
Situasi kelas berlangsung sebagaimana biasanya. Jam siang memanglah waktu-waktu mengantuk sehingga ada sebagian teman-teman cowok yang tidur di atas meja. Cuaca panas tidak menjadi masalah karena kelas dilengkapi oleh pendingin udara sehingga mereka bisa mendinginkan diri. Anak cowok yang tidur tidur sibuk bermain game di belakang kelas, sementara anak cewek merumpi hal yang harus dirumpikan. Bisa jadi mengenai cowok ganteng di kantin tadi atau pun senior tampan yang mengchat tadi malam. Sedangkan Andi duduk termenung di tepi jendela sembari memikirkan apa yang terjadi malam minggu kemarin.
Andi menutup mata ketika mengingat bagaimana Nabe yang berkeringat dan melucuti setiap pakaiannya. Asyik-asyik menyeramkan, begitulah mungkin yang bisa mendefenisikan bagaimana Nabe waktu itu. Ia jadi takut kalau Nabe melakukan hal itu kepada Andi lagi dan membuat mereka terjerat di situasi malam yang panjang. Kejadian itu sudah pasti Andi rahasiakan dan tidak membiarkan siapa pun mengetahui, meskipun itu komplotan Anak Amak maupun Ari Kiting.
Saking takutnya Andi, Andi sampai nge-block media sosial milik Nabe. Soalnya selama ini ia sering bertanya materi perkuliahan kepada Nabe yang relatif lebih cerdas daripada teman sekelas. Andi juga berharap tidak akan sekelompok dengan Nabe apabila dosen meminta mereka membentuk kelompok belajar. Ia benar-benar menghindari kontak komunikasi dengan wanita gila itu. Bahkan, Andi terpaksa mencuci kemejanya sendiri karena wangi parfum milik Nabe masih bertahan sampai esok hari. Mungkin saja parfum Nabe termasuk parfum mahal dan dipake banyak banget sehingga lengketnya lama. Andi cucinya dua kali biar wanginya benar-benar menghilang.
Mata Andi bergeser ke pintu kelas. Nabe baru saja datang dengan penampilan aduhai menggoda. Mode fashion Nabe seperti para senior tingkat atas atau pun para dosen muda. Pantas saja banyak dosen-dosen cowok yang betah bicara sama Nabe. Sekali lagi, Nabe pasti duduknya di depan Andi. Padahal, Andi sudah memilih untuk tidak duduk di tempat biasa. Setelah meletakkan tasnya, Nabe berbalik arah.
“Kenapa lo block media sosial gue?” tanya Nabe.
Andi menelan ludah. Mata sayu Nabe mengingatkan Andi ketika wanita itu mulai bergetar malam itu.
“Eh … ya gue pengen aja nge-block. Emangnya masalah?” tanya Andi balik.
“Masalahlah dong, gue enggak mau di-block sama elo. Balikin lagi …..” Nabe tiba-tiba menggapai hape Andi dan mencoba membalikkan media sosial yang sudah Andi block.
“Lo itu mau apa sih sama gue?” tanya Andi. Nadanya yang sedikit tinggi, mulai ia sembunyikan biar temen-temen yang lain kaga denger.
“Gue suka elo ….”
Sumpah gila nih cewek …. Gilaaaaaaaa ….. Kalau bisa, Andi teriak nih sekarang dengan kalimat yang sama.
“Kenapa elo bisa suka sama gue, maimunaaah?” Andi memelankan suaranya.
“Ya, gue kalau suka ya suka aja. Emangnya enggak boleh?”
Tangan Andi menutup wajahnya. “Pertama gue enggak suka sama elo, kedua gue udah punya cewek. Ketiga, elo udah punya cowok. Nih cowok lo dateng dan namparin gue malam itu. Sepuluh kali cowok lo nelpon dan lo enggak angkat telpon itu.”
__ADS_1
“Dia jahat ya sama elo.” Tiba-tiba aja Nabe menyentuh pipi Andi yang sempat ditamparin sama Rizky. Sontak Andi dengan cepat menghindar. Kemudian, wajah Nabe berubah cemberut. “Enggak apa, gue udah putus malam itu.”
“Gitu aja respon lo? Gitu aja? Nabe … lo masih waras atau enggak sih? Gue udah punya cewek …..”
“Ya gue tahu kalau elo punya cewek, tapi lo punya gue. Momen tadi malam enggak bisa kita lupain. Lo sempet nyentuh gue loh, lo mainin gue, jadi jangan lupa …..”
“Pelan-pelan napa sih goblok!” Andi celingak-celinguk ke yang lain untuk memastikan tidak ada yang mendengar. “Emangnya gue barang yang bisa lo claim hak pribadi. Nabe, gue ini bukan cowok baik-baik. Jadi berhenti suka sama gue. Gue udah punya cewek. Tadi malam itu, aah … goblok anjir. Cowok mana yang enggak kegoda meskipun gue bersikeras buat nolak. Akhirnya gue nolak kan?”
