Andi X Sarah

Andi X Sarah
102. Pembicaraan Sarapan Somay (SEASON 3)


__ADS_3

“Wah kebetulan banget nih kita ketemu lagi di sini, makan bareng yuk.”


Dengan ramahnya Tasya menawarkan untuk makan bareng dengan wajah lembut bersenyum manja menawan. Santun yang dibalas oleh tatapan datar dari Sarah tidak kunjung  membuat Tasya mengurungkan niat untuk membersamai sarapan pagi hari ini. Ia masih tetap mempertahankan keinginannya tersebut sembari meletakkan tas satu talinya tersebut ke meja mereka.


“Ayuk boleh kok.”


Andi mau tidak mau mengizinkan Tasya untuk bergabung bersama mereka, meskipun ia tahu Sarah tidak akan suka dengan keputusan itu. Mau bagaimana lagi, tidak mungkin juga Andi menolak. Sangat tidak ramah jika didengar oleh Tasya. Mumpung piring Tasya masih penuh juga sehingga mereka bisa menghabiskan sarapan bersama-sama.


Pelanggan warung mamang somay juga tidak ramai. Sekitar lima menit mereka menunggu, hidangan sarapan tiba di hadapan. Tasya yang sedari menunggu, kini mulai menyuap sarapannya kembali.


“Seru banget ya berdua bisa bareng gini di Car Free Day,” puji Tasya setelah menelan somaynya bulat-bulat, barangkali kaga dikunyah. “Pengeen banget deh gue begitu heheh ….”


“Makanya cari pacar,” balas Sarah dengan cuek.


“Iya sih, doain dong gue bisa cepet dapet pacar.”


“Segitu susahnya lo nyari pacar?” tanya Andi karena tertarik dengan kalimat Tasya yang tadi. Namun, ia merasakan kakinya sedang diinjak Sarah secara diam-diam. Dengan cepat ia menginjak balik biar Sarah tahu rasa.


“Hmm … gimana ya … belum nemu yang cocok aja kali ya, Ndi. Cowok banyak yang inscure kalau deket sama gue. Ga tahu gimana ….”


Gimana kaga insecure tuh cewek kalau Tasya ke kampus aja pakai mobil Camry ala-ala pejabat. Bapaknya seorang anggota DPR, sedangkan mamanya seorang pengusaha. Apalagi kalau Tasya sudah meraup uang yang banyak dari endorsement media sosial dan bisnis yang ia geluti. Kalau bersanding bersama Tasya, mungkin setara sama Bang Jepri Nikol dulu atau A`a Ikbal pemeran Dilan.


“Ya iya dong cowok pada insecure kalau perawatan tubuh lo sebulan aja sama dengan jajan anak kos empat bulan,” balas Sarah.


“Hehe … itu sih kayanya yang bikin cowok insecure sama gue.”


“Kasih aja nomor Pram sama dia.” Sarah menoleh ke Andi.


“Apaan sih lo Sar,” protes Andi karena Sarah ceplas-ceplos. Walaupun Pram memang rivalnya, tetapi Pram juga teman yang harus dijaga harga dirinya. Masa dikasih gitu aja nomornya.


“Siapa sih Pram?” Tasya mulai penasaran.


“Ada itu ….” Pengen banget Sarah bilang kalau pria itu mengejar-ngejar dirinya, tetapi Sarah menahan kalimat itu. “Teman seangkatan kami, temen tongkrongan Andi juga. Dia polisi di Polda. Kaya benget deh pokoknya, walaupun masih lebih kaya elo. Tapi, masih bisa deh kaya ngikutin gaya hidup lo.”


“Ah … gue enggak nyari yang kaya kok sebenarnya. Gue nyari yang tulus doang ….”

__ADS_1


Ingin sekali Andi membeli seporsi batagor lagi untuk menyumpal mulut Tasya setelah ia mengucapkan kalimat itu. Andi sudah banyak sekali mendengar omongan cewek yang hanya mencari tulus tanpa realita yang sebenarnya. Iya sih mereka nyari yang tulus, siapa juga yang enggak mau sama yang tulus. Tap ikan ada syaratnya, kaya harus goodlooking dan goodrekening dulu. Ibarat kata abang-abang jualan buah yang bikin harga satu kilonya murah, eh ternyata sebenarnya setengah kilo karena angka duanya ditulis kecil di bawah.


“Ah masa iya sih?” tanya Sarah sembari mengunyah somaynya dua buah langsung tanpa segan.  Bibirnya aja belepotan kuah kacang yang langsung Andi sumpel pakai tissue biar dibersihin.


“Bener, gue ga muluk-muluk kok.”


“Ya udah, kasih aja nomor Kevin Ndi.” Sarah menoleh.


