Andi X Sarah

Andi X Sarah
50. Kompetisi (SEASON 3)


__ADS_3

Dikirain bini kita, ternyata bini orang …


Setidaknya kalimat itu bisa menggambarkan apa yang sedang dilakukan oleh Andi saat ini. Tangannya erat banget meluk Tami, sampe dunia pergondal-gandulan tidak sengaja kesentuh. Andi sempat heran kenapa rasanya empuk, padahal kan kalau punya Sarah tidak semontok si Tami. Waktu dia muncul ke permukaan dan bisa melihat ke sekitar, ternyata yang dipegang Andi ialah bini orang lain, bukannya Sarah. Habislah Sarah menabok-nabokin kepala Andi sampe dia minta ampun.


Aktifitas renang pun berlanjut dengan semangat dari Sarah yang membara-bara. Semangat sih semangat, tapi dia maunya naik pelampung dan harus didorong sama Andi. Andi jadi ngos-ngosan karena harus menuruti permintaan ratunya tersebut. Sementara Sarah lagi asyik-asyikan, Tami duduk di tepian sembari main-mainin kaki. Kelihatan dua kancing atasnya terbuka dan mempertampakkan belahan tipis yang dicari-cari sama anak laki-laki. Setiap mata yang ngelihat ke sana, langsung Andi tabok. Tapi parahnya, Andi malah ngelihatin juga.


“Waduh seger banget nih dari atas sini.” Kevin bergerak ala-ala pemanasan di atas pintu air.


“Eh monster protein, lo jangan ngelihatin gue mulu!” teriak Sarah yang kepedean. Padahal kan Kevin lagi ngelihatin Tami di tepian.


“Pede amat lu ketoprak basi!”


Lagi-lagi Pram terlihat mendekati Tami. Aksi tersebut terekam oleh mata Memet yang sedang ngerokok di atas pintu air. Tangan Tami dengan lembutnya mencipratkan air kepada Pram agar ia tidak mendekat, meskipun dengan ekspresi bercanda. Lalu, tawa mereka bergema kecil hingga terdengar di telinga Memet. Di saat ia murung melihat ke satu titik, seluruh orang tanpa sadar tetap berbahagia sebagaimana mestinya. Ia hanyalah variabel yang tidak seharusnya berada di sini terkikis oleh situasi.


“Lo pasti bisa kok. Jangan putus asa.”


Seketika Memet menoleh tatkala Kevin menepuk pundaknya.


“Ha? Apa maskud lo?”


“Eh … lo mau loncat kan? Loncat aja.”


Hembusan asap rokok dari mulut Kevin menghentikan percakapan dari mereka yang mencuatkan tanda tanya di kepala Memet. Ia terus mempertanyakan hal itu di dalam kepalanya, apakah Kevin tahu menahu tentang perasaaan ini.


Setelah selesai makan, mereka makan bersama di pondok belakang rumah Mbah Putri. Makanan desa sederhana mengisi perut mereka di siang hari. Seluruh makanan murni dari hasil olahan bumi sekitar, tanpa bahan pengawet, pokoknya sehat banget daripad yang biasa dimakan sama Andi tiap hari. Terima kasih pun bersemat kepada Mbah Putri yang telah berbaik hati untuk menyediakan mereka jamuan. Makan yang selesai, bersambutlah kopi dan teh sebagai penutup. Hingga satu jam kemudian, Pram memutuskan untuk kembali lagi ke villa.


“Terima kasih banyak ya Mbah udah baik banget. Pram balik dulu.” Pram memeluk Mbah Putri. Setelah itu, ia mengeluarkan sebuah amplop putih kepada Mbah. “Mbah, ini ada titipan.”


“Wah apaan ini loh? Mbah kan ikhlas menyambut kalian di sini.”


“Ini titipan dari Mama Papa di rumah, Mbah. Ini amanah mereka. Mama Papa doain kalau Mbah sehat selalu. Mereka dalam waktu dekat akan ke sini, kok.”

__ADS_1


“Dari mama papa koe?” Seketika Mbah Putri tersenyum. Papa dan Mama Pram sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya. Sejak kecil, Papa dari Pram juga pernah diasuh oleh Mbah Putri. “Terima kasih. Titip salam sama papa dan mama koe.”


“Iya, Mbah … kami pergi dulu. Assaalamualaikum.”


“Walaikumsalam.”


Senyum Mbah Putri yang sederhana itu masih bertahan dari kejauhan tatkala mereka memasuki mobil. Ia tidak mengantarkan ke mobil karena Mbah Putri sudah sulit untuk bergerak banyak. Kegiatan memasak tadi juga banyak dibantu oleh menantu perempuannya.


