Andi X Sarah

Andi X Sarah
160. Menjadi Dewasa (SEASON 3)


__ADS_3

Bapaknya Felix meninggal, itulah yang didapati dari berita duka langsung dari sahabatnya tersebut. Andi tentu saja mengenal bapaknya Felix sebagai sosok yang ramah dan sering menyambut Andi ketika berkunjung ke ruko. Pembisnis handal itu juga menurnkan bakatnya kepada anaknya langsung. Terbukti dengan Felix kini sudah memiliki dua cabang konter hape besar yang satunya bahkan terletak di mall terkenal.


Berita duka itu tentu saja membuat Nanang dan Sarah terpukul. Sarah mengeluarkan air mata mendengar berita tersebut. Suasana menjadi senyap meksipun anak KKN yang lain tidak mengenal Felix. Tetapi suasana duka itu tidak bisa dihindari dari ketiga sahabat dekat Felix tersebut. Mereka tidak bisa hadir dalam prosesi pemakaman bapaknya Felix, sehingga Andi mengucapkan maaf sebesar-besarnya. Bukan tanpa alasan karena mereka sedang mengabdi di desa ini.


Ingin sepatnya Andi pulang ke kota lagi untuk melihat sahabatnya tersebut. Jika ditelisik kembali, Felix merupakan teman pertama Andi di SMA, barulah mereka mengenal Agus dan Nanang. Persahabatan itu begitu erat hingga sampai mengenal keluarga inti masing-masing. Mereka selalu disambut oleh setiap orangtua karena mempercayakan anaknya berteman satu sama lain.


Hari terakhir KKN pun tiba. Anak KKN melaksanakan perpisahan dengan pemuda setempat. Belakang posko KKN menjadi tempat berkumpul. Dalam hati Andi begitu sedih sehingga tidak terlalu bersemangat, padahal berita itu sudah seminggu yang lalu ia dapati dari Felix langsung. Tidak hanya Andi, Sarah dan Nanang juga begitu. Namun, mereka harus tetap mengeluarkan senyum dengan teman-teman yang lain agar suasana semakin meriah.


Keesokan harinya, anak KKN berkumpul di depan Kantor Kepala Desa karena bus penjemput sudah menunggu. Andi berpamitan kepada perangat desa, warga yang melepas, serta sahabat-sahabat baru yang menemani mereka di sini. Tidak sedikit warga yang larut dalam keadaan haru ketika melepas anak KKN. Anak KKN sudah berjasa besar di sini, namun harus menunggu setahun lagi untuk menunggu gelombang KKN selanjutnya.


“Bang …,” panggil seseorang. Ternyata gadis itu ialah Sofi. Ia tampak memberikan sebuah kotak yang terbalut oleh kain kotak-kotak. “Ini dari Sofi buat kenang-kenangan.”


Andi memandangi wajah gadis itu. Seraya tersenyum ia berkata, “Terima kasih ya. Semoga kita berjumpa lagi.”


“Sofi jadi kok kuliah di Kota Jakarta. Nanti kapan-kapan kita ngumpul bareng lagi ya ….”


“Iya … abang enggak akan lupa Sofii kok. Teman-teman yang lain kalau berkesempatan kuliah di Jakarta, ajak ngumpul juga ya.”


“Iya bang ….”


Nanang memanggil Andi yang masih berada di muka pintu bus. Ia meminta Andi agar segera masuk karena bus akan berangkat.


“Abang berangkat dulu ….”


“Dadah Bang ….”


“Bye …..”


Duduklah Andi di samping Nanang. Perasaannya campur aduk antara duka, bahagia kembali ke kota, serta menanggung rindu kepada desa ini nantinya. Namun, inilah jalan hidup yang tidak bisa Andi hindari. Andi harus tetap berada di kota karena di sanalah ia dibesarkan. Masa depan akan ditata di sana, hingga menunggu tantangan-tantangan baru yang akan datang nantinya.


Bus bergerak meninggalkan desa. Pegunungan berganti dengan dataran rendah. Pohon-pohon hutan berganti dengan rumah warga. Rumah warga kemudian menghilang menjadi kokohnya gedung perkotaan. Hawa dingin nan sejuk pedesaan beberapa jam yang lalu sudah pudar, kini Andi menghirup udara kota yang sesak oleh polusi. Ia kembali berkutat dengan sebegitu sibuknya detak jantung sebuah kota. Kendaraan bergerak seakan tanpa henti. Orang-orang berinteraksi dengan diri sendiri, tanpa peduli orang sekitar.