Nabe diam sejenak. Ia melipat tangannya di dada. Lagi-lagi di dada dan bikin Andi menoleh ke arah yang lain. “Lo memang cowok enggak baik-baik yang gue tahu itu, tapi gue pernah sama yang lebih bangsat dari lo. Sebenarnya lo tahu kan? Gue tahu kok lo ngelihat hape gue.”
“Nabe, sebenarnya lo kenapa sih? Lo kurang duit?” tanya Andi baik-baik.
“Hmm … enggak sih, tapi lebih ke gaya hidup.” Ia menatap Andi. “Tapi kalau lo mau sama gue, gue janji kok berhenti. Gue janji setia sama lo.”
Jikalau ada nih tang bengkel Memet di sekitarnya, Andi pasti menggunakannya untuk menyetel mur-mur yang mungkin udah longgar di otaknya Nabe. Ia semudah itu bilang berubah kalau Andi ingin menjadi pacarnya Nabe, atau lebih tepatnya selingkuhan.
“Gue kaga mau woi Behel. Gue udah punya cewek,” balas Andi menjelaskan hal yang sama berkali-kali.
“Bujubuset, gue kenal ustadz terkenal yang bisa ngerukyah lo sekarang. Nanti gue kasih kontaknya.” Andi mulai kesal.
“Gue serius, gue suka sama lo dari awal masuk tapi lo enggak sadar-sadar. Lo ngechat gue tiap malem buat nanya materi ternyata bikin gue seneng.”
Wajah Nabe berubah kalem. Tampak ekspresi sedih yang ia tampakkah kepada Andi.
“Nabe, gue tanya baik-baik. Lo punya masalah apa sih? Perasaan lo enggak kaya gini deh dulu.”
“Gue diselingkuhin Ndi. Rizky selingkuh dari gue. Di saat gue jatuh, enggak ada tempat gue cerita. Temen-temen cewek di sini enggak mau gaul sama gue, mungkin karena gue cantik kali ya. Terus, di saat gue merasa sepi gue berharap elo ada di sisi gue. Tapi elo udah punya yang lain.”
__ADS_1
Andi bingung harus menjawab apa. Di balik dirinya yang terlihat cuek kepada Andi sebelumnya, ternyata menyimpan perasaan yang selama ini terpendam. Tapi sekali lagi maaf ia sampaikan kepada Nabe bahwasanya ia sudah mempunyai kekasih. Lagi pula ia tidak punya perasaan kepada Nabe.
“Begini Nabe, gue paham lo punya masalah privasi yang mungkin aja bikin elo down. Tapi sekali lagi, gue udah punya cewek. Gue sayang sama dia, dia baik sama gue, enggak mungkin gue khianatin dia. Gue itu udah pacaran sama dia semenjak SMA. Lebih baik lo ngelupain gue deh.”
“Tapi kan gue suka sama lo ….”
“Nabe, aduh … gimana ngejelasinnya ya ….” Andi menutup wajahnya kembali. Ternyata Nabe itu keras kepala dan tidak mau dibilangin. “Gue kaga tahu lagi mau jelasinnya bagaimana. Yang pasti gue kaga bisa pacaran sama lo, titik, itu udah final. Satu hal lagi yang gue tanyain, lo sejak kapan sih open bo?”
Frontal sekali memang pertanyaan itu. Tapi mau bagaiman lagi, Andi sudah penasaran dengan hal tersebut.
“Semenjak setahun terakhir.”
“Awalnya kenapa? Gue lihat lo enggak susah-susah amat. Orangtua lo masih kategori mampu, buktinya uang kuliah lo setara sama gue,” balas Andi.
“Ya gue pengen kehidupan yang lebih aja. Jadi gue nge-bo.” Ia menatap Andi. “Sejak malam itu, gue putusin gue berhenti. Gue enggak mau lagi begituan. Gue berubah karena elo.”
“Kenapa sih harus berubah karena gue? Harusnya lo berubah karena perbuatan itu enggak baik,” saran Andi.
“Kadang lo ada di suatu titik berubah karena orang lain. Mungkin lo juga pernah merasakannya juga.”
Penjelasan itu membuat Andi tertegun. Benar adanya jika seseorang bisa saja berubah karena orang lain. Sebagaimana kisah Andi yang terjalin bersama Sarah, betapa banyak hal yang ia rubah semata-mata demi Sarah. Andi pun merelakan jika Nabe berubah karena dirinya.
“Oke deh, lo harus janji berubah. Tapi sekali lagi, gue enggak bisa sama lo.”
“Oke, gue pastikann kalau lo punya masalah dengan Sarah, lo bakal lari ke gue.” Wajah Nabe berubah seperti orang menggoda. “Gue enggak akan membiarkan orang lain ngedekatin lo karena itu saingan gue. Bahkan jika orang itu Tasya sekali pun. Gue lebih cantik dan lebih menggoda daripada dirinya.”
Andi menjentik telinga Nabe dengan keras. “Berhentilah membuat orang lain seperti barang. Jangan lo sampai ngerusak hubungan gue sama Sarah.”
__ADS_1
Kalimat itu merupakan sindirian, ia berharap jika Nabe mengerti dengan hal itu.
***