Andi X Sarah

Andi X Sarah
12. Nelen Ludah (SEASON 2)


__ADS_3

Nelen Ludah


Rumah serasa neraka. Suara mamanya Andi menggema di mana-mana, merepet sampe Andi pingin nyumbat telinga. Kalau emak-emak Minang lagi merepet, itu serasa dunia milik punya sendiri, kaya kaga ada tetangga dan makhluk lain yang lagi bertebaran di sekitaran rumah. Yang pastinya mamanya Andi ngerepet pake bahasa Minang yang bikin panas telinga.


"Panek-panek apak ang mancari pitih, ang mode ko karajo ang!" ucap mama Andi sambil ngupas bawang.


Parahnya lagi sambil ngelihatin Andi yang lagi duduk di teras belakang rumah. Pro banget, motong bawang tanpa nengok itu bawang.


Capek-capek bapak kamu nyari uang, kamu kaya gini kerjaannya!


Andi menunduk lemas ngedengerin segala repetan mamanya yang tanpa henti tiga jam. Itu pun sambungan repetan yang kemarin. Repetan mamanya Andi yang kemarin malah lebih parah.


"Yo baa lai .... Alah tu, lah tajadi lah. Ndak Andi nan salah do, alah tau urang tu nan mencegat awak," balas Andi dengan sedikit mengiba.


Ya kaya mana lagi ... udahlah, udah terjadi. Enggak Andi yang salah, udah tau orang itu yang ngecegat Andi.


"Makonyo, honda tu ijan nan balabiah bana mode'e. Preman tu tagaduah dek honda bongak ang," repet mama Andi lagi.


Makanya, motor itu jangan berlebih banget modelnya. Preman itu terganggu sama motor bodoh kamu.


"Manga lo salah Honda Andi. Alah jaleh hati urang tu nan busuak."


Kenapa pula salah motor aku, udah jelas hati orang itu yang busuk.


Telinga Andi dua hari ini kaya digesek sama kata-kata mamanya marah mulu. Akhirnya Andi memutuskan untuk keluar rumah karena bosan. Beberapa hari ke depan mungkin juga terasa membosankan karena ia tidak masuk sekolah. Bukan karena fisik yang sakit, tapi wajah yang bengkak karena kena bogem. Andi masih bersyukur karena tidak separag Felix.


Hatinya terasa iba karena knalpot kesayangan Andi udah ludes diambilin sama mereka. Karena lagi missqueen, Andi cuma bisa ngebeli kap motor baru, soalnya kap motor Andi juga hancur gara-gara ditendangin sama mereka. Terpaka Andi menggunakan motor tanpa knalpot, alhasil bunyinya jadi aneh banget. Cukuplah buat sementara.


Waktu Andi memundurkan motornya, terlihat seorang wanita yang baru aja turun dari ojol di seberang rumahnya. Andi memandang wanita itu hingga ia memberikan sejumlah uang kepada ojol tersebut. Tidak lama kemudian Andi membuang wajah ke depan sembari deg-degan seakan melihat sesuatu yang seram.


***** kenapa anak itu ke sini!!!


Ternyata itu ialah Naila, adik bimbingan Andi yang paling nyebelin. Entah kenapa, Andi jadi panik kalau ketemu sama dia.


"Woi Andi, dasar lo ya ...." Naila memerhatikan wajah Andi yang ada memarnya dikit. "Muke lo kenapa? Abis digebukin warga?"


Eh, *!!! Lo ngatain gue di depan rumah gue *** ....


Andi langsung turun motornya dan menghampiri wanita yang berani mengatainya tepat di depan rumah.


"Woi, lo ngomong kok enggak bisa santai, ya!!" balas Andi ngegas.


"Eh, Andi ... lo enggak nyadar kalau lo itu kakak bimbingan. Harusnya lo bikin bimbingan ke kita hari ini, trus ngisi absen buat dilaporin. Kemarin juga, lo enggak ada bikinin absen. Gue ditanya-tanyain sama ketua OSIS."


"Lah, emang pake absen?" tanya Andi.


"Ya iyalah, tupai!!! Lo sendiri aja ga tau, kan?" balas Naila. "Ini gue enggak disuruh masuk, apa?"


Andi menggeleng. "Rumah gue bukan buat orang sakit kaya lo."


"Lo ngatain gue gila? Lo yang gila." Naila menunjuk Andi tegas. "Untung aja gue baik hati. Gue ketikin nama mereka dan nyuruh mereka ngisi absen. Gue ke sini buat minta tanda tangan lo."


"Lah, kok minta tanda tangan gue? nge-fans lo?"


