
Berbayang pelukan itu menjadi bias-bias ingatan nan selalu Memet kenang. Tiada henti dirinya tersenyum di dalam hati, tetapi terlalu canggung untuk menunjukkan kepadanya. Berbunga senyum itu untuk ia petik menjadi kebahagiaan. Tatkala sendu melandanya suatu saat nanti, buah petikan itu yang akan mampu menghiburnya kembali. Momen ini sangat Memet hargai sebagai satu peristiwa bersejarah⸺yaelah bersejarah, masa peristiwa jaman penjajahan⸺maksudnya bersejarah di dalam hubungan mereka berdua.
Hari terlalu cerah untuk hati yang bersedih. Sinar mentari bersahaja di atas sana dengan langit bersih dan awan tipis yang menaungi. Meskipun bumi masih memiliki pencahayaan dan kehangatan yang cukup dari mentari, beranginnya udara pun terasa sejuk, terutama tatkala motor berlaju kencang di jalanan lurus. Bayang-bayang mereka jatuh di antara tanaman pepadian hijau. Selayaknya roll film putih abu-abu, hitamnya bayangan mereka bergerak di atas pesawahan. Burung-burung pun menari menyambut mereka yang lewat, lalu salam sapa anak-anak ramah menjelma menjadi senyum di bibir. Sungguh syahdu pemandangan desa.
Bagi mereka yang terlalu lama di suasana kota, desa menjadi pesona luar biasa untuk dinikmati. Pegunungan hijau menggantikan gedung tinggi menjulang yang menghalangi jarak pandang terhadap langit. Sejuknya udara desa terlalu nikmat dibandingkan panasnya jalanan kota yang berdebu lagi menyesakkan itu. Tidak ada wajah manusia sok sibuk yang berjalan di trotoar⸺bahkan menelpon dengan suara keras dengan alasan urusan bisnis⸺berganti dengan ramah tamahnya penduduk menyapa para pendatang. Kemewahan dan kehidupan glamor enggan menjadi prioritas, kesederhanaan lebih bersahaja untuk dijalani.
“Apa pendapatmu tentang desa, Met?”
Dagu Tami sedikit menempel di pundak Memet. Tidak ingin rugi, Memet malah mendekati tubuhnya ke belakang. Menyeruaklah wangi parfum Tami tercium oleh Memet yang senyam-senyum tanpa sepengatahuan wanita itu.
“Tempat yang enak buat ditempatin di hari tua. Desa itu masih alami dan sehat buat para lansia. Makanya tuh anak-anak desa jarang sakit. Bayangin aja anak kota, dikit main hujan langsung pilek.”
“Heheh … kayanya kamu nyindir aku deh. Aku tuh selalu di kota. Bahkan, Kakek dan Nenek aku juga berada di kota. Mudik pun enggak kerasa lagi pulang kampung, melainkan menyibukkan diri ke mall-mall, ampir sama kaya di Jakarta.”
“Oh gitu … Kakek dan Nenek gue sih masih di desa banget, tapi itu dulu waktu gue masih SD.”
“Oh, sekarang mereka di kota gitu?” tanya Tami.
“Iya di balik papan sekarang mereka mah,” balas Memet.
“Jauh banget di Balik Papan, Kalimantan kan?”
Padahal nih Memet lagi ngebencandain sih Tami.
“Balik papan ya udah meninggal. Kan orang meninggal dikuburnya pasti di balik papan, kan? Hahaha ….”
Punggung Memet ditepuk dengan lembut oleh Tami. Meskipun kaga ada apa-apanya, bahkan Memet udah ngerasain dibogem preman terminal, tetapi Memet tetap berakting seperti kesakitan.
“Sumpah gelap banget candaan kamu, Met. Siapa yang ngajarin, sih?”
Memet tertawa kecil. “Ah, biasa aja kali candaaan begitu.”
“Ga baik tahu ngebecandain orang yang udah meninggal ….” Kini giliran pinggan Memet yang dicubitin.
Ini benaran sakit, Memet kaga bohong. Ampir sama nih kaya cubitan Sarah waktu Andi dan dirinya ketahuan nonton pideo yang lagi viral di twitter. Padahal kan mereka enggak sengaja kepencet. Tapi karena udah kelanjur nonton, jadinya mereka keterusan. Waktu itu tepat sekali Sarah datang untuk mengantarkan makanan bagi petugas ronda. Alhasil, mereka berdua ketahuan.
