
Kehebatan Ajiz
Andi memberitahukan keadaan Agus dan alasan Agus menghindar dari mereka bertiga. Agus dan Felix seketika dibuat menghentak dinding karena kesal jika Agus telah dihajar secara tidak adil. Andi meminta mereka ikut untuk membalas mereka. Ia tahu di mana Four Dog selalu menongkrong setelah selesai sekolah.
Dengan berboncengan tiga, mereka pergi menuju kedai tongktongan Four Dogs. Udah kaya terong-terongan aja goncengan tiga. Nanang agak risih karena otong Andi nempel banget sama dia. Rada-rada jiji gitu. Tapi, ga apalah ... bentar lagi nyampe.
Sekitar enam orang tengah ngerokok ria di kedai tersebut. Tidak ada batang hidung Dandi di sana. Namun, terdapat anggota tiga orang penting Four Dog, yaitu Darwin, Egi, dan Okto. Mereka melihat Anak Amak yang datang sambil berdiri, bersiap-siap jika ada serangan dari Anak Amak.
Suara motor terdengar mendekat. Dari jaket dan helm-nya, Andi sudah tahu jika ia adalah Ajiz. Ia tidak tahu kenapa Ajiz malah ikutan mampir sama mereka berempat. Andi malah menyuruhnya pulang.
"We, lo ngapain sini ... ini urusan orang gede."
"Janji lo kemarin, Bang ...." Ajiz menadahkan tangan meminta sesuatu kepada Andi. "Rokok gue yang lo tanggung selama seminggu."
Andi menepuk jidat. Ia lupa kalau ia ada janji buat beliin rokok Ajiz selama seminggu. Kan malam perkemahan waktu itu, Andi dan Sarah ketahuana ampir mesum dibangku. Buat tutup mulut, Andi menjanjikan rokok.
"Oalah, gue lupa ..." Andi merogoh kocek untuk mengambil sebungkus rokok. "Kurang dua batang, ga apa ya? Diskon ..."
"Lah emangnya lo ngapain ada janji beliin rokok?" tanya Felix.
"Biasa ... Waktu kemah, gue ******* sama Sarah ... eh malah ketahuan sama nih anak. Gue udah kelanjur janji sama dia.
Nanang dan Felix tertawa terbahak-bahak. Ampir aja Andi mesum sama Sarah.
"Bagus, Dek. Kalau mereka dibiarin, entar malah makin menjadi-jadi." Nanang menepuk pundak Ajiz.
"Ngomong-ngomong lo mau ngapain?" tanya Andi kepada Ajiz.
"Pegang seragam gue, Bang." Ajiz memberikan seragam SMA-nya yang ia lepas. "Gue ada urusan sama mereka."
__ADS_1
Ajiz maju sendirian tanpa diminta. "SINI KALIAN *******!!!! LO MASIH MAU LIHAT SINGA DARI UTARA, KAN?"
Singa Dari Utara? julukan macam apa itu, Andi tertawa dalamh hati.
Satu orang yang berani maju langsung terpental. Berikutnya salah satu dari mereka maju dengan berlari. Ajiz dengan sigap menghindar dan menghantam perutnya hingga tertunduk. Seperti seekor singa yang tengah marah, Ajiz mengobrak-abrik satu kedai dengan ganas. Ibu kedai sampe teriak-teriak karena takut kedainya berantakan. Ajiz tetap ga peduli, ia menghantam wajah mereka satu per satu hingga berdarah.
Tinggallah tiga orang lagi, yaitu Darwin, Egi, dan Okto. Mereka beriga yang tahu tentang masa lalu Ajiz. Ajiz pernah bertemu dengannya sewaktu tawuran antar kedai, tatkala masa-masa ia masih memimpin sebuah kelompok.
