
Apalah arti sebuah hubungan jika bukan didasari oleh perasaan. Tami memikirkan hal itu sebelum melontarkan penolakan kepada seorang Memet yang telah mencintainya dengan tulus. Bagi Tami, tidak ada orang yang mencintainya setulus Memet, murni dari hati terdalam. Selama ini Tami hanya menemukan orang mencintai yang berlandaskan kecantikan, kekayaan, dan lain sebagainya. Namun, Memet berbeda. Ia mengetahuinya karena Tami begitu mengenal Memet.
Perlukah cinta beralasan?
Mungkin setiap orang bisa mengatakan berbagai macam alasan untuk mencintai, seperti ia yang cantik, ia yang baik, ia yang perhatian, dan alasan lain. Secara subtantif cinta juga membutuhkan alasan. Hidup di realitas yang bersifat materialistis, tentu membutuhkan bukti empirisme sebagai penyambung cerita. Tidak mungkin orang bergerak di dunia ini tanpa alasan. Tidak mungkin kapal berlayar tanpa penyebab. Pasti semuanya didasari oleh penyebab awal seperti teori penyebab pertama yang diucapkan oleh Aristoteles ribuan tahun lalu.
Ini kek cerita yang udah-udah, pakai teori-teori filsafat segala. Tapi ga apa, biar orang tahu kalau author itu aslinya begini. Cerita ini boleh berantakan dan absurd, tapi bakalan lihat hal berbeda di cerita yang lainnya.
Sekali lagi aku akan bertanya, apakah cinta perlu alasan?
Jika cinta perlu alasan, bagaimana seseorang yang tidak sengaja berpapasan di jalan seketika tumbuh cinta dari tatap pertama? Jika itu tidak ada, maka dari mana kutipan cinta dari tatapan pertama itu?
Ada banyak orang di luar sana yang tidak sengaja bertemu dengan cintanya. Cinta tumbuh begitu saja tanpa diselingi oleh alasan yang pasti. Bisa jadi orangtua kita bertemu ketika di angkot, cinta pun pertama waktu sama-sama bilang \`kiri bang\` sambil ngetokin angkot biar abangnya tahu. Sangat hal lucu jika alasannya karena bilang \`kiri bang\`.
Secara esensi, cinta tidak perlu alasan. Mbah Presiden Jancukers pernah bilang, kalau cinta butuh alasan, maka itu bukan cinta lagi. Author pun mencerna dengan seksama ketika bertarung antara hidup dan mati di kamar mandi untuk kegiatan mengeluarkan hal yang harus dikeluarkan. Ya kadang author lebih kreatif kalau lagi di aktivitas itu.
Cinta sejati ialah cinta jika orang itu sebagai sosok. Aku mencintai dia karena dia itu adalah dia. Aku ingin dia bukan karena ia cantik atau pun kaya, melainkan dia adalah dia. Ketika seorang manusia bisa sampai di tahap itu, maka tidak perlu lagi alasan dalam mencintai. Mencinta menjadi murni karena cinta datang tanpa alasan. Ketulusan hati membawa kita kepada dasar esensi dalam mencinta. Maka, dapat ditarik kesimpulan jikalau secara esensi cinta tidak membutuhkan alasan.
Andi menahan tangan Tami ketika ia ingin pergi.
“Bukan gue pengen menyampuri urusan kalian, tapi lo harus tahu kalau Memet itu benar-benar mencintai lo.”
Tami berhenti dari langkahnya, lalu kembali duduk di samping Andi.
“Tapi aku enggak bisa nerima dia. Sebagaimana aku memandang kamu, maka hal yang sama akan terjadi dengan Memet. Kalian adalah sahabat aku yang paling dekat. Enggak ada sejarahnya aku punya sahabat begitu lama, selain kalian berdua.”
“Iya, gue tahu itu. Bukan berarti gue pengen elo harus sama dia. Semua itu tergantung elo. Yang gue mau katakan ialah kalau Memet itu serius sama lo. Memet bukanlah orang yang main-main dengan masalah hati.”
“Maaf aku bikin dia sedih. Tapi aku enggak bisa karena⸺”
“Alasannya apa? Apa ada orang lain?” Andi menyela kalimat Tami.
__ADS_1
Tami menggeleng. “Sederhana aja, aku enggak ada perasaan seperti yang Memet rasakan ke aku. Perasaan yang aku punya cuma sebatas teman. Aku khawatir sama dia sama dengan khawatirnya aku sama kamu, aku rindu sama dia juga sama halnya aku ke kamu, bahkan ketika aku aku pindah dari sini pun aku juga merasakan hal yang setara terhadap kalian berdua, tidak ada yang lebih.”
“Jadi, apa balasan yang elo bilang ke Memet?” tanya Andi.
