Andi X Sarah

Andi X Sarah
46. Senam Pagi (SEASON 3)


__ADS_3

46. Senam Pagi


“Andi … Andi ….”


“Apaan? Andi udah solat subuh Ma.”


“Solat subuh dari mane jam dua begini?” tanya Pram keheranan tatkala membangunkan


Andi. “Tolongin angkat Tami dari mobil.”


“Udah, tidur aja sama dia di sana, gue sering kok.” jawab Andi tanpa sadar. Tidak lama kemudian, matanya terbuka lebar seakan sedang mendengarkan suara kaca pecah. Ia langsung menatap Pram, lalu duduk dengan menarik kerah pria itu. “Lo ngapain sama Tami?”


“Tunggu dulu hei ….” Pram melepaskan tangan Andi dari kerahnya. “Lo sering tidur sama Tami?”


“Ya kaga lah!” jawab Andi, “Jadi, Tami kok bisa di mobil tidurnya?”


“Tadi gue ngawanin dia ke swalayan. Waktu perjalan pulang dia malah tidur.”


Andi kemudian mengangkat Tami menuju kamarnya. Ni anak tidurnya pules banget sampe kaga sadar waku diangkatin Andi. Ditambah lagi Andi dibikin ngakak sama posisi tidur Sarah yang aneh.  Sementara itu Pram berterima kasih kepada Andi yang telah menolongnya. Andi pun melanjutkan tidur yang udah diganggui sebelumnya.


“Andi … Andi ….”


“Apaan lagi sih?!” Andi menjauhkan tangan yang sudah menggerak-gerakkan tubuhnya agar terbangun. Matanya pun masih dalam keadaan tertutup.


“Solat subuh. Bangun sekarang.”


“Motornya udah dicuci.”


“Kenapa bisa ngambungnya ke ?!” Sarah menghantamkan bantal guling Andi hingga Andi terbangun dengan paksa. “Solat yang gue suruh, bukan nyuci motor. Lagian siapa yang nyuci motor di subuh hari?”


Ia melihat Sarah yang sudah memakai telekung. Di tangannya terpegang peci, sarung, dan sajadah. Jelas sekali Sarah baru saja melaksanakan ibadah karena masih basah dari air bersuci.


“Ada gue waktu mau touring dulu.”

__ADS_1


“Kaga peduli gue lo pernah nyuci motor di subuh hari. Yang penting sekarang solat.” Tangan Sarah memberikan seperangkat alat solat itu kepada Andi. “Lo masih pande solat subuh kan?”


“Tiap subuh gue kelahi sama Aisyah karena bangunin gue terlalu cepet buat nyuruh gue ke masjid.”


Dengan setengah khusyuk Andi solat karena masih kepikiran tentang rumor cerita hantu di villa ini. Terlebih lagi Andi sekarang beribadah dengan menghadap jendela. Padahal kan hantu-hantu itu selalu nampak berbayang di jendela. Andi pun hanya membaca surat-surat pendek biar cepet ibadahanya, ditambah lagi tidak dengan qunut karena Andi solat subuhnya memang tidak pakai doa qunut. Mereka sering debat tuh sama Sarah yang pakai qunut. Padahal kan sama aja, qunut dan ga qunut, yang penting tidak tinggal ibadahnya.


Andi tahu hari ini pasti akan bangun cepat. Tidak mungkin ia kembali tidur berlama-lama di pagi hari, padahal maksud mereka ke sini merupakan untuk berlibur santai di villa. Sudah diberitahu sejak awal bahwasanya memang mencari ketenangan di atas bukit, jadi tidak memiliki tujuan khusus ingin pergi ke suatu tempat objek wisata. Walaupun ingin, itu hanya opsional masing-masing. Andi juga males untuk berkunjung ke tempat yang banyak orangnya. Ia lebih memilih tempat-tempat yang memiliki kesunyian untuk menangkan diri dari tensi kehidupan kota.


Alarm berbunyi di pukul setengah delapan pagi, cukup lambat daripada temen-temen lain yang sudah bangun sejak pukul setengah tujuh. Seperti di rumah sendiri Andi bergerak ke dapur buat nyari makanan. Andi sudah terbiasa dari kecil untuk sarapan dan sakit perut nantinya kalau enggak sarapan. Maka di dapur sudah ada dua orang yang menyiapkan sarapan, yaitu Tami dan Sarah.


“Wah enak nih ada pisang goreng,” ucap Andi. Tangannya tanpa ragu untuk mengambil  pisang goreng di atas tirisan minyak. “Mana yang lain.”


