Andi X Sarah

Andi X Sarah
32. Suara Hati


__ADS_3


Suara Hati



Jemari Tami memerhatikan sosok bocah berkulit putih yang sedang memanjat pohon rambutan di belakang rumahnya. Dalam foto berbingkai hitam itu, tampak Tami sedang tertawa melihat bocah ingusan itu berususah payah memanjat pohon rambutan. Sungguh masa yang indah jika kembali dikenang. Ia beruntung dilahir sebelum gadget menyerang.


"Andi, kenapa kamu jadi setampan sekarang, ya?" tanya Tami pada foto tersebut.


Pikirannya teruju ke perempuan yang kekarnya minta ampun, seringainya bisa bikin cowok satu sekolah ketakutan, namun sekali tersenyum juga mampu membuat para cowok mimisan. Sarah seakan mengambil perannya selama ini. Ia tahu Andi tidak punya sahabat perempuan selain dirinya. Semenjak ia pergi, Sarah lah yang selalu dekat dengannya.


Bel rumah berbunyi. Sementara itu, Papa dan Mama sedang keluar rumah untuk membeli makanan. Ia berjalan ke pintu untuk melihat siapa yang sedang berkunjung.


"Samlekoom!!!" panggil seseorang sambil mengetuk pintu.


Tami mengintip dari jendela dan mendapati seorang pria sedang berada di sana. Ia tidak bisa melihat wajahnya karena sedang membelakangi pintu. Tami memberanikan diri untuk membukanya.


"Walaikumsalam, bang," balas Tami. "Ada perlu apa, ya?"


Pria itu berbalik. Mereka saling menatap. Wajah pria itu seakan familiar di ingatan Tami. Ganteng-ganteng ga jelas gitu. Namun, tercuat sebuah nama yang dulu pernah ia dengar.


"Memet?"


"Tami?"


Tatapan mereka saling beradu. Ternyata pria itu adalah Memet, si bocah yang dulunya ngaku kalau cowok paling ganteng satu kelurahan dan sedang mengirim proposal buat naik ke tingkat kota. Ia dan Andi bersaing untuk merebutkan kursi cowok paling ganteng sekota. Namun, Memet kalah gara dia ga bisa ngalahin Andi main tekken 5. Akhirnya, cowok paling ganteng satu kota dimenangkan oleh Andi.


"Wah, ga nyangka kamu bakalan ke sini." Tami menaikkan alisnya. Bibirnya menebar senyum. "Ada apa, Met?"


Memet tidak menjawab. Dia diam karena terpana melihat keimutan yang tiada tara dari wanita di hadapannya. Dia pun mimisan.


"Met, kamu mimisan. Lagi sakit?" tanya Tami sambil memberikan tissue.


Memet meraih tissue yang diberikan dan membersihkan mimisan ga jelasnya itu.


"Oh, gue lagi nagih uang rondanya keluarga lo. Gue ada tugas dari Pak RT buat nagih uang ronda," jawab Memet terbata-bata. "20 rebu aja Tam."


"Oh, pantes aja Sarah bilang kalau tanggal segini biasanya ada pengutipan uang ronda."


"Sarah tinggal di daerah sini?" tanya Memet.

__ADS_1


"Iya, lurus aja di sini dan belok kiri, belok kanan, lurus lagi, ada kedai bakso. Eh aku recommend banget deh baksonya enak banget. Andi juga doyan kalau makan di situ. Trus kamu lurus lagi, dan belok kiri dikit aja. Kalau ada nampak batang pisang, jangan ditunjukk ya. Mistosnya ada penunggunya. Ingat jangan ditunjuk."


"Trus rumahnya di mananya?" tanya Memet lagi. Penejelasan Tami panjang amat.


"Ingat ya pohon pisangnya jangan ditunjuk. Apalagi pake jari tengah, bisa marah penunggunya. Jadi, rumah Tami belokan kedua batang pisang. Rumahnya warna putih, pintunya warnah coklat."


Eh, bisa aja lo sempak naga ....


"Lo lucu ya," puji Memet.


"Iya, kamu juga ...."


Mereka saling membalas senyum. Ternyata pubertas merubah segalanya. Memet yang dulu cuma bocah kumal yang mereka kenal dari balapan karung acara tujug belasan, sekarang jadi pria yang tampannya ampir samaan sama Andi. Trus, Tami yang dulu Memet kenal sebagai bocah perempuan yang kalau sempaknya basah selalu marah. Eh, sekarang udah jadi cewek yang kadar imutnya melebih batas wajar.


Terdengar suara Andi teriak dari kamarnya. Parah banget, teriaknya sampe kedengeran sampe rumah Tami.


"HAAAAAAA!!!!!!!!!!" Suara teriak Andi terdengar oleh Tami dan Memet.


Memet keheranan dengan suara teriakan tersebut. "Andi lagi diruqiyah sama mamanya, ya?"


"Entahlah, kadang Andi suka gila-gilaan sendiri," balas Tami. Ia kembali fokus ke wajah Memet yang terlihat sangat dewasa.


Ia memanggil nama pria di hadapannya, "Met."


"Kamu mimisan lagi ...."


Sementara itu di kamar Andi.


