Andi X Sarah

Andi X Sarah
137. Kevin Guoblok (SEASON 3)


__ADS_3

MAMPUS GUE!


Tinggal menunggu waktu, Andi pikir hari ini ia benar-benar jadi ayam sayur yang dimakan bersama-sama. Bayangin aja Andi jadi wortel di mangkul sup, auto kena gigit oleh senior-senior tersebut. Jarak antara mereka berdua sangatlah dekat, Andi melebarkan matanya tatkala tangan salah satu dari mereka hampir saja menarik dirinya.


“KEJAR GUE KALAU BISA!!!!


Andi berbelok ke kanan, lalu memutari tiang ring basket untuk mengecoh. Ternyata, senior-senior itu tidak goblok banget sehingga bisa membaca pergerakan Andi. Andi dikepung depan dan belakang. Kalau mundur, Ada si Fajri, Andi pasti langsung mampus di hadapannya. Terpaksa dirinya berlari cepat ke depan karena senior-senior tersebut terlihat lemah. Beruntung, hantaman kaki Andi berhasil mengenai mereka. Andi berhasil kabur.


Berkat  kelicikan Andi yang membawa musuh-musuhnya berkeliling, Andi kini bisa berlari menuju pintu agar ia bisa kembali meloloskan diri. Berbekal latihan intensif futsal yang dulu pernah ia lakukan, jadi stamina Andi masih bisa dimanfaatkan, meskipun perut buncitnya harus gondal-gandul atas dan bawah karena dibawa lari.


“AWAS WOI!!!!” Andi meneriaki sekelompok orang yang mau masuk ke dalam area lapangan basket. Karena jumlah mereka banyak, jadinya Andi harus terhambat. Tidak mungkin dong Andi ngantri dulu lewat pintu yang hanya bisa dilewati satu orang saja. Bisa-bisa Andi keburu bener-bener dijadiin sup wortel sama Fajri.


“TUTUP AJA BANG! TUTUP!” teriak Fajri dari belakang.


“JANGAN BANG! AWAS DARI SANA!” balas Andi tidak ingin kalah.


“POKOKNYA JANGAN SAMPAI DIA LARI SI BANGSAT INI!”  Fajri tambah memperlaju kecepatan larinya agar bisa melampaui Andi.


Aksi kejar-kejaran ini udah kaya warga yang lagi ngejar maling ayam di kampung. Andi pernah berada di posisi pengejar tatkala seorang maling yang berusa mencuri burung peliharaan warga komplek. Burung tersebut mahal dan memiliki bulu yang lebat, Andi aja sampai jadi ngiler untuk memiliki burung tersebut. Nah, Andi mengejar maling tersebut yang lari ke semak-semak bagian belakang lapangan bola. Beruntung Andi tinggi dan bisa melihat ilalang-ilalang setinggi orang dewasa tersebut. Malingnya malah sembunyi dan dijadiin samsak tinju sama warga.

__ADS_1


Nah\, kali ini Andi yang diposisi maling tersebut. Mungkin saja Andi telah mendapatkan karma. Kalau disinetronin\, akan berjudul `Karma Pengeroyok Maling Burung`.


Andi melihat terus sekelompok mahasiswa yang ada di muka pintu. Mereka bingung melihat aksi kejar-kejaran ini. Selain panik, Andi pun juga bingung. Kenapa mereka tidak berpakaian olahraga ke lapangan basket, melainkan memakai setelan kemeja untuk berkuliah.


“Bisa-bisanya gue mikirin itu dulu!” Andi melihat ke belakang. “AAAAA!”


Fajri ternyata udah ada di belakangnya sewaktu Andi udah memegang gagang pintu tersebut. Bahkan, mahasiswa-mahasiswa yang ingin lewat tadi terpaksa mundur karena takut ditabrak. Kini, Andi memegang daun pintu, sementara Fajri sibuk menarik tas Andi agar ia tidak kabur. Mereka tarik menarik, tidak ada yang saling mengulur seperti hubungan cinta kita ini. Lah kok itu (?)


“Tolong gue!” pinta Andi kepada sekelompok mahasiswa tersebut. “Mereka keroyokan!”


“Kaga usah dengerin anak ini Bang. Dia harus kami beri pelajaran!” Fajri melepaskan tas Andi, lalu meminta teman-temannya menahan tubuh Andi.


“Tapi dua belas tahun ga cukup buat ajarin elo hormat sama senior!” jawab Fajri tidak ingin kalah.


“Lah? Itu kan karena kalian yang duluan, Goblok!”


“Malah berani-beraninya ngatain gue?!” Fajri menarik kedua lengan bajunya. Setelah itu menendang tas Andi keluar pintu.


Sekelompok mahasiswa yang tadi kebingungan, kini malah jadi dapat tontonan asyik. Ada lima orang yang lagi ngamuk, terus mengejar-ngejar satu orang mahasiswa guoblok yang lari sambil teriak-teriak. Nah, waktu Andi ingin dieksekusi, tentu saja jadi tontonann yang menarik.

__ADS_1


“Beraninya ramaian gini? Ayo kita satu lawan satu lagi!” teriak Andi.


“Hahaha! Mau satu lawan satu atau keroyokan, lo tetep aja kalah. LO ITU LEMAH!” Fajri meninju Andi tepat di pipinya. “Sekalian aja keroyokan biar elo tahu rasa setelah itu!”


“Bamsat! Awas aja lo gue panggilin Kevin!”


Baru kali ini Andi berkelahi terus manggilin nama senior di Antophosfer. Padahal, selama ini ia tidak pernah melakukan itu dan bahkan pantang untuk mengadu kepada senior. Namun, kasus kali ini sangatlahh berbeda. Mereka udah ngeroyokin Andi. Sewaktu anggota Antophosfer yang dikeroyok sama geng preman, Kevin rela ngedatengin mereka sendirian. Apalagi kalau cuma sekumpulan mahasiswa yang duitnya aja masih ngemis sama mama dan papa. Kevin akan bisa lebih dari itu.


“Siapa itu Kevin? Senior elo?! Panggil sini! Biar si Kevin guoblok itu gue hajar dengan tangan gue!”


“Lo bakalan nyesal setelah bilang itu dan berharap enggak pernah mengatakannya!” balas Andi sambil meludah ke bawah. “Antophosfer ga pernah ngebiarin anggotanya dikeroyok.”


“Apalagi Antophosfer? Club motornya elo apa? Hilih … pakai geng-gengan segala. Geng elo itu banci tahu ga? Lawan gue sendirian aja bisa lari kaya banci-banci dikejar satpol PP.”


Ingin sekali Andi mengamuk kaya gozila kali ini karena hujatan-hujatan dari Fajri. Namun, Ia tidak bisa bergerak banyak karena dipegangin oleh teman-temannya Fajri. Selain itu, tenaga Andi sudah banyak habis sehabis berlari. Dia udah kaya atlit lari dan keringatnya membahasi sekujur tubuh. Yang bisa Andi lakukan hanyalah menahan pukulan Fajri yang baru saja melayang.


Tiba-tiba aja tas Andi melayang ke muka Fajri. Bukan Andi yang melakukan itu. Boro-boro megang tas, melangkah satu kali aja susah. Ternya pelemparnya berasal dari sekelompok mahasiswa tersebut. Satu orang di antaranya merupakan orang yang memiliki rambut paling gondrong. Mukanya tua banget. Meskipun tidak tinggi, tetapi tubuhnya gempal.


“Siapa yang bilang Kevin goblok dan Antophosfer itu banci? Gue mau tahu orangnya siapa?”

__ADS_1


***


__ADS_2