
Gaduh
Batang hidung Dandi tidak tampak, bahkan semenjak di bus tadi. Sarah juga tidak tahu alasan ia tidak ikut di perkemahan ini. Memang sih, perkemahan ini sebenarnya wajib. Tetapi, tidak ada dampak berarti bagi yang menolak ikut. Yaa paling cuma rugi aja, udahlah mereka main-main, makan-makan, dan menikmati pemandangan air terjun yang gratis tis tis.
Tampaknya Sarah merasa menemukan sosok Andi baru yang selalu berbuat ulah di sekolah. Bagaimana Andi sewaktu kelas 10, begitu pula Dandi yang sekarang. Sewaktu Andi kelas 10, dia berani ngenantangin senior nomor satu di sekolah, yaitu Kevin. Dia juga pernah kelahi dengan senior kelas 12. Berkali-kali dipanggil orangtua ke sekolah dan parahnya lagi, Andi enggak ngenal apa yang namanya 'kapok'.
Seluruh kakak pembimbing tengah mengomandoi adik-adiknya untuk menegakkan tenda kemah. Beberapa kelompok juga sudah menyalakan api untuk memasak api dan menanak nasi. Sarah juga bergegas untuk meminta adik bimbingannya mendirikan tenda. Tidak begitu sulit, sekali panggil mereka langsung datang. Mereka anaknya penurut sih.
Seluruh bahan makanan sudah disedikan dari sekolah yang bisa diambil di salah satu bus. Terdapat seorang guru yang menjaga di sana, soalnya setiap kelompok sudah ditakar jatahnya masing-masing. Jadi, mereka cuma membawa peralatan masak dan tenda. Yaa semuanya gratis. Ga gratis juga sih, kan dananya juga diambil dari uang SPP mereka,
"Dek, kamu bisa nyalain api?" tanya Sarah kepada salah satu adik bimbingannya.
"Bisa sih, kak. Dulu pernah belajar di pramuka. Tapi, aku enggak ada mancis."
Sarah menunjuk Andi yang pasti enggak mungkin tinggal mancisnya. Kan mulut Andi kudu berasap mulu, enggak mandang tempat. "Kamu pergi tuh sama abang ganteng di sana. Bilang, Kak Sarah minjam mancis. Mancis yang paling mahal, bilang yaa."
"Tapi kak, Abang yang itu kan serem. Suka bikin ulah. Kemarin dia cabut sama temen-temennya," balas adik bimbingnnya.
Ni anak kayanya lupa kalau Andi itu merupakan pacarnya Sarah.
Sarah tertawa pelan sambil menunjuk diri. "Hahaha ... dia yang takut sama kakak. Coba pinjam sana gih, sekalian kenalan."
Tidak lama kemudian, Andi dikejutkan oleh adik kelas kawaii yang datang dengan malu-malu. Tangannya disembunyiin ke belakang. Matanya enggak terlalu ingin menatap Andi.
Aduh cu cup, jangan takut dong sama om.
Andi tersenyum tipis melihat tingkah lucunya. Tidak lama kemudian, adik kelas itu memberanikan diri menatap melalui kacamatanya.
"Gini bang ... anu ... hmmm ... bang," ucapnya dengan gugup.
"Ada apa dek? Malu-malu gitu, tau aja abang tamvan."
**** kau*!
"Nganu bang, mau minjam ......" Ia mulai ragu-ragu kembali. "Mau minjam ...."
"Minjam hati abang?" goda Andi.
Tepat sekali ketika Naila lewat di hadapan mereka. Naila bener-bener jijik kalau Andi lagi sok pede ngegoda cewek.
__ADS_1
"Khmmm .... Gue lewat dulu," ucap Naila sambil menunduk.
Adik kelas itu menunduk Naila. "Itu siapa bang? Cantik bener."
"Eh itu Naila, adik bimbingan abang, Dek. Hmm ... jadi mau minjam apa?"
"Mau minjam api," balasnya.
"Api? Api kok dipinjam."
'Mancis maksudnya," balas Andi.
"Nah itu maksudnya."
Andi mengambil mancis di dalam tas sandangnya, sekalian kotak rokok karena dia pingin ngerokok di dalam tenda.
"Ga sekalian rokoknya?" tanya Andi.
"Boleh ... eh rokok, ya? Ga ngerokok, Bang."
