Andi X Sarah

Andi X Sarah
37. Bully


__ADS_3


Bully



Wanita itu duduk termenung kursi pojok kiri depan kelas. Begitulah setiap hari tanpa ada banyak bicara, bahkan di hari tanpa belajar seperti saat ini. Andi paham, keadannya belumlah pulih sempurna. Masih banyak pertanyaan yang belum sempat terlontarkan padanya. Semua rahasia serta alasan yang belum Andi dapatkan.


Rasa canggung menyelimuti diri Andi saat ini. Tentu saja itu dimuali sejak kejadian itu. Andai saja ia tak naïf mengatakan hal bodoh yang disebut dengan pernyataan cinta itu padanya, semua ini tidak akan berjalan seperti ini.


"Sarah," panggil Andi dari belakang.


Tanpa diduga Sarah langsung pergi tanpa membalas sepatah kata pun. Sarah melangkah dengan langkahnya yang lemah. Seketika itu Andi menyusulnya dari belakang. Seakan tidak ingin dikejar, Sarah memperlaju langkahnya. Namun semua itu sia-sia, kakinya masih terlalu lemah untuk berlari. Rasa sakit masih ia rasakan.


"Berhenti, pliss. Jangan kejar gue lagi." Sarah berbalik badan.


"Sar, lo kok ngehindar dari gua?" tanya Andi. Ia tidak mengerti bagaimana sikap Sarah padanya.


Sarah tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Ia kembali berjalan ke depan dengan tanpa tujuan. Yang terpenting saat ini ialah menghindar dari pria itu. Semakin Sarah melangkah, Andi juga semakin mendekat. Tak lama kemudian, Andi menyentuh tangan Sarah.


"Oke, gua minta maaf jika lo marah karena gua suka sama lo. Tapi plis jangan ngehindar dari gua," kata Andi.


"Kenapa lo tega banget?" Ia melepaskan sentuhan tangan Andi darinya.


Andi menggeleng. "Tega kenapa?"


"Gue kira semua niat baik lo sama gue, semua perlakuan lembut lo sama gue merupakan hal yang seharusnya lo lakuin ke seorang sahabat. Namun, lo ternyata berharap lebih."

__ADS_1


"Gua ga pernah bermaksud buat ngehancurin itu, Sarah. Asal lo tahu─" Andi menarik napasnya dalam-dalam. "Pernah ga lo nyadar kapan cinta itu berawal? Ga seorang pun yang bisa menebak kapan pastinya dia datang. Cinta datang dengan sendirinya tanpa alasan dan sebab. Kalau lo ga suka, gua akan rela perasaan ini hilang buat memperbaiki semuanya. Lo jangan ngehindar dari gue."


"Terlambat, lo ngehancurin semuanya."


Sarah pergi tanpa dikejar kembali olehnya. Matanya sembab oleh perasaan yang selama ini bercampur aduk. Rasa bimbang dan ingin memiliki saling beradu ombak, berguncang, mengobrak-abrik hati yang sempat dipatahkan oleh orang yang pernah singgah dahulu. Sarah tidak bisa menahannya, air mata itu sungguh sulit untuk dibendung. Beban perasaan yang selama ini tersimpan **** perih di dalam sana. Bergulung keluar bagai pecahan pantai di garis barat, menetes dan mengalir ke ujung dagu.


Alasannya satu, orang yang lebih pantas dapetin lo bukan gue, tapi Tami. Tuhan menitipkan perasaan yang sama kepada kami berdua.


Batang tembakau bergemeretak tatkala Andi menyulutnya dengan pemantik. Asap mengawang ke udara dan menembus cahaya matahari senja. Wangi yang khas tercium dan meningkatkan gairahnya saat ini. Ia biarkan asap itu terbang bagai rasa sedihnya saat ini. Ia menghela napas sejenak dan menyelipkan batang rokok itu ke kedua jemarinya.


"Apa jangan-jangan gua kurang ganteng bagi dia, ya?" Andi mengeluarkan handphone-nya untuk berkaca. "Iya, nih. Gua kelingan dikit dari biasanya. Gara main bola siang-siang, nih."


Ia mengangkat tangannya kembali untuk menyulut rokoknya kembali. merokok di rooftop memang begitu nikmat. Ia dengan leluasa mengeluarkan asap tanpa ada satu pun yang bisa menciduk, kecuali penjaga sekolah sendiri. Soalnya cuma dia yang sering datang ke sini.