Anak KKN dipulangkang ke kampus. Mereka berpisah sembari berpelukan satu sama lain. Sebulan lebih mereka bersama, menyisakan kesan bahagia maupun drama. Suatu saat nanti mereka akan mengenangnya ketika sudah sukses, lalu tertawa mengenai hal-hal lucu yang pernah terjadi.


“Mama … Andi pulang ….”


Mama sedang masak di dapur. Ia berlari melihat anaknya yang sudah datang, padahal masakan khas Minang kesukaan Andi belumlah selesai dihidangkan.


“Wah …. Udah pulang anak Mama. Pasti capek, kan? Duduklah dulu, minum teh.” Mamanya Andi menoleh kepada Aisyah yang sedang nonton tv. “Buatkan uda-mu ini teh dulu. Dia baru pulang.”


“Eh … enggak apa kok Ma. Andi mau pergi.”


“Kok mau pergi? Baru aja datang,” sanggah mamanya.


“Bapaknya Felix meninggal Ma. Andi mau ke rumahnya Felix dulu.”


“Innalillahi …. Pergilah nak. Bapaknya baik sama kamu,” jawab Mama.


Andi menggapai tangan mamanay untuk bersalaman. “Andi pergi dulu ya ….”


Kesuksesan Felix tampak dari rumah barunya yang berada di salah satu perumahaan. Perumahan yang ia ambil pun sudah dikategorikan menengah ke atas dengan tingkat dua. Tidak heran Andi dengan hal tersebut karena keuntungan dari konter hapenya bisa puluhan juta, menurut penurutan Felix. Namun, temannya tersebut walaupun sudah kaya, tidak pernah sombong dan melupakan teman-teman SMA-nya dulu. Malah, Felix sering memberikan bantuan ketika teman-temannya membutuhkan sesuatu.


Andi memencet bel rumahnya Felix.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, keluarlah koko-koko China dengan celana pendek.


“Wah elu Ndi, udah pulang aja. Kapan?”


“Baru aja gue sampe rumah. Gue ke sini karena khawatir dengan elo.”


Bukannya sedih,  Felix malah ketawa. “Gue udah anak yatim nih Ndi. Udah bisa dong dapat santunan masjid.”


Gubrak!!


Felix malah nge-dark jokes dengan mengatakan dirinya sudah menjadi anak yatim. Andi sering cerita kalau anak yatim itu wajib diberikan santunan dari masjid. Santunan itu berasal dari zakat atau pun infak yang diberikan oleh Jemaah.


“Otak lo sengkle ya? Bokap lo meninggal eh malah dibecandain ….”


“Ah … sampai kapan gue sedih melulu Ndi. Yang jadi pertanyaannya, elu kapan sih nyusul gue jadi anak yatim?”


“Eh mulut gue sumpel pakai kain kafan mau?”


Andi diajak masuk ke dalam rumah Felix. Ia tidak jadi membawa suasana duka, malah ketawa-ketiwi waktu mendengar candaan Felix. Andi pun menyadari sesuatu, kematian bukanlah sesuatu yang harus disedihkan berlarut-larut. Walau bagaimana pun, setiap orang pasti akan meninggal. Andi suatu saat nanti juga akan merasakan salah satu orangtuanya meninggal, atau keduanya tiada sekali pun. Yang pasti, Andi harus bersiap diri dengan segala konsekeunsi ketika orangtua meninggal. Ia harus bisa mandiri seperti Felix sekarang.


“Bapak gue itu sakit gula, Ndi. Udah lama sih dia sakit gula. Jadi, sebulan ini dia ngedrop banget. Gue bawa ke rumah sakit terbaik di Jakarta, seperti yang elo bilang, kalau udah ajalnya yaudah … kita bisa apa, ya kan?”


“Bener juga ya Felix. Tapi lo udah jadi anak yang berbakti kok kepada orangtua. Lo udah bisa banggain orangtua lo yang berharap lo jadi penguasaha besar. Sekarang udah terbukti nih.” Andi melihat ke sekitaran. “Rumah lo aja kaya villa.”


“Tinggal nyari bini sih gue biar nemenin. Kesepian gue sendirian di rumah dua tingkat ini.”


“Jadi, bisnis bapak lo gimana? Emak lo kan udah tua banget tuh. Masih bisa ngurus?” tanya Andi.


“Aduh … gue ga kebayang gimana sibuknya elo.”


Felix menghisap rokok di tangannya. “Nah … rencananya gue mau ngasih elo kerjaann nih Ndi.”