Jumlah tidak menjadi masalah, Darwin berkali-kali terjatuh akibat dorongan Ajiz. Egi sudah tepar karena tendangan yang keras tepat ke perut. Tinggallah, Okto yang menjadi bulan-bulanan Ajiz yang seperti kerasukan jin singa. Wajah Okto habis dipukuli. Tatkla Darwin mencoba melepaskan Okto dari terkaman Ajiz, ia malah menjadi sasaran yang empuk. Sebuah pukulan telak membuat Darwin tepar tidak berdaya.
Ia berjalan lambat sembari mengatur napas ke arah Anak Amak. Mereka berempat tidak bisa berkata-kata lagi, satu kedai habis di hajar oleh Ajiz sendirian. Memang sih jumlah asli anak Four Dog berkisar belasan orang, tapi enam orang merupakan jumlah yang besar jika dihadapi sendirian. Andi, Nanang, dan Felix hanya bisa menganga tatkala Ajiz meminta seragamnya kembali.
***** ... ni anak sejenis manusia apaan? tanya Andi dalam hati.
Ajiz meludah di depan Anak Amak karena mulutnya penuh dengan darah. "Bang, seragam gue."
"Gue punya masalah sama mereka, satu-satuya orang yang pernah ngalahin gue cuma Dandi. Lo bisa imbang lawan Dandi, berarti lo lebih kuat dari gue, Bang." Ajiz berusaha buat merendahkan diri.
"Pulanglah ... biar gue urus Dandi."
Ajiz melewati mereka bertiga. Namun, ia kembali melepaskan helm. "Kalau gue bisa buat poros sendiri di angkatan kelas 10, gue minta satu hal."
"Lo pasti bisa. Lo itu kuat. Lo mau minta apa?" tanya Andi.
"Menghindarlah dari Naila."
Andi kesal mendengarkan kalimat Ajiz. Ia mendekatinya dan menariknya turun dari motor. "Jadi lo bilang gue ngedeketin Naila?"
"Pokoknya gue ga suka lo deket sama dia." Nanar mata Ajiz begitu dalam kepada Andi. "Ga peduli siapa duluan yang ngedeketin. Gue minta lo jauh-jauh darinya."
__ADS_1
"Denger ya ..." Andi ditarik oleh Nanang agar tidak menimbulkan masalah. Namun, Andi tetap menarik jaket Ajiz. "Gue ga pernah ngedeketin Naila. Gue masih cinta sama Sarah. Lo jangan asal ngomong."
"Baguslah kalau begitu. Gue takut, kita bisa aja baku hantam gara-gara itu."
"Sekarang pulanglah. Bikin poros angkatan kelas 10, datang ke gue kalau lo berhasil. Di situ kita jumpa tengah buat ngetes kemampuan lo."
"Oke ..."
Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Kedai hancur porak-poranda karena perkelahian tadi. Banyak jajanan yang berserakan ke bawah. Beberapa spanduk yang dijadikan tirai terlihat sobek. Ajiz begitu ganas waktu itu.
Dandi tiba dengan terheran-heran. Terlihat Darwin sedang duduk sambil ngerokok sendirian. Seragamnya kotor dan tidak rapi.
"Kedai ini kenapa?" Dandi memegang wajah Darwin yang lebam. "Kasih tau gue, siapa yang ngehantam kedai ini?"
"Ajiz."
"Sama siapa?
"Sendirian."
"*******!!!!!" Ajiz mendorong Darwin. "SELEMAH INI KALIAN NGELAWAN SATU ORANG AJA GA BECUS!!!!"
Darwin tidak bisa menjawab. Kekalahan telah ia tanggung.
"Tapi ga apa-apa, gue sendirian baru aja bikin Dugong dan yang lain mampus. Gue senang. Hahahaha ...." Ia melihat kepalan tangannya yang masih terdapat noda darah hidung Dugong,
Sebelum ia ke sini, satu tongkrongan Dugong juga ia buat mampus, walaupun jumlahnya ada beberapa. Dendamnya sudah terbalaskan. Ia mendengar Dugong meminta ampun tatkala berlutut di hadapannya.
***
__ADS_1