
Ada seorang anak kecil yang dulunya menangis karena peliharaan ikannya sudah mati. Gadis kecil itu tinggal di samping rumah Andi. Andi sama sekali tidak mengenal gadis itu semenjak ia tinggal di rumahnya. Gadis itu sama sekali tidak pernah keluar rumah dan Andi heran kenapa ada orang yang tidak ingin main keluar. Saat itu Andi pun sadar kenapa kulitnya waktu bocil dalam keadaan kumal karena main panas-panasan, beda sama gadis yang ada di samping rumahnya.
Gadis itu bernama Tami. Perkenalan mereka berawal dari tangis Tami yang meratapi ikan guppy hitam berekor merah kekuning-kuningan. Orangtuanya sudah berusaha untuk membelikannya ikan yang baru, tetapi Tami tetap merengek karena merasa ikannya berbeda warna dengan yang ia punya sebelum itu. Sangat sulit sekali mencari mencari ikan yang sama rupa secara warna dan Tami terus saja merengek untuk ikan yang sama.
“Mama … anak tu manja kali,” ucap Andi sedikit keras.
Sontak saja kalimat itu berujung dengan cubitan di pinggang Andi. Andi mah nyebutinnya dengan keras padahal Tami dan kedua orangtuanya berjarak hanya semeter.
Kamar Andi masih tetap sama sejak ia kecil, yaitu di lantai dua yang berhadapan langsung dengan pekarangan belakang rumah Tami. Ia selalu melihat Tami berlarian mengejar kucing sendirian, serta bicara sendiri dengan boneka-boneka faforitnya. Namun, semenjak tragedi tewasnya ikan Tami yang tragis, yaitu dalam keadaan perut pecah, Andi tidak lagi melihat Tami main di halaman belakang. Ya gimana enggak pecah itu perut karena dipaksa makan terus sama Tami.
Andi anak si petualang memiliki banyak teman di masa kecilnya. Mulai dari teman SD, teman madrasah agama, teman di komplek, teman seberang komplek. Salah satu teman yang ia kenal ialah Memet. Memet merupakan pentolan bocil di daerah belakang komplek. Jadi, satu komplek itu para bocil biasanya takut sama Memet karena badannya lebih besar dari orang seusianya. Perkenalan antara Memet dan Andi pun tidak mulus, yaitu kelahi waktu ngejar layangan. Mereka berebut siapa yang berhak mendapatkan layangan putus itu. Akhirnya mereka nyemplung di comberan waktu gelud berdua dan dismekdon sama orangtua masing-masing waktu di rumah gara-gara pakaian mereka kotor.
Andi tahu kalau Memet suka mancing di anak sungai yang ada di sekitaran sungai. Hubungan mereka waktu itu biasa saja tanpa ada sentiment mengenai layang-layang lagi. Andi memberitahukan kalau ada gadis kecil yang merengek guppy-nya mati dengan keadaaan tragis. Waktu Andi nyebutin ciri-ciri ikan yang dimaksud, mereka langsung mengarah ke comberan gede yang isinya ikan guppy liar. Dengan tangguk pancingan bapak Memet, mereka mendapatkan banyak ikan di sana. Saking banyaknya, mereka jadi tukang ikan yang jualin sama para bocil komplek dengan harga seribu rupiah untuk dua ikan.
Ikan dengan ciri tersebut didapat, Memet dan Tami datang ke rumah Tami yang gede itu. Memet dan Andi pun bingung waktu masuk rumah Tami yang mewah. Dengan kaki masih bau comberan, mereka duduk di ruang tamu sambil bawa plastik yang isinya beberapa ikan dengan kesamaan ciri. Tami jadi senang dan mereka berkenalan satu sama lain.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah dilupakan oleh Memet, yaitu pelukan Tami untuk pertama kali. Meskipun Memet bau matahari karena abis main panas-panasan, Tami tidak segan-segan berterima kasih dengan memeluknya, termasuk Andi juga. Mulai saat itu. mereka bertiga sahabat yang tidak dipisahkan. Mereka main sama-sama, mandi sama-sama, bahkan kena marah sama-sama. Masa kecil yang menyenangkan begitu dikenang oleh Memet karena hanya saat itu mereka seakan tidak ada dinding pembatas.
Andi tersenyum mengenang masa-masa itu sambil merokok di jendela kamar. Dengan sebuah kipas angin yang mengarah ke jendela, asapnya tidak menyebar luas ke seluruh kamar. Namun, darahnya seketika berdesir ketika seseorang membuka pintu kamar. Andi sigap membuang rokoknya keluar rumah, Andi harus bangun cepat buat membuang puntung rokok itu esok hari agar tidak diketahui mamanya.
“Andi, kamu ngerokok di kamar?”
