Andi X Sarah

Andi X Sarah
26. Nembak


__ADS_3

Nembak


Mie instan goreng sudah di hadapan Sarah. Dia tidak kunjung menjilati betapa menakjubkannya rasa makanan yang paling nikmat sedunia, apalagi di bulan tanggung kaya gini. Orang lain masih makan bakso dan mie ayam, Sarah cuma mesan mie instan goreng.


Kepalanya terasa sumpek karena memikirkan kalimat si sipit sialan yang pingin dia cincang-cincang sedari kemarin. Mode huluk yang Sarah keluarkan, ga cukup buat melampiaskan kekesalannya. Masa' Felix berani-beraninya ngatain kalau Sarah cemburu sama kedekatan Farel dan Tami.


Dia cicip sedikit, dia ingat yang kemarin.


Ia cicip lagi, dia mikirin mukanya Andi.


"Anjir, gua kok malah mikirin dia sih!!!!"


Tiba-tiba seorang pangeran berada di hadapan Sarah. Masih dengan senyuman manisnya, ia membinarkan matanya pada Sarah. Walaupun sedikit ilfil ngeliat kelakuan Sarah yang sedikit melenceng dari parasnya yang cantik.


"Santai, dong. Ga usah ngegas juga," balas Pram.


Dirinya terkejut. Sarah langsung megang hape dan menelpon Vanesa.


"Apa njir?" tanya Vanesa.


"Di depan gue ada Pram. Gue harus ngapain?" bisik Sarah di telpon


"Nungging, kayang, pura-pura kesurupan. YA MANA TAU GUE!!!!"


Sambungan terputus ....


Matanya menatap Pram. Bibirnya memasang senyum terbaiknya. Deg-degan banget kalau gebetan ada di hadapan.


"Eh, Pram. Ngapain di sini?" tanya Sarah. Cuma kalimat itu yang terlintas di pikirannya.


"Ada yang mau gua bilang ke lo, Sar." Pram berhenti di tengah kalimatnya Ia lihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang dengar.


Dada Sarah seakan mau pecah. Udah kepingin nungging-nungging kaya orang kesurupan. Mau loncat-loncat kaya monyet kelaparan.


Jangan-jangan Pram mau nembak gue ....


"Bilang apa, Pram?" Sarah semakin berharap. Tembak gue plis .... Baru kali ini gue ditembak cogan kaya elo.


Tangan Pram merayap ke tangan Sarah. Ia genggam dengan lembut. Genggaman mereka dingin banget gegara keringat dingin yang mulai bermuncratan.


"Sebenarnya ... gue ...." Pram lagi-lagi berhenti di tengah kelimatnya. Susah banget bicara sama gebetan sendiri.


"aaa?" tanya Sarah dengan menaikkan alisnya, trus mendekatkan jus mangganya. "Minum dulu, deh."


KAMPRET, CEPETAN TEMBAK GUE ....


Tanpa basa-basi Pram langsung meminum jusnya sampe abis. Seger banget, sampe Pram mendesah gitu. Bukan mendesah itu yaa, mendesah haus maksudnya. Matanya kembali menatap Sarah dalam-dalam.


Alis Sarah kembali naik. Harga jus bukannya murah, eh malah habis gara dia. Tapi ga apalah, yang penting untuk gebetan tercinta.


"Gue haus banget," kata Pram. "Oke, gue lanjutin ya .... Sebenarnya gue ........................"


NI ANAK MINTA GUE TAMPOL BIAR BICARA LANCAR ....


"Apaan, Pram ... Lo mau bilang apa?" kesabaran Sarah udah mulai abis. Dia lepas genggaman Pram. Tangannya geter-geter banget. Mungkin efek fokus UN. Soalnya kata senior, itu udah penyakitan anak kelas 12, suka geter-geter kalau UN mulai deket.


"Lo mau ga ...."


"????" Sarah semakin ga sabar buat mendengar kelanjutan kalimat Pram.

