
Masa Depan
Semua terkejut dengan kabar Andi yang tiba-tiba pulang kampung. Anak Amak sibuk menanyakan kabar Andi dan ia hanya menjawab jika ia sedang rindu neneknya saja. Kekhawatiran mereka sedikit mereda tatkala mereka langsung menanyakan hal tersebut kepada Aisyah. Sesuai faktanya, Aisyah hanya menjawab jika Andi diminta untuk pulang kampung oleh mamanya.
Perjalanan sekitar dua hari ia lalui menuju Kota Padang. Rencananya ia akan melanjutkan perjalanan bersama papanya yang bisa mengambil waktu untuk mengantar Andi. Selain itu, Andi juga sudah lama tidak melihat rumahnya tersebut. Sedikit bernostalgia dengan bertemu teman-teman lama di tepian laut kota Padang. Biasanya mereka menyebutnya dengan Taplau atau Tapian Lauik yang jika diartikan sebagai tepian laut, tepat berada di tepi barat kota.
Selepas Isya, ia melanjutkan perjalanan selama dua jam menuju Kota Bukit Tinggi. Memang, rumah neneknya tidak berada di pusat kota, namun lebih ke perkampungan dibawah kaki Gunung Singgalang. Namun, cukup dekat dari Kota Bukit Tinggi.
Suhu begitu drastis berubah menjadi dingin. Biasanya ia yang berpeluh panas udara Jakarta dan Padang, kini merasakan dingin belasan celcius. Bahkan, keramik rumah neneknya saja begitu terasa dingin di telapak kaki. Fenomena yang tidak biasa ia temui.
Sesampainya di rumah Nenek, ia sambut oleh Etek dan Pak Uwo. Etek merupakan sebutan Tante bagi orang minang dan Pak Uwo merupakan sebutan bagi saudara laki-laki tertua dari orangtua di keluarga Minang. Sebagai anak tertua dan cucu tertua dari silsilah penerus keluarga mereka, Andi disambut dengan begitu hangat. Dipeluk mesra oleh rasa rindu Etek yang sudah lama tidak bersua.
Andi tidak langsung bertemu dengan Nenek karena ia sedang berada di rumah sanak famili yang lain. Menurut Pak Uwo, Nenek akan pulang esok pagi. Ia juga mengatakan betapa rindunya Nenek kepada Andi. Setiap hari ia bercerita mengenai Andi semenjak ia mendengar informasi jika cucunya itu akan datang berkunjung.
__ADS_1
Wangi kopi berbicara di tengah perbincangan Pak Uwo, papanya, dan Andi diteras rumah. Wangi tembakau lintingan begitu mengunggah selera. Ia tidak sanggup melinting tembakau tersebut di depan papanya. Terpaksalah ia melihat Pak Uwo dan Papa begitu syahdu berganti kertas tembakau.
"Ba'a sekolah Andi?" tanya Pak Uwo.
Bagaimana sekolah Andi
"Mode tu se Pak Uwo. Sabanta lai Andi tamaik." Andi menyeruput kopi malamnya.
Kaya gitu aja Pak Uwo. Sebentar lagi Andi tamat.
Tangan papanya menepuk pundaknya Andi. "Paja ko Bang, indak talok diaja ... bacakak tiok hari, pulang laruik malam, lah pandai bacewek kini, marokok di sakolah. Baa dek abang tu?"
Pak Uwo tertawa mendengar perangai Andi yang berandal. Ditambah lagi Andi yang cuma cengar-cengir. "Ang samo mode apak ang. Mada apak ang dulu, parah dari ang lai. Den tau den apak ang ko lamo di bukik. Kawan'a pareman gadang situ. Untuang se inyo barubah. Bacewek jo amak ang."
Kamu sama seperti papa kamu. Bandel bapak kamu dulu, parah dari kamu lagi. Aku tahu bapak kamu ini lama di Bukit Tinggi. Kawannya preman besar di sana. Untung aja dia berubah. Pacarannya sama mama kamu.
Mereka sama-sama tertawa. Ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohon. Andi dan papanya hampir-hampir sama kelauannya dulu. Untung aja papanya berubah jadi baik dan mau kuliah ke Padang. Akhirnya, ia sukses menata masa depan hingga Andi jauh dari kata susahnya hidup.
__ADS_1
Di tengah perbincangan hangat tersebut, terselipkan sebuah pesan yang ia dapati dari candaan Pak Uwo. Setiap orang bisa berubah, meskipun ia merupakan orang terburuk sekali pun. Ia yakin, ia bisa berubah dan melebih orang-orang yang lebih sukses duluan.
Harapannya satu, ia ingin menjadi orang sukses meskipun ia merupakan orang yang *******. Setelah itu, ia berangan-angan menikahi seorang istri yang baik. Tidak peduli jika ia adalah Sarah atau pun bukan. Ia tidak peduli lagi dengan hal tersebut. Sarah sedang ia buang jauh-jauh dari pikirannya yang terbenam. Salah satu alasannya ke sini ialah itu, sebagai pelarian untuk melupakan masalahnya.
Sebelum tidur, ia menyempatkan merokok di WC rumah yang memiliki cukup fentilasi udara. Ia terpikir jika selama ini ia belum merancakan bagaimana masa depannya kelah. Sementara itu, teman-temannya yang lain sudah jauh-jauh hari memikirkannya. Seperti Agus yang ingin menjadi perwira polisi, Nanang yang ingin kuliah di luar negeri seperti babenya walaupun Nanang agak goblok sedikit, dan Felix yang bahkan sudah merintis bisnsi sejak dini.
"Pa, menurut Papa, Andi bagusnya kuliah di mana?" tanya Andi tatkala mendapati papanya masih merokok di luar rumah.
"Hmm ... yaa di mana kamu mau. Yang penting kamu yakin dengan jurusan sama univnya."
"Oh, gitu ya. Kayanya Andi mau masuk hukum deh."
Papanya mengangguk. "Boleh aja ... kamu bisa juga tes CPNS kalau buka tahun ini kalau mau langsung kerja."
"Oke, Pa. Liat besok aja."
Setelah itu, Andi terlelap dengan senyuman.
__ADS_1
***