Ternyata orang itu ialah Tami. Andi merasa lega karena bukan mamanya. Ia memilih di jam-jam tengah malam untuk merokok di kamar karena mamanya sudah tidur. Sedangkan Aisyah, anak itu selalu mengetuk sebelum masuk kamar. Kebetulan saja malam ini lupa mengunci pintu.
Andi menatap jam dinding. “Udah jam satu malam, kok belum tidur?”
“Lagi susah tidur.” Tanpa basa-basi, Tami berbaring diranjang Andi. “Kamar kamu selalu berantakan.”
__ADS_1
Menatap Tami yang berbaring di kamarnya, Andi jadi nelen ludah. Gimana enggak nelen ludah karena Tami hanya mengenakan daster tipis dan bahkan cenderung transparan. Bening dan mulut kulit Tami udah kaya cewek Jepang yang Andi tonton di berbagai video. Video apa, ya author juga bertanya-tanya kepada Andi. Andi enggak mau ngasih tahu. Pokoknya saat ini Tami udah kaya minta dieksekusi.
“Kalau gue rapiin, kadang gue lupa di mana aja barang-barang gue. Kalau begini, gue ingat semua.”
“Udah dua malam di sini aku ngerasain hal yang beda,” ucap Tami.
“Hal yang beda gimana?”
“Ya … aku ngerasain ramai aja setiap hari. Ada Tante yang nyiapin makan dan kita makan sama-sama, kalau pulang kerja aku selalu bantuin tante masak, ada Aisyah yang main sama aku, dan kadang aku senang dengerin kamu diteriakin Tante.”
“Haha … lo kok malah seneng gue dimarahin sama Mama?” tanya Andi.
“Ya … aku kaya udah lama aja enggak dimarahin sama orangtua. Mungkin orangtua aku enggak segarang sama mama kamu yang sampe teriak dari lantai bawah. Orangtua aku lebih kaya ngasih nasihat biasa aja. Tapi, aku udah ngerasa takut.”
“Kalau aku tinggal di sini selama sebulan, kayanya aku pandai Bahasa Minang, deh.”
Andi pindah ke samping Tami, lalu berbaring samping-sampingan. Bukankah mereka dahulu sering melakukan itu? Tapi entah kenapa kalau sekarang ada perasaan canggung. Bertambah dewasa menjadikan hal yang biasa tidak lagi sebagaimana dahulu.
Tatapan mereka sama-sama mengarah ke langit-langit.
“Lo bisa tinggal di sini. Kan dulu orangtua lo nyuruh tinggal di rumah gue, tapi gue enggak ngerti kenapa lo malah nolak.”
“Hmm … gimana ya. aku enggak mau manja aja. aku iri ngelihat kamu yang bisa ke sana kemarin tanpa segan, aku iri ngelihat Sarah yang bisa ngelakuin apa aja yang dia mau, dan aku iri ngelihat Aisyah yang bisa banyak hal.”
“Iri itu enggak boleh ….” Andi mengelus ubun-ubun Tami.
__ADS_1
“Ya itu semua gara-gara aku selalu dimanja semenjak kecil. Aku jadi canggung kalau ngelakuin hal yang enggak biasa aku kerjakan. Tapi, semenjak tiga tahu lebih enggak sama orangtua, aku jadi bisa banyak hal.”
Andi menghela napas panjang. “Tami ….”
“Iya?”
“Lo canggung ga kalau kita kaya gini? Maksud gue, mana ada cewek-cowok yang baring begini kalau bukan pacaran. Ya bukan gue ngatain kalau hal begini adalah hal yang wajar bagi orang pacaran. Lo sendiri lah.”
Tami menatap wajah Andi. “Aku mengenal Andi itu masih kaya bocil yang dulunya manggil nama aku di sore hari buat pergi main. Di saat itu juga kamu pasti enggak mikir apa-apa kalau kita begini. Begitu pula sekarang.”
“Haha … lo kadang lupa kalau gue juga cowok.” Andi duduk kembali. “Tapi makasih udah berpikir seperti itu. Lo memang sahabat gue berarti.”
“Iya, kamu temen pertama aku. Kalau ada apa-apa, aku pasti ngasih tahu ke kamu. Padahal, aku juga kenal Sarah atau pun Aisyah.”
“Tapi … lo ngelupain satu orang.”
Tami bangkit dari posisi baringnya. “Siapa?”
“Memet. Dia sahabat kita, kan?”
“Memet … hmmm ….”
“Ada apa?”
“Enggak ada. Dia memang sahabat kita.”
__ADS_1
Tangan Tami mengelus rambut Andi, tanpa bercerita sedikit pun kisah di antara dirinya dan Memet.
\*\*\*