Andi X Sarah

Andi X Sarah
143. Ngajar (SEASON 3)


__ADS_3

Andi tidak tahu cara mengajar yang baik, meskipun ia sebenarnya di jurusan keguruan. Namanya juga mahasiswa yang kurang praktik dan masih belum masuk ke masa magang, jadinya ilmu lapangan Andi belum menguasainya. Ia pun mengingat-ingat bagaimana guru SD-nnya dulu mengajar. Andi pernah mengenyam bangku masa SD di Kota Padang, di mana guru-guru pun terkadang memakai Bahasa Minang, mungkin keceplosan. Sebagai anak yang bandel, Andi sering maju di depan kelas untuk berdiri sampai jam mata pelajaran berakhir. Sungguh tradisional sekali caranya, tetapi tidak mungkin Andi praktikkan. Yang ada malah posko KKN diamuk masa.


Mayoritas anak KKN kali ini berasal dari jurusan keguruan. Desa beruntung karena sekolah bisa terbantu agar mereka memberikan ilmunya, sekaligus agar mereka belajar bagaimana menghadapi para siswa. Jadi besok waktu magang tidak bingung lagi mau ngapain. Andi pun udah kebayang nih gimana anak SD pada umumnya. Pasti sering meribut, jalan-jalan, ngerumpi, minum es di kelas, sampai eek di celana. Andi ga tahu juga apakah anak SD jaman sekarang masih eek di celana, soalnya di zaman Andi masih ada yang eek di celana.


Bang Asep datang bersama seorang teman. Ia tampak menggunakan sebuah motor sederhana yang di parkirkan langsung di depan posko.


“Lah, kok diparkir di sini, Bang?” tanya Andi.


“Ini loh punya Pak Kades. Sebetulnya motor kebun, tapi jarang dipakai. Daripada rusak karena enggak dipake, mending kalian yang makai. Saya ngantarin ini buat kalian,” jawab Bang Asep.


“Wah … makasih banget …” Andi mengusap jok motor itu. Udah kebayang nih Andi bisa ngutak-ngatik motor nanti kalau malamnya lagi suntuk. “Kami bisa gunain ini ke mana-mana, jadi enggak jalan lagi.”


“Oke … saya balik ke tongkrongan ya. Kalau ada yang bisa dibantu, datang aja di sana. Bilang anak KKN.” Ia naik ke motor temannya tersebut.


“Sip deh Bang ….”


Motor mereka pergi melenggang ke tongkrongan. Tidak lama kemudian, Tasya keluar dari posko. Ia sudah siap dengan segala persiapannya sebelum mengajar. Tasya seperti guru-guru muda idaman anak cowok SMA.


“Motor siapa nih Ndi?” tanya Tasya.


“Motor Pak Kades yang ga kepakai, jadinya buat kita.”


“Wah … beruntung banget kita punya ini. Kita berdua dong yang pakai pertama, mereka udah pada pergi soalnya.”


Kebetulan sekali di rumah cuma tinggal Nabe seorang. Anak cewek yang laik pergi ke Ibu Ketua PKK untuk mendiskusikan kegiatan para wanita. Sedangkan Nanang dan Rijek lagi keliling-keliling desa dan Andi meminta mereka untuk singgah di masjid sekalian berkenalan dengan marbotnya.


Andi sudah ingin pergi. Ia menghampiri Nabe yang sedang mengetik sesuatu di dapur belakang. Gadis itu anak yang rajin, ia sudah memulai pengetikan laporan KKN, padahal KKN aja baru dimulai satu hari ini secara efektif.

__ADS_1


“Nabe, gue pergi dulu ya sama Tasya. Jangan lupa kunci pintu, lo sendirian cewek di sini soalnya.”


Nabe berdiri. Tangannya merapikan kerah baju batik milik Andi. Lingkaran senyum bersemat dari bibirnya yang melebar. Andi pun mulai deg-degan, soalnya gelagat Nabe aneh banget.


“Gue udah cocok ga kaya istri-istri ngelepas swaminya kerja?” Tangan Nabe turun setelah itu. “Hati-hati ya sayang ….”


“Apaan sih pakai sayang-sayang … Udah ah, gue mau pergi dulu ….”


“Hati-hati sayang!” Nabe mengucapkannya lagi dengan penuh penekanan.


Andi langsung kabur. “Ya Allah, lindungi hamba dari makhluk sepertinya!”