Dahi Andi menyerngit. “Kerjaan gimana?”


“Rencananya dua bulan lagi gua mau buka satu cabang. Kalau sukses cabang yang itu, gue mau buka cabang lagi di Batam. Lo tahu banget kan kalau Batam itu surganya bagi konter-konter hape. Keluarga gue banyak juga yang bisnis di sana,” jelas Felix.


“Jadi?”


“Nah … gue mau rekrut elo buat jadi manager di satu cabang baru di Jakarta.”


“Lah … elo tahu gue masih kuliah. Ngerti kerjaan manager aja gue kaga, gimana mau kerja. Kalau elo nyuruh gue jadi abang-abang konter, masih sanggup gue,” balas Andi.


Felix menepuk pundak Andi. “Ntar gue ajarin kok. Kerja aja dulu di cabang kedua gue, nanti lo pelajarin semua ilmu dari managernya. Kalau elo udah pandai, langsung elo gas jadi manager. Ini kesempatan besar loh Ndi. Sayang banget, mumpung gue temen elo.”


“Kenapa sih elo mau rekrut gue?” tanya Andi.


“Pertama elo teman yang paling gue percaya. Gue ga mau rekrut manager kalau bukan orang kepercayaan gue. Kedua, elo orangnya jujur, ga pernah ngibulin gue. Ketiga, kita kan pernah jualan hape sama-sama dulu waktu konter gue masih konter berjalan.”


Andi mengingat masa-masa SMA dan setelahnya tatkala Andi dan Felix masih jualan hape buat nyari uang jajan. Lumayan lancar, bahkan ide buat konter itu ada turut andil dari Andi sendiri yang memotivasi Felix biar punya tempat tetap.


“Pertama, gue belum lulus kuliah. Kedua, gue bukan orang jurusan bisnis. Lo mau nerima gue?”


Felix menunjuk dirinya sendiri. “Lah gue? Gue ga kuliah bisa bisnis kok. Andi … daripada lo sibuk-sibuk nyari kerja nantinya, mending kerja sama gue dulu. Karir lo langsung di atas kalau sama gue.  Sekalian nyari pengalaman kerja buat nanti. Gaji enam sampe delapan juta enggak ke mana kok kalau elo jadi manager gue nanti. Freshgraduated mana yang dapet gaji segitu? Paling UMR doang.”

__ADS_1


Andi berpikir sejenak. Ada benarnya yang dikatakan oleh Felix. Andi bisa belajar ilmu berbisnis dari Felix. Itun-itung besok Andi bisa buka lapangan pekerjaan sendiri. Andi pernah juga berpikir kalau gaji guru itu kecil, bukan untuk merendahkan pekerjaan guru. Realitanya memang begitu. Jika Andi memilih kesempatan ini, Andi punya ruang untuk mengembangkan diri, tidak melulu di bidang pendidikan.


“Gue tanya ke Mama gue dulu ya.”


“Jangan lama-lama, keburu rejeki lo dipatok ayam. Seminggu gue tunggu konfirmasinya, setelah itu lo masuk kerja di cabang gue sebagai admin. Nanti, manager gue ngajarin lo cara-caranya buat jadi manager yang baik. Oke?”


Andi memberikan jempolnya kepada Felix. “Oke deh … makasih banget ya tawarannya. Eh kan gue magang jadi  guru setelah semester baru.


“Lah itu kan masih lama. Ada dua bulan jangka waktu biar lo adaptasi di cabang gue. Nanti kalau elo magang, shift malam aja jadi admin. Gue sedian tempat khusus buat lo kok. Elo kan calon manager cabang baru gue nantinya. Pokoknya tenang aja kalau gue yang di atas elo.”


Andi menepuk-nepuk pundak Felix. Ia sunggub beruntung mendapatkan teman seperti anak itu. Tidak hanya senyum kebahagiaan ketika nongkrong bersama, ternyata Andi juga dapat tawaran kerja yang bagus. Felix membawa pengaruh positif terhadap Andi.


Mengenai rencana tersebut, Andi mengkonsultasikannya dengan Mama. Mamanya pun menyerahkan keputusan kepada Andi. Sebenarnya Andi juga sudah dicanangkan untuk bekerja di Padang setelah lulus kuliah. Namun, itu kembali kepada Andi lagi mau memilih jalan yang mana.


“Ya udah deh Ma. Andi kerja sama Felix dulu selama kuliah ini. Kalau udah magang kampus berakhir, Andi bisa megang cabang punya Felix.”