Naila melipat tangan. Ternyata ia baru tahu Andi segoblok ini. "Ya enggaklah bujank. Ih, lo kok goblok, sih!!!"


Menengar sebuah keributan, mama Andi berhenti dari ngupas bawangnya. Hatinya masih pengen ngerepetin Andi buat lima hari ke depan, ditambah lagi ada ribut-ribut enggak jelas di depan rumah. Ketika melihat dari garasi, mama Andi langsung ngelunak kaya eskrim wales kena matahari karena ternyata ada temen Andi yang datang.


"Eh, ada temen kok ga dibawa masuk?" tanya mama Andi. "Kok ribut-ribut sih?"

__ADS_1


Giliran ada temen, baru lunak, ucap Andi dalam hati.


"Oh, enggak kok, Nte. Kami lagi becanda."


"Andi, suruh temennya masuk. Buka pintu depan cepat," ucap Mama Andi.


Hati Andi jadi kesal karena mamanya malah menyuruh masuk cewek sialan itu. Memang kebiasaan sih mamanya suka ramah banget sama teman-teman Andi. Bahkan kalau bisa ketiga teman *** Andi itu tidur di rumah Andi tiap hari.


Mata Naila menelusuri setiap sudut rumah Andi. Mulai dari foto, lukisan, ukiran, kamar mandi, kamarnya Andi, lemari Andi, ** Andi. Yaa enggak gitu juga kali. Namanya kan orang yang baru pertama kali masuk ke rumah Andi, tentu aja matanya jelalatan ke mana-mana. ditambah lagi kan rumah Andi ditata dengan baik sama mamanya.


Nah ... Nah kan lagi ..., ucap Andi dalam hati ketika melihat mamanya membawa berbagai makanan khas minang ke meja tamu. Kalau tamu dilembut-lembutin begini, eh kalau giliran Andi minta makanan, malah disuruh keluar belinya.


"Andi, ambiak'an karang kaliang di belakang dih," perintah mamanya kepada Andi.


Andi, ambilin karang kaliang di belakang, yaa.


Karang kalian itu merupakan sebuah cemilan khas Ranah Minang. Bentuknya kaya angka delapan dan bewarna kuning. Kalau dikunyah rasanya kranci dan gurih. Kesukaan babang author kalau lagi jalan-jalan ke Sumatera Barat.


Tanpa bisa membantah, Andi langsung pergi ke belakang.


"Etek rang Minang?" balas Naila dengan spontan.


Tante orang Minang?


Ternyata eh ternyata Naila orang Minang. Pantes aja ngerti bahasa yang baru aja diucapin sama mamanya Andi tadi.


"Iyo jaleh. Etek rang Padang. Adiak kamek ko urang minang pulo?" tanya mamanya Andi.


Iya jelas, tante orang Padang. Adek cantik ini Minang juga?


Naila menangguk antusias. "Iyo, tek. Naila urang Solok. Dulu tingga di Padang. Dek Apa karajo di siko, tu pindah pulo awak sakaluarga ka siko."


Mata mamanya Andi menatp ke label nama Naila di dada. Diperhatikan juga wajah, rambut, postur tubuh Naila yang bisa dibilang cukup cantik. Mama Andi mengangguk mengerti karena pantas saja secantik ini.


"Sikumbang? Naila Sikumbang. Dak salah Naila kamek bana. Rang Sikumbang tu kamek-kamek padusinyo."


Sikumbang? Naila Sikumbang. Enggak salah Naila cantik bener. Orang Sikumbang itu cantik-cantik perempuannya.


Naila tersipu malu karena dipuji oleh mamanya Andi. Benar apa yang dikatakan mamanya Andi. Naila merupakan keturunan marga Sikumbang, salah satu marga suku Minang yang menganut sistim matrilineal. Jadi, marga diturunkan dari keturunan Ibu, seperti suku Minang pada umumnya. Memang, orang Sikumbang memang terkenal cantik. Secantik kumbang yang lagi terbang di bunga-bunga. Eaaaa


Terjadilah percakapan yang asyik. Kalau orang Minang sama orang Minang ketemu, pasti kaya udah kenal bertahun-tahun. Akrab banget. Sementara itu Andi datang dengan wajah datar.


Kenapa bisa anak ini orang Minang??? tanya Andi dalam hati. Kan jadi akrab begini ....


"Jadi mana yang mau gue tanda-tangani?" tanya Andi.


"Ber lo-gue pulo ... awak samo awak se siko nyo. Baso Minang se lah," balas Mama Andi.


Ber lo-gue pula ... kita sama kita di sini kok. Bahasa Minang aja lah.


Andi menggeleng. "Enggak ah. Males."