Sebuah postingan dari OA LINE yang unbarokah dikirim dari Agus yang otak mesumnya udah kelewatan. Itulah pideo yang lagi viral banget sekarang. Yaudah deh ga usah dibahas. Andi jadi teringat perkataan bapaknya Nanang waktu khutbah sholat jumat, jadi bapaknya bilang kalau mata kita bakal jadi saksi waktu dihari akhirat nanti.


Sebuah pesan LINE dari Sarah mendarat di pemberitahuan handphone Andi.


LINE


Sarah: Semangat buat besok, ya. Jangan kecewain gue. Golnya banyakin melebih batang rokok yang lo isep satu harian :) :) :) :)


Besok gue bakal orang yang paling besar teriaknya buat lo.


Entah mengapa Andi langsung meloncat kegirangan di atas kasur sambil teriak-teriak ga jelas.


"HAAAAAA!!!!!!!!"

__ADS_1


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Turnamen yang paling ditunggu dan memiliki gengsi yang paling tinggi di SMA. Selama ini cuma bisa nantangin kelas satu per satu buat tanding futsal dengan taruhan uang, sekarang semua hasil latihan dari ngajakin tanding kelas lain dipertaruhkan di turnamen ini.


Satu tempat futsal dengan tiga buah lapangan sudah di-booking oleh anak OSIS sebagai pantia class meeting. Seluruh warga sekolah berkumpul untuk menyemangati kelasnya masing-masing.


Turnamen futsal resmi digelar setelah tendangan pertama dilakukan oleh Kepala Sekolah untuk meresmikannya. Semuanya bersorak heboh karena setelah Kepala Sekolah menendang bola, para anak cheers langsung masuk lapangan buat menari.


Anak cheers memang mantep-matep. Penampilan mereka udah kaya Jekati Fortieg nampil. Anak laki-laki pada melek matanya buat liatin keseksian mereka.


"Oii ... oii ... oii ...!!!!!" teriak anak laki-laki kaya di konsernya Jeketi Fortieg.


"Uanjir ... andai aja oshi gue di JKT 48 berasal dari sekolah kita," kata Nanang yang nge-fans banget sama Jekati Fortieg.


"Bener, Nang. Apalagi si Natalia ya. Gue suka banget sama dia." Agus ikut-ikutan.


Andi ga mau kalah. Dia juga punya oshi di Jekati Fortieg. "Naomi lebih mantep, Gus. Wajahnya aduhai tiada duanya.


"Ah. Natalia dan Naomi ga ada apa-apanya sama Eve gua. Imut-imut gimana gitu. Bikin gue mau cubit-cubit pipinya," balas Felix.


Turnamen ini sudah menjadi ajang para lelaki buat nyari cewek-cewek cantik. Biasanya cewek-cewek ga pake polesan, kini wajah mereka udah kaya pergi ke kondangan. Pakaian ketat-ketat kaya cewek-cewek yang ada di postingan istagram mostbeauty bla-blas. Itu loh, akun instagram yang isi postingannya para bidadari-bidadari tak bersayap.


Para lelaki juga sama, mereka udah pake pomade yang paling mahal buat mencapai ganteng yang maksimal. Sepatu udah yang paling mahal, walaupun belinya masih pake uang mamak. Saking niatnya, sebelum turnamen ini digelar, biasanya para lelaki harus pergi ke barber dulu buat rapiin rambut.


Idih, lebay banget.


Para kakak kelas sudah mengincar adik kelas yang imut-imut. Tami udah jadi incaran sejak tadi. Tami digoda-godain sama para kakak kelas gatel. Sarah belum jadi incaran. Biasanya dia yang paling pertama diincar. Sayangnya batang hidung Sarah belum kunjung tampak sedari tadi.


Seluruh tim bersiap-siap untuk giliran bertanding. Sementara itu, kelas Andi sudah masuk duluan ke dalam lapangan. Lawan mereka kali ini cukup mudah. Mereka mendapat lawan kelas 10. Rata-rata anak kelas 10 pasti bakal nge-down saat melawan kakak kelas mereka.


"Ingat, turnamen ini langsung pakai penyisihan. Kalau kita kalah, kita ga bakal main lagi." Andi memberikan motivasi kepada teman setimnya.


"Oke, Ndi. Kita hajar kaya Sarah menghajar para berandalan."


Andi mengangguk ketika melihat semangat dari kawan-kawannya. "HIDUP SEPERTI SARAH!!!!!!!"


Bola pertama dioper kepada Andi. Tanpa basa-basi Andi langsung melakukan shooting yang sangat keras ke gawang lawan. Andi yang atlet futsal SMA sudah mengerti bagaimana teknik-tekniknya. Bola mengarah dengan keras ke ujung gawang.


Uanjir, kaya tendangan tsubatsa ...


Para suporter bersorak melihat Andi berhasil mencetakkan gol. Para teman-teman satu tim memeluk Andi untuk merayakannya. Suasana riuh tercipta karena gol spektakuler tersebut. Tapi, Andi tak menebar senyum sedikit pun. Hanya helaan berat napasnya yang tampak. Matanya sibuk mencari-cari sesuatu. Sesuatu yang ia tunggu sedari tadi.


Sarah, lo mana? gua nyetak gol, ucap Andi dalam hati. Namun, suara hatinya tak akan mungkin bisa untuk didengar.

__ADS_1


***


__ADS_2