Sebuah sandal menempel di kepala Andi. Sontak Andi terkejut terheran-heran. Sandal siapa pula yang sedang mendarat ke kepala Andi. Terlihat Sarah bertegak pinggang tidak jauh dari dirinya. Matanya yang garang membuat nyalinya sedikit menciut. Ada sejenis om-om berkelamin wanita nan sedang menatapnya.
"Oh enggak, kok." Andi mengelus kepala adik kelas tersebut. "Ga ada kan, Dek?"
"Malah ngelus-ngelus segala!"
"Oh iya, sorry maap. Udah ini mancisnya, Dek." Andi mendekatkan wajahnya ke telinga gadis manis tersebut. "Tolong bawa Kak Sarah jauh-jauh, Dek."
Ia memasang wajah heran. "Emangnya kenapa?"
"Pokoknya pergi aja sana." Andi mendorongnya sambil memasang senyum kepada Sarah yang tengah bertegak pinggang.
Setelah itu, Andi pergi lari ngerokok. Ga aman ngerokok di dalam tenda kalau kaya gini. Ia mengingat jika di dekat sini merupakan objek wisata air terjun, maka Andi berkeinginan untuk melihat rupa air terjun tersebut. Jaraknya hanya satu menit berjalan dari lokasi kemah. Namun, sebelum beranjak terlihat Sarah menghampiri.
"Naila kelihatan murung. Dia kenapa?" tanya Sarah.
"Oh, ga tau juga."
"Masa'? Lo kan kakak pembimbingnya?" tanya Sarah lagi.
__ADS_1
"Nanti deh ... gue tanyain," balas Andi.
Sarah tersenyum tipis. Ia merengkan wajahnya ketika mendeka ke arah Andi. "Mau cerita yang sebenarnya?"
Wajah Andi menunjukkan ekspresi heran. Ia menduga jika Sarah mengetahui tentang hal tersebut. "Maksud lo?"
"Hahaha .... Udah lah Andi, gue tahu lo itu gimana. Lo itu ga pande bohong, jadi gue tahu kalau lo lagi enggak ngatain yang sebenarnya."
"Lo tahu kejadiannya?" tanya Andi.
"Yaa tahulah ... Naila cerita tadi waktu baru turun. Itu pun karena gue paksa." Sebuah pukulan karate mendarat ke bahu Andi dengan keras. Terdengar Andi yang mengerang kesakitan. "Lo berani-beraninya gituin cewek yah?"
Ia memegangi bahunya yang begitu terasa sakit oleh pukulan Sarah. "Sumpah ... gue enggak sengaja."
"Sengaja atau enggak, ngasarin cewek itu tetep aja ga boleh."
"Gue mesti ngapain, dong?"
Sarah menghela napas. "Yaa ... minta maap sama dia."
"Tadi udah kok!"
"Deketin dia ... bilang maap dengan tulus. Tadi itu bisa aja Naila enggak terima maap lo."
"Yaa nanti gue minta maap." Andi mengangguk.
"Sekarang bego!!!"
"Oke-oke ...."
Andi melangkah menuju air terjun yang katanya bagus banget. Memang benar, Andi terpukau dengan pemandangan air terjun yang memanjakan mata. Suara gemuruh air yang tiada henti memberikan sebuah energi baru kepada Andi. Hatinya begitu sejuk dihempas embun air yang mengawang di sekitaran. Tak ia habiskan waktu begitu saja, ia hirup udara dalam-dalam dan mencoba mencerna semuanya. Di sini begitu tenang.
Sebuah batu menjadi sandaran Andi untuk bertapa menikmati tembakau yang akan dibakar. Asap mengawang bercampur dengan sejuk udara sekitar. Andi tersenyum sesaat. Ini merupakan ketenangan yang tidak pernah ia dapatkan di perkotaan yang bergitu hiruk oleh nuansanya. Ia buang jauh-jauh permasalahan hinggaia mampu melupakan rasa gelisah bersalah kepada Naila.
Namun, ia kembali terjaga oleh gemericik air yang ia dengar. Andi mengintip dari sebalik batu. Terlihat wanita berambut terikat tengah mengangkut air menggunakan ember hitam bergagang hijau. Tidak ada peluh, namun wajahnya menyiratkan letih dengan beban yang akan ia bawa.
"Naila ...," ucap Andi perlahan.
***
__ADS_1