
Damai
Kejadian membuat membuat satu sekolah terdiam, terutama yang ngaku sebagai berandalan-berandalan sekolah. Anak Amak ga berani macam-macam sama-sama Sarah buat sementara, begitu pula anak KODOMO dan adik kelas 10 yang laki-lakinya. Forum Antophosfer dibubarkan karena masalah udah dikelarin sama Sarah sendiri dalam satu tendangan tepat ke kepala Memet. Anak SMK sebelah juga ga ada yang berani ngedatangin anak SMA mereka. Semuanya segan dengan satu orang, yaitu Sarah si wanita huluk.
WC cowok udah kembali fungsinya jadi tempat pipis maupun e'ek, ga jadi tempat ngerokok lagi. Anak cabut udah ga ada lagi, mendadak rajin semua. Motor yang knalpotnya naujubillah mendadak jadi knalpot pabrikan. Sarah mendadak jadi orang yang disegani sama anak cowok.
"Coeg, mulut gua asem, nih." Agus memegangi bibinya. "Si Dugong jual rokok lagi ga kira-kira?"
Dugong atau nama aslinya Gerry, yang jadi ketua Antophosfer.
"Walaupun dia kakak kelas, tetep aja dia takut juga sama Sarah," jawab Nanang sambil ngelihatin game Mobail Lejen-nya.
Agus mengangguk. Ia merasa ngeri karena udah ngelihat aksi Sarah waktu itu. "Bener, juga, ya ...."
"Ndi, lo ga takut sama Sarah?" tanya Felix.
Telunjuknya menunjuk dirinya sendiri. "Gua? Yaa enggak lah. Kode Etik Keberandalan khusus pasal 1 tahun 2017 menyatakan, sebagai berandal kita cuma takut Allah SWT."
Semua mengarah kepada Andi. Tumben-tumbenan anak yang satu ini berkata seperti itu. "Subhanallahh ... ternyata Allah telah memberikan hidayahnya pada lo, Ndi."
"Hahahaha ... ini berkat ruqiyah dari bapak lo, Nang," jawab Andi. Dulu mereka memang pernah diceramahi bapaknya Nanang di rumahnya. Bapaknya Nanang kan ustadz kondang banget.
"Semoga lo tetap istiqomah ya. Tapi, udah sholat shubuh belum?" tanya Nanang balik.
"Belum, gua ketiduran ...."
Semuanya pingin mukulin Andi seketika. "Golok mana golok?"
"Nih, golok." Agus menyerahkan bukunya sama Nanang.
"Yaudah ... mulut gua asem juga nih. Di tas gua masih ada sebungkus," kata Andi sambil merogoh kantong tasnya. Semuanya berbinar tatkala melihat rokok sempurna keluar dari kontong tas milik Andi. "Tapi, gua ga ada mancis. Yuk, kita cari mancis."
Mereka berempat berjalan menyelusuri setiap kelas untuk mencari mancis, namun tidak ditemukan satu pun orang yang punya mancis. Semuanya memang udah ga niat untuk ngerokok lagi di sekolah, takut kalau Sarah bakal memergoki.
"Nyari mancis?" tanya seseorang dari belakang Anak Amak. Mereka pun menoleh. Tampak Kevin sedang mengulurkan tangannya untuk memberikan mancis. Sontak semuanya terkejut. Orang yang dari dulu selalu benci sama mereka tiba-tiba ngasih mancis.
"Beneran?" tanya Andi.
Ia menarik tangannya kembali. "Tapi, ini tidak gratis, gua juga mau rokok."
"Oke, ayo kita ke atas."
Anak Amak dan Kevin melangkah ke rooftop sekolah. Cuma itu satu-satunya tempat yang paling aman buat ngerokok bersama. Tapi masalahnya satu, ke sana harus ada kunci pintunya dulu. Dan itu adanya kalau enggak sama penjaga sekolah, paling sama Pak Satpam. Mereka terhenti di depan pintu menuju ke atas.
__ADS_1
"Njir, gua lupa kalau kita butuh kunci dulu," kata Andi sambil panik.
"Tenang coy, gua punya ini." Tiba-tiba aja Kevin megang linggis dari tadi. Dia menyelipkan ujung linggis ke sela-sela pintu dan menekannya kuat-kuat. "Woi, njing, bantuin napa?"
"Oh iya," balas Andi sambil membantu menekan linggis. Ia melihat ke Anak Amak yang lainnya. "Woi, njing, malah diam. Bantuin dong!"
Semua menekan linggis sama-sama hingga terdengar bunyi yang khas. Pintu dari kayu pun bergemeretak dan terbuka. Semua berdecak kagum dengan Kevin. Tidak ada yang menyangka ada yang punya skill maling di sekolah. Andi teringat akan sesuatu.
"Jadi, kasus-kasus selama ini─"
"Shhtttttttt." Kevin meletakkan jarinya di bibir. "Jangan bilang-bilang."
"Jadi lo?" tanya Andi dengan penasaran.
"Ya, enggak lah." Ia tertawa sejanak. " Gua ga tega malingin motor anak satu sekolahan. Gua bukan anak yang begituan."
