Andi X Sarah

Andi X Sarah
49. Clara (SEASON 2)


__ADS_3


Clara



Hari pertama dimulai semenjak Andi membuka mata di pukul tujuh pagi. Bukan menjadi waktu biasa baginya untuk bangun. Dingin begitu menyusuk, ia kembali menarik selimutnya dalam-dalam. Lelapnya kembali tiba tatkala menutup mata. Semakin dalam dan semakin dalam, hingga seseorang membangunkannya.


Tubuhnya bergoyang tatkala tangan seseorang mendorong bahunya. Nyawa yang tadi berkenala seketika kembali menyatu untuk membuka mata. Sayup-sayup matanya menatap seseorang yang tengah menenteng cangkir di jemari. Senyum tipis itu menyesap dalam dingin yang mencekam, membelalakkan mata Andi untuk semakin bangun. Cantik serupa dengan mata bulat berbulu mata bergulung.


Tawanya timbul tatkala Andi menggeliat dengan suara rendah. Semakin ia tarik selimut menjauh dari Andi. Pria ini akan semakin lekat dengan ranjang apabila dibiarkan.


"Andi jagolah lai," ucap wanita tersebut.


Andi, bangunlah lagi.


Andi mengucek mata. Dengan jelas seorang gadis yang mungkin saja seumuran dengannya menatap Andi yang tengah berbaring.


"Sia ko?" tanya Andi.


Siapa ini?


Ia kembali tersenyum tipis. Tanganya melipat selimut dan merapikan letak bantal yang berantakan.


"Ini Clara, masa dah lupa?" Ia berganti berbahasa Indonesia, namun tetap menyisakan logat Minang yang kental.


"Clara siapa?" tanya Andi kembali.


"Hahaha ... ayo sarapan, kamu masih belum bangun."


Langkah Andi menuju ke meja makan yang tersedia makanan rumahan. Terlihat Nenek yang baru saja masuk dari pintu belakang dengan memakai topi jerami khas petani. Tangannya terpakai sarung tangan yang dipenuhi oleh noda tanah. Peluhnya berbulir jatuh di wajah.


"Andi!!!" panggil neneknya.


"Nenek ...."


Andi menyalami neneknya. Namun, wanita tua tersebut tidak cukup untuk melepas rindu. Andi dipeluk olehnya sesaat.


"Lah gadang cucuang ambo kini ...." Nenek memegangi kedua bahu Andi.


Udah besar cucu saya sekarang ....


"Iyo Nek, Alhamdulillah."


"Makanlah dulu, nenek masih ada kerja ni. Clara alah masak tadi ...."

__ADS_1


alah\= udah


"Iya, dimakan nanti nih."


Clara tertawa melihat Andi dengan wajah keheranan. Andi masih belum tahu siapa Clara tersebut.


Sembari menyendok nasi ke piring, mata Andi terpana melihat rendang yang berkuah kental hitam sempurna. Otentik dimasak oleh orang Minang di Ranah Minang. Bumbu yang langsung dipetik dari tanah kelahirannya. Tentu saja rendang kali ini terasa lebih nikmat dan tidak KW alias original otentik Minang.


"Nio kopi atau teh?" tanya Clara di dapur.


Mau kopi atau teh?


"Kopi se lah ..."


Kopi aja lah


Tepat seperti dugaan Andi, rendang kali ini sangat nikmat. Porsinya seperti porsi makan siang biasa, padahal selama ini ia paling malas sarapan dengan jumlah besar. Paling banyak cuma tiga suap nasi atau sepotong roti.


Secangkir kopi hitam pekat datang di hadapan Andi. Matanya masih tertuju kepada Clara yang beranjak pergi. Ternyata begini, gadis Minang itu memang menarik. Cantik tidak sekedar cantik, wibawa yang ia tampakkan begitu kental berkat budaya matrilineal keluarga Minang. Perempuan Minang selalu diunggulkan dalam segala aspek.


Clara tiba dengan sebuah foto tua di tangannya. Ia duduk di samping Andi dan menunjukkan foto tersebut.