“Hahaha … iya maap.”
Tami sudah mengecek lokasi tujuan mereka di google map sebelumnya. Terdapat Sebuah air terjun sekitar dua puluh menit dari lokasi villa mereka. Bermodalkan sekali ngisi bensin eceran satu liter, mereka menelusuri jalanan desa dan mulai masuk ke kawasan hutan. Sebelah kiri merupakan hutan sementara sebelah kanan ialah jurang dengan pembatas jalanan dari besi. Mereka pun kini sampai di sebuah desa yang menjadi simpang jalan ke air terjun tersebut.
Malu bertanya, sesat dijalan. Banyak bertanya, disesatin orang. Maka dari itu, mereka berdua bertanya kepada abang-abang poskamling mengenai jalan menuju air terjun tersebut. Untung aja muka Memet nyeremin, jadi mereka ragu buat ngelirik-lirik ke Tami. Setelah informasi jalan ke air terjun diketahui, mereka sampai di parkiran tersebut.
__ADS_1
“Lo ini, udah tahu main ke air terjun malah pakai sendal bagus.” Memet ngelihatin Tami yang ngehindar ke becekan jalanan. Ia tahu kalau sendal itu pasti belinya di mall.
“Aku kira jalannya mulus. Ternyata becek dan terjal ke bawah.”
Memet mengehela napas. Ia melepaskan sendal swallow sepuluh ribuan yang dia dapat dari menang panjat pinang tujuh belasan. Sendal ini hasil jerih payah dirinya untuk merasakan bagaimana perjuangan para pejuang dahulu demi mempertahankan kemerdekaan.
“Ini pakai sendal gue aja. Kalau putus bisa dibeli lagi.” Memet berjongkok di hadapan Tami untuk melepaskan sendal wanita itu. “Kalau punya lo yang putus, harganya mahal. Masa sendal mahal mau dipakuin bawahnya biar bisa digunain lagi.”
Metode ini merupakan cara yang lumrah untuk mengatasi putusnya sendal jepit. Paku yang dipasang agar menjadi penyangga dan bisa dipakai kembali.
“Loh, kan kamu bakalan nyeker? Nanti kalau kena duri gimana?”
“Udah biasa mah gue begini, jangan khawatir. Gue khawatir elo aja, sendalnya licin dan gampang kepleset. Mending sendal gue, aman tentrann dunia dan akhirat. Lo pakai di akhirat nih bikin iri malaikat.”
“Lebay banget kamu. Ya udah deh, makasih banyak yaa ….”
Tami melepaskan sendalnya dan memberikan kepada Memet untuk dimasukkan ke dalam tas. Alhasil, kaki Tami kini makai sendal jepit punya Memet. Sempat bagi Memet buat membandingkan kulit kaki Tami dan dirinya, sungguh seperti bumi dan langit, minyak dan air. Kaki Tami mulus kaya ubin keramik warna putih. Saking beningnya nih, urat-urat kecil warna biru pun tampak ketika ia membuka sendalnya. Beda banget dengan kaki Memet yang kaya pemain bola. Masih ada bekas-bekas luka dari main bola sore hari dan urat-uratnya keluar kaya cacing besar Alaska.
Tangan mereka terus bergenggaman, bahkan tanpa Memet minta. Tami sendiri yang menggenggam tangan Memet. Bukan alasan romantis yang dipikiran, sekali lepas sih nyawa bisa melayang. Tami takut banget kepleset dan jatuh ke bawah. Oleh karena itu, ia tidak ingin dilepas oleh Memet.
Mereka sampai di bawah, tepat di bawah arah jatuhnya air terjun. Gemuruh air terjun berbunyi deras dan menimbulkan angin yang menerpa wajah mereka. Butiran air pun membasahi tubuh mereka.
“View-nya bagus banget ….” Tami membuka tangannya dan berputar di atas batu untuk melihat ke sekitar.
“Ya kan kamu mau difotoin. Masa mau difotoin cuma pakai celana pendek aja?” tanya balik Tami.
“Iya sih, tapi sebenarnya kalau tahu tempatnya begini, gue jadi pengen berenang.”
“Jangan … aku enggak mau kamu basah-basahan kalau pulang.”
“Iya deh, gue kaga jadi berenang.”