Sesampainya di villa, mereka segera beristirahat karena masih ada beberapa jam lagi menjelang malam. Kamar masing-masing tidak berbunyi karena kecapekan dan tidur. Hanya Pram dan kawan-kawan yang masih bertahan matanya tanpa mengantuk. Mereka memilih untuk bersantuy sambil main game di bangunan kayu mereka.


Sekitar jam lima sore, terdengarlah keributan di dalam villa. Terdapat bunyi pluit wasit berkali-kali yang memekakkan telinga. Andi dan yang lain keluar dari kamar. Ternyata Sarah yang dari tadi bunyiin pluit hingga menggaggui tidur mereka. Bunyi tiupan pluit Sarah bahkan terdengar hingga ke bangunan Pram untuk menginap. Mereka bertiga memerhatikan villa dari balkon bangunan. Sudah dari awal dugaan mereka, Sarah pasti membuat ulah.


“Apaan sih Sar?”


Andi memerhatikan Sarah yang sudah berkostum seperti pemain bola. Entah dari mana Sarah bisa memakai sepatu futsal miliknya, lalu baju club Real Madrid dari hadiah ulang tahun. Rambut Sarah terikat ke belakang dan ditahan bagian depannya dengan sebuah bando. Satu tiupan panjang pluit membuat Andi segera menyadarkan Sarah. Dia elus ubun-ubun Sarah sambil baca doa, takutnya Sarah kesambet hantu bendungan tadi.


“Ayo kita bikin kompetisi. Yang pertama ialah main futsal.” Tanpa peduli dengan ekspresi teman-temannya, Sarah pergi menuju belakang villa. “Ikut gue!”


“Masa` di villa ini kita diem-diem aja. Gue pengen bikin kompetisi buat kita semua. Gue akan bagi kita semua jadi dua tim. Yang jadi wasitnya ialah Bapak Santoso sendiri.”


“Mager Sar. Lo ada-ada aja!” Andi protes.


“Tunggu dulu, gue ada hadiah loh. Hadiahnya tunai. Dan yang harus nyumbang ialah Pram, Agus, dan Felix.”


“Lah?” Mereka bertiga terkejut tatkala dipilih secara paksa sebagai donator.


“Ya karena kalian yang punya duit belebih di sini. Gue dan Memet juga kerja, tapi enggak sekaya kalian. Hahahaha!!!!” Sarah ketawa keras.


“Ye ga adil dong,” ucap Felix.


“Ga ada, kalian harus nyumbang biar jadi hadiahnya. Berapaan aja ga apa kok. Rokok pun ga apa.”

__ADS_1


Pram sang sultan pun langsung tersenyum. Kalau soal duit, jangan diremehin.


“Gue nyumbang tiga ratus ribu.”


Bukan jumlah kecil untuk kompetisi abal-abal seperti ini. Sontak Andi langsung maju ke depan buat yang paling siap untu bermain.


“Gue ikut main!” Andi semangat sekali.


“Ya udah deh, gue dua ratus ribu. Itung-itung syukuran warung bakso gue.” Agus langsung ngeluarin duit.


Sarah menunjuk Felix yang diam dan kelihatan enggan ngeluarin duit. Dari SMA, Felix memang terkenal hemat dan tidak ingin membuang uang untuk hal tidak berguna. Beda sama yang lain, hobinya hedon banget.


“Gue tahu duit lo banyak loh Koko Felix!”


“Gue enggak nyumbang duit, tapi voucher paket internet yang harganya seratur ribu buat lima orang. Kita dibagi dua tim kan? Berarti satu tim ada lima orang.”


Punggunng Felix ditepuk-tepuk oleh Sarah dengan memuji kebaikannya kali ini. “Ini nih Koko-koko yang jadi calon nasabah priorias bank CBA, padahal datengnya cuma pake celana pendek sama sendal jepit. Tapi sekali bawa duit, langsung segepok.”


“Yop … kapan kita mainnya?”


“Pram dan Andi jadi kapten dan secara gentian milih anggota. Tapi kalian hompimpa dulu.”


Pandangan Pram dan Andi saling beradu. Kaya ada listrik tegangan tinggi di tengah-tengahnya. Andi boleh sih kalah ganteng dan kaya, tapi untuk yang kali ini, Andi enggak mau kalah.


“Gue pecahin biji lo,” tantang Andi kaya kalimat yang sering diucapin oleh Sarah.


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2