
Ngambek
"Lo ngapain di sini?" tanya Andi ketika Naila tiba-tiba duduk di sampingnya.
Naila hanya duduk tanpa ditanya. Tumben-tumbenan ni anak mau satu duduk sama gue, biasanya selalu ngehindar. Andi memanjangkan lehernya, terlihat seluruh tempat duduk sudah lebih dahulu diisi oleh adik bimbingan dari kelompok lain. Teman-teman seangkatan yang juga jadi kakak pembimbing, juga sudah mengambil posisi. Bahkan, Ajis sudah memilih duduk bersama teman sekelasnya.
Tangannya menggeser tas kecil milik Andi yang isinya rokok dan vape beserta liquidnya. Tidak masalah sih kalau dia duduk di sini, tapi sebenarnya Andi lebih pingin sendiri dan bisa guling-guling di sisa bangku yang tidak diisi. Sudah bisa ditebak, sedari tadi tidak ada yang mengisi bangku di sampingnya karena sedikit segan kalau duduk di samping Andi. Eh, ni anak malah nyempil di sini.
Sepanjang perjalanan, Andi hanya mendengarkan lagu tanpa sedikit pun berbicara dengan Naila. Begitu pula Naila, dia sibuk main game PUBG di handphone miliknya. Maklum, dia kan gamer, jadi di mana aja bisa nyaman kalau main game.
"Mau?" tawar Naila kepada Andi.
Sebuah susuk indomiliki stroberi mendarat di paha Andi. Ia menatap sejenak kepada Naila.
"Lo hobi nyusu juga?" tanya Andi.
"Jangan ngeres, yaa ...."
"Siapa yang ngeres, lo itu kaya Sarah sama Tami. Hobi minum susu."
"Lo emang hobi nyusu?"
__ADS_1
Andi mengangguk pelan. Ia masukkan sedotan ke dalam susu dan mulai meminumnya. "Suka, apalagi dengan kemasan yang menarik."
"*** kau!"
Dua jam perjalanan akhirnya ditempuh menuju lokasi perkemahan. Udara pedesaan memasuki ruang paru-paru ketika masing-masing dari mereka membuka jendela bus. Hamparan sawah nan hijau memanjakan setiap pasang mata yang berdecak takjub. Senyum di bibir menyiratkan bahwa mereka tidak sabar untuk turun dan menikmati semua pemandangan secara langsung.
Andi masih aja molor dengan mimpi anehnya. Sarah bener-bener jadi huluk dan ngamuk waktu lawan godzila. Kota-kota hancur berantakan karena Sarah ngamuknya enggak pake tanggung. Aneh banget kan mimpinya.
Setengah sadar Andi membuka mata perlahan. Sayup-sayup Andi melihat sebuah saku dada sangat dekat jaraknya dengan wajahnya. Terlihat Naila sedang membenamkan wajahnya di jendela bus yang terbuka. Karena Andi molor mulu dan enggak mau disuruh minggir, jadi Naila terpaka ngedekatin tubuhnya ke Andi buat menikmati udara segar melalui jendela.
** kok ada susu* ..., ucap Andi dalam hati.
Susu??
***!!!!!!
Andi terbangun dengan wajah memerah. Naila yang terkejut, langsung menampol wajah Andi dengan sengaja. Terdengar Naila yang mengeluh sakit karena Andi telah mendorongnya ke depan.
"Aduh, maap Nai. Gue ga sengaja," ucap Andi sembari membantu Naila kembali berdiri.
"Kepala lo ga sengaja." Naila mengusap bahunya yang sakit. "Sakit tahu!!!"
Sekali lagi Andi di tampol sama Naila yang kesal.
"Yaa lo ngapain deketin dada lo ke wajah gue. Kan gue jadi takut," balas Andi.
__ADS_1
"Lo sih yang enggak bangun-bangun. Gue juga pingin kali ngelihat pemandangan lewat jendela,"
"Iya, tapi ga deket-deket juga kali," balas Andi lagi.
Naila kembali duduk sembari menundukkan wajah. Tidak ada kalimat darinya semenjak perkataannya yang terakhir. Andi yang tidak ingin berurusan lagi, hanya menutup wajahnya dengan sweater kembali berusaha molor. Lama kelamaan, Andi menjadi tidak tega karena terdengar isakan kecil dari Naila.
Ngelihat itu, batin Andi langsung tersentak. Baru aja dia bikin anak orang nangis. Andi jadi ga tahu mau berbuat apa waktu ngelihat Naila yang mengusap air mata menggunakan lengannya. Sebelum orang lain tahu, Andi berusaha menenangkan Naila.
"Nai, maap dong. Jangan ginilah ....merusak ekosistem pertemanan aja." Andi menyentuh bahu Naila yang sakit.
Bener sih, tadi Andi ngedorong Naila cukup keras. Sampe-sampe orang yang di depan juga terkejut merasakan hentakan dorongan itu. Andi merasa bersalah banget. Ga pantas dirinya melakukan tersebut terhadap wanita, apalagi dia adik bimbingan Andi.
"Sakit tau, lo ga ngerasain ...," balas Naila pelan. Ia berusaha menyingkirkan tangan Andi yang menyentuhnya.
"Gue reflek tadi, ga ada maksud buat sengaja, kok. Maap ya." Andi bener-bener ga tega ngelihat Naila yang nangis. "Plis jangan nangis lagi. Nanti lo balas deh gue, mau lo pukul gue pake balok, dorong ke mana kek, ke jurang kek."
"Bukan masalah balas-balasan. Tapi, tadi itu bener-bener sakit."
Andi kembali menyentuh Naila. Kini, emosi Naila sedikit lebih stabil. Enggak ada lagi air mata yang ngalir, tapi matanya tetep aja sembab.
"Udah, jangan lo dorong gue lagi!" balas Naila.
Andi hanya mengangguk tanpa menjawa. Hingga bus berhenti, tidak ada percakapan yang terajadi. Namun, Andi berusaha buat jadi gentle dengan ngangkatin semua barang bawaan Naila. Kalau bisa, Naila yang diangkatin biar dia enggak cape-cape jalan. Namun, ketika semua barang bawaan Naila udah dibawa sama Andi, tidak ada kata terima kasih sedikit pun. Hal tersebut menjadi pertanda bahwa Naila benar-benar tidak menyukai perbuatan Andi tadi.
Aduh, ni anak beneran ngambek, deh ....
__ADS_1
***