Andi X Sarah

Andi X Sarah
133. Melanggar Janji (2) (SEASON 3)


__ADS_3

“Emangnya lo berani?” Fajri mendekatkan wajahnya.


“Gue yang nentuin tempat atau elu?”


Fajri tertawa mendengar tantangan Andi. Ia merasa sangat terhina dengan kalimat tersebut hingga menyeret Andi untuk menaiki tangga. Pergilah mereka ke WC lantai tiga bangunan tersebut karena relatif lebih sepi atau bahkan tidak ada yang ingin buang air di sana, terkecuali anak-anak maba yang kuliah paling sore. Andi tetap mengikuti Fajri ke sana, hingga berbelok ke dalam wc. Terdapat beberapa orang yang menjaga di luar, sementara itu Fajri dan Rizky berada di dalam sana.


“Sekarang apa?” tanya Andi.


“Menurut lo aja?!”


Tepat di perut, Andi terkena pukulan telak yang tidak mampu ia hindari. Tubuhnya langsung terbungkuk karena napasnya yang tertahan. Ia pernah merasakan pukulan seperti ini sebelumnya tatkala berkelahi dengan Dandi. Pukulannya hampir sama kuat, terlebih lagi di titik yang sama. Andi berusaha sekuat mungkin untuk bangkit, tetapi Fajri malah menendang Andi tepat di dada. Terhempaslah dirinya ke dinding bawah wastafel hingga kepala Andi terhempas ke sana.


“Gue kira keras, ternyata kertas ….”


Dengan satu mata Andi menatap Fajri karena ia harus menahan perihnya hulu hati yang sedang bermasalah. Tidak peduli mengenai siapa yang ada di depan, sebisa mungkin Andi menendang terhadap pria itu, tetapi masih bisa ditangkis dengan begitu mudahnyaa. Rizky di sana hanya tertawa-tawa saja melihat Andi yang seperti sedang dihabisi oleh Fajri.


“Lo ga mau ketinggalan mangsa?” tanya Fajri kepada Rizky. Andi menduga jika kedua pentolan senior masing-masing jurusan ini merupakan teman dekat.


“Ya maulah, masa enggak.” Ia melakukan pemanasan pada tangannya. Terdengar bunyi gemeretak antar sendi sebelum ingin menghantam Andi.


Perut Andi masih belum normal. Pukulan Fajri seperti seorang petinju, terlihat dari ancang-ancang tangan dan kuda-kuda pada kakinya. Titik tumpu yang tepat sangat berpengaruh terhadap daya serangan, sehingga sempurna sekali serangan dari Fajri tadi.


Giliran kepala Andi yang dipukuli oleh Rizky. Sembari memulihkan tubuh, Andi menutupi wajahnya dengan tangan. Masih bisa ia atasi karena pukulan Rizky cukup lemah baginya dibandingkan tangan Fajri. Andi melihat pandangan Rizky yang lengah. Ia memanfaatkan dengan menembak paduka raja pusaka milik Rizky menggunakan ujun sepatu hingga ia mundur tiga langkah ke belakang. Beteriaklah Rizky karena rasa sakit di ************ tersebut. Andi berharap malah pecah, tetapi nanti Rizky bisa mati.


“Sekarang giliran elo ….”


Andi bangkit dengan gagahnya, seperti bangkit dari kubur. Tadi kondisinya sangatlah memprihatikan. Menegakkan tubuhnya saja susah minta ampun. Setelah kondisi perutnya sudah normal dan ia bisa bernapas dengan baik, Andi menyiapkan kuda-kuda untuk menerima serangan dari Fajri. Ia perhatikan bagaiman lawannya bersikap ketika bertarung. Jelas sekali jika Fajri berlatih kick boxing. Andi tahu itu karena sering melihat pertarungan MMA di televisi setiap malam dan kental sekali irama tubuhnya tatkala melakukan serangan kepada Andi.


“Ayo maju duluan ….”


Andi mengingat bagaimana pengalaman bertarung jalanan selama ini. Jarang sekali ia bertarung dengan seorang pengguna bela diri tertentu. Kali ini ia melihat Fajri sebagai lawan yang berada di atasnya. Oleh karena itu, Andi mengincar satu titik fital, yaitu tepat di bawah dada.

__ADS_1


Berkali-kali Andi mencoba menyerang bagian tersebut, tetapi Fajri masih bisa mengelak atau pun menepis menggunakan serangan balik. Andi malah terpojok ke bilik WC dan hampir terduduk di atas kloset. Beruntung Andi diberi kesempatan untuk keluar dahulu, tetapi hal itu hanya menjadi penghinaan karena maksud sebenarnya dari Fajri untuk merendahkan.


“Lo bisa tarung ga sih?” Fajri kembali memasang kuda-kudanya.


Satu tinjuang tipuan membuat Andi mengelak, hanya saja ia disambut oleh tangan lainnya. Terpukul pelipis Andi hingga ia harus mundur selangkah. Tidak sampai disitu, ujung kaki Fajri hampir saja mengenai perut Andi. Ia berhasil menepisnya, lalu mendorong Andi hingga terjatuh.


Andi mencoba menghimpit tubuh pria itu karena secara beban tubuh, Andi lebih unggul. Namun, Andi malah bergidik ngeri tatkala melihat Fajri yang tersenyum.


“Lo salah kalau berkelahi begini dengan seorang yang makai kick boxing ….”