“Eh apaan sih lo nyebut-nyebut nama orang tanpa izinnya,” protes Andi lagi.


“Ya … soalnya dia nyari yang tulis. Kevin itu tulus kok. Ototnya juga gede kaya ade rai. Barangkali Tasya mau ….”


“Oh Bang Kevin yang temennya Bang Revin?” tanya Tasya untuk memastikan orang itu.


“Lah elo kenal?”


“Iya, waktu itu gue sama Naila ngejenguk Ajiz. Hehehe … anak itu keknya perhatian banget sama Ajiz. Di sana ada Kevin, Revin, dan Andi juga.”


Mata Sarah langsung menatap sinis kepada Andi karena ia sudah bertemu di rumah sakit itu dengan Tasya. Sayang sekali Sarah saat itu sedang sibuk dant tidak sempat untuk menjenguk junior ngeselin yang pernah ia bogem tepat di kepala. Waktu itu Ajiz mecahin vas bunga kesayangan mamanya Andi waktu main basket di lapangan basket rumah Andi.


Tasya sadar jika Sarah mulai terlihat tidak tertarik dengan pembicaraan ini. Tetapi ia tidak berpikir mengenai kecemburuan Sarah, melainkan barangkali Sarah lagi palang merah hari ini atau sedang kecapekan setelah olahraga pagi. Sumpah nih, Tasya orangnya selalu berpikir positif, tidak seperti Sarah yang negatif dan sensian mulu.


“Sar, sibuk ga minggu depan? Kita jalan-jalan yuk lagi berempat. Happy happy lagi dong kaya kemarin,” tawa Tasya.


“Hmm … enggak tahu sih. Mungkin sibuk soalnya gue lagi banyak tugas laporan kuliah,” balas Sarah.


“Udaaah … ikut aja. Apa susahnya kalau malah dikerjain. Jadi mahasiswa itu jangan terlalu rajin. Masa tiga kali jatah bolos kaga pernah digunain. Rugi tahu!” Andi malah mengompori.


“Apaan sih lo!” Kaki Sarah langsung menginjak kaki Andi hingga Andi kesakitan.


“Wih rajin bangeet … tapi wajar sih anak kedokteran kalau bolos kayanya rugi banget, soalnya mata kuliahnya itu loh yang susah,” balas Tasya memaklumi.


“Mana ada kaya gitu … dia itu takut dosen. Kalau masalah pelajaran, dia mana pernah ketinggalan. Lah dia belajar tiap malem gimana mau ketinggalan. Sama preman ga takut, sama dosen kaga berani.”


“Ihh … ngeselin bangget sih lo!!!” Wajah Sarah berubah marah. Ia pun memukul lengan Andi.

__ADS_1


“Makanya ikut aja sana sama mereka.”


“Iya iya … gue ikut ….”


“Nah gitu dong anak baik, nurut …..”


Dengan emosi Sarah mengunyah somay terakhirnya.


Sebenarnya Andi ada maksud tertentu untuk meminta Sarah ikut jalan-jalan bersama Tasya dan yang lain. Andi ingin Sarah benar-benar mengenal Tasya luar dalam. Barangkali ia bersikap seperti ini karena ia belum terlalu mengenali Tasya dengan baik. Andi pun turut mengakui kalau Sarah cukup cuek dengan orang yang baru ia kenali. Dengan adanya momen mereka bersama, Andi berharap pandangan Sarah kepada Tasya akan berubah.


Tasya pun menentukan tanggal dan jamnya sebelum ia beranjak pergi terlebih dahulu. Masih dengan wajah emosi, Sarah mengadap ke Andi ketika Tasya sudah tidak ada lagi di sini.


“Lo ngompor-ngomporin apa sih maksudnya?”


“Ya … gue pengen lo pergi main aja. Kan di sana ada Tami, dia pasti mau ikut kok kalau jalan-jalan, kan Tami suka refreshing setelah seminggu bekerja.”


Andi dan Sarah berdiri untuk membayar sarapan mereka.


“Ngeselin lo hari ini!”


“Iya maap deh, biar gue yang bayar sarapannya ….”


“Ya udah bayar aja sana ….,” balas Sarah sembari menoleh ke mamang somay.


Mamang somay pun tersenyum melihat tingkah mereka berdua.


“Itu … sarapannya udah dibayar sama Neng yang tadi, yang baru aja pergi,” balas Mamang Somay.


Andi dan Sarah saling menatap. Andi menutup kembali dompetnya, sementara itu Sarah malah tersenyum.


“Heheeh … baik banget sih diaaa ….”


“Giliran dia yang bayarin lo seneng, gimana sih!”


***

__ADS_1


__ADS_2