Tangan Naila menjulurkan kertas absen yang harus diisi sama Andi. Kan *** kan, Andi aja enggak tahu kalau ada absen beginian, padahal dia kakak pembimbing. Malah adik bimbingannya yang mengingatkan absen.


"Nih, sekarang lo bisa pulang," balas Andi dengan cuek.


"Gue baru datang loh. Ga sopan banget." Naila melihat kertas absen tersebut.


"Jadi, kalian ada hubungan apa?" tanya Mama Andi dengan penasaran.

__ADS_1


Andi dan Naila saling menatap, menunggu siapa yang akan bicara duluan.


"Ah ... hmmm," ucap mereka serentak.


Mereka kembali bertatapan. Namun, Andi mempersilahkan Naila berbicara dengan isyarat tangan.


"Jadi begini, Tek. Andi ni kakak bimbingan Naila di sekolah. Jadi, ke sini buat minta tanda tangan absen." Logat Naila sedikit bercampur dengan logat Minang.


Mendengar hal itu, mamanya Andi langsung memegang tangan Andi dengan erat.


"Aduh, enggak nyangka Mama kalau ang jadi kakak pembimbing. Mama kecek, ang ndak ada pandai satu pun," balas Mama Andi dengan girang. Tapi bagi Andi, kalimat itu nusuk banget.


Ang\=kamu


Kecek\=kira/bilang


Andi enggak menjawab. Dia menatap Naila dengan tatapan datar lagi. Dia nunggu-nungguin kapan Naila pergi dari rumah, trus Andi menikmati anime yang baru aja dia donlot.


Naila dan mamanya Andi kembali berbicara dengan bahasa Minang. Andi cuma bisa ngedengerin percakapan antara mereka berdua. Heran banget kenapa mamanya bisa cepet akrab sama Naila. Padahal, dia enggak pengen mamanya kenal sama cewek sialan itu. Andai aja mamanya tahu seberapa bangkenya dia.


"Naila, pulang dulu ya, Tek," pamit Naila setelah menghabiskan sirup dingin.


"Pulang sama siapa?" tanya mamanya Andi.


"Pake Ko-Jek, Tek."


Tangan mamanya menyentuh Andi. Andi udah tahu nih apa yang bakalan dibilang mamanya sebentar lagi.


"Antar Naila ke rumah, cepat. Capek-capek dia ke sini cuma buat minta absen."


"Aduh, Ma ...."


Naila menggeleng pelan. "Enggak usah, Tek. Naila bisa pulang sendiri."


"Indak buliah do. Padusi sakamek Naila ndak buliah bapaneh-paneh. Kaliang beko," balas mamanya Andi.


Enggak boleh. Cewek secantik Naila enggak boleh panas-panasan. Keling nanti.


Kalau ditolak, nanti Mama ngomel lagi. Terpaksa Andi mengantar pulang Naila dengan mobilnya. Kalau pake motor, motorya lagi enggak memungkinkan buat dipake. Dengan hati yang udah pengen menggelunjak, Andi memanaskan mobil di depan rumah. *** sekali malah disuruh mamanya buat ngantarin cewek ini pulang. Jangankan ngantarin, bicara aja males sama dia.


Naila masuk ke mobil, begitu pula Andi. Ada perasaan yang akward gitu waktu mereka berada di dalam satu mobil. Mereka berdua enggak kunjung berbicara sekedar berbasa-basi.


Tidak lama kemudian, datang suara motor trail yang ajigile luar biasa besarnya dari depan rumah Andi. Terlihat wanita memakai helm fullface motor trail yang lagi mengangkang karena motornya tinggi banget. Ternyata itu Sarah yang lagi berkunjung.


Andi langsung auto panik karena lagi satu mobil sama cewek lain. Ia menatap barang yang lagi dibawa oleh Sarah. Barang itu merupakan knalpot mahal yang baru aja dicuri dari geng motor kemarin.


***** kenapa bisa knalpot itu sama Sarah?


Melihat knalpotnya dibawa oleh Sarah, Andi menghampirinya dengan penasaran. Sementara itu, Naila masih di dalam mobil.


"Kok bisa sama lo?" tanya Andi.


"Sepuluh orang anak SMK Permesinan aja lewat sama gue." Sarah menyerahkan knalpot tersebut. "Apalagi cecunguk banci kaya dia."


"Lo ngehantam dia?"


"Gue seret dia ke semak-semak," balas Sarah. Andi pun menelan ludah. Mata Sarah bergeser ke mobil. "Itu cewek, ya? Siapa? Mau ke mana?"


Andi nelen ludah tiga kali. Habis sudah riwayatnya kali ini.

__ADS_1


***


__ADS_2