
Kejujuran, Andi selalu mengatakan mengenai hal sebenarnya kepada Sarah. Untuk permasalahan serius yang menyangkut hubungan mereka berdua, Andi tidak pernah sekali pun berani untuk bermain api. Ia tahu bahwa rasa percaya itu hanya sekali saja bisa dibangun. Ketika retak oleh kebohongan sedikit saja, maka hancur sudah seluruh rasa percaya yang selama ini mereka jaga.
“Sarah, gue sama sekali enggak ada janjian dengan Naila. Kami ketemu di sana enggak sengaja karena Naila juga mau beli sate Ajo. Lo pasti tahu kita juga sering ke sana buat makan. Tanyain aja tuh Ajo-nya, pasti dia bilang kalau gue baru ketemu Naila di sana baru sekali.”
“Baru sekali, ya? Berarti ada yang kedua atau yang ketiga kalinya?” tanya Sarah.
Wajah Andi tampak lemah tatkala Sarah mengucapkan hal tersebut. Dibalik sikapnya yang tidak ingin membahas hal itu kemarin, ternyata Sarah sangat mengkhawatirkannya.
“Sarah, lo kok ngomong gitu? Apa gue pernah sengaja ketemu sama cewek cuma buat bersenang? Kalau gue mau ketemu cewek, palingan buat tugas dan itu gue bilang dulu sama elo.”
“Janji lo enggak ketemu dengan dia lagi,” pinta Sarah.
Andi menggeleng. “Enggak, gue enggak janji karena dia teman gue.”
Wajah Sarah berubah padam. “Kenapa gitu?”
“Sarah … apa gue ngelarang lo ketemu Pram? Okelah gue kesel banget sama dia, bukan berarti gue berhak ngelarang lo temenan sama dia. Gue kesel sama dia bukan karena dia pengen ngedekatin lo, tapi karena memang dia ngeselin.”
Seketika Sarah tersenyum. “Ih, lo tambah dewasa aja.”
“Kan gue suka ngelihat film dewasa, jadi tambah dewasa.”
Tangan Sarah menekan dengan kuat hingga Andi kesakitan. “Giliran itu elo malah seneng!”
“Ya kan film dewasa enggak selalu perbo\`epan. Film horror juga dewasa karena enggak buat anak-anak, ya kan?” tanya Andi.
“Heheh … iya juga. Kapan-kapan nonton yuk, udah lama enggak nonton. Sekalian ajak Aisyah.”
“Ih … ngapain ngajak adek sendiri kalau pergi pacaran? Kaya dia enggak ada kerjaan lain selain jadi nyamuk di antara kita berdua,” balas Andi
“Dia punya pacar ga?” tanya Sarah.
Andi mengangkat bahunya. “Entahlah, gue enggak tahu. Kayanya anak pesantren ngehindar jadi pacaran. Dia mau yang pasti-pasti aja, yang langsung ngelamar.”
“Ya, lo berarti bukan orang yang punya kepastian, dong?”
“Kenapa?”
“Lamar gue ….” Nada Sarah bercanda.
“Iya, nanti malam gue ngelamar lo. Seminggu lagi kita nikah. Terus gue kasih makan apa lo wahai anak mantan Pak RT?!”
“Ya kan Tuhan yang ngasih rejeki. Masa takut,” pancing Sarah.
“Iya sih memang Tuhan yang ngasih rejeki, tapi enggak Tuhan langsung yang nyuapin nasi, kan? Gue yang nyuapin nasi ke mulu lo.” Andi menggeleng-geleng karena percakapan mereka udah sampai ke Tuhan. “Ah, jangan bawa-bawa Tuhan deh. Jadi inget dosa gue.”
__ADS_1
Sesi relaksasi tangan Andi sudah selesai. Ia merasakan perubahan yang baik pada tangannya karena sudah hampir bisa digerakkan secara sempurna. Sensasi hangat dari balsem yang turut Sarah campurkan telah mengurangi rasa nyeri bagi Andi. Ia sangat berterima kasih karena Sarah telah ingin melakukan ini untuknya. Enak juga punya tukang pijit pribadi.
“Kalau lo kira mijitin tangan lo gratis, maka lo salah. Bayar dong.”
“Mending gue ke pijat remang-remang walaupun bayar.”
“Ih, \*\*\*\*\*\* lo ya. Sini gue smekdon.” Sarah mengengkol motor gedenya. “Bayarin gue nonton besok.”
“Iya, tenang … gue bayarin lo nonton.” Andi melambaikan tangan. “Da da, hati-hati di jalan.”
“Iya, Sayang. Love you ….”
“Love you too ….”
Sarah kembali pulang ke rumah dengan motor yang memekakkan telinga. Preman-preman warung pun ngelihatin Sarah yang datang kaya ngajak tawuran. Untung aja mereka tahu kalau itu Sarah, jadi enggak mau macam-macam. Selain Sarah serem, mereka tahu kalau Sarah merupakan pacar dari Andi. Sesampainya di rumah, Andi melihat ada mobil Avazna warna hitam terparkir di depan rumah. Dari stikernya yang ada di belakang mobil, Sarah mengira kalau mobil tersebut merupakan mobil travel. Ia mengangguk kagum waktu ngelihat velk dan knalpotnya cukup terbilang mahal. Menurutnya, pemilik mobil pasti suka modif-modif mobil.
“Samlekom, Sarah pul⸺” Sarah ngelihat ke kanan, tepat di kursi tamu. Ternyata itu temen kampusnya Sarah yang lagi datang.