__ADS_1


"Duh, susah banget, yaa. Sory ...," balas Pram.


Sarah memasang ekspresi datar. Ni cowok cupu banget , ga punya nyali.


"Lo haus?" tanya Sarah.


Kepala Pram mengangguk pelan. "Iya, mungkin."


"MBAK, JUS MANGGA SATU. BAYAR MINGGU DEPAN ...," teriak Sarah kepada mbak-mbak jus. Ga apa-apalah ngutang lagi, yang penting ditembak sama Pram.


Beberapa menit kemudian, mbak-mbakya datang dengan jus pesanan. Tanpa basa-basi Pram langsung menggasak segelas jus manga di gelas.


Gluk ... gluk ... gluk, itu bunyi waktu Pram minum.


Sarah agak ilfil sih. Mau cepet-cepet ngeluarin mode huluk. Masa' ga ada wibawanya waktu lagi sama cewek kaya Sarah.


"Oke, lo bisa ngelanjutin kalimat lo ...."


Mata Pram kembali menatap Sarah dalam-dalam. Semakin dalam dan semakin dalam. Dalam hitungan ketiga, maka akan tertidur.


Pram akhirnya tertidur.


Pram beneran tidur di tempat.


"WOI, BANGUN!!!" teriak Sarah. Kesadaran Sarah udah ampir abis. Tingga menunggu kuda-kuda buat jurus tekwondonya ke Pram.


"Oh, gua ketiduran, ya." Telunjuknya mengucek-ucek mataya yang mengantuk. "Oke gua lanjutin, Sarah gue suka ...."


"Eh, lo mau bicara apa? Kalau ga penting gue pergi, nih."


"Sory, gua agak susah kalau yang beginian."


Seseorang datang dengan tiba-tiba. Mata bulatnya melebar dan senyumnya tertuju pada Pram yang lagi pegangan tangan sama Sarah. Kedatangannya tepat banget, akhirnya dia bisa ngegagalin aksi nekat Pram. Dia berdiri tepat di antara mereka.


"Pram, ntar malam jadi kan kita jalan?" tanya cewek itu ....


ANJIR, INI APA LAGI??????????????


Tangan Pram memegangi kepalanya.


KENAPA LO NANYA BEGINIAN DI WAKTU YANG GA TEPAT, SIHHHHHH?????


Gerombolan babi berlari menuju ke arah belakang sekolah. Suntuk udah menghantui mereka. Soalnya beberapa jam pelajaran ga ada yang masuk karena rapat di ruang majelis. Semuanya menghindar biar ga diseruduk sama Andi dan kawan-kawan yang haus akan tanah kebebasan mereka.


"SAGAGEYO!!!!!" teriak Andi sambil mengeluarkan tali-tali buat manjatin pagar.


"Aku takut karena diluar sana banyak titan!" kata Agus waktu manjatin pagar.


Mereka berdelusi kalau lagi di dunia anime yang ada titan-titannya gitu. Maklum, mereka wibu.


Felix merogoh koceknya dan mendapati sebungkus rokok. "Titan ga bakal tahan dengan ini."


Bang Satpamnya kan mudah disogok sama rokok. Kalau ketahuan cabut, trus sumpel aja mulutnya pake rokok beberapa batang dan mereka bakal bebas.


"SASAGEYOOO!!!!!" Agus melompat bebas ke sebelah pagar. Bunyi berdentum pertanda Agus udah mendarat dengan mulut. Kepalanya duluan.


"Felix, Nanang, giliran kalian. Aku bakal berjaga di sini," kata Andi. Tampak mereka mengangguk mengerti. Tetapi sebuah tempeleng datang dari Nanang.


"Eh, jancwk, ga usah ber-aku kamu. Biasa aja njir." Tangan Nanang memegangi tali buat manjat.

__ADS_1


"Yaudah, anjir. Manjat aja lo."


