
Rasanya bahagia sekali karena bisa memanggil \`mama\` kepada beliau. Satu sisi ia memiliki sosok yang kembali ia sebut dengan panggilan yang sama, di sisi lain mengandung harapan-harapan mengenai masa depan. Ia mencintai Andi meskipun perangai pria itu masih sering kekanak-kanakan. Cinta itu pun tumbuh bercerita tentang harapan hidup bersama hingga hari tua. Ketika hal itu benar-benar terjadi, lengkap sudah terwujud panggilan \`mama\` kepada seorang mertu yang sudah ia rancang sejak lama.
Tidak pernah sedikit pun berubah rasa cinta itu, semenjak tumbuh untuk pertama kalinya. Pernah badai menerpa kisah mereka hingga membuat renggang hubungan yang dijalin bersama, tetapi tidak pernah luntur perasaan cinta tersebut. Memang benar, ia berharap bahwa Andi orang yang telah dijanjikan Tuhan padanya. Namun, terdapat rasa takut ketika Sarah terlalu banyak berharap. Akan ada kemungkinan suatu saat nanti perancangan itu berlainan realtia.
Bisakah cinta direncakan? Ataukah kisah cinta itu bisa dirancang sedemikian rupa?
Sarah memejamkan mata tatkala memikirkan hal tersebut. Rasa cemas itu berasal dari asumsi bahwasanya cinta bukanlah perkara yang bisa direncakan, baik awal, maupun kisah yang akan berlanjut sesudahnya. Berbicara mengenai cinta, maka kita akan berbincang mengenai hal yang bersifat kebetulan, dibungkus dalam sesuatu kepastian. Cinta itu pasti akan ada dan pasti akan tiba. Namun, tiada satu pun orang yang bisa nemebak kapan cinta akan datang maupun pergi. Perkara hati yang berbolak-balik ini sangatlah pelik.
Jika dipikir kembali, Sarah tidak pernah menyadari bahwasanya ia akan mencintai pria konyol seperti Andi. Waktu yang menumbuhkan itu semua, tanpa satu pun perencanaan bahwasanya ia akan mencintai. Seiring peristiwa yang memaksa mereka harus berdua, di sanalah mulai tumbuh benih-benih yang berbuah untuk Sarah petik sebagai rasa di hati. Begitu pula sebaliknya, Andi tidak pernah berpikir akan menjadi orang paling beruntung yang akan dipilih Sarah, mengingat mereka sama sekali tidak memiliki hubungan yang baik pada awalnya. Kembali lagi, cinta perkara hal yang tidak direncanakan.
Dialah orang yang Sarah cintai, sedang menyirami gugusan bunga warna warni sambil bersenandung dangdut pantura. Pikiran melankolis yang sedari tadi ia bawa, kini hancur lebur tatkala Andi goyang-goyang enggak jelas. Kenapa gue bisa suka sama dia, ya? Sarah menggeleng kepala melihat tingkah Andi. Namun, secara tidak sengaja tingkah pria itu membuatnya tersenyum.
“Woi, sarapan dulu.” Sarah memanggilnya.
Memang enggak ada kaya orang pacaran mereka berdua ini. Manggilnya aja wai woi wai waoi. Pakai sayang kek, pakai kata beb, kata bi, atau apalah itu.
“Gue mau makan lontong Ibu Naya simpang komplek.”
“Lo mau ngelihat ibunya atau Naya itu sendiri?” Sarah mengetuk tangan Andi. Jelas terlihat tangan sebelah kanan Andi membiru. Namun, Sarah tetap diam saja. “Makan dulu, gue bikin sup loh. Enak ….”
“Yaelah Naya itu masih SMA. Ya kali gue suka sama anak SMA.” Andi mematikan air kran. “Tapi cantiknya boleh juga. Hehehe ….”
“Ih \*\*\*\*\*\* banget. Gue kasih sianida ini sup, mau?”
Andi membelai rambut Sarah. “Secantik-cantiknya si Naya, tapi lebih cantik elo. Secantik-cantiknya Tami, lebih bohai dia.”
“Tapi lo malah milih gue daripada Tami?” Bibir Sarah manyun manja karena rambutnya dibelai mesra.
“Cinta bukan memandang pembohaian, Sayang.” Andi mengambil rantang makanan Sarah. “Makannya di gazebo belakang rumah Tami aja. Malu gue dilihatin beduaan di depan rumah.”
__ADS_1
“Lah, siapa juga yang mau ngelihatin kita?”
“Gue ini banyak fans di komplek ini. Followers bisa turun nanti.”
“Suka-suka lo, deh.”