Posisi view terbaik sudah ditentukan, yaitu di atas satu batu yang paling besar. Batu tersebut langsung membelakangi air terjun jerjun itu. Memet sama sekali tidak tahu apa-apa, ia pun diperintahkan sama Tami untuk menaiki batu tersebut.
Bisa aja nih, kalau kaga gebetan gue, udah gue hujat nih si cantik, Memet ngelihat batu tersebut cukup sulit dinaiki. Dengan segenap asa dan cinta, Memet menaiki batu tersebut dengan ngos-ngosan.
“Gue udah naik nih. Setelah itu ngapain?”
“Geser ke kiri …..” Tami ngelihat ke kamera. “Eh, terlalu ke kiri. Geser kanan dikit lagi.”
“Udah kaya angkot ya pakai geser kiri geser kanan. Tam, gue kaga tahu cara jadi model. Yang gue tahu cuma gaya tangan metal doang. Ya kali tangan metal gue jadi objek fotografi, malah dikira sekte sesat ntar,” ucap Memet.
“Coba deh kamu gaya fotonya kaya cowok-cowok cool gitu,” ucap Tami.
Sumpah nih ya, Memet tambah enggak ngerti bagaimana jadi cowok cool. Cowok apa kulkas, kok pakai dingin segala.
__ADS_1
“Emang gimana foto cowok cool?”
“Kamu pernah kan ngelihat instagramnya Pram? Nah kira-kira begitu ….”
Yaelah … dia mah goodlooking. Nungging pun tetap dibilang ganteng. Lah gue ….
Memet mencoba memasukkan satu tangannya ke saku, lalu menatap Tami yang sedang mengarahkan kamera padanya. Merasa sudah cocok banget buat di foto, Memet pun tersenyum lebar.
“Met, jangan senyum dong ….”
“Gimana sih foto kaga senyum? Foto apaan kaga ada senyum-senyumnya dah.”
Saking seriusnya nih Tami ngelihatin kamera, dia sampai geser kiri dan geser kanan buat nyari angel yang pas.
“Kalau kamu senyum, enggak kaya cowok cool.” Kamera tersebut Tami jauhkan dari wajahnya untuk melihat Memet. “Kamu harus nunjukin gimana sih aura kesangaran kamu itu muncul.”
“Kaya gini?”
Memet melakukan gerakan seperti huluk yang baru saja menghijaukan diri dan bajunya robek-robek. Ada sedikit suara seringai yang Memet munculkan biar kelihatan serem.
“Bukan gitu juga kali, Met. Kaya gini nih ….” Tami menunjukkan pose yang menurutnya paling mewakili cowok cool pada umumnya. “Nah kaya gitu. Ibarat kata kamu itu lagi nunjukin kalau kamu lebih mendominasi dari musuh kamu, tapi tetap terlihat keren. Ibarat kata, kalau ada cewek yang ngedeketin kamu, terus kamu jual mahal gitu biar kelihatan keren.”
Jual mahal gimana, cewek aja takut waktu ngelihatin Memet. Padahal Memet cuma menunjukkan tatapannya seperti biasa. Setelah melihat contoh dari Tami, Memet pun berusaha untuk mencobanya.
“Kaya gini?” tanya Memet.
Aura kesangaran seorang preman SMK sungguh terpancarkan dari tatap mata lurus dan sayu dari Memet. Bibirnya terbuka sedikit, memberikan kesan sexy yang bakal bikin klepek para cewek-cewek. Pakaian gelap yang digunakan oleh Memet terlihat cocok sekali dengan karisma alami dari dirinya. Tatkala Memet mengangkat satu alisnya sebagai salah satu pose, Tami menjauhkan kamera. Padahal sedari tadi ia sibuk memotret Memet dengan serius.
“Kenapa? Ada yang salah dari pose gue kali ini?”
“Enggak kok ….” Tami tetap menatap Memet yang memanggilnya.
“Terus dong fotoin gue, katanya mau nyari foto terbaik.”
“Oke deh, terus kaya gitu ya …..”
Tami kembali mengambil gambar dari Memet yang berganti pose sebagaimana mestinya. Terdapat satu titik di mana Tami bergeming menatap Memet, yaitu tepat di kala ia berhenti memotret. Itulah foto terbaik yang didapatkan oleh Tami.
Lo ganteng dan keren kok sebenarnya, Met. Cuma lo aja yang enggak ngakuin …, puji Tami di dalam hati.
***
__ADS_1