
Bus
Hari keberangkatan menuju lokasi kemah pun tiba. Andi sudah bersiap dengan segala persiapan yang akan dibawa selama dua hari nanti. Enggak Andi kalau enggak diurusin mama semua perkelengkapan yang bakal dibawa. Yaa namanya kan Andi, pasti semua barang langsung dimasukin gitu aja ke dalam koper tanpa dirapihin dikit pun. Daripada anaknya kaya anak enggak diurus, makanya Mama Andi yang ngurusin baju-bajunya.
Sebelum pergi ke sekolah, Andi terlebih dahulu mampir ke Indoapril tempat Kevin bekerja. Memang sih, Kevin enggak lagi dalam sift kerja, namun untungnya mereka bertemu di sana.
"Sempurna tiga bungkus, Mbak" ucap Andi kepada mbak kasir kasir cantik yang baru aja nikah minggu lalu.
"Mata lo biasa aja," sindir Kevin yang datang pake sweater abu-abu. "Udah nikah loh."
Mbak-mbak kasirnya cuma senyum-senyum. Dari kemarin-kemarin, Andi memang sering ngegoda mbaknya tanpa tahu kalau mbaknya udah mau nikah.
"Ga kuliah lo?" tanya Andi kepada Kevin.
"Ini gue mau pergi kuliah." Kevin menunduk di meja kasir untuk mengambil sesuatu. "Gimana? Lo kemarin gelud, kan?"
"Ah, malah diberhentiin sama Pram. Jijik banget gue. Dia kira sementang dia udah mau jadi polisi, trus gue takut?"
Kevin tertawa lepas sembari menyandang tas kuliah. "Dek ... dek ... Lo itu belum pernah gelud sama Pram dan lo enggak tahu gimana dia kalau gelud."
"Memang, sih ... tapi kan gue tetep aja enggak takut."
Andi menggapai tiga bungkus rokok sempurna yang udah di bayar.
"Ga sekalian kondomnya, mas?" tanya Kevin bercanda.
"Gue mau kemah, bukan *****."
"Ya kan mana tahu lo ada kesempatan."
Andi bergegas menuju sekolah karena semuanya sudah menunggu di sana. Dengan seorang ojek driver handal, mereka meliak-liuk menembus kemacetan jalanan pagi. Kalau bisa, mereka terbang tuh di atas mobil sambil dikira alien mana yang lagi jalanin aplikasi KO-JEK.
Bus-bus sudah menunggu di depan sekolah. Guru-guru pembimbing juga sudah berangsur masuk ke dalam bus. Terdengar teriakan Sarah yang kaya om-om memanggil adik-adik bimbingannya. Layaknya seorang kenek bus, Andi menyingsingkan lengan baju sambil melambai menuju gerombolan adik kelas.
__ADS_1
"WOI, lo enggak bisa cepat dikit? Budeg banget sih!!!" teriak Sarah.
Ga ada satu orang pun adik bimbingannya yang datang. Melihat Sarah yang kaya orang gila marah-marah, Andi pun datang sambil mencium rambutnya yang sedikit basah.
So sweet banget kan, gue mau juga kaya gini nih. Apalah daya gue jomblo semasa esem'a.
"Ish ... jangan cium gue di depan orang banyak." Tangan Sarah mendorong Andi menjauh.
"Maapin gue kemarin," ucap Andi tanpa menoleh.
"Maap aja terus, berubah enggak."
"Iya, maap."
Andi melihat salah satu bus yang ada kepala adik yang nongol sambil ngelambai-lambai. Arah lambaiannya juga ke arah mereka. Andi perhatikan lagi, ternyata itu salah satu adik bimbingan Sarah. Dia ingat banget wajah itu, soalnya lumayan kawaii.
"Bukannya itu adik bimbingan lo? Kaya nyari emaknya sendiri tuh." Andi menunjuk bus tersebut.
"Lah, kok di situ? Bukannya di bus nomor 6?" Sarah melihat kertas informasi di tangannya. "Iya kan mereka kok di sana sih!!! Alah kok susah diatur ginih!!"
Mata Sarah dengan sigap melihat Andi yang baru aja mengatakan bahwa ia salah bus. Sarah berlari menuju sisi sebalik bus dan menemukan bahwa ia benar-benar salah bus. Bus yang ini ternyata bus nomor 8.
"Iya, gue salah."
"Kan, udah salah ... marah-marah lagi. Udah kaya Mama gue aja lo." Andi melihat Ajis dan adik bimbingannya yang lain sedang melangkah ke arahnya. "Makanya gue heran kok lo nunggu di busnya gue. Gue kan di sini."
"Eh, ingat ya cewek ga pernah salah."
"Lah tadi salah, kan?"
"Pokoknya gue enggak salah. Itu karena lo lambat ngingatin gue."
"Kok gue yang salah sih?"
__ADS_1
"Pokoknya lo yang salah!!!"
Kan mukanya ngambek lagi. Kok sensian banget sih? ucap Andi dalam hati.
Langkah Sarah bergerak setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Jelas terlihat olehnya muka Andi yang kaya orang bengong sehabis ngelihat tingkahnya. Memang sih, Sarah suka banget giniin Andi biar dia kesel. Dan ... muka bengongnya itu loh ... ucul, katanya.
Sarah tersenyum sambil melangkah.
Tidak terlalu sulit untuk menemukan adik bimbingan Andi, soalnya mereka udah mandiri. Andi aja jarang ngurusin mereka, kebanyakan Naila yang ngurusin. Padahal kan Andi udah nunjuk Ajiz buat jadi ketua kelompok, tapi yaa Ajiz anaknya pendiam. Ngerokok di depan Andi aja masih malu-malu.
Andi heran kenapa lama kelamaan langkah Naila tambah kenceng aja, trus jadi kaya lari. Tanpa diduga, Naila menghantam Andi dengan lututnya dengan keras.
"WOI, LO GILA?" protes Andi kepada Naila.
"LO YANG GILA!!! Kami nyariin lo, padahal kita apel pagi dulu tadi. Lo malah keluyuran."
"Ya kan gue banyak yang diurus," balas Andi dengan santai.
Muka Naila tanpa datar. Dia ngeluarin handphone miliknya buat nunjukin insta story yang di post Andi tiga puluh menit yang lalu.
"Eh *** ... lo malah ngopi sambil ngerokok di Indoapril!!!"
Andi senyum dikit setelah sadar kalau dia nge-post waktu lagi ngopi di Indoapril.
"Ya kan itu penting juga, tanpa ngopi, gue ga semangat nanti."
"IHHH, lo ini memang bebal ya? Kok mau Sarah sama lo."
"Yaaa karena cinta lah. Btw ... sejak kapan lo nge-follow IG gue? nge-fans ya lo???" canda Andi sambil nunjukin muka marah Naila.
"Eh, ini lo sendiri yang ngefollow akun lo di handphone gue kemarin. Lo yang ngefans sama gue." Naila mendorong Andi masuk ke dalam bus. "Udah lo masuk aja. Malah adik bimbingannya yang nyuruh senior masuk. *** ga tuh."
"HAHAHA lo lucu kalau lagi marah."
__ADS_1
"DIAM!!!!"
***