“Eh, elo Aslan. Kenapa bisa di sini?” Sarah heran kenapa pria itu bisa ke rumahnya.
Aslan merupakan ketua kelasnya di Jurusan Kedokteran. Sebagai teman sekelas, Aslan cukup akrab dengannya, tetapi aneh sekali jika Aslan turut datang ke rumah.
“Maaf gue datang tiba-tiba, gue tadi di-chat sama Dokter Turan, dia minta data mahasiswa yang kemarin, terus dimasukin ke flashdisk punya dia. Dia bilang flashdisk-nya sama elo sekarang.”
Alsan memicingkan mata karena merasa aneh. “Lah kok bisa ngopy game sama bapak itu?”
“Dia punya banyak game klasik yang dulu waktu kecil-kecil kita mainin. Jadi, gue minta aja.”
“Haha … ternyata lo sedekat itu dengan Dokter Turan.” Aslan masih tertawa kecil.
“Bentar ya gue ambuil dulu flasdisk-nya ….”
Sarah melangkah ke kamar, tetapi dicegat sama papanya waktu di pintu. Dengan kumis naik turun, Sarah diintrogasi mengenai siapa gerangan cowok tersebut.
“Sarah, itu cowok katanya temen kamu. Kamu selingkuh ya? Udahlah dia ganteng, mobilnya keren juga.”
“Apaan sih Papa, segitu aja dibilang ganteng. Mobilnya itu kek mobil travel antar provinsi malah dibilang keren, biasa aja kali.” Sarah tidak jadi menutup pintunya. “Dia itu temen sekelas Sarah. Ada urusan tentang tugas.”
“Oh, gitu … dia bilang kalau dia juga pelihara burung.”
“Iya dia juga punya burung kaya punya papa.”
“Lah kok tahu, pernah lihat memang?”
“Ya pernahlah Papa, Sarah kan pernah ke rumahnya dia.” Sarah jadi ilfil ngelihat wajah papanya Sarah yang senyam-senyum enggak jelas. “Apaan sih Papa pikirannya udah kaya Andi.”
__ADS_1
“Hahah … Papa bercanda. Yaudah … kamu selesaikan urusan kamu sama dia terus buatin minum. Masa tamu enggak disuguhi minum.”
“Iya Papa sayangku, terbaikku, ter ter ter pokoknya.”
Sarah menyalin semua file mahasiswa yang diminta oleh Aslan ke flashdisk tersebut. Aslan diminta untuk menunggu sebentar lagi karena Sarah akan membuatkan teh manis untuknya. Tidak lupa Sarah mengganti celana jadi rok panjang karena sedari tadi Sarah hanya memakai jeans robek-robek. Sebagai informasi, Sarah sangat menjadi feminim ketika berada di fakuktas. Ia sengaja menjaga sisi lain dari dirinya itu untuk beradaptasi di pergaulan fakultas yang sangat memilih-milih teman.
“Silahkan di minum ….”
Aslan heran melihat tampilan Sarah yang berubah. “Kok ganti jadi rok?”
“Aneh aja kalau orang dari kampus ngelihatin gaya gue kaya anak metal. Hahah …”
“Biasa aja kali, pede aja sama penampilan sendiri.” Aslan menyeruput teh hangat tersebut. “Gue kaget juga lo punya motor trail keren begitu. Biasanya pakai gojek kalau ke kampus atau dianterin sama cowok lo.”
“Males aja dikirain caper sama yang lain. Gue itu jijik tahu sama pergaulan anak kampus. Dikit-dikit aja ngegosip.”
“Cowok lo anak mana?” tanya Aslan.
“Anak Penjas. Kita juga satu univ kok.”
“Oh gitu, anaknya keren kayanya,” puji Sarah.
YA IYALAH … COWOK GUE! Sarah berbangga di dalam hati. Tapi, dia merasa aneh kenapa nih anak nanya-nanya mulu dari tadi tentang diri Sara.
“Enggak juga sih, biasa aja kek cowok-cowok yang lain.”
“Menurut gue dia keren sih. Setidaknya good looking.” Aslan menatap wajah Sarah. “Lo pergi sama siapa ke pesta ulang tahun Kak Razel?”
Seminggu kemarin Sarah mendapatkan undangan ulang tahun dari salah satu senior famous di fakultasnya. Ia kenal dengan senior tersebut berkat keaktifannya di organisasi pada awal-awal kuliah. Sampai sekarang, Sarah masih terbilang akrab dan sering nongkrong bersama di fakultas.
“Belum, sih.”
“Sama gue mau?”
Sarah terdiam sesaat.
“Hmm … kayanya gue sama temen-temen cewek yang lain deh. Mereka belum ngajak aja.”
“Oh gitu ….” Aslan berdiri sembari membersihkan bibirnya dengan selembar tissue. “Oke, terima kasih banget, Maaf udah ngerepotin lo sampai bikin teh segala.”
Sarah menyambut salaman dari Aslan. “Santai aja, hati-hati di perjalanan.”
“Thanks sekali lagi. Setelah ini gue langsung ke rumah Dokter Turan.”
Sarah memerhatikan pria itu sampai benar-benar meninggalkan rumahnya. Ia pun menggaruk kepala karena bingung. Gimana bisa dia tahu rumah Sarah sementara Sarah sangat menutupi tentang kehidupan pribadinya. Bahkan, Sarah merubah penampilannya menjadi feminim ketika di fakultas. Parahnya lagi, Aslan sampe berani ngajakin Sarah pergi berdua ke pesta ulang tahun Kak Razel.
__ADS_1
\*\*\*