Sepanjang jalan yang jaraknya bahkan enggak bikin ngos-ngosan, Andi menggenggam tangan Sarah dengan erat. Meskipun Andi belum mandi sama sekali, bahkan gosok gigi aja belum, dia tetap pede seakan cowok paling ganteng sedunia. Sesampainya di gazebo halaman belakang rumah Tami, Andi menyantap sup ayam dengan nikmat. Tentu saja belum kenyang kalau enggak pakai nasi. Malah Sarah yang disuruh ngambilin nasi ke rumah Andi. Namanya lagi romantisan, Sarah mau-mau aja.
“Gue suka kalau ngelihatin lo makan ….” Sarah menatap Andi sambil memangku kepala.
“Apaan? Aneh banget. Perasaan gue makan kaya manusia-manusia lainnya, tidak ada spesial sedikit pun.”
“Andi, gue itu udah lama sama lo. Jadi, gue hapal kebiasaan lo gimana. Kalau lo makan makanan berkuah, pasti nyuap isinya dulu, baru disendok kuahnya. Bukan nyendok isi sekalian kuahnya. Terus, kalau ngunyah pasti pelan banget kek anak bayi lagi makan. Kalau hitungan suap keempat, lo biasanya minum.”
Tangan Andi melepas sendoknya. “Lo segitunya merhatiin gue?”
“Enggak sih, gue malah senang lo perhatian sama gue.” Andi memalingkan pandangan karena gugup. Pandangan Sarah memang bikin salah tingkah kalau begini. “Tapi, tumben lo bicara begini? Biasanya ada maunya. Lo lagi mau makan di mana emang? Bilang aja sekarang. Biasanya begini nih, pasti lagi kepengen mukbang di suatu tempat.”
Sarah menggeleng pelan. Tatapannya tetap sama ke wajah Andi yang lagi kelihatan banget gugup. “Enggak kok, lagi pengen aja.”
“Lagi pengen? Oh, ya? Gue juga lagi pengen nih.” Muka Andi langsung senyum-senyum kaga jelas.
Jemari Sarah langsung mengeluarkan jurus jentikan ke arah tangan Andi yang sakit.
“Mesum mulu nih otak lo. Kurang-kurangi nonton video Tik-Tak yang isinya cewek-cewek joget. Tuh lihat tangan lo biru. Gara-gara kemarin?”
“Iya, gue jatuh ke tanah. Kayanya keseleo.” Andi memerhatikan area tangannya yang bengkak.
“Selesaiin makannya, nanti gue pijit.”
__ADS_1
“Emang lo pandai? Jangan sok pandai, waktu itu malah sakit banget. Nanti malah tangan gue kena amputasi.”
Jemari Sarah kembali menjentik tangan Andi. “Gue ini atlit karate. Urusan keseleo di tangan udah biasa. Gue belajar cara mijit dari pelatih gue.”
Andi menyelesaikan makananya dengan khidmat sembali ngelihatin Sarah yang serem banget. Dia kaya udah mau matahin tangan Andi yang keseleo. Entah gimana bisa Sarah nyimpan minyak serba guna di tas selempang kecilnya itu. Andi makin takut karena Sarah memang serius mau mijitin Andi. Soalnya, waktu itu Andi pernah dipijitin Sarah ketika keseleo sehabis main futsal lawan alumni anak SMK Taruna. Ya tahu sendiri fisik anak SMK dengan pendidikan semi militer itu. Kaki Andi jadi bengkak gara disleding kiper. Sarah yang mijitin sambil Andi teriak-teriak.
“Karena lo keseringan mijitin tulang-tulang gue, lama-lama lo jadi dukun pijit.”
Tangan Andi menjulur dan dilumasi minyak serba guna untuk kelancaran proses relaksasi. Andi jadi tutup mata gara-gara takut Sarah mengerahkan seluruh tenaga karatenya untuk memijit tangannya.
“Kalau mijit itu bukan tulang, tapi otot. Jangan di area yang sakit, tapi di sini nih biar otot lo jadi relaks kembali.” Sarah menekan jemarinya dengan lembut yang bikin Andi kaget karena rasanya nikmat sekali. “Besok jangan kelahi lagi ya. Lo udah janji.”
Andi terdiam mengedengar hal tersebut.
“Maafin gue ya Sar. Gue masih enggak bisa ngontrol ego gue.”
“Kalau ada masalah apa pun, jangan diselesaikan secara fisik. Terlebih lagi lo ngelawan para preman. Lo bisa kena tikam atau yang lain, kita enggak tahu.” Pandangan Sarah beralih ke wajah Andi.
“Bener-bener gue minta maap.”
“Satu lagi, gue mau minta kejujuran dari lo.”
Pikiran Andi pasti mengarah kepada satu hal.
“Boleh,” jawab Andi.
“Kenapa Naila ada sama lo?”
Ekspresi wajah Sarah dan tekanan jemarinya pada tangan Andi tidak bisa memungkiri jika wanita itu mengkhawatirkannya.
__ADS_1
\*\*\*