Dengan mudah Andi diputar posisinya sehingga kini ia yang di bawah. Fajri pun segera melakukan kuncian terhadap tangan Andi sehingga Andi mengerang hebat karena sakit yang ia rasakan. Posisinya sama persis kaya adegan-adegan di pertarungan MMA. Barulah Andi sadar kalau apa yang ia lihat selam ini sangatlah berbahaya.


“LEPASIN!” seorang wanit datang menghampiri. Terdengar tangkai sapu yang terhempas ke lantai tatkala ia memukul Fajri.


Mereka berdua mendongak ke atas, ternyata itu Tasya yang sedang marah terhadap kelakuan mereka. Fajri segera melepas kunciannya kepada Andi. Andi segera menghindari Fajri yang hampir saja mematahkan tangannya. Sementara itu, Rizky masih megang barang pusakanya yang diserang dengan brutal oleh Andi.


“Kalian ngapain sih?!” Tasya sigap berada di depan Andi untuk melindunginya. “Kalian ngapain sih?! Kaya anak kecil apa?!”


“Dia bukan pacar gue,” balas Andi.


“Bukan masalah pacar atau bukan, tapi apa yang kalian lakuin ini berbahaya.” Tasya menekan logo BEM Fakultas yang tersablon di baju kemeja Fajri. “Lo itu nyadar Fajri! Lo itu anggota BEM!”


“Tanyain sama dia kenapa gue giniin dia,” pinta Fajri.


“Gue ga terima alasan apa pun, yang penting kalian berdua sama-sama salah!” protes Tasya. Ia menunjuk Fajri dan Andi secara bergantian. “Sekarang kalian pulang!”


“Awas lo nanti kalau ketemu sama gue lagi. Gue abisin lo!” Jari tengah Fajri lansung terpampang untuk Andi.


Andi hanya diam saja karena sadar posisinya kali ini kalah telak. Hatinya sangat kesal kenapa tidak bisa mengimbangi pertarungan tadi. Berkali-kali serangannya berhasil dihindari dan tubuhnya menjadi bulan-bulanan pukulan Fajri.


Kini, perhatiannya beralih kepada Tasya. Wanita itu memandangi dirinya yang bengkak di bagian pelipis. Sentuhan tangan Tasya membuat matanya melebar. Begitu perhatiannya wanita itu padanya, bahkan pada setiap sikap yang dengan jelas jika Andi menolaknya. Tidak bercelah sedikit pun paras cantik dari Tasya. Bagaikan seorang bidadari penyelamat, kini Andi terpaku menatap wanita itu.

__ADS_1


“Lo ga apa-apa?”


Fokus yang sempat hilang, kin kembali terkumpul. Ia mundur selangkah dari Tasya. “Maaf gue harus pulang ….”


Tasya mencegat Andi di pintu. “Lo mau pulang dengan keadaan yang berantakan? Jalan lo aja masih pincang. Gimana mau bawa motor?!”


“Tasya, ini udah biasa kalau sesama laki-laki. Dulu, gue bahkan bisa lebih dari ini,” balas Andi.


Tasya tetap menggeleng. Ia menggengga tangan Andi, tetapi ia heran kenapa Andi sama sekali tidak menolak. Kini, ia membawanya ke ruang kesehatan untuk mengobati luka Andi. Ruang kesehatan berada di lantai dua. Petugas di dalam berupa anak-anak BEM yang sedang piket. Tentu saja Tasya memiliki akses masuk yang muda dan memilih satu bilik paling sudut.


“Lo duduk di sini.” Tasya mengarahkan tubuh Andi untuk duduk di atas ranjang. “Gue ambil obat merah dulu.”


Mata Andi melihat tangannya yang berdarah, seperti orang yang habis jatuh main bola di rumput kasar. Barulah teringat Andi jika di lantai WC tersebut memiliki kemarik yang kasar serta bagian-bagian tajam karena sudah rusak. Padahal, ia tadi sama sekali tidak mempedulikan hal tersebut. Mau luka atau enggak, yang penitng hajar dulu. Selain itu, tulang lengan Andi seakan baru saja mengangkat beban lima puluh kilo. Jika kuncian mengunci tangan Andi sedikit lebih lama lagi, sudah pasti akan terdengar suara tulang yang patah.


Datanglah Tasya dengan obat merah, kain kassa, serta kapas.


“Elo sih kenapa juga ngeladenin Fajri. Dia itu gila!”


“Sorry, gue kemarin memang baru aja ngancam adik kelas lo. Soalnya dia rada kaga sopan gitu sama gue.” Ia kemudian mendekatkan wajah kepada Tasya. “Jangan bilang ke Sarah ya mengenai ini. Dia enggak suka kalau gue kelahi lagi.”


Tasya menghela napas sembari mengangguk pelan. “Iya … iya … gue akan diam.”


“Sekali lagi, makasih banyak. Kemarin juga, makanan yang elo kirim ke gue juga udah gue abisin sendiri.”


Senyum Tasya melebar mendengarnya. Sembari menyentuh tangan Andi, ia membersihkan luka tersebut.


“Lain kali, balas chat gue. Ini malah dianggurin … apa salahnya sih bilang terima kasih waktu itu. Eh, malah sekarang dibilangnya.”


“Iya-iya … maaap.”


Petugas piket BEM Fakultas bingung kenapa ada senior famous yang lagi beduaan di ruangan kesehatan. Udah jadi cara lama banget nih ruangan kesehatan jadi tempat mojok.

__ADS_1


***


__ADS_2