“Dia berhak buat ngedapatin yang lebih dari aku, yang cinta sama dia sebagaimana dia cinta sama orang itu. Jika Memet tetap ingin sama aku, Memet enggak bakal dapat hal yang sama. Ini masalah perasaan dan dia harusnya paham kalau dia bukan orang yang main-main dengan perasaan.”
Andi mengangguk, lalu mengelus rambut Tami. “Baiklah, sampai saat ini gue paham apa yang terjadi sama kalian berdua. Yang gue pingin dari elo, jangan ngejauhin dia. Dia sahabat kita kan? Sahabat enggak akan ninggalin satu sama lain.”
“Gimana ya, rasanya canggung aja semenjak dia ngatain perasaan. Selain itu, Memet punya circle pertemanan yang beda dari kita. Makanya kita berdua dan Memet udah jarang sama-sama lagi.”
“Besok kan kita bakalan main sama-sama lagi. Hal itu menjadi cara bikin kita bersatu, mungkin.”
“Aku senang kok sama-sama lagi, seperti yang dulu.”
“Semoga aja ….”
Keesokan harinya di lain tempat, Memet lagi menggigil di kamarnya. Bukan karena AC kamar, melainkan karena demam. Dua hari ini ia begadang full buat jagain ronda. Bukan karena alasan buat main-main dia mejeng mulu di pos ronda, melainkan penghasilan tambahannya ialah buat ngegantiin warga yang tidak sempat menunaikan giliran jaga. Namanya orang kota nih ya, pasti jarang banget warga yang pengen jaga pos ronda.
Kebanyakan milih bayar petugas. Tepat sekali tiga hari ini Memet berjaga tiga hari berturut-turut karena petugas yang lain izin dulu karena pulang kampung.
“Meet … ada orang.” Emak manggilin Memet yang lagi berselimut.
“Siapa sih Mak? Kayanya preman-preman itu enggak ada yang berani nyariin Memet, deh.”
“Elo ini setiap ada yang nyariin pasti dikira mau ngajak gelud. Ini bukan ngajak gelud. Tapi anak gadis.”
“Oh, Sarah. Bilang aja motornya udah Memet perbaiki. Itu cuma masalah di karburator. Selaian Memet setelin biar peformanya bagus lagi. Soal biaya, Sarah udah tahu.” Memet nunjukin mejanya. “Kuncinya ada di sana.”
“Bukan Sarah, tapi cewek ini pakai mobil. Pakaiannya itu kaya PNS. Emak enggak pernah lihat.”
Memet langsung duduk. Satu tissue yang ia sumbat ke hidung seketika copot. Memet celingak-celinguk ke arah jendela. Benar, di sana ada sedan camry yang lagi parkir. Siapa lagi anak gadis yang pakai mobil mewah kek pejabat di komplek ini selain Tami.
__ADS_1
“Tunggu bentar, Memet mau masang baju dulu.”
“Gue lihat Sarah kalau ke sini lo enggak pakai siap-siap segala.”
“Yaelah Sarah mah udah biasa ke sini, Mak. Memet ga pakai baju pun dia udah biasa karena ke sini pasti urusan motor. Lagi pula Sarah itu ceweknya Andi.”
“Ya udah … ganti dulu baju lo Met, terus samperin tuh cewek. Kayanya lagi pengen ngejenguk elo tuh.”
“Iye – iye, Mak.”
Setelah makai baju dan deodorant, Memet pun keluar buat nyamperin Tami. Memet nyempatin dulu sebelum itu buat nyium keteknya karena Memet belum mandi seharian. Gimana mau mandi, nyentuh air aja kedingian. Tampaklah Tami lagi duduk di kursi teras sambil ngelihatin burung Memet yang hitam dan indah. Maksudnya burung hias yang lagi tergantung di teras rumah.
“Burung kamu bagus juga.”
Memet ngelihat ke bawah tubuhnya sebentar, lalu geleng-geleng. “Oh itu, memang bagus. Burungnya Papa Sarah juga bagus kaya gitu.”
“Oh iya, papanya Sarah juga punya burung.”
Memet geleng-geleng lagi karena mikir yang enggak-enggak.
“Jadi, ngapain ke sini?”
“Kok gitu? Kamu enggak suka aku ke sini?”
“Heheh … bukan begitu. Tumben aja.”
Tami mengambil bawaannya yang berada di kursi sebelah. “Ini buah-buahan, roti, sama vitamin. Sarah bilang kemarin kalau kamu lagi demam. Demamnya sampai ngigo.”
Memet terdiam tatkala Tami menyerahkan tersebut. Sepertinya dokter kalah sama senyuman dan ucapan lembut dari Tami. Memet langsung sembuh kaga pakai obat. Hanya satu obat yang ia perlukan, yaitu rindu itu sendiri.
\*\*\*
__ADS_1