"Kampret, pake mati segala!" Andi kembali memantik rokoknya yang mati. Namun, pemantiknya tak kunjung mengeluarkan api. "Jangan kambuh di saat yang kaya gini, dong. Gua butuh api, nih!"


"Makasih," ucap Andi padanya.


"Sama-sama ... lagi ga akur sama Sarah? Gua lihat itu tadi," tanya Kevin. Ia mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Asap mereka mengepul menjadi satu hingga terbang terbawa angin.


Andi menunduk. Beban itu kembali ia pikirkan. "Kalau lo mau bahas itu, sebaiknya lo pergi aja."


"Santai, gua ga mau bahas itu. Gua mau ceritain sesuatu sama lo."


Bibir Andi kembali menjepit batang tembakaunya. "Oke, semoga aja dongeng lo itu bisa ngehibur gua kali ini."


Tubuh Kevin membelakangi matahari. Sinarnya terlalu indah untuk sore ini hingga menyilaukan matanya. Rokok yang sedari tadi menemani telah habis seperempat untuk sebuah percakapan yang sangat singkat.

__ADS_1


"Dulu, gua di-bully di SD. Uang yang gua bawa dari rumah malah habis sama berandalan SD waktu itu. Waktu istirahat gua sering kelaparan sendirian. Waktu itu gua ga punya cukup temen karena gua pendiam banget. Sampe-sampe Wali Kelas gua sendiri aja sering lupa sama gua. Dari sana gua sadar kalau gua ga bisa sendirian, gua harus mencari temen aliansi gua sendiri buat ngehadapin para berandalan *** itu."


Tawa Andi menggelegar. Ia tidak peduli jika cerita itu bukanlah sebuah kisah komedi yang harus ditertawakan.


"Hahahha ... sedih amat masa SD lo."


Kevin tersenyum. Ia menghela napas dan melanjutkan kalimatnya.


"Gua akhirnya mencari teman dan bertemu sama Revin. Revin ngenalin gua ke temen-temennya. Semenjak gua main sama mereka, berandalan itu ga pernah gangguin gua lagi karena gua udah ada dekingan yang kuat. Akhirnya gua main sama mereka dan terus sama mereka. Kami juga sering main ke kedai yang saat ini lo kenal dengan Kedai Mas Momon. Dari sanalah cikal bakal anak KODOMO yang lo tahu sampai saat ini. Lo ga bakalan bosan kan denger cerita gua?"


"Kayanya sejarah kelompok kalian bikin gua tertarik. Minjam mancis lo lagi."


Mancis dari Kevin berpindah tangan kepada Andi. Andi kembali membakar sebatang rokok untuk mendengarkan cerita dari Kevin.


"Lanjut ke SMP. Kami benci banget dengan namanya bullying. Itulah alasan dulu kami kami benci banget sama Anak Amak. Dulu kalian suka nge-bully."


"Oke, gua minta maaf akan hal itu. Kami ga ada nge-bully lagi. Karena tercantum pada Kode Etik keberandalan No. 6 tahun 2017, bully merupakan bentuk dari penjajahan. Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan."


"Sebagian besar dari kami saat itu masuk ke SMP yang sama. Waktu di SMP kasus bully makin parah, bro. Ternyata banyak temen ga memungkinkan kita kehindar dari bully. Gua makin di-bully. Sejak saat itu, kelompok kami sadar bahwa cara lembut ga mempan. Kami mulai kelahi dan berantem. Alhasil, itu berhasil buat nakutin para berandal SMP."


"Ternyata anak KODOMO garang banget, ya? Hahaha. Lanjutkan lagi."


"Suatu hari waktu gua kelas 3 SMP, gua bertemu sama satu anak kurus, tinggi, cungkring, bau, pake kacamata, jelek banget dah pokoknya. Tiap hari bawa bekal trus makannya sendirian di kantin. Gua merhatiin dia tiap hari dan nemuin kalau dia juga korban bully kaya gua dulu. Bekal dia sering dimintain, uangnya sering dirampas, kalau dia nolak dia bakal dihajar sama berandalan SMP. Sejak saat itu gua ngerangkul dia karena gua sadar kalau kami punya latar belakang yang sama. Kami korban bully. Lo tau siapa dia?"


Asap rokok Andi kembali mengawang tatkala Kevin melontarkan sebuah pertanyaan. Dahinya mengerut untuk menebak, tetapi tak lama kemudian ia menggeleng.


"Dia adalah Pram. Cowok keren bingitzz yang lo kenal sekarang."

__ADS_1


***


__ADS_2