“Enggak apa-apa kok. Semuanya tergantung kamu. Kan kamu yang menjalani hidup. Asalkan dijalani dengan ikhlas, Mama ridho kok.”


“Oke Ma. Makasih  banyak ya udah percaya sama Andi.”


Mamanya tersenyum kepada Andi. Ternyata, anaknya sudah sedewasa ini sekarang.


Hari-hari Andi kali ini dihabiskan untuk bekerja di cabang konter Felix. Konfirmasi itu sudah ia sampaikan kepada Felix. Tanda tangan kontrak kerja pun dilakukan. Gaji yang akan diterima Andi selama masa liburnya ini cukup untuk keperluan sehari-hari. Cabang tersebut berasal di salah satu mall. Andi bekerja sebagai admin yang mengimput seluruh data. Banyak yang Andi pelajari di hari pertama. Kalau dari pramuniaga, Andi belajar bagaimana melayani pelanggan dengan baik. Staff admin yang lain mengajari Andi bagaimana membuat pengimputan data yang baik. Skill Microsoft Office Andi pun perlahan diasah. Mengenai managerial cabang, Andi memerhatikan betul bagaiman cara mengelola seluruh aspe yang ada di cabang. Inilah inti dari Andi keterima kerja, yaitu menyiapkan diri agar Andi siap menjadi manager.


Sarah sudah tahu apa saja yang dilakukan Andi selama libur. Pacarnya kerja dari pagi hingga sore hari, lalu mengunjungi rumah Sarah di kala malam hari. Terkadang Andi main di rumahnya Sarah atau mengajak jalan Sarah keluar. Tentu saja sibuknya Andi membuat waktu kebersamaannya tersita. Namun, Sarah memahami hal tersebut. Hidup Andi kan tidak melulu soal cinta karena Andi juga berhak punya kehidupannya sendiri. Sebagai orang dewasa, bertanggung jawab atas diri sendiri merupakan kewajiban. Sarah jadi senang kalau Andi sudah mulai bekerja.


“Akhirnya lo kerja juga ya Ndi. Gue jadi ikut senang ….”


Mereka sedang berada di sebuah café. Indahnya live musik malam ini melarutkan suasana mereka berdua. Tangan mereka saling tergenggam satu sama lain, seakan tidak ingin lepas. Senyum Sarah memancar manis, dibalas oleh belaian tangan Andi pada rambutnya.


“Enaknya kerja itu kita dapat duit sama pengalaman. Ga enaknya, kita dikejar deadline dan tugas-tugas,” balas Andi.


“Yang namanya kerja, mana ada yang enak terus. Pasti ada ga enaknya. Asal lo mampu beradaptasi dan mengatasi masalah lo sendiri sih.”


Andi menoleh kepada Sarah. “Kan kalau gue udah kerja megang cabang Felix, gue ga insecure lagi pacaran sama calon dokter hehehe …..”


“Gue jadi dokter juga masih lama. Perjalanan gue masih panjang. Emangnya lulusan kedokteran ujug-ujug langsung jadi dokter? Enggak kan … tapi, tetap sama gue ya sampai kita di pelaminan besok.”


Bergetar hati Andi waktu mendengar hal tersebut. Cinta yang ia jalani kali ini bukanlah cinta ketika ia masih semasa SMA. Ada tanggung jawab yang harus mereka jabani. Tanggung jawab sekarang, maupun tanggung jawab masa depan. Cinta orang dewasa tidak sekadar jalan berdua di malam minggu, atau pun jemput pacar kalau lagi diminta. Bucin bukanlah cinta yang dewasa. Cinta yang dewasa itu ialah memahami satu sama lain, lalu berorientasi kepada masa depan.


Masa depan yang dimaksud ialah menikah. Andi cukup sering memikirkan hal tersebut. Kalau dia jadi guru, berapa lamakah ia harus mengumpulkan modal agar bisa melamar Sarah? Okelah jika Sarah anak satu-satunya pasti bapaknya mau ngeluarin duit buat modal nikah. Namun, mau diletak di mana muka Andi kalau hal itu terjadi, sedangkan dirinya ialah laki-laki.


“Lo kalau nikah, mau punya anak berapa?”


“Tergantung lo kuatnya berapa kali semalam.”


Andi celingak-celinguk  kanan dan ke kiri. Ada-ada aja yang dibahas oleh Sarah.


“Lah … gue kalau adu kuat, tiap jam juga bisa heheh ….”


Pembicaraan yang tadi serius, mulai jadi sengklek seperti biasamya,


***

__ADS_1


__ADS_2