Jemari Andi menyeliptkan sebatang rokok dibibirnya. Tanpa diminta, Kevin menyulutkan api untuk Andi. Begitu pula sebaliknya, di saat Kevin meletakkan rokok dibibirnya, Andi juga menyulutkan api untuknya.
"Gua minta maaf." Kevin menghembuskan asap ke udara. Beberapa bulatan tercipta dari asap rokok yang keluar.
"Buat apa?" tanya Andi.
"Buat waktu itu. Sesama Antophosfer harusnya saling ngedukung. Gua atas nama Anak KODOMO minta maaf."
Tangan Andi menepuk pundak Kevin. Suasana seketika cair dan melupakan semua hal yang pernah terjadi antara mereka.
Kevin menangguk. "Hahahah, One Kick Women ...."
"Siapa, tuh?" tanya Andi.
Kevin mengisap dalam-dalam rokoknya yang tinggal setengah, lalu membiarkannya mengawang ke udara senja. "Kalau Anak Amak nyebutin Sarah dengan sebutan cewek huluk. Kami juga punya, One Kick Women. Kami udah ga heran waktu Sarah nendang Memet kaya kemaren. Kami udah pernah liat itu sebelumnya."
"Di mana?"
"Waktu ospek sekolah. Gua kan anak OSIS. Jadi gua ngeospek kalian waktu itu. Gua ga sengaja megangin pantat dia waktu lagi desak-desakan. Eh, gua kena tending," jawab Kevin. Ia mengisap isapan terakhirnya.
Di bawah sana berdiri seorang pria. Tatapannya jatuh jauh ke tempat Nathan dan lain berada. Ia lipat tanganny di dada sambil mencerna apa yang telah ia lihat. Perubahan yang melekat dalam sebuah pertemanan membelai manis di antara mereka.
"Akhirnya kalian berdamai," ucap Pram.
Senja semakin pekat dengan rona kuning di ufuk barat. Matahari semakin condong saja untuk menyembunyikan dirinya. Burung-burung mulai mencari sarang untuk menemui keluarga yang ditinggal. Wangi senja yang khas bercampur dengan nuansanya yang unik. Andi membuk pintu mobil untuk bergegas pulang.
Perjalanan baru saja dimulai semenit yang lalu, ia mendapati segerombol anak SMA di tepi jalan. Dilihat dari seragamnya, pasti bukan dari SMA-nya Andi.
"Anjing, berani bener main di daerah kekuasaan gua!"
Ia lihat dengan teliti dengan matanya sendiri. Di tengah kerumunan itu ada seorang wanita yang berteriak-teriak. Andi seperti mengenal suara itu. Ia lihat dengan seksama lagi sambil memperlambat laju mobilnya.
__ADS_1
"SARAH!!!!" ucapnya sambil menepi.
Terdengar bunyi pintu mobil tertutup keras. Ia berlari ke arah kerumunan itu. "Woi, njir, lo apain Sarah?" tangannya menarik tangan Sarah dan menyembunyikannya di belakang.
"Oh, jadi elo yang namanya Andi?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya, emang napa?"
Cowok itu langsung menoleh ke temannya. Ia terlihat berbisik. "Woi, itu kan Andi yang diceritain sama si Memet. Tapi menurut gua, gantengan dia daripada Memet," bisiknya.
Temannya mengangguk setuju. "Iya juga ya. Memet kepedean banget julukin dirinya cowok tampan tingkat kota."
Sarah menarik tangan Andi. "Udah, Ndi. Jangan pake kekerasan napa."
Andi tidak menjawab perkataan Sarah. Ia masih saja nunjukin gerombolan itu satu satu sambil ngeliatin muke sangarnya.
"Woi, lo denger ga apa kata gue?" tanya Sarah sambil mencubit perut Andi. Sontak Andi terkejut.
"Anjing, lo. Jangan cubit-cubit juga ..."
Mata Sarah langsung menatap tajam kepada Andi. "Eh, santai lo. Jangan pakai anjing juga kali. Gua gorok juga pala lo, ntar"
Andi mati kutu.
Njir, galak amat ....
Gerombolan anak SMA tersebut keheranan melihat tingah cowok dan cewek di hadapannya. Ga ada angin ga ada hujan, malah berantem. Padahal yang seharusnya berantem kan mereka dan Andi.
"Udah, ayo kita pulag." Andi menarik tanga Sarah dan memasukkannya ke mobil.
"Gua mau di bawa ke mana?" tanya Sarah.
"Hotel, puas lo? Perut gua panas nih gara cubitan lo," balas Andi sambil menghidupkan mobil. "Yaa, enggak lah. Kita mau ngambil handphone lo yang diservis."
Sementara itu geromobolan anak SMA tadi pulang dengan tangan kosong. Ada sesuatu yang ia dapatkan dari Sarah. Namun, kehadiran Andi menggagalkan rencananya.
"Njir, permintaan Memet ada-ada aja. Kaya ga ada cewek lain di SMK kita," ucap cowok tadi.
"Emang di SMK kita ada cewek?"
"Ga, ada sih. Kesel gua, kenapa di sekolah kita ga ada cewek yang mau masuk."
Satu yang mereka incar. Memet yang meminta sendiri.
Apa itu?
ID LINE Sarah ....
__ADS_1
***