Sarah malah menepuk tangan Andi sehingga ia melepaskan pisang goreng yang diambil.


“Lo ini enggak sopan banget. Baru aja ini digoreng, malah kamu ambil.”


“Ya maap. Ini gue letakin lagi.” Andi melihat ke sekitar, tidak ada anak laki-laki yang nongkrong. Halaman belakang pun kosong. “Kosong melompong kek kuburan. Mana yang lain?”


Jedag-jedug-jedag-jedug, setidaknya seperti itu deh musik yang sedang dimainkan dari kawasan belakang villa.


“Ngapain sih mereka?”


Mulut Andi melongo melihat ada sekelompok orang yang sedang senam aerobik di sana. Speaker mengeluarkan musik untuk mengiringi gerakan.  Semangat sekali gerakan mereka yang sedang mengikuti instruktur di depan. Tatkala diperhatikan lagi, ternyata instruktur senam tersebut merupakan Kevin sendiri. Dengan pakaian senam ketat, ia begitu lihai menggerakkan setiap anggota tubuh. Kelihatan otot-otot menonjol Kevin serta suaranya yang membakar semangat para anggota.


Sarah meminta Andi untuk bergabung dengan mereka. Ia pun menaati permintaan tersebut karena tidak ada yang bisa dilakukan sekarang, gabut banget. Baru saja ia keluar dari dapur, terlihatlah pria sarungan⸺tetapi tetap kelihatan keren dengan rambut klimis dan senyum kharismatiknya⸺sedang duduk minum teh dan makan pisang goreng. Pram memberikan selamat pagi, terdengar sedikit kaku di telinga Andi.


Giliran Pram, malah dibolehin makan pisang gorengnya. Lah gue ….


“Lihat mereka, semangat banget.” Pram mengangkat cangkir tehnya.


“Lo kok enggak ikutan?”


“Gue enggak suka gerak banyak kalau lagi liburan. Mending di sini ngelihatin bukit di sana. Lo ikut aja sama mereka.”

__ADS_1


“Itu kok ada ibuk-ibuk?” tanya Andi.


Terdapat beberapa ibuk-ibuk yang berada di barisan paling belakang. Di sana ada juga Bapak Santoso yang celingak-celinguk karena ketinggalan gerakan.


“Itu petugas kebunnya villa. Ibu-ibu dari desa sekitar.”


“Ya udah deh, gue mau coba senam aerobic dulu.”


Musik bertempo cepat bergema di telinga Andi. Saking keras dan semangatnya nih, jantung Andi jadi kutan senam aerobik. Mereka bener-bener kaya ibu-ibu komplek yang rutin senam ketika sore hari. Andi sering ngantarin mamanya ke belakang komplek sekalian ngellohat anak-anak gadis yang sering juga ikutan di sana.


Setelah pemanasan sedikit, Andi mengikuti tempo gerakan Kevin yang semangat. Kepinginnya sih Tami juga ikutan, tapi dia malah masak-masak sama Sarah. Jadi, Andi cuma ngelihatin Kevin yang teriak-teriak.


“Ayo dikit lagi … satu dua … tiga empat … diturunin kepalanya … tangannya seperti angsa … naikin kakinya begini kaya orang kungfu … ayo!”


Semangat banget nih anak …, ucap Andi di dalam hati.


Tidak sampai dua puluh menit kemudian. Kevin berjalan ke speaker, lalu mematikan musik pengiring senam. Ia menunduk sembari membentuk tangan salam kepada anggota senam.


“Terima kasih temen-temen yang udah senam. Senam pagi sangatlah cocok untuk kesehatan jantung dan mengurangi kadar lemak di dalam tubuh. Bagi ibu-ibu nih yang lagi pengen diet, saya saranin buat senam aerobik. Biak bapak di rumah pada senang karena punya tubuh yang bagus. Sekali lagi terima kasih.” Kevin menunjuk teras


belakang villa. “Di sana udah ada Tuan Kevin. Di sana ada disediakan minuman isotonik sekaligus sarapan. Sehat selalu semuanya!!!”


Seluruh anggota membubarkan diri dan pergi menuju teras belakang.


“Woi gue baru dateng nih!”


Kevin lagi push up di tempat tatkala Andi datang ke hadapannya.


“Satu dua …tiga empat …. Huh!” Kevin kembali berdiri. “Ayo push up biar otot lo kaya gini.”


Otot dada Kevin naik turun yang bikin Andi geli. Kevin malah nyuruh Andi buat megangin otot empuknya tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2