Nanang dan Felix udah sampai di sebalik pagar beton setinggi dua meter setengah. Sementara itu, Andi masih melihat ke sekitar biar ga ada orang yang lihat.


Di WC cowok ga ada orang. Setelah itu, Andi ke WC cewek. Eh malah kena tampol sama adik kelas. Sudah dipastikan operasi keberandalan mereka kali ini berjalan sukses.


Tiba-tiba ia mendengar suara cewek nangis. Andi jadi merinding, rumor-rumornya di area WC cewek banyak penunggunya. Kalau enggak genduruwo, ya kuntilanak. Mulutnya komat-kamit membaca ayat pendek buat ngusir suara tangisan cewek yang terdengar.


Semakin dibaca semakin keras suara tangisan yang terdengar. Hantu jaman now kayanya ga mempan dengan dibacain ayat pendek. Andi coba bacain ayat panjang kuat-kuat.


Eh, berhasil. Suara tangisannya berhenti.


Andi tertawa dan mulai memanjati pagar lagi. Tapi beberapa detik kemudian suara tangisan cewek itu terdengar lagi.


"Ini bukan suara hantu, ini suara cewek yang beneran nangis."


Ia berkeliling lagi untuk mencari arah tangisan. Alangkah terkejutnya ia melihat Sarah sedang menangis di area taman baca. Jiwa kelaki-lakianya akhirnya tergugah. Sebagai pejantan tangguh yang tahu memperlakukan wanita secara baik, benar, dan sistematis─dia udah baca di internet soalnya─kalau ada cewek nangis, kita harus menghiburnya.


"Andi," panggil Sarah dengan memelas. Imut banget, sampe-sampe Andi ampir mimisan.


"Lo kenapa─"


Tangan Sarah melingkar di tubuh Andi, memeluknya erat seakan tak inginkan ia pergi. Air mata Sarah kini menyesap ke seragam yang Andi kenakan. Andi tidak menolak, ia biarkan Sarah jatuh ke kepulakannya. Tangannya dengan ragu menyentuh rambut hitam kemilau Sarah.


Njir, punya Sarah empuk euyy .... Andi tersenyum licik. Memang ***.


Authornya memang suka ngancurin feeling reader yaa :v


Hahaha ... kali ini serius.


Tangisan yang pecah meluluhkan hati Andi yang selama ini membatu pada Pelukan yang melingkar, bagaikan hangatnya mentari di senjanya musim panas, nyaman, dan menyesap ke serat-serat memori terdalam. Dunia seakan berhenti sejenak, hanya berhiaskan udara senja dan tangisan seorang wanita.


"Lo kenapa, Sar? Bilang ke gua, siapa yang buat lo kaya gini?" tanya Andi.


"Gua sakit, Ndi. Sakit banget. Dia udah megang tangan gue trus gue yakin dia mau nembak gue."


"Ada yang mau nembak lo?


Pelukan Sarah nambah kuat kaya gorilla ngamuk. Andi jadi sesak napas.


"Aduh, jangan keras-keras, dong. Kerasa banget itu lo ...."


IYKWIM


Andi seketika kena gampar sama Sarah.


"Gua serius nih anjirr," balas Sarah sambil melepaskan pelukannya. Sentuhan tangan Andi terasa melekat di pipinya. Garis air mata yang memanjang di sapu dengan lembut oleh sentuhan jemari. "Waktu Pram mau nembak gue, trus Raisa datang buat ngingetin kalau mereka jalan ntar malam. Kan gue jadi malu karena udah berharap banget. Sakit digituin."


"Trus gue peduli apa?" tanya Andi sambil tertawa.


"Hibur gue kek ... buat gue seneng kek ... apa aja yang pentih gue ga sedih." Sarah duduk di atas meja bundar bermotif kayu-kayuan.


"Bagaimana kalau gue yang nembak elo ...."


....


HAAAAAA???????


***

__ADS_1


__ADS_2