap akan bertanggung jawab. Toh, ini bukan pertama kalinya ia berkelahi dan mendapatkan masalah di sekolah.


"Gue enggak bisa, maaf." Tangan Andi menggapai gagang pintu. Namun, ia terhenti oleh Sarah yang kembali menahannya.


"Gue begini karena gue sayang sama lo," jawab Sarah dengan sedikit emosi.


"Gue begini karena gue sayang sama temen-temen gue. Si *** itu udah ngerendahin gue dan teman gue."


"Gue kenal dia, dia Dandi temen gue waktu SD. Gue bisa ngebujuk dia buat ngehentiin semuanya," balas Sarah.


"Selama ini gue kenal sama banyak keparat. Enggak akan ada satu orang pun yang mau dibujuk seperti itu, termasuk gue." Andi melepaskan tangan Sarah perlahan.


Hatinya terenyuh menatap mata Sarah nan berkaca-kaca. Ia meneguhkan hati untuk tetap tega melihat situasi ini. Tangan Andi mengepal kuat untuk menahannya, lalu akan ia lampiaskan ke wajah pria itu.


Ketiga temannya sudah menunggu di parkiran. Wajah yang terpasang begitu serius untuk menghadapi masalah ini, seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Belum terlihat teman-teman berandalan yang lain, mungkin saja mereka belum tahu kejadian nanti. Andi sengaja merahasiakannya agar tidak membuat riuh suasana. Mungkin saja ada beberapa orang yang tahu dan akan datang ke sana.


Benar saja, tidak ada satu orang pun teman Antophosfer yang datang. Sementara itu, anggota Dandi sudah berkumpul di sana. Terdapat belasan orang anak kelas 10 yang datang untuk melihat. Hal tersebut tidak membuat Andi gentar, ia turun dari motor Agus dengan gagah berani.


"Jadi, lo yang mau ngehancurin Antophosfer?" tanya Andi dengan menunjuk.


"Benar, itu gue."


"Sebelum kita mulai, gue mau tahu alasan lo," balas Andi.


Dandi terlihat maju dua langkah. Sebatang rokok ia hidupkan menggunakan mancis yang dihidupkan oleh temannya. Kepulan asap mengawang ketika ia maju.


"Bukan kenapa-napa ... cuma dendam masa lalu sama orang-orang kaya kalian. Sebelum gue megang sekolah ini, gue bakalan ngabisin pentolan Antophosfer satu per satu. Setelah lo, gue bakalan datang ke Dugong."


Sudah Andi tebak, pasti ia akan sangat mengincar Dugong. Menurut cerita dari Arman, Dandi begitu dendam kepada Dugong yang sudah memperlakukan Dandi dengan buruk sewaktu SD. Ditambah lagi, ia bertemu dengan Dugong dan anggotanya di SMA ini. Hal tersebut semakin membuat Dandi begitu semangat.


"Lo enggak bakalan bisa nyentuh Dugong," balas Andi.


"Bacot lo ... ga usah banyak ngomong." Ia menghembuskan asap tembakaunya perlahan. "Sementang ototnya gede, trus anggotanya banyak, gue takut? Hey, gue kenal mereka semua. Mereka itu bukan apa-apa."


"Pede sekali Anda. Ayo selesaikan ini."

__ADS_1


Dani mengangguk sembari menghempaskan rokoknya ke rumput. Sementara itu, Andi melepaskan seragamnya agar tidak kotor. Agus menyentuh pundak Andi untuk memberikan semangat. Ia begitu yakin Andi bisa menang karena selama ini Andi selalu menang di setiap perkelahian jika dalam kondisi tubuh yang normal.


"HAAAAA," teriak mereka berdua.


Dandi mengincar perut Andi seperti yang ia lakukan kepada Arman. Benar saja, Andi langsung tersungkur sembari memegangi perutnya yang begitu sakit. Andi tidak bisa bergerak, bahkan bernapas pun sangat susah. Serangan pertama tadi begitu telak mengenainya.


Anak ini bukan petarung biasa, ucap Andi dalam hati.


"Cuma satu serangan? Jadi lo yang megang angkatan kelas 12??" tanya Dandi. "Lemah sekali."


Agus, Felix, dan Nanang hanya diam dan tidak bisa membantu. Ia tahu peraturannya seperti itu. Jika dalam sebuah pertarungan satu lawan satu, masing-masing kubu tidak boleh membantu, kecuali salah satu kubu mulai menyerang dengan bersama-sama.


Ayo Andi, bangun!!!!!!! ucap Agus dalam hati.


Come on Andi!!!! Mata Nanang berkaca-kaca melihat Andi yang tersudutkan.


Andai saja gue bisa bantu, Ndi!!! Felix mengepal tangan dengan kuat.


Dengan sekuat tenaga Andi berusaha bangun di tengah celaan kasar dari Dandi. Sebuah pukulan keras bersarang ke mata Dandi ketika ia tengah membacot tanpa henti. Ia mundur beberapa langkah dengan mata yang terasa membengkak. Selanjutnya, Andi menendang dada Dandi hingga terjerembab ke rumput.


Tidak terima dengan serangan tersebut, Dandi mulai membalas dengan serangan yang berkali-kali. Ada yang kena, namun lebih banyak ditangkis oleh Andi. Dandi menyadari bahwa lawannya kali ini tidak semudah Arman yang sudah ia ketahui gaya bertarungnya. Andi merupakan pentolan berandal terkuat di SMA.


Jual beli serangan terjadi beberapa menit. Masing-masing dari mereka telah merasakan betapa sakitnya serangan di pelipis mata dan di hidung. Terdapat darah yang mengalir, baik dari lubang hidung maupun di ujung bibir. Napas yang terengah tidak menjadi masalah, mereka tetap maju untuk bertaruh harga diri.


"***!!!!" Sebuah serangan mengarah ke perut Dandi.


Dandi tetap menahan sakitnya hingga membayar serangan tersebut dengan tendangan keras ke pinggang lawan. "RASAIN!!!!"


Mata Andi mulai berkunang-kunang karena darah yang banyak keluar dari hidung. Ia tetap menggerakkan tangannya untuk memukul anak itu. Ia masih belum bisa menyatakan kemenangan, mereka masih imbang. Lawannya begitu kuat dan tangguh.


"Siapa yang nyuruh kalian kelahi?!!!"


Suara itu terdengar ketika Andi dan Dandi bergelut di atas rumput. Tarikan yang begitu kuat begitu mudah untuk memisahkan mereka berdua. Seluruh Anak kelas 10 bergegas pergi dengan motornya karena melihat sosok yang datang.


"WOI POLISI WOI!!!!" ucap mereka sembari menghidupkan motor.


Ketika Andi ditarik, ditatapnya dengan jelas wajah seseorang yang pernah ia kenal sebelumnya. Ketampanan dan aura pria itu tidak pernah ia lupakan. Satu hal yang membuat Andi sangat cemburu kepada Sarah.


Sebuah hantaman keras ke wajah Andi melekat, begitu pula dengan Dandi yang tertunduk menahan sakit.


"UDAH PUAS KELAHINYA??!!" teriak Pram yang bertegak pinggang menggunakan pakaian dinas pendidikan polisi.

__ADS_1


***


__ADS_2