"Tebak siapa bayi lucu ni?" tunjuk Clara.


Mata Andi memicing sesaat. Seorang bayi yang Clara tunjuk sedang digendong oleh mamanya yang masih muda.


Clara menggeleng. Tangannya bergeser kepada bayi yang yang turut digendong oleh seorang wanita di samping. "Salah ... kamu yang ini."


"Hahah ... jadi ini siapa?" Andi menunjuk bayi yang ia kira adalah dirinya.


"Itu Clara yang lagi digendong sama mama kamu. Dan Andi lagi digendong sama bundanya Clara."


"Ah, masa?" Andi mengambil alih foto tersebut untuk melihat foto kecilnya dengan seksama.


"Iya, gaek kita dulu bekawan."


Gaek\= orangtua


"Sumpah, ndak ingat aku do. Makanya aku heran waktu Clara bangunkan aku di kamar."


Clara mengambil kembali foto tersebut.


"Clara tahu kok. Kita udah lama kali enggak ketemu. Clara juga enggak ingat gimana muka Andi. Cuma dikasih tahu lewat foto aja dua hari yang lalu. Hahaha ...."


"Jadi kamu di sini?" tanya Andi.

__ADS_1


"Oh itu, akhir-akhir ini Clara sering diminta sama Ayah untuk menjaga Nenek. Yaa seperti memasak., cuci baju, nyapu. Kamu tahu sendiri kan, Etek sama Pak Uwo rumahnya jauh."


Andi menangguk. "Oh gitu, makasih banyak ya."


Nenek kembali datang dari pintu belakang. Tangannya membawa dua ikat sayur bayam dan menunjukkannya kepada Andi.


"Iko lah karajo nenek tiok hari. Bakabun, kadang maagiah makan ayam di sampiang, untuang se ado Clara di siko. Tabantu nenek dibueknyo," ucap Nenek sembali mengelap keringat.


Ini lah kerjaan nenek setiap hari. Berkebun, kadang ngasih makan ayam di samping. Untung aja ada Clara di sini. Terbantu nenek dibuatnya.


"Oh iyo Nek, Clara pai ka pasa lu." Clara berdiri dari tempat duduknya.


Oh iya, Neh. Clara pergi ke pasar dulu.


"Pai lah samo Andi," pinta Nenek.


Pergi aja sama Andi


"Indak ba'a do Nek," Clara menolak.


Enggak apa-apa Nek


"Enggak apa-apa kok. Aku ikut aja Clara," sambung Andi.


Mendengar itu, Clara tersenyum dan mengambil tas jerami yang tergantung di dinding. Setelah mandi, Andi mendapati Clara sedang menunggu di bawah pohoh jambu yang sedang berbunga. Ando tertawa, banyak serbuk bunga yang jatuh di rambut Clara.


"Rambut kamu," tunjuk Andi.


"Oh ini ...." Tangan Clara menggeraikan rambutnya.


"Ayo, pergi ...."


Clara tersenyum.


"Pasarnya jauh, enggak mungkin jalan kaki. Pakai itu."


Matanya takjub menatap motor GL modifikasi terparkir di samping rumah. Mulus dengan cat chrome yang mengkilap. Lingkar ban yang besar menambah sensasi sendiri pada motor tua tersebut. Andi menangguk, tidak sabar untuk segera mengendarainya,.


Satu engkolan motor hidup menggelegar. Mesin pagi yang dingin, ia panaskan beberapa saat sembari mengegas berkali-kali. Suara motor terdengar gahar dan ganas. Beda kasta sama motor Andi di rumah.


"Ayo naik."


Clara tidak menjawab. Ia selalu tersenyum di akhir pembicaraan. Sembari malu-malu, tangannya melekat di pinggang Andi. Semakin erat tatkala motor melaju kencang, semakin dekat jarak di antara mereka seiring waktu. Hingga tidak sadar, Clara memeluk Andi.


Andi tersenyum.

__ADS_1


***


__ADS_2