Motor Pak Kades menggelegar karena knalpotnya juga memiliki suara yang maknyus ala-ala motor kebun. Motor Astrea lama ini seperti punya kakeknya Andi di kampung yang dulu pernah nyungsep di sawah gara-gara Andi baru saja pandai memakai motor. Naiklah Tasya di belakang Andi dengan duduk menyamping. Ujung jemarinya menyentuh pinggang Andi dengan sedikit mendempetkan tubuh.


“Jangan ngebut ya … ini joknya sempit banget loh. Ntar gue nyungsep ke belakang ….”


“Iya pegangan ke besi di belakangnya,” ucap Andi biar Tasya ga tiba-tiba meluk Andi ketika ada gundukan di jalan yang buruk.


“Jangan meluk loh!” Andi jadi panik.


“Siapa yang meluk sih?” Tangan Tasya menyentuh pinggang Andi dengan sempurna. “”Di sini aja kok.”


“Ya udah … asal jangan meluk gue. Ntar dikirain lain-lain loh sama warga desa.”


“Iya Andi,” pungkas Tasya dengan lembut.


Bergeraklah mereka ke SD Binaan Desa Maju Jaya. Sesampainya di sana, Andi langsung menemui Kepala Sekolah untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka ke sini. Salah satu program kerja KKN memang menyangkut ke bidang pendidikan, jadinya mereka ingin memanfaatkan sekolah di desa untuk berkegiatan. Perkenalan mereka pun sukses, Andi dan Tasya diperkenalkan kepada para majelis guru.

__ADS_1


Karena spesialisasi Andi di olahraga, maka Andi dikhususkan untuk mengajar di bidang yang sama. Begitu pula Tasya yang di bidang Bahasa Inggris. Di luar itu, pemilihan mata pelajaran tergantung dari kebutuhan guru hari itu.


“Bye … semangat!” Tasya mengepalkan tangannya kepada Andi yang di muka pintu kelas.


Kelas pagi ini merupakan anak di tingkat 5 SD. Mungkin masih bisa dikatakan sebagai bocil, tapi udah bisa diatur. Ketika Andi masuk, mereka pada diam di tempat. Andi pun memperkenalkan diri sebagai guru olahraga dari KKN.


“Bang … KKN itu apa?”


Andi jadi bingung nih, dirinya dipanggil abang. Padahal kan dia sedang menjadi guru. Tapi Andi tetap berpikir positif karena panggilan hanyalah sekedar panggilan. Yang paling terpenting ialah dirinya harus bersikap profesional.


“Itu Kuliah Kerja Nyata, jadi kakak-kakak kamu dari Jakarta akan berkegiatan di sini. Banyak loh nanti kegiataan anak-anak yang seru, kalian pasti seneng banget kalau ikut.”


“Bukannya KKN itu Korups Kolusi dan Nepotisme Bang? Pemerintah sekarang banyak KKN-nya …..”


Andi langsung celingak-celinguk kiri dan kanan takutnya ada sniper dari intelegen yang mendengar kalimat dari anak yang ngekritik. Bisa-bisa keluar dari kelas Andi langsung dikarungin karena udah ngajarin kritik kepada pemerintah. Kan pemerintah sekarang … aduh jangan dibahas deh. Ini kan bukan lapak politik.


“Itu sih iya, tapi bukan yang itu juga maksudnya adik-adikku. KKN Mahasiswa itu Kuliah Kerja Nyata. Kalau KKN Korupsi Kolusi dan Nepotisme itu istilah yang lain ….” Andi menggeleng kepada anak laki-laki paling belakang yang mengingatkannya akan tempat duduk faforit Andi. “Jadi kalian mau olahraga apa ini?”


“Yang tadi itu Ibu guru temennya abang ya?”


Bukannya menjawab pertanyaan Andi, malah ditanya balik dengan hal yang tidak berhubungan dengan pelajaran. Tasya dipanggil Ibu, sedangkan Andi disebut dengan abang.


“Iya … itu teman KKN-nya abang.” Andi terpaksa manggil diri sendiri dengan Abang karena sudah terlanjut. “Jadi, mau olahraga apa?”


“Itu pacarnya abang ya?”


“Cieeeeee …..” Seisi kelas menyoraki Andi.

__ADS_1


Di bawah meja guru, Andi bener-bener menandai anak murid itu.


***


__ADS_2